
Haechan masih kaget dan menatap terus ke arah Pangeran Minhyung yang wajah kirinya tertutup topeng. Pangeran Minhyung tetap memeluk pinggang Haechan yang ada di hadapannya. Pangeran Minhyung memacu kudanya dengan kencang, membuat tangan Haechan memegang erat pudak Pangeran Minhyung untuk menjaga keseimbangannya agar tak terjatuh.
Pangeran Minhyung menghentikan langkah kudanya, dan mendorong Haechan hingga terjatuh dari atas kuda. Haechan terjatuh keatas tanah, ia meringis kesakitan. Orang-orang dipasar itu masih terlihat ketakutan melihat kehadiran Pangeran Minhyung. Haechan mencoba untuk berdiri sambil memegang pinggangnya yang terasa sakit. Haechan menatap Pangeran Minhyung dengan marah.
"Tunggu!" teriak Haechan marah, menghentikan Pangeran Minhyung yang sudah akan pergi.
"Bisa-bisanya kau menjatuhkan seseorang seolah mereka itu barang atau karung?" kata Haechan marah, Pangeran Minhyung masih tak peduli dan memilih untuk segera pergi. Haechan kembali menahan laju kuda Pangeran Minhyung dengan berdiri di depan kuda Pangeran Minhyung.
"Kubilang tunggu, jangan pergi dulu! Kau menunggang kuda dengan kecepatan tinggi disaat banyak orang di jalan sempit seperti ini? Coba kau lihat itu! Lihat, lihat. Semua orang harus minggir karenamu. Manusia itu lebih penting dibandingkan mobil, emm, maksudku lebih penting dari kuda. Apa kudamu itu lebih penting?" kata Haechan berteriak dan sempat salah ucap.
Pangeran Minhyung tersenyum sinis mendengar celotehan marah Haechan. Pangeran Minhyung menarik tali kudanya. Kuda itu merespon dengan ringkikan dan mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Jelas saja Haechan langsung mundur ketakutan hingga terjatuh karena takut kena tendang kaki kuda.
Sekali lagi Pangeran Minhyung tersenyum kecil dan pergi dari hadapan Haechan.
"Hei, hei, kau!" teriak Haechan sambil menunjuk- nunjuk kearah Pangeran Minhyung yang sudah pergi jauh.
Seorang wanita menghampiri Haechan. "Agasshi lupakan saja ini" Wanita itu mencoba memberi Haechan saran.
"Aku tidak bisa melupakan ini, kita harus menangkap orang itu" kata Haechan.
"Apa maksudmu? Kau sungguh tidak tahu Pangeran Keempat? Dia itu Pangeran Keempat. Kau masih hidup saja sudah beruntung" ucap wanita itu.
"Pangeran keempat? Pangeran lagi? Memang berapa banyak anak Raja Donghae?" ucap Haechan tak habis pikir harus bertemu dengan Pangeran lagi. Haechan kembali ingat tujuannya yang mengejar Heechul tapi ia sudah kehilangan jejaknya.
"Agasshi" Jeongra datang menyusul Haechan dengan tergesa-gesa.
"Apa yang Agasshi lakukan disini?" kata Jeongra khawatir.
"Jeongra, siapa laki-laki yang kira-kira setinggi ini? Dengan mata besar, dia keluar dari rumah kita. Apa kau tahu ada tamu seperti itu?" tanya Haechan pada Jeongra.
Jeongra tak menggubris pertanyaan Haechan.
"Ini bukan waktunya kau ada di sini. Putri Minah sedang mencarimu kemana-mana." Kata Jeongra panik, Haechan pun ikut panik Putri Minah tengah mencarinya.
♡♡♡
"Kenapa Oraboni keempat belum datang" kata Putri Minah yang tengah bersama para Pangeran.
"Sepertinya saudara keempat tidak akan datang" imbuh Putri Minah melihat ke arah pintu.
"Melihat Hyungnim keempat saja sudah membuatku sakit kepala" kata Pangeran Jaemin.
"Dua hari yang lalu aku bertemu dengannya dan tanpa sengaja aku menginjak kakinya" cerita Pangeran Jaemin pada saudara- saudaranya.
"Dia langsung mengatakan hal mengerikan padaku 'apa kau mau mati?', aku sangat takut" kata Pangeran Jaemin sambil menutupi sebagian wajahnya menyerupai topeng Pangeran Minhyung.
"Kau ini payah" ejek Putri Minah pada Pangeran Jaemin.
"Kami memang memiliki ibu yang sama, tapi kami jarang berkomunikasi. Aku tak bisa berbicara dengan lancar padanya. Kalau aku menyapanya, dia tidak pernah menanggapiku." Kata Pangeran Sungchan.
