
Di hari yang mulai gelap, Haechan berjalan menyusuri tempat pemandian terbesar di Songak seorang diri dengan membawa lampion.
"Aku yakin kalau itu Ahjussi gelandangan" kata Haechan yakin jika Heechul yang dilihatnya adalah Ahjussi yang bertemu dengannya sebelum tenggelam di danau.
"Karena aku melihat orang yang sama, ini bisa jadi awal dari semuanya. Aku mungkin masih hidup di masa modern. Aku mungkin bisa kembali. Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya." Gumam Haechan terus menyusuri bebatuan yang besar-besar.
"Aku sudah memukul seorang Pangeran. Jadi aku harus kembali sebelum mereka memotong tangan dan kakiku. Sulit bagiku bertahan hidup di tempat ini." gumam Haechan berjalan menyusuri gua yang pernah dilaluinya dengan Jeongra.
Pangeran Minhyung sudah masuk ke dalam pemandian khusus anggota kerajaan dan para pelayan langsung keluar setelah menyiapkan segalanya.
Setelah melepaskan bajunya, Pangeran Minhyung memastikan lebih dulu disekelilingnya tak ada orang, lalu melepaskan topengnya dan berjalan ke tengah kolam air panas. Terlihat ada banyak bekas luka dibagian tubuhnya, matanya menatap bayangan wajah di dalam air yang beruap.
Tiba-tiba Haechan muncul dari dasar kolam, tepat di air yang tengah Pangeran Minhyung pandangi. Pangeran Minhyung kaget melihat ada orang keluar dari kolam.
"Ah aku hidup, aku pikir aku akan mati" kata Haechan panik dengan mata terpejam, belum sadar kalau ada orang didepannya. Mata Haechan langsung melotot melihat Pangeran Minhyung tanpa topeng dengan bekas luka dibagian wajahsebelah kiri.
Pangeran Minhyung juga tak kalah kaget langsung menutup wajahnya dengan tangan, dengan gugup bertanya.
"Apakah kau melihatnya?" tanya Pangeran Minhyung. Haechan tak menjawabnya ia melangkah mundur karena ketakutan, Pangeran Minhyung pun berjalan mendekatinya membiarkan wajahnya terlihat.
"Aku bertanya, apa kau melihatnya?!" teriak Pangeran Minhyung sambil mencekik leher Haechan.
"Tolong... tolong biarkan aku hidup." Kata Haechan memohon
"Lupakan aku dan lupakan yang kau lihat tadi. Jika tidak...wajahmu akan seperti ini juga." Ucap Pangeran Minhyung mengancam, Haechan hanya bisa mengangguk takut.
Pangeran Minhyung langsung keluar dari kolam membawa baju dan topengnya, tanpa sadar hiasan rambut hadiah untuk ibunya terjatuh.
Haechan jatuh lemas merasakan jantung berdebar sangat cepat "Oh jantungku", lalu melihat jepitan rambut yang dijatuhkan Pangeran Minhyung, dan mengambilnya.
Terdengar suara pelayan "Apa Pangeran Keempat sudah pergi?, Ayo kita bersihkan"
Haechan pun bergegas pergi, sambil membawa hiasan rambut yang terjatuh dari jubah Pangeran Minhyung.
♡♡♡
Haechan berjalan pulang dengan tubuh basah dan gemetar berjalan memegang lampion.
Di depan kediaman Pangeran Jeno, Pangeran Jeno, Nyonya Injoon, Para pelayan dan Jeongra terlihat panik.
Ketika sampai didepan kediaman Pangeran Jeno, Haechan tertegun melihat semua menunggunya. Jeongra dan Para Pelayan berlari menghampiri Haechan dengan tubuh basah dan gemetar.
"Agasshi, dari mana saja kau?" kata Jeongra khawatir.
"Apa kalian semua sedang menungguku?" tanya Haechan tak percaya mereka semua menunggunya.
"Darimana saja kau". tanya Nyonya Injoon khawatir.
"Badanku terasa kotor, jadi aku keluar untuk mandi." kata Haechan.
"Kau harusnya beritahu orang kalau mau pergi. Seluruh keluarga khawatir padamu." Ucap Nyonya Injoon.
"Keluarga?" kata Haechan kaget mendengar kata keluarga.
"Bawa dia ke dalam dan hangatkan tubuhnya." Perintah Pangeran Jeno.
