Scarlet Heart (MarkHyuck)

Scarlet Heart (MarkHyuck)
6. Pakaian Hitam Berbulu


__ADS_3

Pangeran Minhyung dan Pangeran Jeno masih saling beradu pedang dengan Haechan dipelukan Pangeran Minhyung sebagai sandera.


"Dia adik sepupu istriku, dia tidak ada hubungannya dengan ini, jadi lepaskan dia" kata Pangeran Jeno meminta Pangeran Minhyung agar melepaskan Haechan.


"Aku kehilangan pembunuhnya karena dia" kata Pangeran Minhyung.


"Lalu, apa kau memaksa mengorbankan darah tanpa alasan?" ucap Pangeran Jeno.


"Aku... aku hanya tersesat. Tolong percaya padaku." Ucap Haechan sambil menangis ketakutan di pelukan Pangeran Minhyung yang memyanderanya.


"Kenapa aku harus percaya? Aku tidak mengenalmu."kata Pangeran Minhyung.


"Haechan" panggil Pangeran Jeno dan menurunkan pedangnya lebih dulu dengan menjatuhkan ke tanah.


"Semua pasukan kerajaan sedang ada dimana-mana jadi mereka akan menangkap pelaku yang lain jadi kau akan tahu kalau dia tidak melakukan hal yang salah, jadi untuk saat ini demi kebaikannya maka lebih baik melepaskanya." kata Pangeran Jeno.


Akhirnya Pangeran Minhyung melepaskan Haechan dengan mendorongnya pada Pangeran Jeno, Haechan langsung berpegangan pada Pangeran Jeno dengan wajah ketakutan.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Pangeran Jeno khawatir pada Haechan yang terlihat sangat ketakutan lalu melihat ada luka dibagian leher Haechan.


"Disana.. disana ada banyak orang, mereka semua sudah mati" kata Haechan dengan gugup menunjuk kearah tempat para pembunuh dibantai.


Pangeran Minhyung melirik dingin.


"Mati?" kata Pangeran Jeno kaget mengetahui ada yang mati.


"Mereka semua memakai topeng itu" kata Haechan sambil menunjuk ke bagian bawah merasa tak tega karena melihat orang dibunuh didepan matanya.


Pangeran Minhyung dan Pangeran Jeno saling berpandangan.


♡♡♡


Heechul dan Putra Mahkota Taeyong terlihat gelisah di istana.


"Seharusnya aku tidak meminta Pangeran keempat menggantikanku". kata Putra Mahkota Taeyong merasa bersalah.


"Dia melakukan ini atas kemauannya sendiri, kau tidak perlu merasa bersalah, Putra Mahkota" kaya Heechul menenangkan Putra Mahkota.


"Jangan berbicara seperti itu" kata Putra Mahkota Taeyong.


"Aku membuat adikku dalam bahaya. Kalau itu tidak salah, apa itu? Dia juga terluka." Kata Putra Mahkota Taeyong. Heechul tak bisa berkomentar lagi.


♡♡♡


Pangeran Jeno dan Pangeran Minhyung pergi ke sisi hutan lainnya dan meminta pengawal istana untuk mencari di sekitar tempat itu.


Haechan binggung melihat semua orang yang tadi mati depan matanya sudah tak ada.


"Apa yang kau lihat? Apa orang mati bisa bangun dan berjalan lagi?" kata Pangeran Minhyung melirik Haechan sinis.


"Aku yakin, tadi ada disini" kata Haechan yakin.


"Aku tahu dan melihatnya dengan benar. Mereka ditusuk dari belakang. Tepat disini Tapi kemana mereka semua pergi." Kata Haechan.


"Mereka dibunuh? Oleh siapa? Beritahu aku siapa itu." Tanya Pangeran Minhyung tak sabaran memegang tangan Haechan untuk mengancamnya,


"Bagaimana aku tahu" kata Haechan.


"Tadi benar-benar ada sekumpulan pembunuh" kata Pangeran Jeno melihat ada bercak darah yang menempel pada bambu.


