
Pangeran Minhyung dan pengawalnya yang merupakan bagian dari keluarga Lee tiba di depan gerbang istana utama. Ia menyuruh pengawalnya untuk berhenti, penjaga di depan gerbang langsung membuknya, lalu pangeran Minhyung membuka penutup kepalanya.
"Aku akan menyerahkan seorang budak padamu, pangeran. Setelah ritual selesai, jangan lama-lama dan kembalilah ke Shinju. Kau itu diadopsi di keluarga Lee, jadi jangan lupa itu. Tolong tegakkan nama keluarga kita di hadapan Raja." ujar kepala pengawal yang juga merupakan dari keluarga Lee.
"Adopsi? Kupikir aku dijadikan sandera olehmu selama ini." sindir pangeran Minhyung dengan tawa sinisnya, kemudian memacu kudanya masuk kedalam istana dan gerbang pun ditutup.
Sesampainya didalam, pangeran Minhyung turun dari dari kudanya. Tapi setelah turun ia menarik pedangnya, mengangkatnya tinggi-tinggi lalu menghunuskannya dan menebaskannya kepada kudanya tadi.
Keluarga Lee yang belum beranjak dari luar kaget mendengar suara kuda yang merintih. Darah membekas di pedang dan sebagian wajah pangeran Minhyung. Pengawal yang melihatnya tentu saja kaget.
Kim Heechul, ahli perbintangan berdiri diatas gerbang melihat pangeran Minhyung dan kuda yang sudah terbaring didepan gerbang.
"Anda tidak boleh mengayunkan pedang dalam istana." ucap kepala pengawal dalam istana dengan gugup, pangeran Minhyung tanpa suara dan dengan santainya menyerahkan pedangnya kepada kepala pengawal.
"Haruskah saya siapkan kudanya agar anda bisa pulang nanti?" kata pengawal itu dengan gugup.
"Aku takkan pulang ke Shinju." ucap pangeran Minhyung.
Pangeran Minhyung berjalan masuk sambil menghapus darah yang menempel dipipinya. Ia berdiri tepat didepan istana dan membatin, 'Aku takkan kembali kesana. Aku takkan kembali ke Shinju sebagai sandera.'
♡♡♡
Di tempat lain, Donghyuck terbangun mendapati dirinya sudah berada didalam ruangan asing yang terlihat kuno. Terdengar suara wanita yang terbatuk-batuk, suara itu terdengar dari wanita didepannya yang terlihat sakit-sakitan duduk menunggunya. Tapi yang membingungkan wanita itu memakai pakain kuno. Saat akan beranjak Donghyuck memekik tertahan merasakan sakit di kepalanya dan membuat wanita itu mengalihkan atensinya ke Donghyuck.
"Haechan-ah!"
Jeongra, orang yang memanggil Donghyuck saat di pemandian pangeran terlihat senang, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke wanita yang dituntun Jeongra. Donghyuck menatap pakaian yang mereka pakai seperti pakaian zaman dulu, tapi tiba-tiba kepalanya terasa sakit kembali.
"Haechan-ah, apa masih sakit?" tanya wanita tadi-Seo Injoon-dengan khawatir.
"Memang aku terluka parah ya?" tanya Donghyuck, Jeongra menceritakan sudah pasti parah karena terbentur keras dan berpikir jika kepala Donghyuck pecah.
"Kau tahu betapa khawatirnya Nyonya Joon?"
"Haechan-"
"Maaf...tapi kenapa kalian selalu memanggilku 'Haechan' atau 'Agassi'? Namaku Lee Donghyuck. Aku tidak mengerti kenapa kalian memanggilku seperti itu." kata Donghyuck dengan bingung, Nyonya Joon dan Jeongra yang mendengarnya juga menatap bingung. Kemudian Donghyuck teringat ketika ia tenggelam dan mengira sudah mati.
"Ah, iya aku sudah mati."
"Kau tidak mati, tapi kau hampir mati." ucap Jeongra.
Kaget, Donghyuck mencoba mencubit lengannya, tapi terasa sakit. Dia bukan mati ataupun bermimpi. Lalu Donghyuck berlari keluar kamar untuk memastikan apa yang terjadi, dan semakin shok mendapati rumah kuno dan banyak pelayan yang berlalu lalang, bahkan ada yang membungkuk kepadanya.
'Ini bukan mimpi. Kalau aku tidak mati...lalu dimana aku?' batin Donghyuck kebingungan.
