Scarlet Heart (MarkHyuck)

Scarlet Heart (MarkHyuck)
3. Si Anjing Serilaga


__ADS_3

Malam harinya Pangeran Minhyung berdiri sendirian diistana, dengan topeng yang masih melekat di wajah kirinya. Pangeran Minhyung menatap istana dan teringat masa kecilnya. Saat ia melihat kedua orang tuanya bertengkar.


-Flashback-


Terdengar teriakan Ratu Soojung dari dalam kamarnya, Ratu Soojung tidak terima keputusan Raja untuk menikah lagi. Raja langsung keluar kamar. Putra Mahkota Taeyong dan Pangeran Minhyung yang masih kecil mengintip dan mendengar pertengkaran Raja Donghae dan Ratu Soojung.


"Yang Mulia!... lebih baik aku mati. Putra sulung kita baru saja meninggal. Mana bisa kau menikah lagi? Mana bisa kau menikah pada saat seperti ini?" Ucap Ratu Soojung.


"Kwangya Selatan berada dalam bahaya. Pernikahan inilah satu-satunya solusi untuk melindungi Kwangya Selatan untuk saat ini" ucap Raja Donghae.


"Sebelum kau jadi Raja, kau adalah ayah dari anak-anakku. Apa kau tidak sedih? Apa hatimu tidak sakit? Apa kau tak ingin berharap kau bisa mati dan menghidupkan anakmu?" Kata Ratu Soojung marah.


"Banyak nyawa yang dipertaruhkan disini" tegas Raja Donghae lalu beranjak pergi tak peduli dengan protes Ratu Soojung.


"Yang Mulia!" Panggil Ratu Soojung, menghentikan langkah Raja. Ratu Soojung menarik pangeran Minhyung kecil dalam pelukannya.


"Apabila hanya itu yang kau pedulikan maka untuk apa kami harus bersusah payah hidup lagi?" Kata Ratu Soojung.


Minhyung memanggil ibunya dengan wajah sedih. Ratu Soojung berlutut dan mengalungkan sebuah belati ke leher pangeran Minhyung kecil.


Raja terperangah melihat itu. Raja tidak menyangka Ratu Soojung akan setega itu.


"Apa kau memilih untuk menikah. Atau kau memilih putramu? Kwangya atau kehidupan putramu?" Ancam Ratu Soojung.


"Letakkan pisau itu. Kau tidak bisa menghentikan pernikahanku dengan berbuat seperti ini" tegas Raja membuat Ratu Soojung kecewa.


"Anda memang berbeda. Jika aku tidak bisa memiliki sepenuhnya hatimu, aku tidak membutuhkan lagi anakku" ucap Ratu Soojung.


Marah, Ratu Soojung langsung mengayunkan belatinya untuk membunuh Pangeran Minhyung kecil. Ratu Soojung tetap bersikukuh ingin membunuh anaknya, Pangeran Minhyung kecil hanya bisa menangis, berada diantara orang tuanya yang sedang berebut belati.


Akhirnya Raja bisa membuat tangan Ratu melepas belatinya, akan tetapi belati itu telah melukai wajah Pangeran Minhyung kecil yang ada diantara Raja dan Ratu Soojung yang berebut belati, jeritan tangis Pangeran Minhyung kecil terdengar sangat keras.


Putra Mahkota Taeyong melihat adiknya yang tergeletak dengan wajah terluka dan penuh darah langsung panik meminta pertolongan.


-Flashback end-


Pangeran Minhyung terdiam menatap istana, alasan dirinya menggunakan topeng karena memiliki bekas luka sayatan diwajahnya.


Raja sedang berjalan bersama dengan Heechul dan juga Haneul, mereka berhenti melihat Pangeran Minhyung yang sedang berdiri sendirian.


"Apakah kau mengundangku ke sini untuk menjadi salah satu pelindung Putra Mahkota?" kata Pangeran Minhyung.


"Aku tidak tahu apakah kau akan menjadi perisai untuk Putra Mahkota...atau pedang yang akan membunuh Putra Mahkota" Ucap Raja.