"Pemimpin pembunuhnya membantai anggota kelompoknya sendiri" reka Pangeran Jeno.


Minhyung melepas Haechan.


"Apa penjaga istana, apa kau menerima laporannya?" tanya Pangeran Minhyung.


"Melihat bagaimana cara mereka membawa mayatnya, mereka sudah merencanakannya dengan sangat baik" kata Pangeran Jeno mengungkapkan pendapatnya.


"Orang itu adalah satu-satunya saksi kita, sekarang dia mati dan tidak ada petunjuk lagi. Apa rencanamu sekarang?" kata Pangeran Minhyung marah, lalu memegang lengannya yang terluka.


"Tetap saja...aku tidak bisa membiarkan Haechan terluka. Saat sudah terang, aku akan mencari jalannya. Sekarang kita obati dirimu terlebih dahulu." Tegas Pangeran Jeno.


Pangeran Minhyung melepaskan tangan adiknya yang ingin membantu, lalu berjalan dengan melirik sinis pada Haechan dan berjalan meninggalkan hutan.


Haechan bisa bernafas lega Pangeran Minhyung pergi dan jatuh lemas.


"Sekarang sudah selesai, ayo kita kembali". kata Pangeran Jeno sambil mengambil pedangnya.


Haechan mulai menangis, Pangeran Jeno binggung melihat Haechan menangis.


"Dia selalu mengatakan akan membunuhku. Setiap kali aku bertemu dengan nya, dia bilang akan membunuhku. Aku hanya akan mengembalikan sesuatu yang dia tinggalkan." Ucap Haechan terus menangis.


"Haechan.... Ini akan baik-baik saja." Kata Pangeran Jeno menepuk pundaknya walaupun terlihat canggung.


Haechan langsung menariknya, sampai Pangeran Jeno berlutut didepannya.


"Bagaimana jika dia benar-benar membunuhku? Dia juga mengatakan pada penjahat tadi untuk membunuhku. Dia pasti sama sekali tidak punya air mata atau darah, kenapa aku selalu salah?" kata Haechan takut.


"Haechan, semua akan baik-baik saja." kata Pangeran Jeno binggung melihat Haechan terus menangis sambil memegang bajunya, dan akhirnya Pangeran Jeno menahan tawanya.


Haechan masih saja menangis, Pangeran Jeno memeluknya sambil menepuk pundaknya "Semua akan baik-baik saja." kata Pangeran Jeno kembali menenangkan Haechan.


Haechan masih terus menangis di pelukan Pangeran Jeno, Pangeran Jeno tersenyum melihat tingkah Haechan yang menangis seperti anak kecil.


"Berhentilah menangis" kata Pangeran Jeno.


"Hentikan tangisan mu sekarang. Ayo kita pulang".


♡♡♡


Ratu Soojung berendam di kolam yang penuh bunga dengan lilin yang mengelilinginya dan juga segelas arak. Ratu Soojung terlihat menahan amarah, mengingat ternyata yang ada dibalik topeng adalah Pangeran Minhyung bukan Putra Mahkota Taeyong yang ingin dibunuhnya. Ratu Soojung meluapkan amarahnya dengan memercikan air kemana-mana.


Saat keluar dari kolam, para pelayan mengenakannya jubah warna merah.


Pangeran Jaehyun datang menemui Ratu Soojung.


Ratu Soojung sudah duduk sambil minum, sementara Pangeran Jaehyun mengeringkan rambut Ratu Soojung.


"Minhyung.... Semuanya berantakan karena dia terlibat. Kita seharusnya merayakan kau yang terjadi Putra Mahkota malam ini." ucap Ratu Soojung kesal.


"Kita membereskannya dengan rapi jadi tidak ada pelaku yang masih hidup."kata Pangeran Jaehyun menenangkan ibunya.


"Saat ini, Raja akan sulit menurunkan tahtanya. Kita harus berpuasa diri dengan itu" ucap Ratu Soojung dan memberi isyarat anaknya Taka perlu mengeringkan rambutnya.


