
Di pagi hari suasana Ibu Kota Negara A sudah dihiasi dengan kesibukan, sangat jauh berbeda dengan kehidupan di pedesaan, walaupun orang-orang desa pada dasarnya sudah beraktivitas di pagi hari sebelum matahari terbit namun perbedaan penduduklah yang menjadi dasar utama antara kehidupan di perkotaan dan di pedesaan.
Pagi itu Istrinya bernama Hawa seperti biasa bangun lebih awal, "Hoaamm.." lelah sekali, rasanya seluruh badanku terasa pegal, sayang bangunlah kita sudah kesiangan, namun suaminya yang bernama Adam selalu saja terlambat bangun, mungkin efek dari kesibukan kerja membuat dia terlelap dalam tidur, "Hmmm.." aku masih ngantuk sayang, ada apa bangun sepagi ini, bukankah hari ini akhir pekan?, dengan wajah cemberut istrinya menjawab "sayangku, kamu lupa ya bukan kah hari ini harusnya ke Dokter Budi (dokter kandungan)?", tiba-tiba suaminya terbangun dan kaget, "Astaga, istriku maafkan aku, hampir saja lupa kita ada janji hari ini dengan Dokter Budi", bergegas sang istri menyuruh suaminya untuk beres-beres mempersiapkan segala keperluan untuk berkunjung ke Dokter kandungan, "ya sudah sekarang kita beres-beres dulu sebelum berangkat", dengan segera suaminya pun bergerak, "iya, sayang".
__ADS_1
Selang beberapa waktu, kedua suami istri pun berangkat menuju ke tempat tinggal Dokter kandungan, dalam perjalanan menuju ketempat tujuan sang istri menyampaikan beberapa pendapat, "suamiku, maukah setelah anak kita lahir, aku ingin dia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sederhana dan di didik dalam didikan keluarga yang disiplin, bagaimana menurutmu sayang?" sesaat suaminya tertegun, namun tak lama kembali tersenyum, "istriku, aku pun berpikir sama, bagaimana kalau setelah anak kita berumur 6 tahun kita titipkan dia ke pondok pesantren?" suaminya balik bertanya pada sang istri, namun istrinya menolak, "aku tidak ingin berpisah dengan anakku, aku ingin mendidiknya sendiri dan aku berharap kamu mengizinkan aku untuk mendidiknya dalam keluargaku di kampung?" dengan senyum diwajahnya sang suami mengangguk kan kepala, "baiklah sayangku, aku izin kan lagi pula aku percaya ibunya lebih hebat dari siapa pun bahkan aku kalah dari dirimu istriku" lalu sang istri mencubit bahu suaminya dan keduanya tertawa lepas sembari menikmati perjalanan menuju ketempat tujuan.
Setelah menghabiskan waktu 4 jam perjalanan akibat macet, mobil yang dikendarai merekapun tiba ditempat tinggal dokter kandungan, salah satu satpam membuka gerbang dan mempersilahkan mobil yang mereka kendarai masuk, "silahkan tuan, mohon mobilnya diparkir di pinggir pos jaga saja, nanti aku sendiri yang memarkir kendaraan anda di tempat parkiran", dengan singkat siTuan hartawan menjawab "baiklah, terimakasih sebelumnya", sambil tersenyum memberikan kunci mobil yang dikendarai ke satpam penjaga rumah.
__ADS_1
Tuan Adam membuka topik pembicaraan, "jadi dokter kedatangan kami berdua ini untuk mengecek kandungan istriku", "oh, iya Tuan Adam aku sudah mempersiapkan semuanya sesuai janjiku hari ini tidak ada kegiatan lain selain menyambut kedatangan Tuan Adam untuk melakukan pengecekan terhadap kandungan Nyonya", tanpa banyak perkataan dokter pun mempersilakan mereka untuk melakukan pemeriksaan.
Hanya memakan waktu kurang lebih 25 menit semua selesai dan berjalan normal, "terimakasih dokter atas pelayanannya", ucap Adam dan istri bersamaan, "tidak perlu berterima kasih ini sudah kewajibanku pak", ucap dokter sambil mengantar mereka kembali ke ruang tamu, "Oh, aku hampir lupa bagaimana informasi penyaluran dana bantuan sosial untuk rumah sakit umum yang sudah di usulkan minggu kemarin?" tanya dokter pada Tuan Adam, "aku sudah menyampaikan pada staf keuangan kemungkinan Senin depan akan tersalurkan secepatnya", dengan wajah kaget dan tersenyum Dokter Budi dan istrinya menjawab mengucapkan rasa terimakasihnya, "kami berdua berterimakasih atas bantuan dan kebaikan Tuan Adam ini sangat membantu dalam proses penyembuhan pasien karena dengan bantuan ini rumah sakit tidak akan kekurangan alat medis lagi", Tuan Adam sedikit kaget, "kenapa dokter berkata seperti itu? memangnya bagaimana dengan bantuan pemerintah?", dokter menggeleng kepala, "aku sedikit kecewa, menunggu bantuan dari pihak pemerintah membuatku emosi setiap kali dikonfirmasi jawabannya tetap sama (alat yang dipesan akan segera sampai), begitulah jawaban yang kami dapatkan dari pihak pemerintah", "sekarang aku mengerti, sepertinya ada skandal besar dalam pengadaan alat-alat ini, tapi biarlah itu urusan mereka saya sebagai pengusaha sekaligus warga biasa tidak memiliki hak untuk ikut campur urusan pemerintahan melainkan hanya bisa menyalurkan sedikit bantuan kepada yang membutuhkan", kata tuan Adam sambil tersenyum ke arah dokter budi, "Tuan Adam terlalu merendah diri, jika bukan kebaikan Tuan Adam tidak tahu lagi akan seperti apa jadinya daerah ini, sungguh pembangunan daerah ini banyak sekali kontribusi dari Tuan Adam", lalu keduanya berlarut dalam pembicaraan dan diwarnai canda tawa sampai akhirnya Tuan Adam dan Nyonya Hawa memohon pamit undur diri kembali ke rumah.
__ADS_1