♡♡♡


Sekarang Donghyuck sudah mulai menyesuaikan diri untuk hidup di kediaman Pangeran Jeno dan menjadi Haechan.


Pagi itu, Jeongra mengajak Haechan keliling rumah besar Pangeran Jeno, yang sedang banyak pekerja membersihkan halaman, lalu membawa barang-barang dengan berjalan sangat rapi. Haechan melonggo melihat semuanya yang tak pernah dilihatnya.


Dan dengan alasan hilang ingatan, Haechan banyak bertanya-tanya untuk mencari informasi tentang diri Haechan yang asli.


"Agasshi suka main anak panah, dan akan taruhan dengan anak-anak lain. Dan Apa Agasshi lihat pohon itu yang disana? Kita yang menanamnya. Kau juga pandai main bulu tangkis" Ucap Jeongra menunjuk pohon dekat papan panah.


"Baiklah, jadi aku suka main anak panah dan bulu tangkis. Aku ada di sini untuk merawat dan menjaga sepupu keenamku. Namaku Haechan dan kau pelayanku, Jeongra. Benarkan?" Kata Haechan mengingat semua yang sudah dijelaskan Jeongra.


"Sepertinya aku mulai ingat sekarang." Ucap Haechan berusaha untuk tak terlihat mencurigakan, Jeongra mengerutkan dahinya karena Haechan mengunakan bahasa banmal padanya.


"Sebenarnya kau ini kenapa, Agasshi?" ucap Jeongra binggung,


"Aku lupa, kau tidak perlu khawatir" kata Haechan. Jeongra tersenyum bahagia berpikir kalau Haechan sudah ingat kembali.


"Sepertinya aku antara ingat dan tidak, tapi kau tak perlu khawatir. Aku tipe orang yang dapat belajar dengan cepat dari satu hal dan belajar 10 hal lainnya. Jadi akan kuusahakan dan kau tidak perlu khawatir" ucap Haechan meyakinkan Jeongra.


"Apa benar Agasshi sungguh tidak ingat apa-apa? Sekarang cuma kita berdua saja disini, jadi Agasshi bisa beritahu aku. Agasshi bohongkan? Pangeran dan istrinya tidak tahu. Aku selalu bersama Agasshi setiap hari. Sebenarnya ada apa? Apa Agasshi bertemu dengan pria-pria dari keluarga lain atau Agasshi punya banyak utang?" kata Jeongra tak terlalu percaya dengan hilang ingatannya Haechan, dia yakin kalau Haechan pasti berbohong.


"Apa Haechan adalah perempuan seperti itu? Jadi, apakah dia pura-pura jadi gadis yang baik tapi dia pergi keluar malam-malam untuk bertemu dengan pria?" komentar Haechan mendengar ucapan Jeongra.


"Dia tidak seburuk itu" jawab Jeongra, sebelum dia menyadari ucapan Haechan yang jelas- jelas terdengar sangat aneh.


"Kenapa Agasshi membicarakan diri Agasshi seolah sedang membicarakan orang lain? Agasshi pasti terluka sangat parah sampai jadi seperti ini" kata Jeongra khawatir.


Haechan berpikir kalau dirinya lebih baik tutup mulut saja karena semua orang akan menganggapnya gila kalau berkata dirinya itu bukan Haechan.


"Jeongra.... Sebenarnya... Ada gadis lain dalam diriku." Ucap Haechan memegang tangan Jeongra. Jeongra terlihat binggung menatapnya dengan aneh seolah dia sudah tidak waras.


"Sudahlah, aku tidak perlu mati dua kali lagi." Gumam Haechan dalam hati.


"Aku hanya bercanda" imbuh Haechan.


"Jeongra, di sekitar mulutku tidak ada keriput kan?" kata Haechan memegang wajahnya, Jeongra kembali dibuat binggung. Haechan memegang wajahnya merasa kulitnya sangat bagus dan kencang dan merasa sudah lama kulitnya tak seperti ini.


"Dia sangat merawat tubuhnya di zaman Kwangya meskipun cuma makan sayuran saja." Komentar Haechan melihat bagian tangan dan memegang wajahnya.