"Dia memang punya kecenderungan merusak suasana hati orang dalam sekejap" komentar Pangeran Wookhei.
Tiba-tiba pintu terbuka, Pangeran Minhyung masuk. Suasana tiba-tiba menjadi hening dan menegangkan. Pangeran Sungchan, Pangeran Jaemin dan Pangeran Wookhei yang sebelumnya menceritakan Pangeran Minhyung terlihat ketakutan.
Putri Minah tersenyum bahagia melihat Pangeran Minhyung datang ke istana. Pangeran Minhyung hanya menatap dingin saudara-saudaranya.
Pangeran Jaehyun melirik sinis pada sang adik.
Pangeran Jaemin, Pangeran Wookhei dan Pangeran Sungchan juga langsung menyapanya dengan sopan kemudian mereka bergegas duduk dipojokan ruangan.
"Hyungnim, kau datang" sapa Pangeran Kwanhyung yang sudah lama tak bertemu denganya. Pangeran Minhyung mengacuhkannya, lalu memilih untuk duduk jauh dari yang lain.
"Kau terlambat rupanya, kau dan aku harus berlatih untuk ritual bersama secara terpisah." Kata Pangeran Jeno terlihat santai berbicara dengan kakaknya.
"Kita bisa melakukannya" Kata Pangeran Minhyung.
"Kami tak pernah dengar kabarmu sama sekali selama di Shinju, jadi kami hampir akan menyuruh orang pergi ke Shinju. Kenapa kau tak pernah memberi kabar?" kata Putri Minah ramah.
"Bukankah sekarang aku sudah ada di sini" kata Pangeran Minhyung.
"Kau harus tinggal di sini bersama kami saat kau berada di Songak. Aku ingin dengar tentang Shinju." Kata Putri Minah.
"Ya, lebih baik kau tinggal disini dari pada tinggal di kediaman Ratu." Ucap Pangeran Jeno menyetujui saran adiknya.
"Jeno jangan terlalu berusaha keras. Dia lebih mengerti binatang dari pada perkataan manusia." Kata Pangeran Jaehyun dengan nada sinis.
Keempat adik mereka yang lain terlihat ketakutan dan terkejut dengan perkataan Pangeran Jaehyun. Pangeran Minhyung hanya menghela nafas mendengar sindiran kakak seibunya.
"Ah, bagaimana ya, aku pikir kata-katamu terlalu jelas" kata Pangeran Minhyung.
Suasana ketegangan di ruangan d itu sedikit terpecahkan dengan adanya para pelayan yang akan menyajikan minuman dan makanan.
Jeongra masuk dengan beberapa pelayan untuk menyajikan makanan dan minuman untuk Para Pangeran dan Putri Minah, Haechan mengintip dari depan pintu dan masuk dengan menutupi wajahnya agar tidak dikenali oleh Para Pangeran.
Pangeran Minhyung melihat kearah Haechan yang masuk dengan menutupi wajahnya dan bersembunyi dibalik tiang.
Perhatian Pangeran Jaemin tertuju pada Haechan yang bertingkah aneh. Pangeran Jaemin menghampirinya. Pangeran Jaemin ada dihadapan Haechan dengan tiang yang berada diantara mereka. Pangeran Jaemin berusaha melihat wajah tapi Haechan selalu menghindarinya. Pangeran Jaemin menarik Haechan dengan paksa dan menatap wajahnya lekat- lekat.
"Apa mungkin kau pernah melihatku sebelumnya?" kata Pangeran Jaemin.
"Tidak pernah" sangkal Haechan.
"Kau kelihatan tidak asing." Kata Pangeran Jaemin yakin.
"Tidak, tidak mungkin" Haechan terus menyangkalnya.
Jung bersaudara yang lain ikut juga melihatnya. Pangeran Jaemin mencoba melihat lebih dekat wajah Haechan untuk memastikanya. Haechan mencoba mengecoh dengan menjulingkan matanya agar tidak dikenali oleh Pangeran Jaemin.
"Kau yang sudah mengintip kita mandi kan?" kata Pangeran Jaemin. Akhirnya Pangeran Jaemin mengingat Haechan, wanita yang memata-matai mereka saat sedang mandi.
"Mana mungkin" Haechan tetap menyangkalnya.
Pangeran Jaemin mengangkat wajah Haechan yang terus menunduk dengan memegangi pipi Haechan.
"Ya, itu kau!" serunya.
"Itu bukan aku!" kata Haechan sontak mengibaskan tangan Pangeran Jaemin dan tanpa sengaja tangannya mengenai nampan berisi minuman yang dipegang Jeongra. Nampan itupun terjatuh hingga menimbulkan keributan.
"Ada apa ini?" kata Putri Minah marah. Haechan memilih untuk kabur menyelamatkan diri.