Jeongra dan pelayan mengerti, tapi Haechan terlihat masih terdiam ketika menaiki tangga dan melihat pintu masuk, Nyonya Injoon dan Pangeran Jeno heran karena Haechan hanya diam saja.
"Ayo masuk" kata Pangeran Jeno menyuruhnya untuk segera masuk.
"Aku.. aku merasa seperti di rumahku sendiri" kata Haechan berkaca-kaca karena dianggap keluarga. Pangeran Jeno dan istrinya menatap binggung, Jeongra mengajak Haechan untuk segera masuk ke dalam rumah.
♡♡♡
"Anda ini pembuat masalah" kata Jeongra sambil mengeringkan rambut Haechan.
"Sebelumnya aku sudah memberitahu untuk tak pergi kesana."
"Jeongra, apa kau mengenal Pangeran Keempat? Orang seperti apa dia?" Tanya Haechan pada Jeongra.
"Apa anda bertemu dia di pemandian?" tanya Jeongra.
"Apa yang kau bicarakan?" sangkal Haechan.
"Aku tahu tidak mungkin bagi pria dan wanita satu tempat pemandian di Kwangya... Tapi anda harus lari begitu anda melihat Pangeran keempat " Jelas Jeongra.
"Lari? Kenapa?" tanya Haechan binggung.
"Ibu kandungnya itu adalah Ratu Soojung. Dia diadopsi oleh Selir Kerajaan Kang di Shinju. Dia adalah pria yang kuat dengan dua keluarga. Dia terkenal sangat menakutkan dan kejam." Cerita Jeongra.
Di sebuah bukit yang tinggi di Shinju.
"Pangeran... Pangeran..." teriak beberapa pengawal dengan membawa obor. Di Beberapa tempat di bukit itu sudah terbakar, tiba-tiba dari atas bukit turun Pangeran Minhyung dengan membawa obor yang terlihat terhuyung-huyung karena kelelahan.
Para pengawal yang dibawah kaget melihat Pangeran Minhyung bisa turun.
"Dia tidak meninggal? Dia masih hidup?" kata salah seorang pengawal kesal karena Pangeran Minhyung masih hidup dan tidak mati.
"Mereka bilang hobinya berburu binatang seiak dia masih kecil. Ada juga rumor yang mengatakan kalau dia telah membantai semua serigala di seluruh penjuru Shinju." cerita Jeongra.
Pangeran Minhyung melawan semua serigala di bukit itu dengan kobaran api lalu berteriak seperti serigala yang sedang marah.
"Mereka bilang, dia juga bisa membunuh orang dengan mudah. Terutama orang yang telah melihat bekas luka di wajahnya." Bisik Jeongra.
"Orang yang melihat bekas luka di wajahnya?" kata Haechan kaget mengetahui tadi ia sempat melihat bekas luka di wajah Pangeran Minhyung.
"Kalau begitu, tadi aku sungguh hampir mati karena aku melihat wajahnya tanpa topeng." Gumam Haechan panik.
"Dia takkan diijinkan menginjakkan kaki di Songak jika dia bukan seorang pangeran, Benar-benar lega rasanya" Kata Jeongra.
"Kenapa?" tanya Haechan. "Kau bahkan tidak boleh pergi kemana-mana jika ada bekas luka di wajahmu?" tanya Haechan heran.
"Kau pikir kau bisa? Orang hanya menyukai wajah yang menarik." kata Chaeryung.
Haechan bergumam "Mereka harus berpenampilan menarik jika ingin diperlakukan dengan baik meski di zaman Kwangya, ini sama saja dengan zaman sekarang, dunia ini sungguh mengerikan."
♡♡♡
Saat tengah malam Ratu Soojung mandi sendirian di kolam yang penuh dengan bunga, sambil minum dengan pikiran yang menerawang.
-Flashback-
Pangeran Jaehyun menggunakan topeng untuk acara ritual "Jika penurunan tahta tidak dilaksanakan juga, maka kita tidak harus buru-buru seperti sekarang" kata Pangeran Jaehyun.
"Dia selalu bersikap sok kuat dan apa yang akan dia jika meninggal?" kata Pangeran Jaehyun berbicara tentang Putra Mahkota seraya memainkan topengnya.
"Peluang seperti ini jarang terjadi. Kau harus menghabisinya selama ritual." Ucap Ratu Soojung duduk dibangku kebesaranya.