Jeongra semakin khawatir melihat Agasshinya memang benar-benar terluka parah karena tak mengingat apapun.


Haechan melemaskan otot-otot ditubuhnya, menurutnya ada gunanya dirinya bisa hidup kembali.


♡♡♡


Disalah satu tempat di Istana Cheomseongdae. Ahli perbintangan Heechul sedang berdiri dilantai atas dan tengah sibuk membuat teropong yang terbuat dari bambu.


Para Pangeran datang ke ruangan itu dan Pangeran Jaemin terperangah dengan sebuah benda baru buatan Heechul yang tergantung.


"Apa itu? Heechul!" tanya Pangeran Jaemin menjerit melihat bentuk pesawat yang tergantung lalu berteriak memanggil Heechul.


Heechul berteriak memanggil Pangeran Jaemin dengan tanganya yang membentang seperti pesawat.


"Itu adalah pesawat" Kata Heechul menjelaskan.


"Apa itu pesawat?" tanya Pangeran Jaemin binggung apa itu pesawat.


"Itu benda yang bisa terbang di langit seperti layaknya burung. Suatu hari, anak-anakmu akan punya anak. Lalu Anak-anak itu akan punya anak-anak mereka sendiri. Dan orang akan menggunakan ini untuk pergi ke luar negeri dan berwisata." Cerita Heechul antusias, semua tersenyum bahagia mendengarnya.


"Wow! Heechul, kau selalu membuat benda yang menakjubkan." Komentar Pangeran Jaemin.

__ADS_1


"Omong kosong! Kau selalu menatap langit dan sering bicara aneh. Apa yang kau katakan tentang ramalan bintang Putra Mahkota... apakah itu benar?" kata Pangeran Jaehyun melirik Heechul sinis.


"Itulah yang inginku katakan juga. Orang yang tahu kehendak langit tunduk pada Putra Mahkota." Ucap Pangeran Wookhei.


"Semua orang di Kwangya tahu itu. Pekerjaanku adalah membaca langit. Apa kau pikir aku akan berbohong?" kata Heechul membela diri, ia merasa tersinggung dengan perkataan Pangeran Jaehyun dan Pangeran Wookhei.


"Kalau begitu, Heechul... Apa peruntunganku hari ini? Jika ramalanmu benar, aku akan menganggap ramalanmu tentang Putra Mahkota juga benar." Kata Pangeran Kwanhyung menantang Heechul.


"Hari kelahiran Pangeran ke-13, adalah saat dimana Merkurius, Venus, Mars, dan Jupiter berada dalam satu garis, benarkan? Begitulah orang hebat dulu di masa lalu. Kau cukup mujur dalam urusan perempuan." Jelas Heechul. Para Pangeran tertawa mendengar perkataan Heechul.


"Jika hanya seperti itu aku juga bisa menebaknya. Siapa yang tidak tahu kalau semua perempuan berkerumun di Songak hanya untuk melihat Kwanhyung?" ucap Pangeran Jaemin.


"Kalau cuma itu saja yang kau lakukan, aku juga bisa, saudara ketiga kami punya keberuntungan besar dalam urusan kekuasaan. Saudara ke-9 kita punya keberuntungan dalam urusan kekayaan. Saudara ke-8 kita dikaruniai kecerdasan yang tinggi." Kata Pangeran Sungchan berpindah-pindah dari saudara yang satu ke saudara yang lainnya.


Pangeran Sungchan berdiri didepan Pangeran Jaemin melihat saudara ke 10 nya itu, "Saudara Ke-10 kita tidak memiliki kelebihan" ejek Pangeran Sungchan.


"Aku sangat beruntung, karena sudah dikaruniai adik sepertimu" kata Pangeran Jaemin pada Pangeran Sungchan sambil memukul kepalanya.


Pangeran Sungchan kesal langsung berdiri dengan mata melotot, Pangeran Jaemin tak mau kalah ikut berdiri tapi tinggi badanya kalah dibanding dengan sang adik. Akhirnya Pangeran Jaemin menarik adiknya untuk beradu dada.