"Hyungnim apa benar gadis itu?" Pangeran Sungchan siap mengeluarkan pedang untuk berkelahi kalau memang wanita itu yang memata-matai mereka.
"Sepertinya dia terkejut jadi kurasa memang dia" Pangeran Kwanhyung juga merasa Haechan memang orangnya setelah melihat kekagetan Haechan atas tuduhan Pangeran Jaemin.
Pangeran Jeno tersenyum kecil melihat tingkah Haechan.
"Penampilannya berubah, dulunya ia sangat rapi dan sopan, bukan begitu Hyungnim?" tanya Pangeran Kwanhyung pada Pangeran Jeno.
"Aku juga tidak tahu tentangnya, kami tidak terlalu dekat, aku tidak yakin" kata Pangeran Jeno.
"Jaemin kau pasti salah lihat, mana mungkin Haechan bisa berada di area pemandian khusus anggota kerajaan" kata Putri Minah pada Pangeran Jaemin.
"Aku sangat mahir mengenali wajah orang, aku yakin sekali" kata Pangeran Jaemin, merasa ia tidak salah orang.
Haechan berhasil keluar dengan selamat. "Anak itu, seharusnya pria kecil itu percaya saja, aku kan sudah mengatakan mengatakan tidak" omel Haechan. "Aku akan gila jika keadaannya seperti ini, jika aku bisa melewati hari ini aku mungkin tidak akan bertemu dengannya lagi" kata Haechan menghela nafas dan menepuk dadanya.
Pangeran Jaemin keluar ruangan untuk mencari Haechan.
"Apa yang dia lakukan disini?" kata Haechan yang melihat Pangeran Jaemin dan segera bersembunyi dari Pangeran Jaemin.
"Dimana dia?" tanya Pangeran Jaemin pada dirinya sendiri, ia menoleh ke kiri dan kanan tapi tidak menemukannya. "Kesana atau kesana" kata Pangeran Jaemin sambil menunjuk ke kiri dan kanan. Akhirnya Pangeran Jaemin memilih berjalan terus kearah depan. Ia mencari-cari kemana perginya Haechan sampai mengecek guci besar untuk mengaduk lem.
Langkah Pangeran Jaemin terhenti pada sebuah pintu ruangan, lalu ia mengintip dari lubang pintu yang berlubang, terlihat Jeongra yang menghadap ke belakang sedang berganti pakaian. Haechan keluar dari persembunyian, melihat dari belakang Pangeran Jaemin sedang asik mengintip dari lubang pintu sambil terus menelan ludah.
Jeongra membalikan badannya, merasa kalau ada orang yang mengawasinya dari lubang pintu lalu berteriak histeris saat mengetahui ada yang mengintip.
Jaemin panik berusaha untuk kabur, tapi langkahnya terhenti oleh Haechan sudah berdiri dengan tatapan sinis menghadang jalan Pangeran Jaemin.
"Berhenti" kata Haechan menghalangi jalan Pangeran Jaemin.
__ADS_1
Jeongra keluar dengan wajah marah dan berteriak "siapa itu". tapi teriakannya terhenti karena pelakunya adalah seorang Pangeran.
"Aku benar kau sedang mengintip" kata Haechan yakin Pangeran Jaemin yang sudah mengintip.
"Apa kau mencurigaiku? Aku seorang Pangeran, bagaimana mungkin aku mengintip pelayan rendahan seperti dia" ucap Pangeran Jaemin sambil membusungkan dadanya.
"Ya, memang" kata Haechan yakin.
"Apa kau yakin itu aku yang melakukanya?" tanya Pangeran Jaemin pada Jeongra. Jeongra terlihat ketakutan harus bicara. dengan pangeran.
"Jawab aku. Apa kau yakin kalau kau melihatku mengintip?" tanya Pangeran Jaemin dengan mata melotot.
"Saya tidak melihatnya dengan jelas" kata Jeongra dengan takut dan wajah tertunduk.
"Kau sudah dengar kan? Kau tidak seharusnya mencurigai Pangeran lagi." Kata Pangeran Jaemin merasa bisa lepas dari tanggung jawab karena ia seorang pangeran. Pangeran Jaemin berniat akan pergi.
"Jeongra mungkin tidak melihatmu, tapi aku melihatmu dengan jelas. Aku mengerti kalau kau penasaran dengan wanita. Namun, itu tidak baik mengintip mereka! Minta maaf padanya sekarang!" Tegas Haechan menghentikan kepergian Pangeran Jaemin.
"Minta maaf kau bilang? Apa kau menyuruh seorang Pangeran merendahkan diri di depan seorang pelayan? Tidak ada peraturan seperti itu di negeri ini" kata Pangeran Jaemin dan menyuruh Haechan minggir.
