Scarlet Heart (MarkHyuck)

Scarlet Heart (MarkHyuck)
1. Gerhana Matahari Total


__ADS_3

Happy reading~


Pagi ini wanita yang diketahui bernama Lee Donghyuck tengah duduk di tepi danau yang disisi nya terdapat tebing tinggi. Orang-orang terlihat bahagia dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang sekedar duduk-duduk atau berbicara dengan rekannya, ada pula beberapa yang menaiki perahu. Semuanya terlihat sangat bahagia, terkecuali bagi Donghyuck.


Dia kemudian mengambil kaca dari dalam tasnya, melihat betapa berantakan dirinya sekarang. Di sudut bibirnya terdapat luka dengan darah yang telah mengering. Donghyuck menghela napas berat, mengambil botol soju yang berada disampingnya lalu meneguknya hingga tersisa seperempat.


Secara tidak sengaja atensinya beralih ke samping kanannya, terlihat seorang pria yang di perkirakan berumur lebih dari 40 tengah menatapya. Ah tidak, sepertinya lebih mengarah ke sojunya, paman itu terlihat menginginkannya!


Donghyuck mengalihkan pandangannya ke soju miliknya sekilas lalu beralih lagi ke paman itu, paman itu menatapnya dengan watados. Dengan berat hati, Donghyuck menyodorkan soju yang tinggal seperempat. Paman itu langsung mengambilnya dan segera meneguk minuman berakohol itu hingga tinggal sedikit. Donghyuck menghela napas lagi dan mengalihkan pandangannya ke danau.


"Ahjussi... pernahkah kau ingin tidur selama seratus atau seribu tahun lebih?" tanyanya, tapi paman itu enggan menjawab atau memilih diam karena ingin mendengar keluh kesa Donghyuck.


"Semuanya selalu tak ada yang beres dan semuanya itu takkan kunjung berjalan sesuai apa yang diharapkan. Kau meyakini dirimu sendiri 'Aku yakin semuanya berjalan dengan baik', lalu muncul lagi masalah." Donghyuck menghela napas putus asa dan melanjutkan perkataannya yang mungkin disimak paman tadi.


"Aku lebih suka jika... aku tertidur dan tidak pernah bangun lagi. Aku ingin melupakan segalanya, tapi itu tidak ada hasilnya juga."


"Si brengsek itu meninggalkanku dengan tumpukan hutang. Si ****** itu yang menipuku dan lari dengan dia. Astaga...aku seharusnya jangan mudah percaya dengan orang." suaranya bergetar seperti menahan sesuatu didalam sana.


"Ahjussi, kau tau? Kupikir kalau aku tak berubah, orang yang kupercayai dan orang yang kusukai juga takkan berubah, tapi aku salah."


"Kenapa hidupku seperti ini!?" suaranya semakin bergetar dengan diiringi air mata yang mengalir dipipi gembilnya. Donghyuck menyembunyikan wajahnya diantara lutut, menumpahkan segala yang di tahannya di sana.


"Hidupmu tak berubah sesuai keinginanmu. Mungkin bisa berubah kalau kau meninggal lalu hidup lagi." ujar paman yang sedari tadi hanya diam mendengarnya.


"Apa?" tanyanya, tapi paman itu tidak menjawab, memilih tidur diatas tas berwarna merah dan memejamkan matanya. Donghyuck menghela napas sambil menepuk dadanya dengan pelan guna menenangkan dirinya. Ia mengalihkan pandangannya kearah jembatan yang dibawahnya terdapat perahu, diatasnya terlihat anak kecil yang seperti ingin menaiki perahu itu. Donghyuck tidak peduli memilih menenangkan pikirannya, mencoba menghilangkan sejenak beban di hidupnya. Atensinya kembali lagi kearah jembatan itu, tapi tidak menemukan anak kecil tadi. Kemana perginya? Mengedarkan pandangannya dan menemukan anak kecil tadi sudah berada di dalam danau. Dia panik, memanggil paman tadi tapi sudah terlelap nyenyak.


"Tidak, tidak. Aku yakin ada orang lain juga yang melihat ini. Kalau aku sudah masuk ke air juga, pasti sudah ada orang lain yang menyelamatkannya" gumamnya berusaha bersikap tenang, memilih membelakangi danau itu.