Pangeran Jaehyun membantu ibunya menuangkan minuman, "Aku terkejut Minhyung bersedia menggantikan Putra Mahkota. Heechul juga sulit diterka. Mereka berdua pasti memiliki hubungan yang tidak diketahui orang-orang" kata Pangeran Jaehyun.


"Menurut Sungchan, Minhyung mempelajari beladiri, tapi keluarga Kang tidak akan mengajarinya. Aku harus tahu siapa yang dia temui dan kartu apa yang dia miliki di tangannya. Mungkin kalau Heechul terhubung, itu berarti dia saling berhubungan dengan Raja" kata Ratu Soojung menduga-duga.


"Bagaimanapun juga, mereka mengatakan tidak ada yang pernah menemuinya saat Minhyung di Shinju" ucapan Pangeran Jaehyun tak yakin.


"Kau sebaiknya terus awasi dia. Kita harus tahu apa yang dia pikirkan dengan tujuan mengejarnya atau membuat dia disisi kita. Kau jangan lupa, Kwangya pasti milik salah satu anakku" kata Ratu Soojung memegang wajah Pangeran Jaehyun.


♡♡♡


Jung Minhyung merobek baju dibagian lengannya, terlihat ada luka yang tadi terkena pedang.


Putri Minah datang dengan membawa nampan yang berisi obat. Pangeran Minhyung meliriknya.


"Ini bukan urusanmu" kata Pangeran Minhyung langsung menarik lengannya yang akan diobati oleh Putri Minah.


"Ini juga bukan hal yang bisa dilakukan seorang pelayan" kata Putri Minah dengan sabar.


Pangeran Minhyung akhirnya membiarkan Putri Minah membersihkan lukanya. Terlihat Pangeran Minhyung beberapa kali meringis saat Putri Minah membersihkan lukanya.


Putri Minah dengan sangat telaten menempelkan tanaman obat diatas luka Pangeran Minhyung dan memberikan perban dilengan Pangeran Minhyung.


"Sampai kapan Oraboni berencana untuk tinggal di Shinju? Sebenarnya akan lebih baik kalau kau tinggal di Songak seperti yang lainnya dan belajar dari para guru." kata Putri Minah menatap Pangeran Minhyung.

__ADS_1


"Aku berbeda dari Jeno. Aku lebih memilih hidup berburu hewan di pegunungan." Ucap Pangeran Minhyung dingin.


"Kau sangat mahir menyembunyikan perasaanmu." Komentar Putri Minah tersenyuman.


Putri Minah membantu Pangeran Minhyung mengelap wajahnya yang penuh keringat dan Putri Minah tak sengaja menyentuh topeng Pangeran Minhyung, keduanya saling menatap dengan canggung. Akhirnya Pangeran Minhyung memilih untuk berdiri merasa kalau sudah cukup.


"Kau sudah merawat ku dengan baik" katanya pada Putri Minah.


"Buat dirimu nyaman dan beristirahatlah. Aku akan beritahu para pelayan" Kata Putri Minah dan ia akan keluar ruangan.


"Minah... Aku sering bertanya-tanya wanita seperti apa kalau kau sudah dewasa." Ucap Pangeran Minhyung menghentikan langkah Putri Minah. Putri Minah memberikan senyumanya mendengar perkataan Pangeran Minhyung.


♡♡♡


Jeongra membantu mengobati luka di leher Haechan, Haechan meringis kesakitan. Nyonya Injoon khawatir melihat Haechan.


"Kenapa kau bisa terluka?" tanya Nyonya Injoon khawatir pada Haechan.


Dibelakang Nyonya Injoon Pangeran Jeno berusaha menahan tawanya mengingat bagaimana Haechan menangis saat di hutan. Nyonya Hae bersikap lebih sopan karena ada suaminya, lalu berkata "Kenapa kau sampai berada dihutan?".


"Itu karena..." kata Haechan melirik pada Pangeran Jeno, lalu Pangeran Jeno menggelengkan kepala sebagai tanda untuk tidak mengatakan dengan jujur apa yang terjadi. "Aku tersesat" bohong Haechan agar Nyonya Injoon tidak bertambah khawatir.