"Sudah kubilang, ibu tak usah khawatir." Kata Pangeran Jaehyun menenangkan ibunya, sambil mengenakan topengnya.
-Flashback end-
"Apakah Putra Mahkota yang akan menjadi satu-satunya mengusir roh-roh jahat?" gumam Ratu Soojung sambil minum kembali.
♡♡♡
Keesokan paginya, Istana mulai sibuk menyiapkan Ritual Kerajaan. Para pengawal membawa patung naga besar dan juga singa ke dalam istana untuk ritual Pengusiran Setan yaitu ritual yang bertujuan untuk menangkal roh jahat pada bulan ke-12 tahun baru lunar, lampion dan spanduk besar dipasang di Istana.
♡♡♡
Sementara itu di kediaman Pangeran Jeno, Haechan berdiri dengan wajah yang bosan, pelayan membantunya memasangkan baju yang berlapis-lapis.
__ADS_1
Haechan menghela nafas panjang "apakah sudah selesai?" tanya Haechan pada Jeongra. Jeongra mengelengkan kepala.
Setelah selesai mengunakan pakaian, Haechan juga di pakaikan hiasan rambut, yang membuat Haechan sedikit mengaduh saat hiasan rambut dipasangkan.
♡♡♡
Haechan pun berjalan di sebuah pasar tradisional. Di pasar, anyak orang yang sedang lalu lalang dengan topeng, untuk merayakan acara ritual.
Haechan sempat tersandung pada baju yang dikenakannya. Haechan melihat beberapa wanita sedang bertemu dengan pria yang menggunakan anting.
♡♡♡
Ratu Soojung dibantu dayang mengunakan sabuk emas, rambutnya sudah ditata. Anting, kalung, hiasan rambut semua berlapis emas. Pelayan membantu mengunakan jubah kebesarannya sebagai Ratu.
"Aku tidak ingin ada wanita lain lebih gemerlap dariku. Jika nanti ada" Ucap Ratu Soojung melihat penampilanya di depan cermin. "Aku rasa itu tidak akan ada" kata Ratu Soojung tersenyum pada para pelayannya.
Ratu Sunyeong, bersama Putri Minah dan Nyonya Injoon masuk ke dalam istana. Mereka bertemu dengan Ratu Soojung yang baru keluar juga dari kediamannya.
"Tiga bunga telah mekar di istana" kata Ratu Soojung dengan senyumanya mengucapkan perumpamanya.
"Ratu Sunyeong, kau hari ini kau lebih anggun" kata Ratu Soojung melihat Ratu Sunyeong.
"Ratu Soojung, anda kelihatan sangat cantik hari ini" Puji Ratu Sunyeong.
"Putri Minah... Jangan hanya mengunjungi ibumu, tapi kunjungi aku juga. Ceritakan padaku kisah menyenangkan tentang dunia. Para pangeran tidak tahu apa-apa soal itu." Kata Ratu Soojung ramah.
"Aku khawatir keterampilan berbicaraku tidak cukup baik untuk menghiburmu. Tapi, aku akan segera mengunjungimu dan menyiapkan beberapa cerita menarik." Balas Putri Minah.
"Aku akan menunggu" kata Ratu Soojung, "Kalau begitu ayo kita temui Raja" kata Ratu Soojung lalu pergi untuk bertemui Raja.
Senyum Putri Minah langsung hilang setelah melihat Ratu Soojung pergi, Nyonya Injoon mengenggam tangan adik iparnya agar bisa meredam kemarahanya.
"Hanya berpapasan dengannya saja sudah membuat suasana hatinya berbeda." kata Ratu Sunyeong.
"Aku khawatir memikirkan kalau Ibu harus mengatasi itu semua sendirian di istana. Oraboni harus berdiri di sisimu secepat mungkin." Ucap Putri Minah kesal.
"Ini istana, jadi hati-hati akan ucapanmu." Kata Nyonya Injoon mengingatkan
"Kakak iparmu benar.... Kau masih banyak kekurangan. Alangkah lebih baik jika kau lupa segalanya." Kata Ratu Soojung
"Mana mungkin aku bisa melupakan dendam seperti itu?" kata Putri Minah.
"Kenapa kau tak membawa Haechan? Seluruh istana sudah tahu kekacauan apa yang telah diperbuatnya." Ratu Sunyeong bertanya pada Nyonya Injoon.
"Dia telah melakukan banyak kesalahan semenjak terluka, jadi aku membiarkan dia untuk bersenang-senang sendiri" kata Nyonya Injoon.