"Donghyuck, tidak perlu menolongnya, tidak perlu. Meskipun kau tidak menolongnya, orang lain yang akan-Oh, ****! Kenapa harus aku lagi!?" ujarnya sedikit berteriak, kemudian berlari dan memasuki danau itu. Terdengar teriakan dari beberapa pengunjung, lebih tepatnya orang tua dari anak kecil tadi yang memanggil nama anaknya.


"Eun Yool! Sayang, itu Eun Yool kita!" teriak ibu dari anak itu.


"Eun Yool, Eun Yool, Eun Yool, tunggu!" teriak mereka lagi. Paman yang bersama Donghyuck tadi terbangun karena merasa terganggu oleh pengunjung yang berteriak. Kemudian matanya menatap cahaya matahari yang perlahan meredup.


Anak kecil tadi sudah diselamatkan, tinggal Donghyuck saja yang akan menaiki perahu itu. Tapi tiba-tiba tubuhnya terasa tertarik sesuatu dari bawah. Ia sudah berusaha menaiki perahu dibantu orang tua dari anak kecil tadi, tapi tidak bisa! Donghyuck juga melihat matahari yang mulai tertutup. Dengan bersusah payah ia meraih permukaan air, tapi tubuhnya semakin tenggelam. Tiba-tiba saja kejadian semalam melintas di kepalanya.


'Teganya kau melakukan ini padaku?' ujar Donghyuck kepada sahabatnya. Siapa yang tidak akan marah jika melihat sahabat dan kekasihnya berciuman?


'Kau gila!?' teriak kekasih Donghyuck lalu mendorongnya, memilih pergi bersama sahabat Donghyuck tadi.


Kemudian hanya ingatan ia yang sedang dikejar beberapa wanita, sepertinya kekasih -ah tidak mantan maksudnya, berhutang kepada mereka.


Donghyuck sudah pasrah, membiarkan tubuhnya semakin tenggelam hingga ke dasar, mungkin? Dilihatnya matahari semakin menghilang akibat bulan, tepat setelahnya kesadaran Donghyuck menghilang.


♡♡♡


Bulan perlahan meninggalkan matahari yang tertutup olehnya. Minhyung-pangeran ke 4 kerajaan Kwangya- tengah menunggangi kudanya menuju ibu kota dengan beberapa orang berkuda di belakangnya. Tubuhnya tertutup jubah hitam dengan aksen merah, ditangan kirinya terdapat pedang yang selalu dibawanya kemana-mana. Jangan lupa wajah bagian kiri atasnya tertutup topeng.


Dia berhenti sejenak begitupun pekuda lainnya, melihat matahari yang kembali menyinari bumi. Pengeran Minhyung melanjutkan perjalanannya mengingat hari semakin dingin karena butiran salju masih turun.


Setibanya di pasar tentu saja yang pertama kali ia dengar adalah jeritan ketakutan. Disana banyak orang yang berusaha menghindar atau lebih tepatnya bersembunyi ke tempat yang lebih aman, membiarkan barang dagangan berserakan akibat kecerobohan mereka sendiri.


"Itu si anjing serigala! Serigala!" teriak salah satu dari mereka lagi.

__ADS_1


Pangeran Minhyung menunggangi kudanya perlahan. Disalah satu tempat ada anak kecil yang berusaha melihat wajah aslinya. Ia tidak peduli dan memandang dingin anak itu. Matanya tertuju pada perhiasan rambut cantik di salah satu toko di sana.


♡♡♡


Sementara di istana, beberapa pangeran tengah berendam air hangat. Yang paling bersemangat disini adalah pangeran ke 10-Jaemin-, menggunakan ikat kepalanya ia melompat kedalam pemandian, diikuti pangeran ke 14-Sungchan-yang telah membuka baju bagian atasnya, memperlihatkan dada bidang dan abs nya yang sempurna. Wow


Sementara itu pangeran ke 3-Jaehyun-tengah menikmati teh kerajaan disamping kolam, sesekali ia melihat saudaranya yang sedang berenang.


Pangeran ke 13-Kwanhyung-hanya melewati tepian kolam, melihat kakak dan adiknya sedang berenang dengan riang.


Lalu pangeran ke 9-Wookhei-yang tengah melatih ototnya, menyuruh pangeran Jaehyun untuk memegang ototnya yang sangat keras.


"Hyungnim, coba pegang ini. Kau tau artinya ini?" pangeran Jaehyun berdecih tapi tetap melakukan apa yang diperintahkan.