"Mereka adalah orang yang mencoba membunuh Putra Mahkota. Tapi Syukurlah dia masih hidup." jelas Pangeran Jeno.


"Itulah maksudku! Aku merasa kalau aku sangat beruntung untuk pertama kalinya hari ini. Pada kenyataan bahwa aku hanya terluka seperti ini adalah keajaiban." Ucap Haechan penuh semangat.


Pangeran Jeno menahan tawa karena teringat Haechan tadi menangis seperti anak kecil.


Nyonya Injoon benar-benar tak habis pikir dengan tingkah Haechan lalu menyuruhnya untuk segera beristirahat. Haechan langsung berdiri. Jeongra mengatakan kalau balutan di lehernya belum selesai, Haechan mengelengkan kepala dan ingin buru-buru masuk kamar. Jeongra mengikutinya dengan membawa nampan berisi obat.


Pangeran Jeno masih terus menahan tawanya.


"Terima kasih telah menyelamatkan Haechan, dan saya minta maaf karena Haechan selalu menyusahkan anda" kata Nyonya Injoon pada Pangeran Jeno.


"Kenapa kau berpikir itu menyusahkan, aku tidak pernah berpikir seperti itu." kata Pangeran Jeno.


"Sebenarnya, dia adalah sumber kebahagiaan." Ucap Pangeran Jeno tersenyum.


"Apa dia membuatmu bahagia?" kata Nyonya Injoon tak percaya.


"Ini adalah rumah tangga yang berat, kan? Saat orang-orang datang padaku, merek selalu membicarakan penderitaan. Mereka semua mengandalkanku, tapi Haechan tidak seperti itu. Dia datang dan mengatakan dia akan melakukan semuanya sendiri. Itu membuatku senang. Seperti bernapas di udara segar" cerita Pangeran Jeno sambil tersenyum.


Nyonya Injoon melihat Pangeran Jeno yang tak bisa berhenti tersenyum.


Pangeran Jeno menatap ke arah kamar Haechan, "Aku akan menunggu sampai bisa melihatnya lagi" kata Pangeran Jeno.


"Aku bersyukur kalau Anda peduli pada Haechan" kata Nyonya Injoon. Keduanya saling menatap tapi terlihat canggung.


♡♡♡


Haechan berjalan menuju kamarnya bersama Jeongra, langkah mereka terhenti melihat Pangeran Minhyung duduk di tangga. Tapi Minhyung memilih untuk pergi.


"Kau, berhenti" kata Pangeran Minhyung lalu berjalan mendekatinya.


"Apa yang kau inginkan?" kata Haechan bertanya dengan terbata-bata. Pangeran Minhyung melirik Jeongra dan Jeongra langsung berjalan mundur meninggalkan Haechan karena ketakutan akan hadirnya Pangeran Minhyung.


"Aku benar-benar memberitahu semua yang aku tahu. Aku sibuk melarikan diri. Apa lagi yang aku bisa lihat? Orang dengan pedang menusuk orang dengan topeng dari belakang. Itu semua tiba-tiba.... seperti mereka sudah merencanakannya sebelumnya." Kata Haechan panik saat Pangeran Minhyung semakin mendekat.


"Pikirkan dengan benar. Ingat semuanya.... Cepat lakukan sekarang!" teriak Pangeran Minhyung dengan memegang pipi Haechan.


Tangan Pangeran Jeno menghentikan tangan Pangeran Minhyung yang memegang pipi Haechan, "Sudah cukup" kata Pangeran Jeno meminta kakaknya untuk menghentikan ini semua.


Pangeran Minhyung melepaskan tanganya dengan mendorong Haechan sampai terduduk ditangga. Haechan tiba-tiba teringat sesuatu"Pakaian berbulu" kata Haechan.


Pangeran Minhyung dan Pangeran Jeno langsung menatapnya.


"Semua orang mengenakan pakaian hitam. Ada satu pria mengenakan pakaian berbulu. Dia menyuruh mereka semua untuk membunuh." Kata Haechan bisa mengingatnya kembali.