"Aku mengerti, ayo kita harus segera pergi Raja sudah menunggu" kata Ratu Sunyeong mengajak mereka segera pergi.
♡♡♡
Para pangeran sudah berlatih pedang, Putra Mahkota sebagai pemimpin dan juga Pangeran Jaehyun mengunakan topeng yang berbeda sementara yang lain mengunakan pakaian merah dengan topeng berwarna merah dan putih.
"Raja akan bangga melihat kalian semua di sini. Setelah upacara ritual ini selesai, kita akan mengadakan pesta besar." Ucap Putra Mahkota Taeyong.
"Ya, Putra Mahkota" jawab Para Pangeran serempak.
Pangeran Jaemin segera menghampiri Pangeran Jeno yang ada didepannya, "Hyungnim, akankah istrimu dan Haechan ikut menghadiri upacara itu juga?" tanya Pangeran Jaemin penasaran.
"Aku rasa begitu" kata Pangeran Jeno.
"Begitukah" kata Pangeran Jaemin terlihat senang mendengarnya.
"Kenapa? Apa kau mau dipukuli lagi karena jadi penampil terburuk kali ini?" ejek Pangeran Wookhei.
"Tidak, kali ini aku ingin menceramahi dia." Kata Pangeran Jaemin kesal.
"Apa kau mau mendapatkan mata lebam lagi?" ejek Pangeran Jaehyun.
"Jangan tertawa" kata Pangeran Jaemin marah menyuruh Pangeran Sungchan untuk berhenti tertawa, tapi Pangeran Sungchan tetap tertawa.
"Aku bilang jangan tertawa" lalu mereka kejar-kejaran seperti anak kecil mengelilingi Pangeran Kwanhyung.
"Kemari kau" teriak Pangeran Jaemin.
Keduanya kembali adu dada dan Pangeran Jaemin berpura-pura terjatuh merasa kesakitan.
"Hyungnim, Hyungnim! Kau tidak apa-apa?" kata Pangeran Sungchan panik melihat sang kakak kesakitan sambil menghampiri Pangeran Jaemin.
"Aku sudah menangkapmu sekarang" kata Pangeran Jaemin langsung menjepit dengan kakinya karena adiknya kena jebakan.
"Kau masih bukan tandinganku" Semua tertawa melihat tingkah mereka.
"Berani sekali kau bersikap seperti itu terhadap Hyungnim mu" kata Pangeran Jaemin saat Pangeran Sungchan telah lepas. Mereka kembali beradu dada, dan kembali kejar-kejaran.
Pangeran Minhyung yang biasanya terlihat dingin ikut tersenyum, Pangeran Jeno melihat sang kakak terlihat tersenyum.
Pangeran Minhyung menyadari adiknya menatapnya, lalu kembali berwajah dingin.
"Hentikan kalian berdua" kata Putra Mahkota Taeyong.
Beberapa orang datang dengan topeng yang menutupi wajah dan pakaian hitam, Pangeran Jaehyun melirik melihat kedatangan mereka. Di sebuah tempat tersembunyi Putra Mahkota Taeyong menukar topeng dan juga pakain milikinya dengan Pangeran Minhyung. Pangeran Minhyung pun mengenakan topeng Bangshangshi (karakter monster pemburu) dalam upacara ritual Korea kuno, yang semestinya dikenakan oleh Putra mahkota.
Heechul pun berada disana menyaksikan keduanya bertukar posisi selama ritual.
Acara ritual dimulai Pangeran Minhyung masuk ke dalam istana dengan tombak besar, Pangeran Minhyung memakai topeng yang seharusnya dipakai Putra Mahkota Bangshangshi (Karakter pemburu raksasa yang bertindak sebagai perwakilan upacara).
Raja dan kedua Ratunya duduk disinggahsana paling tinggi.
Lalu Para Pangeran keluar sebagai Jin Ja (Pangeran yang merayakan ritual).
Pangeran Jaehyun dengan beberapa orang lainya menjadi Chang Soo (Sekumpulan manusia yang membacakan mantra untuk menangkis roh jahat).
Ratu Soojung terlihat tegang.
"Jin Ja telah berkumpul, sekarang kita akan menampilkan roh roh jahat" kata Heechul memberitahu Raja.
Raja mengangkat tanganya dan suara tabuhan terdengar.