"Sungchan, aku pergi ya!" ujar pangeran Jaemin.


"Jae, tunggu aku!" seru pangeran Sungchan.


"Jae-" pangeran Sungchan menghentikan perkataannya ketika pangeran Jaemin menyuruhnya diam. Mereka berdua masuk kedalam pemandian yang berada di dalam dengan perlahan.


Seorang dayang istana tengah menuangkan teh kepada pangeran Jaehyun, tapi tanpa sengaja ia mengenai jari pangeran Jaehyun. Pangeran Jaehyun terlihat marah, tangannya sudah terangkat hendak menampar dayang istana itu, tetapi seruan dari pangeran ke 8-Jeno- menghentikannya.


"Hyungnim, apa saudara kita yang keempat belum datang? Dia seharusnya mandi disini jika mau menghadiri ritual keagamaan..."


Saat pangeran Jeno berbicara, pangeran Wookhei menyuruh dayang istana itu untuk pergi.


"Apa dia pernah melakukan kegiatan seperti yang kita lakukan? Tak usah pikirkan dia, membuat pusing saja." sela pangeran Jaehyun.


"Aihh, bukankah kau tahu sendiri Jeno itu seperti apa? Dia selalu khawatir dengan orang lain." pangeran Wookhei ikut mengompori.


"Ini pertama kalinya Minhyung hyungnim akan menghadiri ritual keagamaan, bukan? Aku ingin tahu apa Yang Mulia punya alasan tertentu menyuruh dia datang..." pangeran Kwanhyung yang baru saja datang membuka pakaiannya, memperlihatkan bentuk tubuh yang membuat siapapun pasti terpana, ditambah wajahnya yang sangat tampan.


"Pastikan bajuku ini dicuci uap dan jangan sampai keriput." perintah pangeran Kwanhyung, memberikan pakaiannya ke salah satu dayang istana, sedikit tersenyum diakhir kalimat. Kemudian ia masuk kedalam pemandian yang berisi bunga-bunga.


"Kwanhyung, apa kau sudah tahu kalau saudara keempat kita membantai keluarganya di Shinju? Kabarnya itu sangat brutal, dia seperti serigala pembunuh manusia. Aauuuu~" cerita pangeran Jaemin dengan mengeluarkan lolongan serigala diakhir kalimat. Sedangkan pangeran Jaehyun mengangkat alisnya, seperti sedikit tertarik untuk mendengarnya.


"Kau tidak boleh percaya rumor seperti itu. Semua penjahat di negara ini bahkan tidak membahas hal-hal seperti itu-"


"Semua tamu kita dari Shinju bilang begitu. Rumor itu pasti benar." sela Pangeran Jaemin memotong pembicaraan pangeran Kwanhyung.


"Itu cuma rumor. Mana bisa dia mengalahkan pemerintah sendirian? Bagaimana dengan tentara setempat? Bahkan keterampilan seni bela diri belum tentu berhasil. Juga, Minhyung hyungnim tidak pernah punya guru yang mengajari dia bela diri" bantah pangeran Sungchan.


"Juga, kau dan Minhyung hyungnim punya ibu yang sama. Kau takkan pernah tahu kapan kau akan berubah menjadi serigala juga. Aauuu~." ejek pangeran Jaemin sambil melolong seperti serigala lagi. Pangeran Sungchan membalas dengan lolongan dan cakaran main-main.


"Diamlah kalian berdua!" bentak pangeran Jaehyun dengan amarahnya. Pangeran Jaemin dan Sungchan menatap takut pangeran Jaehyun.


"Kalau begitu, aku juga lahir dari rahim yang sama dengan saudara keempat kita. Berarti aku juga bukan manusia?" imbuh pangeran Jaehyun, dia merasa tersinggung mengingat pangeran Minhyung dan Sungchan memiliki ibu yang sama dengannya. Semuanya memilih diam dan menunduk takut.


"Leluconnya memang terlalu kelewatan. Aku akan bicara dengannya nanti, jangan diambil hati." ucap pangeran Jeno berusaha menenangkan suasana.


"Pangeran Minhyung akan kembali ke Shinju setelah ritual keagamaan berakhir. Jika Raja mendengar omong kosong ini, aku takkan diam saja. Kalian mengerti?" tegas pangeran Jaehyun kepada adik-adiknya. Semuanya masih terdiam hingga pangeran Jaemin berusaha mengalihkan topik.