"Apa kau melihat wajahnya? Seperti apa penampilannya?" tanya Pangeran Minhyung mengingat kalau yang mengunakan pakaian bulu adalah Pangeran Jaehyun, kakaknya.


"Aku tidak melihat wajahnya. Dia sepertinya pemimpin mereka. Itulah yang aku lihat." Kata Haechan, Pangeran Minhyung dan Pangeran Jeno saling berpandangan.


"Tidak ada lagi yang meragukan diriku selain anda" kata Haechan pada Pangeran Minhyung.


"Lupakan semuanya yang kau lihat di hutan dan lupakan pria itu." Tegas Pangeran Minhyung.


"Ya, Haechan. Dia benar". kata Pangeran Jeno.


"Kau akan tetap aman jika tak ada yang tahu apa yang kau lihat di hutan". Pangeran Jeno juga mengingat jika hanya Pangeran Jaehyun yang memakai pakaian berbulu saat ritual.


"Apakah aku boleh pergi sekarang" tanya


Haechan dengan melirik pada Pangeran Minhyung lalu berjalan pergi.


"Kau, jangan muncul di depanku lagi." Kata Pangeran Minhyung menghentikan langkah Haechan.


"Apa aku melakukan kesalahan? Tadi kau menyuruh orang itu untuk membunuhku. Kau bahkan mengatakan akan membunuhku. Lalu, apa aku harus tidak melakukan apa-apa? Aku harus melakukan apapun agar aku bisa hidup. Apa aku harus mati saja?" ucap Haechan marah dengan menahan air matanya.


Pangeran Jeno menghampirinya untuk menenangkanya. Pangeran Minhyung melirik dingin dengan tatapan mengejek dan berjalan pergi.


"Apa itu kejahatan... kalau ingin hidup... Semua orang ingin hidup. Kenapa kau memilihku?" ucap Haechan sambil menangis, Pangeran Jeno menatapnya.


Pangeran Minhyung tak peduli dan memilih untuk pergi.


"Dasar brengsek" kata Haechan mengumpati Pangeran Minhyung, lalu tersadar di dekatnya ada Pangeran Jeno.


♡♡♡


Pangeran Jeno membantu menyalakan lilin dikamar Haechan.


"Lebih baik membiarkan lilinya tetap menyala dan tidur, karena sebelumnnya kau mengalami hal buruk, jadi ini akan menolong untuk meredakan mimpi burukmu" kata Pangeran Jeno.


"Bagaimana keadaan mu?" kata Haechan duduk ditempat tidurnya.


Pangeran Jeno terdiam, "Khawatir kau mungkin mengalami mimpi buruk. Kau mungkin akan mengalami trauma atau stres semacamnya." Kata Haechan khawatir.


"Aku tidak akan mimpi buruk setiap kali sesuatu seperti ini terjadi. Jadi seberapa sulitnya kah itu ?" kata Pangeran Jeno santai.


"Jadi kau bilang ini sering terjadi? Lalu, kau membunuh orang..." kata Haechan terdiam merasa tak percaya karena dizamannya, membunuh adalah tindakan keji.


"Aku berumur 11 tahun.... Saat aku pertama kali membunuh... yaitu aku berumur 11 tahun. Seorang pencuri memasuki tempat tinggal dimana Minah dan ibuku tinggal. Kejadianya sama seperti tadi... aku menggunakan pisau belatiku." Cerita Pangeran Jeno sambil terus menyalakan lilin.


"Tapi bagaimanapun, aku tidak mengalami mimpi buruk. Aku melindungi keluargaku dengan tanganku sendiri. Jadi aku senang dan bangga. Kalau seorang Pangeran bahkan tidak bisa melakukan itu, lalu apa yang bagus dari Pangeran tersebut?" kata Pangeran Jeno.


"Anda masih mengingatnya, bahkan tidak bisa melupakannya" kata Haechan.


"Jadi bagaimana bisa anda hidup nyaman dengan itu, itu sangat jelas anda hanya menahannya dan hidup dengan hal tersebut".


"Itu adalah beban yang dibawa sejak lahir jadi aku harus menahannya" kata Pangeran Jeno.