Semua Pangeran langsung memperlihatkan gerakan tarian pedang untuk acara ritual.
Putri Minah dan Nyonya Injoon ikut menonton terlihat senang.
Datang beberapa orang topeng dari atap istana, yang berperan sebagai roh jahat. Pangeran Minhyung bisa melakukan gerakan bela diri untuk melawan mereka.
"Putra Mahkota sangat terampil melakukan perannya" Ratu Sunyeong memuji gerakan Pangeran Minhyung yang dikira Putra Mahkota.
"Dia pernah berada di medan perang" kata Raja bangga. Pangeran Minhyung melakukan gerakan bela diri dengan sangat baik.
Ratu Soojung masih tetap tegang.
♡♡♡
Sementara Haechan dan Jeongra jalan-jalan di pasar dengan kemeriahan atraksi yang dibuat oleh rakyat. Semua terlihat membuat perayaan sendiri untuk mengusir roh jahat dengan membuat pesta. Haechan dan Jeongra menari-nari mengikuti irama drum yang dimainkan dengan berkeliling.
♡♡♡
Di istana, upacara ritual masih berlangsung. Pangeran Minhyung dalam pakaian Putra Mahkota digambarkan bisa mengalahkan roh jahat dengan tombaknya.
"Monster suci mengalami luka jadi Perutnya perlu diobati." kata Pangeran Jaehyun yang berperan sebagai Chang Soo.
"Minyak beruang pemakan roh. Cahaya menelan Buddha. Kami akan memanggil 12 dewa dan menghapus roh-roh jahat dan penyakit. Aku akan memotong tubuhmu. Aku akan menembus hatimu dan mengiris dagingmu. Aku akan mengeluarkan perut dan ususmu." kata Pangeran Jaehyun dan Pangeran Minhyung berbarengan sebagai bagian dari ritual.
__ADS_1
Tiba-tiba datang sekelompok orang dari atap menyerang Pangeran Minhyung yang dikira Putra Mahkota dengan pedang berusaha menusuknya. Pangeran Minhyung menghalanginya dengan tameng yang digunakanya dalam ritual untuk bisa menahanya pedang tersebut sebelum tertembus dadanya.
"Lindungi Yang Mulia Raja" teriak Heechul melihat kejadian tak terduga itu.
Pangeran Minhyung bisa mengunakan pedangnya membunuh salah seorang yang menyerangnya, Pangeran Jeno, Pangeran Wookhei, Pangeran Sungchan membuka topengnya dan langsung ikut berkelahi dengan orang yang menyerang putra mahkota.
Ratu Sunyeong panik melihat Putra Mahkota diserang oleh orang yang tak dikenal.
Pangeran Jaemin memilih untuk bersembunyi dibalik tubuh Pangeran Kwanhyung karena ketakutan.
Perkelahian yang tadinya hanya atraksi rituali sekarang menjadi perkelahian yang sebenarnya, Ratu Soojung benar-benar tegang. Salah seorang ingin membunuh Pangeran Minhyung yang dikira Putra Mahkota dengan mengayunkan pedangnya tapi bisa ditangkisnya.
Pangeran Jaehyun dengan topengnya sengaja berpura-pura berduel dengan seorang pembunuh dan mengarahkan pedangnya untuk menyerang Pangeran Minhyung yang dikira Putra Mahkota, Pangeran Minhyung pun terluka terkena pedang dibagian tangannya.
"Taeyong!" Raja berteriak panik mengetahui Putra Mahkota terkana pedang, Ratu Sunyeong dan lainya kaget, sementara Ratu Soojung tetap diam.
Salah seorang pembunuh ingin langsung membunuh Pangeran Minhyung yang dikira Putra Mahkota tapi Pangeran Taeyong dengan masih mengunakan topengnya bisa menghalanginya.
Raja akhirnya turun ingin melihat kejadian, tapi semua pembunuh langsung kabur melewati atap istana.
Jung Jaehyun membuka topengnya, melihat Pangeran Minhyung yang dikira Putra Mahkota dengan topeng yang masih dipakainya sedang berlutut setelah lengannya terluka terkena pedang.
Para pasukan istana datang, "Tangkap mereka" Teriak Pangeran Jaehyun menyuruh semua untuk menangkap orang yang menyerang Putra Mahkota.
Pangeran Jeno melihat Pangeran Minhyung yang dikira Putra Mahkota sebentar lalu ikut mengejar mengikuti Pangeran Jaehyun keluar dari istana, "Pasukan kerajaan ikut aku" perintah Pangeran Jeno meminta pasukan yang lain ikut bersamanya juga.