Lalu terdengar nyonya Joon yang memanggilnya dibantu Jeongra untuk dituntun keluar. Donghyuck merasakan napas seakan sesak, kemudian nyonya Joon menyuruh Jeongra untuk memanggil tabib.
"Dimana ini? Tidak, tidak...siapa aku?"
"Kau tak bisa ingat sama sekali? Namamu Seo Haechan. Aku sepupu keenammu, Seo Injoon." kata nyonya Joon mengira jika Donghyuck hilang ingatan. Donghyuck bingung kenapa namanya Seo Haechan?
'Haechan? Aku Haechan? Apa jangan-jangan...aku didalam tubuh orang lain?' batin Donghyuck sambil membekap mulutnya dengan tangan. Nyonya Joon memegang tangan Donghyuck dengan lembut lalu menasehatinya agar bisa mengingat semua ini.
"Ingatlah, lihat aku dengan jelas. Kau berada di Songak sekarang, ini rumahnya pangeran ke-8 Jung Jeno." jelas nyonya Joon.
"Songak? Apa ini zaman Kwangya? Goguryeo, Baekje, Silla dan Kwangya...jadi ini zaman Kwangya?" tanya Donghyuck.
"Kau sudah ingat sekarang? Ya, ini Kwangya." ucap nyonya Joon dengan senang. Donghyuck dengan raut wajah ketakutan melepas tangannya dari nyonya Joon.
"Kalau begitu, sekarang...siapa rajanya?" tanya Donghyuck. Nyonya Joon menatap Donghyuck bingung karena menanyakan hal itu.
"Tentu saja Yang Mulia yang mendirikan negeri ini." ucap Nyonya Joon ikut binggung melihat sikap Donghyuck yang tak dikenalnya.
__ADS_1
"Raja yang mendirikan Kwangya ini...apa mungkin..." gumam Donghyuck lalu berteriak menyebut nama...
"Raja Jung Donghae?!"
♡♡♡
Di istana, Raja Donghae tengah rapat bersama para pangerannya kecuali Minhyung dan para pejabat istana. Raja tampak marah lalu melempar sangkar burung yang didalamnya terdapat seekor burung yang telah mati pada mereka.
"Ini adalah burung yang memakan sarapan pagi Putra Mahkota di kediaman Putra Mahkota hari ini. Burung itu langsung mati seketika bahkan sebelum dia menelan satu gigitan. Keberuntungan besar Putra Mahkota melewatkan sarapannya karena dia tak lapar. Kenapa tak ada tanggapan? Tangkap orang yang berusaha membunuh Putra Mahkota." Kata Raja Donghae marah.
Semua yang ada disana hanya menundukkan kepala begitu pula para pangeran.
"Kita harus cari tahu kenapa hal ini bisa terjadi. Apa yang akan berubah kalau kita hanya menangkap pelakunya saja?" ucap Jung Haneul. Raja bertanya apa maksud ucapan Mentri Jung Haneul.
"Bukankah Putra Mahkota harusnya berperilaku sebagai Putra Mahkota?" kata Jung Haneul.
Pada saat itu datang Putra Mahkota - Pangeran kesatu Jung Taeyong, mendengar pembicaraan Raja dan menteri Jung Haneul dari depan pintu.
"Pada pertemuan majelis... dia hanya menerima salam dari utusan asing lalu pergi. Putra Mahkota biasanya hanya ada di medan pertempuran atau mengunjungi pemandian air panas. Apa anda tahu bahwa ada rumor... kalau Putra Mahkota mengidap penyakit tak tersembuhkan?" kata Jung Haneul menatap Raja, Jung bersaudara saling melirik.
"Oleh karena itu saya, Jung Haneul, memohon pada anda. Tolong berhentikan Pangeran ke-1, Pangeran Taeyong sebagai Putra Mahkota. Saya memohon dengan sangat untuk mencari kandidat Putra Mahkota baru." tegas Jung Haneul.
Putra Mahkota terdiam dengan menahan amarah mendengarnya.
"Apa kalian semua setuju dengannya?" Raja menanyakan pendapat para pangeran.
"Katakan, siapa diantara kalian yang kalian pikir lebih pantas mengisi posisi itu kecuali Putra Mahkota?!" tambah Raja kepada para pangerannya.
Para pangeran hanya terdiam.
"Tolong tarik kembali perkataan itu, Yang Mulia. Tidak ada satu pun di antara kami yang ingin menjadi Putra Mahkota." Kata Pangeran Jeno sambil berlutut didepan Raja Donghae.
"Benar, Yang Mulia.... Tolong tarik perkataan anda." Ucap Pangeran Kwanhyung ikut berlutut.