"Aku berjanji tidak akan pernah membuat anda khawatir. Aku tak ingin membuat hidup anda semakin terbeban sehingga anda bisa hidup lebih nyaman" Kata Haechan.


"Apa maksud ucapanmu?" tanya Pangeran Jeno tak mengerti dengan ucapan Haechan.


"Aku tidak seharusnya memandang anda rendah agar bisa hidup dengan ceria, jadi tidak perlu khawatir padaku dan bisa hidup dengan baik." jelas Haechan.


"Setelah hilang ingatan kau terganti dengan banyak keberanian yang salah" kata Pangeran Jeno tak bisa menahan senyumanya.


"Apa itu kata stress?" tanya Pangeran Jeno yang baru pertama kali mendengarnya. Haechan hanya bisa tersenyum karena di Kwangya kata itu belum populer.


Pangeran Jeno keluar dari kamar Haechan dan menatap ke arah kamar Haechan seperti merasakan suatu perasaan tertentu.


♡♡♡


[Istana Raja Tahun 25 Lunar New Year (Tahun 942 Masehi)]


Putra Mahkota Taeyong, Pangeran Minhyung serta Heechul berada di hadapan Raja.

__ADS_1


"Putra Mahkota diserang di istana dan itu dihadapanku, jadi sudah jelas penyerangnya sangat kuat dan langit membuktikan bahwa ini adalah kekuatan musuh." kata Raja.


"Heechul, apa yang terjadi dengan penyelidikan tentang pelakunya?" tanya Raja.


"Para Pangeran mengejar mereka, tapi kita tidak bisa menangkap satupun yang hidup. Sekarang kami sedang memeriksa mayat dan akan menemukan penyebabnya sebisa yang kita mampu." Kata Heechul.


"Yang Mulia, pelakunya semua adalah penampil akrobat di wilayah Songak. Aku akan mencari tahu siapa yang membiarkan mereka masuk istana." Kata Putra Mahkota Taeyong.


"Bagaimana lukamu?" tanya Raja pada Pangeran Minhyung.


Pangeran Minhyung terlihat kaget mendengar Raja yang menanyakan keadaanya.


"Itu bukan luka besar... Aku sudah dirawat di kediaman Pangeran kedelapan." kata Pangeran Minhyung.


"Apa alasanmu menggantikan tempat Putra Mahkota? Padahal Hidupmu dalam bahaya." tanya Raja.


"Putra Mahkota Taeyong menyelamatkan hidupku 15 tahun yang lalu. Itulah alasannya aku ingin tinggal di Songak dan mencari tahu siapa dibalik semua ini." kata Pangeran Minhyung langsung menyebutkan tujuannya dihadapan Raja.


"Apa yang akan kau lakukan?" kata Raja.


"Jika Yang Mulia mengijinkan maka aku akan mencari tahu siapa dibalik semua ini" kata Pangeran Minhyung.


"Baiklah" kata Raja setuju. "Heechul sampaikan ke Shinju kalau Pangeran Minhyung punya pekerjaan untuk dilakukan atas titah Raja, jadi akan kembali lebih lama dari yang diharapkan." perintah Raja pada Heechul.


"Keluarga Kang Di Shinju tidak akan keberatan" kata Heechul, lalu melirk pada Pangeran Minhyung karena berhasil tetap tinggal di istana sesuai keinginannya.


Para Pangeran berkumpul di dekat kolam sambil menikmati teh dan juga kue beras.


"Apakah kalian masih berpikir kalau Minhyung Hyungnim tidak mendapat pelatihan beladiri, karena saat ritual Minhyung Hyungnim melakukan gerakan yang berbeda dari orang biasa." kata Pangeran Wookhei.


"Itu kemampuan yang didapatnya saat berburu binatang. Jangan biarkan dia besar kepala." Kata Pangeran Jaehyun.


"Itu bukanlah kemampuan orang yang berlatih sendiri. Aku yakin dia diajari oleh seseorang guru terlatih dan dilatih dengan baik." Ucap Pangeran Sungchan yakin.