"Kalian biasanya selalu menikmati ceritaku. Apa sekarang kalian tidak percaya padaku?" Heechul mengeluh merasa tersinggung karena para Pangeran sudah tidak mempercayai ceritanya lagi.


"Waktu itu kami masih kecil, tapi sekarang kami semua sudah dewasa jadi tidak akan tertipu dengan ceritamu lagi" kata Pangeran Kwanhyung.


"Jaemin Hyungnim, katanya kita sudah dewasa." Ucap Pangeran Sungchan pada Pangeran Jaemin.


"Aku belum tumbuh besar." Keluh Pangeran Jaemin karena tubuhnya paling pendek dibanding saudara lainya.


"Tidak seperti itu, kau tumbuh besar di area yang lain." Komentar Pangeran Wookhei, semua saudaranya menatap seperti berpikiran yang aneh.


"Maksudku, perasaan dan kepeduliannya terhadap orang lain." Jelas Pangeran Wookhei agar semua berpikiran lurus. Semua pun tertawa, Heechul diam-diam menatap kebersamaan Jung bersaudara dengan haru.


"Soal saudara keempat kita... Katanya dia ada di istana. Kenapa dia tidak datang menyapa Jaehyun Hyungnim?" ucap Pangeran Wookhei heran.


"Aku dengar begitu saudara keempat kita sampai di istana, ia langsung membunuh kuda yang ia tunggangi dengan sadis dan para pejabat yang melihatnya dibuat bermimpi buruk, bahkan semuannya langsung mengambil cuti, kenapa saudara keempat kita melakukan hal seperti it?" kata Pangeran Sungchan menceritakan apa yang telah ia dengar.


"Kalau dia bertingkah seperti itu, aku juga tidak mau disapa olehnya" ujar Pangeran Jaehyun.


"Dia mungkin lebih menderita dari pada kita. Jangan bersikap seperti itu, bagaimanapun dia tetaplah saudara kita" kata Pangeran Jeno meyakinkan saudaranya yang lain.


Pangeran Minhyung tiba-tiba lewat didepan mereka, semua terkejut dan kelihatan ketakutan. Pangeran Minhyung melirik dingin pada semua saudaranya.


Pangeran Jaehyun hanya menatapnya sinis.


"Sudah lama tidak bertemu" kata Pangeran Jeno menyapa Pangeran Minhyung.


Pangeran Minhyung hanya menjawab sapaan Pangeran Jeno dengan senyum dinginnya lalu pergi begitu saja.


Pangeran Wookhei, Pangeran Jaemin dan Pangeran Sungchan terlihat langsung bisa bernafas kembali setelah sebelumnya ketakutan melihat kehadiran Pangeran Minhyung.


"Aku hampir pingsan, apa kalian semua merasa baik-baik saja, sepertinya hanya diriku yang merasa tak bisa bernafas." kata Pangeran Jaemin.


"Aku tak yakin, aku jadi merinding" kata Pangeran Sungchan tak yakin dengan hal itu dengan menyentuh lehernya.


♡♡♡


"Seperti apa Pangeran kedelapan itu, aku sungguh tidak ingat?" tanya Haechan melihat betapa perhatiannya Pangeran Jeno pada Nyonya Injoon.


"Dia pria terbaik di seluruh Kwangya. Dia berpendidikan seperti para cendekiawan di luar sana. Dia yang paling baik, dan yang terbaik di antara semua 25 pangeran. Banyak yang meyakini bahwa Putra Mahkota sekarang ini seharusnya tidak harus menjadi Pangeran pertama. Mereka percaya seharusnya itu adalah pangeran kita." Kata Jeongra antusias.


"Apa dia Jaejoong?" gumam Haechan melihat Pangeran Jeno yang membantu memakaikan sepatu pada Nyonya Injoon.


"Sepertinya mereka punya hubungan yang bagus." Kata Haechan melihat Pangeran Jeno yang berjalan bersama dengan Nyonya Injoon.


"Tentu saja. Dia sangat peduli dan perhatian pada istrinya yang sakit. Selain itu Nyonya Injoon juga percaya pada Pangeran dan akan mengikutinya ke mana saja. Semua orang sangat iri padanya." Jelas Jeongra.