"Hei! Kau tidak malu? Dasar Taka tahu malu" ejek Haechan tetap menghalangi jalan Pangeran Jaemin.
" Kau berani bicara seperti itu di depan seorang Pangeran? Kurang ajar sekali kau!" Kata Pangeran Jaemin.
"Minggir!"
Haechan mengejarnya, "Kau harus minta maaf sekarang" kata Haechan.
Pangeran Jaemin marah saat Haechan berani menarik bajunya"Ah benar-benar, nilaimu itu hanya butiran beras" umpat Pangeran Jaemin pada Haechan dan mendorong sampai jatuh.
Haechan semakin marah dan langsung menarik kaki Pangeran Jaemin saat akan pergi dan akhirnya jatuh bergulingan. Keduanya langsung beradu dengan saling menarik rambut.
Suara perkelahian Haechan dan Pangeran Jaemin terdengar sampai ke ruangan tempat para Pangeran dan Putri Minah.
"Aku rasa ada perkelahian di luar" kata Pangeran Sungchan kaget mendengar suara ribut di luar.
"Pasti itu Jaemin Hyungnim" keluh Pangeran Kwanhyung. Keduanya pun langsung bersama-sama keluar dari ruangan.
"Mereka memang tak dewasa sama sekali" komentar Pangeran Wookhei, Pangeran Jaehyun dengan tatapan dunianya ikut berjalan keluar dari ruangan.
"Ya, dimana-mana pertarungan memang sangat menghibur" ucap Pangeran Wookhei lalu ikut sang kakak keluar dari ruangan. Begitu juga Pangeran Jeno, Putri Minah akan keluar dan melihat Pangeran Minhyung hanya duduk sambil dengan menaikkan kaki sambil memejamkan matanya, seolah tak peduli.
Pangeran Jaemin berhasil membuat Haechan tak bisa bergerak dengan memiting bagian lehernya, tapi Haechan membalas dengan menggigit lengan Jaemin. Akhirnya Pangeran Jaemin melepaskan tanganya. Semua sudah keluar dari ruangan melihat perkelahian Pangeran Jaemin dengan Haechan yang seorang wanita.
Haechan berhasil menendang Pangeran Jaemin sampai terjatuh, Pangeran Sungchan dan Pangeran Kwanhyung menahan tawa karena Pangeran Jaemin bisa kena tendang oleh wanita. Haechan akhirnya bisa duduk diatas tubuh Pangeran Jaemin sambil memukul wajah sang pangeran.
"Hei.... Kau pikir akan aman setelah ini?" ucap Pangeran Jaemin mengancam.
"Pria cabul!" umpat Haechan.
"Kau tidak akan menang melawan ku". Balas Pangeran Jaemin dengan menjulurkan lidahnya pada Haechan yang ada di atasnya.
"Masih saja kau bicara." Ucap Haechan marah lalu membenturkan kepala di wajah Pangeran Jaemin.
Pangeran Jeno melonggo melihat tingkah Haechan, Pangeran Sungchan dan Pangeran Kwanhyung tertawa melihat Pangeran Jaemin dikalahkan oleh wanita. Jeongra ketakutan karena Haechan berani memukul seorang pangeran.
"Orang-orang sepertimu memang harus diberi pelajaran biar sadar" kata Haechan ingin memukul Pangeran Jaemin tapi tanganya di tahan oleh seseorang, Haechan berteriak meminta agar dilepaskan.
Pangeran Minhyung sudah keluar dari ruangan dan sekarang tengah menahan tangan Haechan yang ingin memukul adiknya. Haechan kaget melihat Pangeran Minhyung sudah ada didepanya, Pangeran Minhyung langsung menarik tangan Haechan sampai berdiri tepat didepan wajahnya. Keduanya saling menatap.
Pangeran Jaemin bangun, "Hyungnim, jangan lepaskan wanita itu" pinta Pangeran Jaemin pada Pangeran Minhyung.
Pangeran Jeno menahan Pangeran Jaemin yang ingin kembali berkelahi dengan Haechan.
"Dia itu wanita yang mengerikan, dasar gadis sinting" kata Pangeran Jaemin kesal ingin memukul Haechan.
"Jaemin" Kata Pangeran Jeno menghentikan Pangeran Jaemin.
"Hyungnim!" Protes Pangeran Jaemin.
"Banyak pelayan yang sudah melihat" kata Pangeran Jeno menenangkan Pangeran Jaemin kalau pelayan-pelayan itu sedang melihat semuanya, "apakah kau harus terus melakukanya".
Pangeran Jaemin kesal dan memilih pergi ke arah lain.
Haechan berusaha melepaskan tanganya, tapi Pangeran Minhyung memegangnya sangat erat sampai akhirnya melepaskanya dengan tersenyum mengejek pada Haechan. Haechan melirik sinis karena Pangeran Minhyung berani menahan tangannya.