"Apa menurutmu keluarga Kang dari Shinju melatih sandera mereka beladiri? Kenapa mereka harus melakukanya? Sekarang kalau salah satu dari kalian mendengar sesuatu, beritahu aku. Itu terdengar lucu." Kata Pangeran Jaehyun mengejek.


Pangeran Jeno hanya diam.


"Apa Hyungnim ingin kami untuk menanyakan tentang saudara keempat kita mempelajari beladiri? Hei... Kwanhyung, kau mengenal banyak orang. Akan jauh lebih mudah untukmu mencari tahu." Ucap Pangeran Jaemin.


"Orang yang mengunjungi rumahku hanya musisi dan perempuan, jadi tidak akan mudah untukku." Kata Pangeran Kwanhyung.


"Apa kau tidak mengejar pelakunya tadi malam?" tanya Pangeran Jeno pada Pangeran Jaehyun sengaja menyinggung kejadian semalam.


"Aku mengejarnya tapi aku pergi ke arah yang salah, jadi aku tidak melihat mereka satupun. Aku bahkan tidak melihat tikus." Kata Pangeran Jaehyun.


"Aku dengan kau pergi ke hutan yang sama. Aku berharap setidaknya kau menangkap salah satu dari mereka." Ucap Pangeran Jeno dengan menatap dingin.


"Aku juga menyesalinya. Kalau aku ada disana, akankah mereka lolos seperti itu?" balas Pangeran Jaehyun dengan tatapan sinisnya.


Tiba-tiba Raja datang melihat anak-anaknya, semua Pangeran pun berdiri membungkukan badan.


"Apakah kalian sedang merayakan tahun baru dan pasti menikmatinya." kata Raja bahagia melihat putra-putranya berkumpul untuk merayakan tahun baru.


"Kalian semua sudah berusaha tadi malam, jadi kalau ada yang terluka segera menemui tabib" kata Raja berpesan pada putra-putranya.


"Kami akan melakukanya jadi Yang Mulia tak perlu khawatir" kata Pangeran Jaehyun, mewakili adik-adiknya.


Pangeran Jaemin terus menunduk berusaha menutupi memar di wajahnya agar tidak dilihat oleh Raja.


"Jaemin, kenapa ada memar di wajahmu?" tanya Raja panik melihat memar diwajah putranya, Pangeran Jaemin binggung harus menjawab apa.


"Ada perkelahian." kata Pangeran Jaemin.


"Perkelahian apa yang sampai melukai wajah Pangeran?" tanya Raja marah.


"Bagaimana bisa martabat keluarga kerajaan jatuh? Siapa yang melakukannya? Beritahu aku." Kata Raja murka.


Pangeran Jaemin makin binggung menjawabnya. "Itu..."


♡♡♡


Haechan mondar-mandir gelisah didepan gerbang kediaman Pangeran Jeno. Saat mengetahui Pangeran Jaemin mendapat hukuman dari Raja.


"Aku yakin Pangeran kesepuluh akan memberiku hukuman yang diperintahkan oleh Raja" kata Haechan.


"Benar, karena biasanya itu dilakukan oleh para ahli dan Pangeran kesepuluh bersikeras datang sendiri." kata Jeongra.


"Aku yakin Pangeran Jaemin itu hanya ingin melihat sendiri apa yang terjadi padaku" kata Haechan yakin.


"Kau tidak berpikir mereka akan memotong tangan kakiku, kan?" ucap Haechan panik.


"Aku tidak tahu tapi jika itu terjadi Pangeran kedelapan pasti menerima berita ini" kata Jeongra.


"Dia pasti... Ahh... Tidak ada yang akan terjadi. Ya, tentu saja." Ucap Haechan yakin tapi setelah itu terlihat khawatir dengan keadaanya nanti. Pangeran Jaemin datang dengan menunggang kuda, terlihat pengawal yang mengejarnya dengan berlari.


Haechan bersikap seolah-olah tak peduli.


Pangeran Jaemin turun dari kuda dengan gaya menggodanya, "Kau pasti sedang menungguku" kata Pangeran Jaemin percaya diri.