Raja dan Heechul datang ingin melihat keadaan Putra Mahkota.
"Putra Mahkota" panggil Raja khawatir, "Taeyong" kata Raja saat sudah dihadapan Pangeran Minhyung, ketika membuka topengnya Raja kaget melihat Pangeran Minhyung bukan Putra Mahkota Taeyong yang diserang oleh orang tak dikenal.
"Kau, kau pangeran keempat" kata Raja kaget.
Ratu Soojung dan Pangeran yang lainya kaget mengetahui bukan Putra Mahkota Taeyong yang ada dibalik topeng.
"Dimana Putra Mahkota?!" Raja berteriak langsung berdiri memanggil Putra Mahkota.
Pangeran Minhyung hanya melihat Raja dengan tatapan kecewa, karena sang Ayah seakan tak peduli padanya yang jelas-jelas tengah terluka.
"Aku disini, Yang Mulia" kata Putra Mahkota Taeyong membuka topeng yang sudah ditukar dengan Pangeran Minhyung, Raja lega anaknya itu masih hidup.
Ratu Soojung duduk lemas karena gagal untuk membunuh Putra Mahkota bahkan tempatnya digantikan oleh Pangeran Minhyung.
"Kau tidak apa-apa, Pangeran Keempat?" kata Heechul dengan perhatian menanyakan keadaan Pangeran Minhyung yang terluka terkena pedang. Mata Pangeran Minhyung berkaca-kaca karena ia bisa melihat sendiri bagaimana keluarga nya tidak ada yang peduli padanya.
Setelah mendengar ucapan Heechul Raja mengalihkan pandangannya pada Minhyung yang masih berlutut dihadapannya.
Pangeran Minhyung berdiri menatap ayahnya dengan Mata berkaca-kaca.
"Minhyung" kata Raja.
"Aku akan menangkap mereka" kata Pangeran Minhyung lalu berlari keluar dari istana.
Raja masih terdiam setelah apa yang terjadi.
Putra Mahkota Taeyong ingin ikut mengejar, tapi Raja menahannya agar tak ikut keluar dari istana dan menggenggam tangannya.
♡♡♡
Di luar istana...
Lampion dalam berbagai bentuk yang unik, terlihat cantik menghiasi sungai. Haechan terlihat bahagia melihat lampion dengan bentuk ikan, ada bunga, naga dan juga istana. Jeongra juga tak kalah senang melihat kemeriahan hari dengan lampion.
Pangeran Minhyung melalui pasar dan melihat banyak orang yan mengunakan topeng jadi tak bisa melihat mana yang sengaja menyerang Putra Mahkota. Akhirnya ia naik ke atap melihat ada beberapa orang dengan pakaian hitam berjalan diatap seperti ninja. Pangeran Minhyung mengejar mereka dengan berlari diatap. Lima orang pun turun dari atap dan Pangeran Minhyung kembali mengejarnya dengan berlari.
Haechan sangat bersemangat berlari kesana kemari melihat semua barang-barang yang dijual pedagang, mencoba semua makanan.
"Kita istirahat dulu sebentar, saat ini aku tidak akan bisa menikah, tubuhku jadi mengkerut" rengek Jeongra meminta agar Haechan beristirahat sebentar sambil duduk.
"Kau itu jauh lebih muda dariku. Kenapa kulit mu mengkerut?" kata Haechan.
"Kita cuma beda satu tahun." Kata Jeongra kesal.
Haechan berbalik lalu ia melihat Pangeran Minhyung dibalik pepohonan sedang berlari.
"Jeongra, tunggu disini" pinta Haechan.
"Agasahi, Haechan Agasshi" Jeongra berteriak memanggil Haechan tapi Haechan telah berlari mengejar Pangeran Minhyung.
Pangeran Minhyung terus berlari mengejar para pembunuh yang ingin menghabisi Putra Mahkota hingga kedalam hutan.
Disisi lain Haechan terus berlari mengikuti Pangeran Minhyung hingga masuk ke dalam hutan.
Pangeran Minhyung terus mengejar para pembunuh tapi ia ditahan oleh seseorang pembunuh bertopeng dengan pedangnya.
Haechan kehilangan arah dan terus mencoba mencari tempat Pangeran Minhyung berlari.
