Salah Sangka

Salah Sangka
BAPAK LUKMAN DALBO


__ADS_3

SAAT bulan puasa pasti banyak dari kita melakukan


aktifitas olahraga di pagi hari. Untuk menjaga


kesehatan dan menjaga stamina alasannya.


Termasuk gue, gue adalah orang yang sangat


gemar berolahraga di pagi hari, khususnya bulan


puasa. Karena momen-momen puasalah gue bisa


bangun pagi dan bisa olahraga. Olahraga yang gue


lakukan adalah jalan-jalan sepanjang 5 km dari


rumah. Namun, gue gak pernah sendiri. Ada temanteman gue yang setia menemani setiap langkah


gue.


Waktu itu hari kedua di bulan puasa. Setelah


shalat subuh dan ganti baju olahraga, gue pergi


keluar menemui teman-teman gue. Di depan sudah


hadir : Lukman, Irfan, Sule, dan Yusup. Rencana kami


waktu itu adalah jalan-jalan ke arah biasa, atau


lebih gampangnya ke arah kanan dari arah rumah


gue. Selain sering jalan-jalan ke arah itu, arah kanan


juga menjadi primadona bagi pria jomblo macam


kami berlima ( kecuali Irfan yang masih 12 tahun ).


Karena banyak cewek berkliweran.


Namun, pagi ini beda. Kami berlima


memutuskan untuk jalan-jalan kearah kiri. Kata Ibu


gue, di jalan tempat yang akan gue tuju ada 3 buah


pohon besar dengan segala cerita mistisnya.

__ADS_1


Denger-denger pernah terjadi pembunuhan


kambing oleh oknum tak bertanggung jawab di situ.


Lalu mayatnya dibuang begitu saja ( sadis).


Meskipun sebenarnya gue takut lewat situ,


apa lagi ini masih jam setengah lima. Masih cukup


gelap untuk ukuran jam segini. Lukman, sebagai


pemimpin dan ahli ngarang mengkomando untuk


segera melakukan jalan-jalan.


‘Gue takut nih’ kata Irfan, notabene Irfan


adalah anak paling kecil dikelompok kami.


‘Udah gak papa, ada kami’ kata Sule bijak


(anak tertua).


Seratus meter kami jalan, Lukman mulai


bercerita. sebagai temannya dari kecil, gue gak


hobbynya cerita dan ngarang.


‘Kata orang nih, jalan-jalan dengan jumlah


ganjil bisa ditemui setan!’ kata Lukman sambil


mecicil.


Gue nanggepin ‘masak sih?’


‘Iya Rif, katanya lagi, orang yang paling


belakang dicuri sama setan’


Setelah gue fikir-fikir, gue mulai setuju dengan


kata Lukman barusan. Biarpun yang paling belakang


diculik setan, gue nerima. Soalnya yang paling

__ADS_1


belakang adalah Lukman sendiri.


Sule yang sejak tadi diam kini mulai angkat


bicara, namun tidak seperti Lukman, Sule


membicarakan Bapak Lukman. Sule emang


saudaraan sama Lukman, bisa dibilang Sule adalah


Om Lukman, karena Sule adik terkecil dari Ayah


Lukman.


‘Luk tadi gue sama Yusup lihat Ayah lu jalan


kesini waktu mau shalat di mushola, mau kemana?’


tanya Sule.


‘Iya, tadi gue juga lihat’ sambung Yusup.


‘Mau ke Surabaya, katanya sih ada projek


baru. Pukul 7 ini dimulai, makanya Ayah gue


langsung cabut waktu dini hari’ jawab Lukman


sambil berhayal mencari inspirasi cerita.


‘Gak takut gitu lewat sini sendirian ?’ tanya


Sule.


‘Gak lah, orang dia pawang’


Beberatus meter kemudian gue melewati


kuburan pendiri desa. Di sini aura mistis mulai terasa.


Mencekam khas kuburan.


Suasana mencekam dimanfaatkan Lukman


untuk melancarkan cerita lanjutan. Kali ini Lukman


bercerita tentang sesosok dalbo yang pernah dia

__ADS_1


temui di dapur rumahnya. Kata dia bentuknya besar,


hitam, dan membawa seputung rokok. Kata temen


__ADS_2