♡♡♡
Pangeran Minhyung berjalan menuruni tangga, Haechan yang masih kesal mengejar dan memanggil "Hei, tunggu" Akhirnya Pangeran Minhyung berhenti berjalan dengan melirik dingin.
"Kau pernah melakukan ini sebelumnya, apa aku ini seperti karung atau barang?" keluh Haechan pada Pangeran Minhyung.
"Kau harus minta maaf juga." Kata Haechan.
"Aku? Memangnya kau siapa?" kata Pangeran Minhyung bertanya siapa wanita yang didepanya itu.
"Aku? Kau tanya aku siapa? Haechan. Namaku Seo Haechan." Ucap Haechan.
"Aku tidak menanyakan namamu. Apa posisimu sampai bertingkah seperti itu terhadap pangeran?" ucap Pangeran Minhyung.
"Kubilang, kau harus minta maaf. Kenapa kau menanyakan pangkatku seolah aku ini ada di sekolah militer? Apa kau akan mengabaikanku jika aku seorang pelayan dan minta maaf jika aku seorang Putri? Astaga, ini memang lingkungan yang aneh." Kata Haechan kesal.
"Jadi, apa kau mau dengar permintaan maafku?" tanya Pangeran Minhyung.
"Ya, dan bukan hanya darimu, tapi dari si kecil itu, si pangeran kecil itu. Aku akan mendapatkan permintaan maaf dari dia juga. Semakin tinggi posisimu, maka kau harus semakin peduli dengan keadilan. Bukankah begitu?" Kata Haechan.
"Baiklah, tapi setelah kau mendengaraku bilang 'maaf' padamu, maka kau harus mati. Apa itu tak masalah bagimu?" ucap Pangeran Minhyung berjalan mendekati Haechan, berdiri tepat didepan wajahnya.
Haechan hanya menatapnya, ia mulai gamang.
"kalau begitu... Aku minta.." permintaan maaf Pangeran Minhyung terhenti.
Karena Haechan tiba-tiba berteriak memanggil Nyonya Injoon. "Eonni, kau datang untuk mencari ku?" seru Haechan pada Nyonya Injoon, Haechan berlari menghampiri Nyonya Injoon dan berjalan dibelakangnya.
Nyonya Injoon sempat memberikan hormat pada Pangeran Minhyung yang merupakan kakak iparnya. Pangeran Minhyung tak bisa berbuat apa-apa dan memberikan hormat pada adik iparnya dan membiarkan Haechan pergi mengekori Nyonya Injoon.
"Ayo kita pergi.. ayolah, ayo kita pergi dan bicara" Ajak Haechan pada Nyonya Injoon.
Setelah kepergian Haechan, Pangeran Minhyung menyebut namanya "Seo Haechan.."
♡♡♡
Nyonya Injoon menumpuk batu dengan bentuk seperti gunung, disampingnya juga ada beberapa batu berbentuk gunung dan juga lampion digantung pada pohon tanpa daun. Nyonya Injoon mulai melakukan sembahyang, Haechan hanya diam sambil mengigit bibirnya.
"Apa pun alasannya, kau sudah memukul putra dari Raja bangsa kita ini. Kau takkan bisa menghindari hukuman. Mungkin pangeranku akan dihukum juga." Ucap Nyonya Injoon yang berpikir mungkin juga akan berimbas pada Pangeran Jeno.
"Menurutmu apa kau bisa menolongku? Aku akan berusaha yang terbaik menjelaskannya pada Raja." Kata Haechan mulai panik.
"Apa kau pikir mudah bertemu Raja?" kata Nyonya Injoon.
"Aku tidak menyangka bagaimana bisa kau berubah drastis. Kau dulu gadis yang berperilaku baik." imbuh Nyonya Injoon.
"Ibu pertiwi Songak datang ke sini untuk berdo'a demi kesejahteraan anak-anak mereka. Pernahkah kau berpikir kenapa aku datang kesini, meskipun aku tidak punya anak?" Kata Nyonya Injoon. Haechan hanya bisa tertunduk diam.
"Inilah yang dibuat oleh Ratu Sunyeong untuk Pangeran dan Putri Minah." kata Nyonya Injoon sambil menunjuk salah satu tumpukan batu yang ada disampingnya
"Dan ini, aku membangun ini untukmu." Ucap Nyonya Injoon menunjuk tumpukan batu berbentuk gunung yang ada didepannya. Haechan kaget mengetahui tumpukan batu itu miliknya.