"Apa anda membawa hukuman Raja untukku?" tanya Haechan tanpa memandang Pangeran Jaemin.


"Raja marah saat dia melihat memar di wajahku yang hebat. Dia menyuruhku untuk segera memukulmu." Kata Pangeran Jaemin sambil melipat tangan didada.


"Kenapa aku harus di pukul? Kau melakukan kesalahan. Oh! Jadi kau melewatkan bagian apa kesalahanmu, kan?" ucap Haechan menantang Pangeran Jaemin dan ikut melipat tangan didadanya.


"Hei... sekarang, kau berpikir aku benar-benar pria yang menyedihkanAku memohon pada Raja untuk memaafkan untuk kebakanmh dengan cara yang tidak bisa kau bayangkan" kata pengrajin Jaemin.


Pangeran Jaemin langsung berlutut didepan Raja, "Kalau gadis yang memukul Pangeran harus dihukum, maka hukuman jenis apa yang harus diterima pria yang dipukul oleh wanita?" Kata Pangeran Jaemin pada Raja.


"Itu harusnya dicatat dalam sejarah menjadi kata-kata bijak. Bagaimana? Kau bersyukur, kan?" Kata Pangeran Jaemin bangga.


"Ah, aku tidak tahu kenapa kau sangat murah hati padaku. Kau benar, aku sangat berterima kasih aku tak akan mati" kata Haechan dan akan masuk ke rumah.


Tapi Pangeran Jaemin menahannya.


"Apa lagi?!" Kata Haechan kesal.


"Ada yang ingin aku sampaikan padamu" kata Pangeran Jaemin.


Haechan menatap Pangeran Jaemin bingung.


"Kalian pergilah, ada yang harus kami berdua bicarakan" kata Pangeran Jaemin menyuruh Jeongra masuk dan pengawalnya untuk pergi.


"Kau akan memukulkukan?" kata Haechan.


"Aku bukan pria yang menahan dendam seperti itu" kata Pangeran Jaemin.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Haechan.


"Itu hanya... Jadi, maksudku adalah..." kata Pangeran Jaemin kebinggungan dengan memegang tanganya dan mengoyangkan kakinya terlihat sangat gugup, Haechan menatap semua gerak geriknya.


"Mungkinkah dia...jatuh cinta padaku? Lalu ia akan bilang 'Kau adalah gadis pertama yang memperlakukanku seperti itu.' Apakah Sesuatu seperti ini?" gumam Haechan tak percaya melihat gerak-gerik Pangeran Jaemin.


"Aku hanya ingin mengatakan... kau adalah gadis pertama yang memperlakukanku seperti itu." Kata Pangeran Jaemin menatap serius, Haechan melotot kaget benar-benar tak percaya.


"Aku tidak tahu kata-kata itu sudah digunakan selama lebih dari seribu tahu. Kalimat itu adalah kalimat yang bagus" ucap Haechan.


"Apa maksudmu? Kenapa menyebut seribu tahun?" Tanya Pangeran Jaemin bingung.


"Sudahlah, bagaimanapun itu adalah pertama kalinya aku benar-benar berkelahi sejak aku dewasa. Semua orang, termasuk ibuku dan kakekku takut padaku, dan membiarkanku memukul mereka. Aku tidak pernah berkelahi dengan siapapun sebelumnya. Itu menyenangkan." Jelas Pangeran Jaemin bahagia.


"Sering-seringlah datang kesini, dan aku bersedia berkelahi denganmu tanpa menahannya" kata Haechan.


"Kau ingin aku sering-sering menemuimu?" kata Pangeran Jaemin tak percaya


"Karena kau sudah membantuku terhindar dari hukuman Raja dan membuat anggota badanku tak terpotong jadi setidaknya itu yang bisa kulakukan" kata Haechan sengaja menggoda Pangeran Jaemin yang masih sangat polos itu lalu ia masuk kedalam rumah.

__ADS_1


"Hari ini hari pertama kita, kalau begitu!" Teriak Pangeran Jaemin.


...~TBC~...


__ADS_2