Haechan mengingat saat Pangeran Jeno mengulurkan tangan dan ia meraihnya disaat pertama kali ia ada di Kwangya. Pangeran Jeno membantunya untuk bangun tapi tak kuat, Pangeran Jeno pun membantunya untuk memakaikan sepatu. Haechan menatap Pangeran Jeno dengan pandangan kagum karena Pangeran Jeno pria yang sangat perhatian.


"Sepertinya aku juga bisa percaya padanya." Gumam Haechan menatap dalam Pangeran Jeno yang sedang minum teh dengan istrinya.


Pangeran Jeno melihat Haechan yang menatapnya dari kejauhan, Haechan langsung memalingkan wajahnya berpura-pura tak melihatnya. Pangeran Jeno pun langsung memalingkan pandangannya kembali pada Nyonya Injoon yang duduk di hadapannya.


Putri Minah datang dengan banyak dayang istana yang mengikutinya. Ia melihat Haechan yang tengah menatap kebersamaan Pangeran Jeno dan Nyonya Injoon dengan tatapan penuh kekaguman.


"Kau sungguh lancang, menatap seorang pria beristri dengan tatapan seperti itu" tegur Putri Minah sinis pada Haechan.


Haechan menatap Putri Minah dengan binggung karena tak mengenalnya.


"Tuan Putri" sapa Jeongra langsung membungkuk hormat pada Putri Minah. "Ia adalah Tuan Putri Minah, kau harus menyapanya Agasshi" imbuh Jeongra meminta Haechan untuk menyapa Putri Minah, Haechan hanya menatap Putri Minah dengan heran. Jeongra panik karena Haechan tidak cepat membungkuk hormat untuk menyapa Putri Minah, Jeongra mendorongnya agar membungkuk hormat.


"Jadi eanita ini tuan putri? Yah... Tentu saja, kalau ada pangeran,maka ada seorang putri." Gumam Haechan melihat Putri Minah.


"Biarkan saja... Kudengar dia kehilangan ingatannya. Namun, sepertinya dia juga kehilangan sopan santun. Apa yang harus kita lakukan? Sepertinya tidak ada salahnya kalau kau belajar lagi dari awal." sindir Putri Minah dengan nada manis.


"Dia suka merendahkan orang dengan cara yang aneh." Gumam Haechan sinis mendengar sindiran Putri Minah. Sebagai manusia yang hidup di zaman modern Haechan tidak terima direndahkan seperti itu.


"Kau seharusnya tak boleh melihat kegiatan yang dilakukan oleh pasangan suami istri. Aku akan melakukan tindakan dengan cara kasar jika itu terjadi lagi, meski kau itu sepupunya. Apa Kau mengerti?" kata Putri Minah dengan senyum manisnya.


"Mata dan mulut yang berliku, coba lihatlah tangannya yang kaku itu. Aku sudah banyak mengalami kesialan sebelum ini." gumam Haechan melihat tubuh Putri Minah.


"Kalau kau tidak menyukaiku, bilang saja. Aku bisa melihat kalau kau cuma berusaha mencari alasan untuk memarahiku. Itu tidak mempan padaku, aku sudah terbiasa diperlakukan seperti itu." kata Haechan menantang sambil membalas senyuman Putri Minah.


"Perempuan jalan!g" kata Putri Minah merasa perkataan Haechan sungguh lancang. Haechan yang mendengarnya langsung melotot kearah putri Minah.


"Maafkan Agasshi, Tuan Putri Agasshi belum sadar sepenuhnya" kata Jeongra membungkuk meminta maaf menggantikan Haechan.


"Aku tidak gila" ucap Haechan tak terima dianggap kalau dirinya itu gila.


"Bukan begitu Agasshi" ucap Jeongra, ia bingung harus berkata seperti apa ia berada di posisi yang serba salah.


"Kau berani bertingkah di kediaman Pangeran" kata Putri Minah memarahi Haechan.


