
SAAT bulan puasa pasti banyak dari kita melakukan
aktifitas olahraga di pagi hari. Untuk menjaga
kesehatan dan menjaga stamina alasannya.
Termasuk gue, gue adalah orang yang sangat
gemar berolahraga di pagi hari, khususnya bulan
puasa. Karena momen-momen puasalah gue bisa
bangun pagi dan bisa olahraga. Olahraga yang gue
lakukan adalah jalan-jalan sepanjang 5 km dari
rumah. Namun, gue gak pernah sendiri. Ada temanteman gue yang setia menemani setiap langkah
gue.
Waktu itu hari kedua di bulan puasa. Setelah
shalat subuh dan ganti baju olahraga, gue pergi
keluar menemui teman-teman gue. Di depan sudah
hadir : Lukman, Irfan, Sule, dan Yusup. Rencana kami
waktu itu adalah jalan-jalan ke arah biasa, atau
lebih gampangnya ke arah kanan dari arah rumah
gue. Selain sering jalan-jalan ke arah itu, arah kanan
juga menjadi primadona bagi pria jomblo macam
kami berlima ( kecuali Irfan yang masih 12 tahun ).
Karena banyak cewek berkliweran.
Namun, pagi ini beda. Kami berlima
memutuskan untuk jalan-jalan kearah kiri. Kata Ibu
gue, di jalan tempat yang akan gue tuju ada 3 buah
pohon besar dengan segala cerita mistisnya.
__ADS_1
Denger-denger pernah terjadi pembunuhan
kambing oleh oknum tak bertanggung jawab di situ.
Lalu mayatnya dibuang begitu saja ( sadis).
Meskipun sebenarnya gue takut lewat situ,
apa lagi ini masih jam setengah lima. Masih cukup
gelap untuk ukuran jam segini. Lukman, sebagai
pemimpin dan ahli ngarang mengkomando untuk
segera melakukan jalan-jalan.
‘Gue takut nih’ kata Irfan, notabene Irfan
adalah anak paling kecil dikelompok kami.
‘Udah gak papa, ada kami’ kata Sule bijak
(anak tertua).
Seratus meter kami jalan, Lukman mulai
bercerita. sebagai temannya dari kecil, gue gak
hobbynya cerita dan ngarang.
‘Kata orang nih, jalan-jalan dengan jumlah
ganjil bisa ditemui setan!’ kata Lukman sambil
mecicil.
Gue nanggepin ‘masak sih?’
‘Iya Rif, katanya lagi, orang yang paling
belakang dicuri sama setan’
Setelah gue fikir-fikir, gue mulai setuju dengan
kata Lukman barusan. Biarpun yang paling belakang
diculik setan, gue nerima. Soalnya yang paling
__ADS_1
belakang adalah Lukman sendiri.
Sule yang sejak tadi diam kini mulai angkat
bicara, namun tidak seperti Lukman, Sule
membicarakan Bapak Lukman. Sule emang
saudaraan sama Lukman, bisa dibilang Sule adalah
Om Lukman, karena Sule adik terkecil dari Ayah
Lukman.
‘Luk tadi gue sama Yusup lihat Ayah lu jalan
kesini waktu mau shalat di mushola, mau kemana?’
tanya Sule.
‘Iya, tadi gue juga lihat’ sambung Yusup.
‘Mau ke Surabaya, katanya sih ada projek
baru. Pukul 7 ini dimulai, makanya Ayah gue
langsung cabut waktu dini hari’ jawab Lukman
sambil berhayal mencari inspirasi cerita.
‘Gak takut gitu lewat sini sendirian ?’ tanya
Sule.
‘Gak lah, orang dia pawang’
Beberatus meter kemudian gue melewati
kuburan pendiri desa. Di sini aura mistis mulai terasa.
Mencekam khas kuburan.
Suasana mencekam dimanfaatkan Lukman
untuk melancarkan cerita lanjutan. Kali ini Lukman
bercerita tentang sesosok dalbo yang pernah dia
__ADS_1
temui di dapur rumahnya. Kata dia bentuknya besar,
hitam, dan membawa seputung rokok. Kata temen