Nyonya Injoon mulai bercerita "Ketika kau pertama kali datang ke rumah ini dan tahu kalau kau akan tumbuh sendirian karena tidak punya ibu, jadi aku tidak pernah menganggapmu sebagai adik sepupu tapi menganggapmu sebagai anakku sendiri. Ibumu akan melakukan ini untukmu jika dia berada di sini. Aku juga ingin melakukan hal yang sama untukmu. Namun, pada hari seperti ini, aku bertanya-tanya apa usahaku ini sudah cukup atau belum. Ibumu pasti mengawasi kita dan aku bertanya-tanya apa yang harus kulakukan. Aku merasa malu." Kata Nyonya Injoon menahan rasa sedihnya. Haechan langsung menangis mengingat ibunya.
"Ibu" kata Haechan mengingat ibunya. Nyonya Injoon memeluk sepupu yang sudah dianggap sebagai anaknya.
"Tolong. Apa yang telah aku lakukan untukmu? Pikirkan tentang ibumu dan hiduplah dengan baik." Ucapnya seraya membelai Haechan dengan penuh kasih sayang.
♡♡♡
Haechan duduk sendirian di depan gundukan batu miliknya, dalam hatinya bergumam "Lee Donghyuck, kau menjadi beban dimanapun kau pergi. Semua orang baik padamu, tapi kau pengganggu"
"Apa aku tidak bisa kembali? Kalau saja aku bisa, maka aku ingin kembali. Ibuku pasti menunggu." Gumam Haechan.
__ADS_1
Jeongra datang melihat Haechan sudah ada didepan tumpukan batu, "Agashi masuklah ke dalam karena udaran diluar sangat dingin." kata Jeongra meminta Haechan agar masuk.
"Apakah kau tahu tentang orang yang kutanyakan sebelumnya? Apa kau masih tidak tahu siapa dia? Ada tamu lain selain Pangeran" kata Haechan yang mengingat wajah Heechul.
"Entahlah... Rumah ini sering dikunjungi tamu. Sekarang sepertinya kau harus mandi." Kata Jeongra sambil melihat badan Haechan sudah kotor karena duduk ditanah.
"Tempat dimana aku terluka, kau bilang itu area pemandian terbesar di Songak kan!" kata Haechan mengingat-ingat pertama kalinya ia ada di Kwangya, saat ia keluar dari dalam kolam khusus anggota kerajaan, para pangeran yang melihatnya, Pangeran Jaemin yang berusaha mengejarnya. Jeongra yang menariknya keluar melalui gua dan memberitahu mereka ada di area pemandian terbesar Songak. lalu ia pingsan waktu itu.
"Kau tidak bisa pergi ke sana. Perasaanku tidak enak tentang tempat itu. Bagaimana bisa kau kembali ke sana?" tolak Jeongra.
"Aku akan menyiapkan air untuk Agashi jadi Agashi bisa mandi di rumah."
"Orang itu adalah orang yang kulihat sebelum aku mati." Gumam Haechan sangat ingat dengan wajah Ahjussi yang sama dengan Heechul.
♡♡♡
Heechul memincingkan matanya, Pangeran Kwanhyung dan Pangeran Wookhei menahan tawanya.
"Tubuhmu akan lebam, menjadi biru" kata Heechul.
"Bahkan mungkin akan menghitam" kata Pangeran Wookhei. Semua tertawa.
"Kau bisa lebih indah dari pada sebuah lukisan." tambah Pangeran Kwanhyung.
"Aku takkan membiarkan perempuan itu lolos begitu saja. Beraninya dia berbuat begitu pada pangeran?" kata Pangeran Jaemin geram. Pangeran Kwanhyung menahannya untuk tak pergi.
"Jadi maksudmu musuhmu sekarang adalah Haechan Agasshi? Dari apa yang aku lihat dan dengar, dia adalah gadis yang sangat lincah. Tidak mudah untuk bertemu seorang wanita seperti itu. Kau mengalami sesuatu yang langka." Komentar Heechul.
"Betul...sulit mengenali seseorang meski hanya bertemu sekali dan sulit juga mendapatkan pengalaman dipukul orang. Kau mungkin telah bertemu takdirmu, Jaemin" Goda Pangeran Wookhei sambil menggoda Pangeran Jaemin dengan menusuk-nusukkan jarinya kedada Pangeran Jaemin.
"Kau bilang takdirku? Takdir, apanya!! Lebih tepatnya dia musuh yang ditakdirkan untukku." Kata Pangeran Jaemin kesal.
"Tidak, kau tidak mengenal wanita dengan baik. Jika dia tidak tertarik padamu, maka dia takkan mau menyentuhmu." Komentar Pangeran Kwanhyung yang punya pengalaman banyak dengan wanita.
"Jadi, maksudmu, dia memukulku karena dia tertarik padaku?" tanya Pangeran Jaemin mendekati adiknya dengan mengerjapkan matanya penasaran.