Tiba-tiba terdengar suara seorang pria karena mendengar keributan. Pangeran Jeno sudah berdiri dengan tatapan marah pada keduanya yang sedang adu mulut.


Pangeran Jeno lalu membawa Haechan ke perpustakaan yang ada di kediamannya. Haechan menatap takjub Perpustakaan Pangeran Jeno yang penuh dengan buku.

__ADS_1


"Kau pasti lupa cara menyapa orang semenjak kecelakaan itu." kata Pangeran Jeno yang melihat Haechan hanya menatapnya dalam diam.


Pangeran Jeno tiba-tiba berkeliling dari rak ke rak lain sementara Haechan terus berusaha mengikutinya.


"Tidak ada sesuatu yang tidak bisa kulakukan. Aku sangat cerdas. Jadi, aku juga cepat dalam belajar. Anda akan tahu setelah melihatku. Aku akan menjadi seseorang yang anda butuhkan dalam rumah ini. Aku akan berusaha yang terbaik untuk mempelajari semuanya. Aku takkan menjadi beban bagi Anda, Pangeran." kata Haechan sambil berusaha mengikuti Pangeran Jeno.


Tiba-tiba Pangeran Jeno menghilang diantara rak. Tapi saat Haechan berbalik, dia malah hampir bertubrukan dengan Pangeran Jeno. Mereka berdiri dalam jarak yang sangat dekat hingga membuat Haechan canggung dan tegang dengan kedekatan mereka.


"Kau... seperti orang yang berbeda" ujar Pangeran Jeno "Kita tidak pernah sedekat ini. Cara bicaramu dan perilakumu, kau terlihat seperti orang yang berbeda, tapi aku tidak mempermasalahkan itu" Haechan panik takut ketahuan.


"Aku tidak akan memaksamu mengingatnya dan tidak akan pula mempermasalahkan apakah kau memata-matai para pengeran atau tidak." ucap Pangeran Jeno membuat Haechan.


"Dan jangan membuat istriku khawatir lagi" imbuh Pangeran Jeno.


"Baik, Pangeran" kata Haechan lalu bergegas pergi.


♡♡♡


Pangeran Minhyung melihat-lihat buku-buku di rak yang ada di perpustakaan Heechul dan mengambil salah satu buku dan membukanya yang ternyata isinya tentang gaya bercinta lalu menaruhnya kembali dan mengambil buku yang lain tapi isinya juga sama. Pangeran Minhyung tertawa kecil melihat koleksi buku dewasa Heechul.


Heechul tiba-tiba muncul di belakang. Pangeran Minhyung. "Itu buku terbaru apa anda mau meminjamnya" bisik Heechul dari belakang Pangeran Minhyung. Pangeran Minhyung langsung melemparkan buku tersebut pada Heechul.


"Kenapa kau mau menemuiku?" tanya Pangeran Minhyung.


"Pelayan yang menyajikan sarapan Putra Mahkota ditemukan mati tergantung. Pembunuhan itu disamarkan sebagai tindak bunuh diri. Bukankah itu berarti pelakunya pasti dari anggota keluarga kerajaan? Terutama, pelakunya adalah salah satu dari para pangeran. Jadi temukan pelakunya." Kata Heechul.


"Kau bilang temukan pelakunya? Memangnya aku anjing? Orang-orang selalu memanggilku anjing serigala. Jadi Sekarang kau sungguh menganggapku anjing sungguhan." Kata Pangeran Minhyung marah.


"Apa kau senang membunuh kuda itu? Kau ingin berhenti hidup sebagai sandera dan tinggal di Songak, kan? Ini bisa jadi kesempatanmu, Pangeran. Ambillah kesempatan saat kesempatan itu ada di depan mata. Coba lihatlah aku.... Kubilang Raja akan mewujudkan mimpinya menyatukan Tiga Negara. Sekarang lihatlah aku dimana." Kata Heechul menjelaskan bagaimana ia mengambil kesempatan yang ada dan bisa tinggal di istana.


"Jangan main-main denganku. Aku bukan anak kecil lagi yang dulu sangat suka dihibur olehmu. Jangan pikir kau bisa macam- macam denganku." Tegas Pangeran Minhyung sambil menunjuk Heechul.