Dan pada akhirnya semua pangeran yang hadir ikut berlutut dan menyuarakan pendapat yang sama, meminta Raja untuk menarik kembali ucapan itu.
Jung Haneul binggung mendengarnya, tiga saudara Jung yang lain ikut berlutut memohon yang sama meminta menarik perkataanya dan bersujud didepan Raja.
Raja Donghae memanggil ahli perbintangan-Kim Heechul- yang sedari tadi berdiri disampingnya. Heechul memperkenalkanya akan menyampaikan kehendak langit pada mereka semua yang hadir diruang sidang.
"Bintang Putra Mahkota Taeyong adalah bintang kerajaan di langit. Itu bintang pertama dari lima bintang utara dan bintang itu bersinar terang setiap hari. Bersinar terang bersama dengan istana Raja Kwangya. Ini artinya Pangeran Taeyong pantas menjadi Putra Mahkota. " kata Heechul.
"Sudah 24 tahun sejak negeri ini telah didirikan. Pangeran ke-1, Pangeran Jung Taeyong telah berjuang bersamaku melawan banyak peperangan. Dia yang telah mendirikan pondasi bagi bangsa ini bersamaku" ucap Raja mengebu-gebu sambil berdiri. Mengingatkan pada semua yang hadir bahwa Pangeran Taeyong pantas menjadi putra mahkota.
"Kim Heechul... Selama ritual ini... Taeyong akan mengusir roh-roh jahat. Jadi persiapkanlah itu dengan baik." Perintah Raja, Heechul mengerti.
Pangeran Jaehyun tampak tak suka mendengarnya, tapi dia hanya diam.
Setelah rapat usai, Menteri Jung Haneul datang menemui Ratu Soojung. Ratu Soojung merupakan ibu dari Pangeran Jaehyun, Pangeran Minhyung dan Pangeran Sungchan.
Menteri Jung Haneul membisikkan sesuatu pada Ratu Soojung.
"Putra Mahkota sungguh beruntung. Dia memiliki umur yang panjang" ucap Ratu Soojung sambil menuangkan teh
"Kita hanya membuatnya menjadi lebih sadar dan waspada sekarang" imbuh Ratu Soojung dengan tersenyum sinis.
Pelayan masuk ruangan dan membisikan sesuatu pada Ratu Soojung.
"Sampaikan pesanku jika aku tidak ingin melihat siapa pun." Kata Ratu Soojung pada pelayan.
"Sudah dua tahun Pangeran ke-4 tak datang kemari, menurut hamba jika bertemu dengannya sekarang maka...." ucap pelayan itu. Ratu Soojung berteriak marah kalau dirinya sedang tak enak badan sekarang.
"Siapa dia yang berani mengganggu Ratu?" teriak Ratu Soojung marah
__ADS_1
Pangeran Minhyung berdiri didepan kamar ibunya, pelayan datang menghampirinya.
"Bagaimana dengan ibuku?" tanya pangeran Minhyung antusias ia sungguh ingin bertemu dengan ibunya setelah 2 tahun tidak bertemu.
"Ratu Soojung sedang tertidur, dan dia sungguh sakit. Mungkin anda harus datang lain waktu" kata pelayan.
Pangeran Minhyung kecewa saat pelayan mengutarakan alasan itu lalu ia pun berbalik pergi dari kediaman ibunya.
♡♡♡
Donghyuck mengurung diri di kamarnya, memikirkan keanehan yang terjadi padanya ini. Ia benar-benar bingung bagaimana bisa ia ada di Songak, pada zaman dinasti Kwangya. Donghyuck teringat terakhir kali dia tenggelam saat menyelamatkan anak kecil di danau, Donghyuck berpikir kalau dia pasti sudah mati waktu itu. Iya, ia sudah mati, yakin Donghyuck.
"Orang bernama Haechan ini juga pasti tenggelam dan meninggal di dalam air. Lalu, apa aku ini Donghyuck atau Haechan? Aku tidak tahu kenapa aku bisa berada di Kwangya dan berada dalam tubuh ini." gumam Donghyuck benar- benar kebingungan, menatap wajahnya ke cermin.
"Jangan memikirkan yang tidak-tidak... Berpikirlah positif, kau mendapat kesempatan disini... Kesempatan menghindari kematian, dan tetap hidup.... Kau sangat beruntung di sini. Baiklah, jadi jangan sampai kau ketahuan dan hadapi saja ini. Jika kau bisa menghadapinya... Jika kau bisa menghadapinya..." gumam Donghyuck menyemangati diri sendiri yang awalnya yakin akhirnya sedikit ragu.