"Ya, aku bilang 'kan bisa saja. Bisa juga tidak." kata Pangeran Kwanhyung. Dan diam-diam Pangeran Kwanhyung lantas tertawa kecil melihat Pangeran Jaemin percaya dengan omongannya.
♡♡♡
Pangeran Minhyung masuk Istana Dawimon dan menuju ke tempat kolam pemandian dengan beberapa pelayan terlihat ketakutan, lalu menaiki tangga. Pangeran Wookhei semua melihat pertama kali kedatangan Pangeran Minhyung langsung kaget begitu juga Pangeran Jaemin dan Pangeran Kwanhyung, mereka segera bersembunyi. Suasana terasa sangat dingin, tiga saudara Jung itu langsung mengintip dari balik tiang kayu penasaran apa yang akan dilakukan Pangeran Minhyung mereka.
Pelayan panik melihat kedatangan Pangeran Minhyung dan ingin menghalangi jalannya didepan pintu. Pangeran Minhyung mendorong pelayan agar minggir.
Saat masuk ruangan terlihat Pangeran Sungchan dan Pangeran Jaehyun sedang mengobrol bersama Ratu Soojung dengan sangat akrab. Ratu Soojung melotot kaget melihat kedatangan anaknya itu, Pangeran Sungchan ingin bangkit untuk menyapa kakaknya tapi ditahan oleh ibunya. Ratu Soojung lalu mengisyaratkan pelayan untuk menutup pintunya.
Pangeran Minhyung tersenyum didepan ibunya.
"Aku ingin mengucapkan salam padamu, ibunda" kata Pangeran Minhyung lalu bersujud dan duduk tegak, tapi Ratu Soojung tetap tak peduli.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Pangeran Minhyung dengan wajah berseri-seri.
"Aku sudah dengar bahwa kau telah tiba. Aku akan memanggilmu" kata Ratu Soojung terkesan dingin.
"Aku telah bertemu dengan saudara-saudaraku, jadi kupikir aku harus bertemu denhanmu, ibunda." Kata Pangeran Minhyung.
"Ibu, sepertinya Hyungnim sudah belajar seni bela diri akhir-akhir ini." cerita Pangeran Sungchan penuh semangat, Ratu Soojung terlihat tak percaya.
"Dia hebat sekali tadi waktu latihan untuk acara ritual. Menurut rumor..."kata Pangeran Sungchan yang langsung disela oleh kakak tertuanya
"Itu cuma rumor saja. Jaemin bilang pemerintahan Shinju sedang diambang kehancuran dan dia bicara omong kosong seperti itu." Jelas Pangeran Jaehyun.
"Kau, ceritakanlah padaku. Apa Kau sudah belajar seni bela diri?" tanya Ratu Soojung pada Pangeran Minhyung.
"Tidak, Belum" jawab Pangeran Minhyung.
"Kenapa harus? Mereka bukannya membesarkanmu menjadi harimau. Jadi kenapa keluarga Kang mau mengajar seni bela diri?" komentar Ratu Soojung dingin sambil meminum tehnya.
"Ibu, kau sudah tahu bahwa ada anjing serigala di Songak? Kata orang dia sangat mengerikan, sampai-sampai dia lebih mengerikan dari pada anjing ataupun serigala." Kata Pangeran Jaehyun menyindir Pangeran Minhyung.
"Bukannya mereka bilang anjing serigala itu dari Shinju?" balas Pangeran Minhyung tahu pasti kakaknya menyindir dirinya. Keduanya saling menatap sinis
"Sudah lama kau tak pergi ke ibu kota negeri ini, Songak, jadi nikmatilah kunjunganmu disini. Aku telah menyiapkan hadiah untuk ibumu, Kau tidak perlu lagi menemuiku sementara kau ada di Songak. Sekarang kau boleh pergi." Kata Ratu Soojung dingin.
"Sudah dua tahun kita tak berjumpa.Tapi kau dengan mudahnya menyuruhku pergi?" ucap Pangeran Minhyung tak percaya dengan mata berkaca-kaca.
"Itu karena ibu angkatmu, akan menderita tanpa kau di sisinya" ucap Ratu Soojung.
"Kali ini aku berencana tinggal cukup lama disini, bagaimana jika aku tinggal di istana bersama saudara-saudaraku" kata Pangeran Minhyung.
"Itu tak mungkin teriak!" Ratu Soojung, membuat Pangeran Sungchan kaget.
"Karena kau adalah keluarga Kang dari Shinju, apakah itu lupa ketika kau kembali ke istana maka itu akan menghasut dendam lama di antara dua keluarga."
"Kau mengatakan aku dikirim ke sana untuk diadopsi. Tapi aku adalah sandera" Ucap Pangeran Minhyung, Pangeran Jaehyun menahan tawa mendengarnya.