"Ini adalah keinginan Putra Mahkota" kata Heechul dengan nada serius. Putra Mahkota Taeyong datang pada saat itu.


"Ada informasi tentang adanya rencana untuk membunuh Putra Mahkota saat acara ritual kerajaan" kata Heechul serius.


"Kau ingin aku menggantikan posisi Putra Mahkota" kata Pangeran Minhyung langsung memahami maksud Putra Mahkota dan Heechul, "Lalu apa imbalannya?" tanya Pangeran Minhyung.


"Bagaimana kalau kau menangkap pelakunya? Maka aku akan mengabulkan permintaanmu." Kata Putra Mahkota Taeyong.


"Aku ingin tinggal di Songak" ucap Pangeran Minhyung mengutarakan keinginannya.


♡♡♡


Haechan ikut menghias lentera menjadi bentuk bunga teratai bersama Nyonya Injoon, Putri Minah dan para pelayan. Haechan berusaha menempelkan kertas agar lentera berbentuk menjadi bunga teratai tapi ia kesusahan.


"Setiap tahun, rumah kita punya lentera teratai yang paling indah berkat Haechan, tapi sepertinya tahun ini akan sulit" Sindir Putri Minah melihat Haechan kesusahan.


"Ini pasti karena lukaku belum sembuh. Tanganku tidak melakukan apa yang aku inginkan" jawab Haechan santai.


"Yah... Mau bagaimana lagi? Kau tidak melakukannya dengan sengaja. Kau harus istirahat jadi keluarlah." Ucap Putri Minah mencoba mengusir Haechan.


"Tidak, aku tidak harus istirahat saja. Aku akan melakukan apapun, jadi berikan aku tugas" Kata Haechanpenuh semangat.


"Kau lapang dada sekali. Kalau begitu, Jeongra, tunjukkan padanya tempat untuk mencampur adonan lem. Kau bisa melakukannya kan?" ucap Putri Minah, Jeongra panik mendengar perintah Putri Minah.


"Baiklah, itu bukan masalah besar" kata Haechan bersemangat menerima pekerjaan yang diberikan Putri Minah. Nyonya Injoon yang mendengarnya terlihat khawatir.


Haechan mengaduk adonan lem dalam tempat yang cukup besar di atas sebuah tungku dan mengadunya dengan kayu panjang, wajahnya terkena asap yang menghitam.


"Putri Minah terlihat sangat peduli padaku, ternyata ia jahat dengan memberiku pekerjaan yang lebih susah dan melelahkan" omel Haechan merasa telah tertipu oleh Putri Minah. Sambil memukul-mukul lengannya yang terasa pegal.


"Sampai kapan aku harus mengaduknya?"


"Aku tahu bagaimana caranya merawat kulit dengan pijat dan make up. Aku punya banyak surat izin melakukan itu semua. Tapi lihatlah aku di sini. Aku sudah seperti makanan anjing saja." Kata Haechan sambil mengaduk adonan lem.


Akhirnya Haechan turun dari pijakan lalu mengerakan tubuhnnya, untuk melemaskan semua otot-otot yang terasa kaku. Pangeran Jeno sedang lewat melonggo melihat Haechan membungkuk lalu mengerakan tubuhnya ke kanan dan kiri, karena melihat hal yang dilakukan Haechan bukanlah hal yang biasa dilakukan para wanita.


Haechan teringat dengan adonanya lalu kembali naik pijakan dan kembali mengaduknya, lalu terbatuk-batuk karena banyak mengeluarkan asap. Pangeran Jeno terus melihatnya, Haechan sadar ada Pangeran Jeno ia mencoba untuk tertawa.


"Putri Minah memberiku tugas penting pembuatan lem." kata Haechan dengan senyum lebar.


"Kau bilang akan mempelajari segala sesuatu dan melalui itu. Tampaknya kau melakukan dengan baik. Kau orang yang cukup hebat," kata Pangeran Jeno dan ia hanya tertawa kecil melihat wajah Haechan yang berantakan. Pangeran Jeno pun pergi.