"Tapi aku bukan Haechan bagaimana jika aku ketahuan, dan ditangkap. Apa yang harus aku lakukan? Dan bagaimana aku harus bersikap di jaman Kwangya" gumam Donghyuck.
Jeongra dan Nyonya Injoon memanggil- manggil nama Haechan dari luar kamar sambil mengedor-gedor pintu, Donghyuck semakin ketakutan hanya melihat bayangan mereka saja. Bagaimana jika ia ketahuan bukan Haechan.
"Aku tidak tahu dunia seperti apa di luar sana? Aku takut... Aku takut setengah mati. Aku takut jika aku harus mati. Aku pun tidak tahu apa-apa tentang Kwangya." gumam Donghyuck ketakutan sambil melihat kepintu.
"Raja Donghae adalah pendiri Kwangya. Setelah itu yang berkuasa..."gumam Donghyuck panik dan ketakutan berusaha mengingat siapa Raja Kwangya selanjutnya.
"Jaejoong, apa Raja setelah Raja Donghae adalah Raja Jaejoong?" gumam Donghyuck kurang yakin.
Nyonya Injoon dan Jeongra terus berusaha menggedor-gedor pintu kamar Donghyuck dengan cemas. Nyonya Injoon terbatuk-batuk didepan pintu kamar Donghyuck.
Pangeran Jeno lewat saat itu ia melihat istrinya terbatuk-batuk dan langsung menghampiri istrinya dengan cemas.
"Apa yang terjadi?" tanya Pangeran Jeno pada Jeongra.
Belum sempat Jeongra menjawab, setelah menenangkan nafasnya Nyonya Injoon sudah memberitahu suaminya lebih dulu.
"Haechan, tadi tenggelam ke dalam air dan baru keluar setelah dua jam. Bahkan kata tabib, Haechan sempat berhenti bernafas" kata Nyonya Injoon, khawatir pada Haechan.
"Lalu, kenapa kau bilang Haechan meninggal?" kata Pangeran Jeno.
"Agasshi meninggal dan hidup lagi. Mungkin itu sebabnya Agasshi kehilangan ingatannya dan tidak tahu namanya.." jelas Jeongra benar-benar khawatir.
"Aku khawatir dia akan melakukan hal yang berbahaya, pada saat seperti ini" ungkap Nyonya Injoon terlihat lemah. Pangeran Jeno menatap pintu kamar Haechan yang terkunci.
Pangeran Jeno pun ikut cemas dan beberapa saat kemudian, pintu kamar Haechan tiba-tiba roboh ditendang Pangeran Jeno.
Donghyuck sedang duduk menelungkupkan kepalanya kaget melihat pintu kamarnya yang sudah terbuka dengan cara di tendang, Pangeran Jeno masuk kamar menatapnya. Dan dia mendapati Haechan tengah meringkuk ketakutan di lantai setelah melihatnya.
Donghyuck dengan mata sehabis menangis terlihat benar-benar ketakutan, lalu tertunduk seperti orang yang benar-benar hilang ingatan. Pangeran Jeno ingin mendekat tapi Donghyuck makin ketakutan karena tak mengenalnya.
"Haechan, jangan takut... Aku yang membawamu ke tempat ini. Jadi... aku akan membantumu sampai akhir." Kata Pangeran Jeno lembut.
"Jadi kau yang membawaku ketempat ini?" gumam Donghyuck menatap Pangeran Jeno.
"Menghindari masalah ini takkan mengubah apa pun. Kau harus kuat. Tak bisakah kau percaya padaku dan ikut aku keluar?" kata Pangeran Jeno sambil mengulurkan tangannya. Mencoba meyakinkan Haechan untuk percaya padanya.
"Aku tidak bisa kembali lagi. Dan aku tidak bisa mengubah keadaan yang sudah terjadi. Aku ingin hidup! Aku ingin melakukan apapun sebisaku untuk tetap hidup." gumam Donghyuck melihat tangan Pangeran Jeno, lalu akhirnya berani memegang tangan Pangeran Jeno yang mengulurkan tangan.
Haechan lantas berpikir dalam hatinya "Saya tidak bisa lagi kembali. Dan saya tidak bisa mengubah keadaan sekarang. Maka saya harus hidup. Saya ingin melakukan apapun yang bisa untuk bertahan hidup dan tetap hidup."
"Saya ingin hidup," ujar Donghyuck dalam hatinya. Dan ia segera meraih tangan Pangeran Jeno.
♡♡♡
...~TBC~...
__ADS_1