"Hyungnim, apa kita harus taruhan siapa yang bisa mengapung terlama di air? Ayo kita ke pemandian yang diluar!" setelah berucap ia berlari menuju pemandian air panas di luar. Pangeran Jeno berteriak memperingati adiknya, tapi tidak dihiraukan sama sekali oleh pangeran berwajah manis itu.

__ADS_1


"Jae, berhenti. Kubilang berhenti."


"Hyungnim, jika kau memberiku satu kesempatan, aku bisa menyuruhnya jangan cari masalah." pangeran Sungchan memohon kepada kakaknya.


"Sudahlah." ucap pangeran Jeno.


"Hyungnim! Cepat kemari. Sungchan, cepat kemari." panggilnya menyuruh saudaranya yang lain untuk ikut berendam. Tiba-tiba saja di belakang pangeran Jaemin, seorang gadis muncul dari dalam air. Belum ada yang menyadari keberadaannya. Itu adalah Lee Donghyuck, dengan memakai pakaian kerajaan zaman Kwangya.


'Tempat apa ini? Aku masih hidup 'kan? Syukurlah, syukurlah.'


Pangeran Jaemin berenang mundur, hingga ia merasa menyentuh sesuatu. Saat menghadap ke belakang mata mereka saling bertemu dan sama-sama menjerit kaget.


"Hei! Kau-kau, apa yang kau lakukan disini!? Kenapa ada perempuan? Hy-hyung, hyung!" teriaknya, saat itulah pangeran yang lain menoleh dan menemukan seorang gadis tengah berdiri di tengah pemandian.


"Hyung! Hyung! Hyung!" teriaknya lagi sambil menghampiri saudaranya yang lain.


Donghyuck kebingungan, menatap sekeliling yang tidak dikenalinya. Hingga tatapannya berhenti melihat seorang gadis yang bersembunyi dibalik batu besar.


"Agassi! Agassi!" panggil gadis itu.


"Aku?" tunjuk Donghyuck kepada dirinya sendiri. Kenapa gadis itu memanggilnya Agassi?


"Apa itu? Ada perempuan! Ada perempuan!" tunjuk Wookhei memberitahu saudaranya yang lain.


"Apa tak ada orang yang berjaga!?" teriak pangeran Jaehyun. Melihat Donghyuck yang akan pergi, Jaemin berteriak lagi untuk menyuruhnya berhenti.


"Beraninya kau memata-matai para pangeran?" teriaknya lagi, tapi kedua gadis itu sudah pergi.


"Haechan?" gumam pangeran Jeno yang tidak terdengar oleh siapapun.


♡♡♡


"Apa yang kita lakukan sekarang!? Ini gawat. Cepat Agassi, kita harus pergi." gadis itu terus menyeretnya sampai keluar dari gua dengan kebingungan, dia sendiri juga bingung.


"Kau sudah lama tidak keluar, sudah kuduga pasti ada masalah. Para pangeran sudah mulai mandi makannya aku tidak bisa mencarimu." ocehnya terus tanpa menyadari kepala Donghyuck yang mulai pusing.


"Apa baik-baik saja sekarang?" tanyanya dengan raut muka khawatir.


'Agassi? Pangeran? Ini aneh, kenapa aku bisa ada di sini?' batin Donghyuck.


"Ayo!"


"Tunggu..."


"Kau...mengenalku?" tanya Donghyuck dengan memegangi kepalanya, napasnya tidak beraturan.


"Apa?"


"Tempat ini bukan taman, apa yang kulakukan disini?" gadis itu mengerutkan dahinya tidak mengerti, kemudian tersadar mungkin agassinya ini kehilangan ingatan


"Agassi! Apa maksudmu kau tidak tahu tempat ini? Ini pemandian terbesar di Kwangya." Donghyuck melihat sekeliling, terlihat tempat pemandian ini besar seperti yang dikatakan gadis tadi. Mengedarkan pandangannya, Donghyuck membelalak melihat banyak sekali orang yang mandi menggunakan pakaian tradisional.


'Apaan ini? Aku memang sudah mati. Jadi, tempat ini...adalah alam baka.' batinnya dengan kekehan, tepat setelahnya tubuhnya limbung dan kehilangan kesadaran.

__ADS_1


"Agassi!"


...~Tbc~...


__ADS_2