"Apa yang kau katakan. Bagaimana bisa kau bilang kau seorang sandera. Ibu hanya khawatir itu akan mengganggu ibu angkatmu." Komentar Pangeran Jaehyun.
"Jaehyun benar. Kenapa juga aku mengutusmu kesana sebagai sandera?" ucap Ratu Soojung membela diri
"Karena kau sudah bilang begitu, maka aku akan mempercayaimu" Balas Pangeran Minhyung lalu ingin mengeluarkan sebuah hiasan rambut untuk ibunya.
Tetapi Pangeran Sungchan mendahuluinya memberikan sekotak hadiah untuk sang ibu, "Aku bawa hadiah untukmu" kata Pangeran Sungchan, Ratu Soojung terlihat sangat bahagia menerima sebuah hiasan rambut.
"Ibu sangat menyukainya" kat Ratu Soojung.
"Aku tahu ibu menyukai aksesoris rambut jadi aku sengaja membeli dipasar yang terbuat dari perak jadi ibu harus memakainya saat ritual kerajaan" kata Pangeran Sungchan.
Pangeran Minhyung pun melihat barang milik Pangeran Sungchan lebih bagus dibanding miliknya, akhirnya ia mengurungkan niatnya memberikan hadiah pada ibunya.
"Terimakasih" kata Ratu Soojung mengucapkan terimakasih pada Pangeran Sungchan.
Pangeran Minhyung pun pamit pergi pada ibunya, tapi ibunya tak peduli.
"Bagaimana bisa seorang pangeran kelihatan rendahan sekali? Itu sangat memalukan." Sindir Pangeran Jaehyun, Pangeran Minhyung sudah berada di depan pintu memilih tak membalasnya.
Pangeran Wookhei, Pangeran Jaemin dan Pangeran Kwanhyung menguping pembicaraan mereka didepan pintu. Ketika Pangeran Minhyung keluar semua langsung berhamburan. Dua yang lain bisa berpura-pura menyibukan dirinya, sementara Pangeran Jaemin hanya bisa jatuh melonggo ketakutan. Pangeran Minhyung tak banyak bicara dan memilih untuk pergi.
"Setelah ritual selesai, pastikan Minhyung kembali ke Shinju. Kalau memang masih bersikeras tinggal di Songak panggil petugas keamanan dan seret dia keluar" pinta Ratu Soojung pada Pangeran Jaehyun.
"Ibu, tak perlu mengkhawatirkan hal itu karena tak ada gunanya juga Minhyung tinggal di istana." kata Pangeran Jaehyun.
"Apa kau sudah tahu? Ada banyak rumor di pasar tentang Minhyung Hyungnim. Ada orang yang bilang kalau ibu kita yang membuat wajahnya seperti itu." Ucap Pangeran Sungchan polos. Ratu Soojung terdiam mendengar perkataan Pangeran Sungchan.
"Mana mungkin bisa begitu? Sungchan, kau tak perlu ke luar istana jika kau kembali dengan rumor semacam itu" Kata Pangeran Jaehyun yang melihat wajah ibunya terlihat tegang.
"Baiklah" Kata Pangeran Sungchan pun tertunduk mengerti.
♡♡♡
Pangeran Minhyung berjalan cepat.
"Pangeran Jung Minhyung" Panggil Heechul. Pangeran Minhyung berhenti dengan melirik sinis, namun Heechul agak gugup setelah Pangeran Minhyung menatapnya tajam. Ia pun menyadari suasana hati Pangeran Minhyung sedang buruk dan Heechul hanya membalasnya dengan senyuman.
"Anda harus mandi sebelum ritual" kata Heechul.
"Siapkan tempat mandi untuk Pangeran keempat" perintah Heechul pada para pelayan.
Pangeran Minhyung tak menjawab, tapi mengikuti apa yang disarankan oleh . Pelayan pun mengantar Pangeran Minhyung ke tempat pemandian khusus pangeran.
Heechul hanya menghela nafas melihat kepergian Pangeran Minhyung.
Sementara dibalik dinding, Pangeran Wookhei, Pangeran Jaemin dan Pangeran Kwanhyung melihat itu semua.
"Kapan wajah Minhyung Hyungnim terluka seperti itu" kata Pangeran Kwanhyung bertanya-tanya.
"Apa kau mengetahuinya?" tanya Pangeran Kwanhyung pada Pangeran Wookhei.
"Tidak, aku hanya tahu seperti itu" kata Pangeran Wookhei sambil mengelengkan kepala karena tak mengetahuinya.
__ADS_1
"Ya, aku juga hanya tahu seperti itu" kata Pangeran Jaemin.
...~TBC~...