Pangeran Minhyung terus bertarung dengan seorang anggota pembunuh bertopeng yang menghalanginya. Haechan berjalan menyusuri hutan untuk mencari Pangeran Minhyung, dari kejauhan ia melihat beberapa orang bertopeng dengan pakaian serba hitam. Seseorang yang membelakangi Haechan terlihat seperti pemimpin kelompok itu modar-mandir didepan semuanya. Lalu semua langsung berlutut.
Dari belakang semua pengawal langsung membunuh semua pria bertopeng dengan pedangnya. Haechan benar-benar kaget melihat pembunuhan yang terjadi didepanya dengan cepat.
Terlihat darah yang muncrat mengenai wajah Pangeran Jaehyun sebagai pemimpin, saat Pangeran Jaehyun akan menyentuh darah diwajahnya, Pangeran Jaehyun merasakan ada suara dibelakangnya, ketika menengok kebelakang ternyata tak ada siapapun. Seorang pengawal terakhir juga ikut dibunuh.
Pangeran Minhyung mengarahkan pedangnya pada pembunuh bertopeng di hadapannya dan berkata "Kau pikir kau bisa keluar dari hutan ini hidup-hidup? Katakan padaku, siapa dalang dibalik semua ini? Jika kau mengatakannya, aku akan berbicara pada Raja untuk mengampunimu".
Si pembunuh bertopeng tak percaya dan tetap menaikan pedangnya.
"Akulah Pangeran keempat, Jung Minhyung. Percayalah pada janji yang dibuat oleh Pangeran." Kata Pangeran Minhyung berjalan mendekat dan menurunkan pedangnya.
Tiba-tiba Haechan datang dengan gugup berkata "Disana... ada orang-orang...", Pangeran Minhyung kaget melihat Haechan.
Pembunuh bertopeng langsung menarik dengan menjadikannya sandera, dengan mengarahkan pedang dileher Haechan.
"Aku bilang bunuh dia" kata Pangeran Minhyung dengan enteng menyuruh pembunuh bertopeng untuk membunuh Haechan saja.
Haechan melotot kaget mendengar perkataan Pangeran Minhyung.
"Bunuh dia" kata Pangeran Minhyung, si pembunuh bertopeng terlihat bimbang."Kalau kau tak mau melakukannya, apa harus aku saja?" kata Pangeran Minhyung dingin, dan mengarahkan pedang kearah Haechan.
"Se...se... selamatkanlah aku. Aku sungguh akan mati jika kau melakukan hal ini." kata Haechan memohon ketakutan karena lehernya sudah tergores terkena ujung pedang.
"Aku tidak peduli mau kau apakan gadis itu. Hentikan tindakan bodoh mu itu dan katakan siapa dalang di balik ini semua!" kata Pangeran Minhyung. "Cepat Sekarang katakan!" teriak Pangeran Minhyung.
Haechan bisa merasakan tangan si pembunuh bertopeng sedikit melonggar lalu mengambil kesempatan dengan mengigit tanganya, hingga pembunuh bertopeng melepaskannya.
Tapi Si Pembunuh bertopeng langsung menangkapnya dan ingin membunuhnya, saat itu juga pisau belati melayang langsung mengenai dahi pembunuh bertopeng hingga topengnya terlepas.
Pangeran Minhyung kaget ia berbalik dan ia melihat Pangeran Jeno yang melakukannya. Minhyung sangat marah sedangkan Haechan bisa bernafas lega melihatnya.
"Kenapa?!" Teriak Pangeran Minhyung marah, lalu menarik Haechan "Aku hampir mendapatkannya, semua ini karena dirimu" Haechan pasrah melihat pedang Pangeran Minhyung yang kembali mengarah ke lehernya.
Pangeran Jeno yang ada dibelakang Pangeran Minhyung juga mengarahkan pedangnya ke leher pangeran Minhyung.
Pangeran Minhyung menoleh dan melihat Pangeran Jeno dengan tatapan dinginnya.
"Cukup!" Pinta Pangeran Jeno pada kakaknya agar menghentikanya, "Dia tidak bersalah lepaskan dia"
Pangeran Minhyung malah menyandera Haechan dengan memeluknya dan beradu pedang dengan adiknya.
"Tidak akan!" kata Pangeran Minhyung menolak. Haechan hanya bisa menangis berada dipelukan Pangeran Minhyung yang menyanderanya.
...~TBC~...
__ADS_1