Pangeran Jeno bergabung dengan para Pangeran yang lain latihan tarian pedang untuk ritual kerajaan. Semuanya melakukan tarian dengan baik kecuali Pangeran Jaemin yang selalu salah mengarahkan pedangnya. Pangeran Sungchan mencoba memperbaiki arah pedang kakaknya itu.


"Aku tidak ingin berlatih lagi" gerutu Pangeran Jaemin sambil melemparkan pedangnya.


"Kau sungguh pemalas" kata Pangeran Wookhei memarahi Pangeran Jaemin.


"Kita istirahat dulu" kata Heechul dan menghentikan Pangeran Sungchan yang akan beradu mulut kembali dengan Pangeran Jaemin. Mereka memutuskan untuk istirahat sebentar dan berkumpul di paviliun.


"Dimana daudara keempat, seharusnya ia latihan bersama karena ini pertama kalinya ia ikut ritual kerajaan" tanya Pangeran Jeno.


"Pangeran Keempat akan segera datang" Jawab Heechul.


"Ada rumor yang mengatakan setelah ritual selesai Raja akan menyerahkan tahtanya ke Putra Mahkota." Ucap Pangeran Wookhei, Heechul terkejut mendengarnya dan terlihat gugup.


"Apa memang benar ada rumor seperti itu? Astaga! Aku belum pernah dengar hal seperti itu. Kalaupun itu benar, Raja takkan pernah mau memberitahuku. Aku hanyalah ahli perbintangan. Sekarang Aku harus menemui Putra Mahkota dan menerangkan tugasnya dalam ritual nanti." Kata Heechul.


"Kalian kembalilah berlatih" imbuh Heechul menyuruh Para Pangeran kembali berlatih pedang dan ia segera pergi.


"Seharusnya kau tidak berkata seperti itu, karena bisa gawat kalau sampai Raja mendengarnya, kau ini ceroboh sekali" tegur Pangeran Jeno pada Pangeran Wookhei.


"Bukan cuma dia saja yang penasaran. Jangan terlalu menyalahkan dia. Heechul tidak menyangkal kalau rumor itu tidak benar." Kata Pangeran Jaehyun membela adiknya, Pangeran Jeno pun tak bisa bicara apa-apa lagi.


Sementara itu, Haechan sejenak berbaring di depan tungku karena kelelahan, setelah mengaduk adonan lem, lalu merapihkan bajunya yang dilipat.


Saat memutuskan untuk kembali ke rumah secara kebetulan ia melihat Heechul dari kejauhan, dan Haechan lantas teringat bahwa Heechul sangat mirip dengan Ahjussi yang menginginkan sojunya yang ia temui di pinggir danau sebelum masuk ke jaman Kwangya.


Akhirnya Haechan berlari mengejar perginya Heechul sampai keluar dari istana, dan melewati pasar yang cukup ramai. Heechul terlihat berjalan sangat cepat dan menyebarangi sungai. Haechan kehilangan jejak Heechul saat sampai di pinggir sungai.


Tiba-tiba seseorang berteriak "Itu si anjing! Anjing serigala!" membuat orang-orang lari berhamburan dengan panik. Terlihat Pangeran Minhyung memacu kudanya dengan cepat ditengah jalan yang ramai.


Haechan membalikan badannya terkejut melihat Pangeran Minhyung dengan menunggangi kuda berjalan ke arahnya, Haechan tanpa sengaja terdorong barang bawaan warga yang ada di punggungnya. Ia hampir saja terjatuh ke dalam sungai.

__ADS_1


Pangeran Minhyung yang ketika itu melewati Haechan, langsung menarik pinggang Haechan dan menaikkannya keatas kudanya yang sedang berjalan. Haechan duduk berhadapan dengan Pangeran Minhyung diatas kuda. Haechan hanya mampu menatap kaget Pangeran Minhyung yang menyelamatkanya dengan wajah setengah dan memeluk pinggangnya. Pangeran Minhyung hanya memandang tanpa ekspresi wajah Haechan yang terlihat berantakan dengan wajah yang tercoreng arang.


...~TBC~...


__ADS_2