Sebening Mutiara

Sebening Mutiara
Bahagia atau sedih?


__ADS_3

" Lo lagi ngeliatin apasih, Tya?"


Tanya Angelin mengagetkan Mutya. Mereka pun melihat ke arah yang sedang dilihat Mutya.


" Oh, itu? kayak nggak pernah liat aja si Alfa."


Alexa benar kalau ini bukan pertama kalinya melihat kelakuan Alfa yang sangat menjijikkan itu. Namun kali ini berbeda. Hatinya sakit meskipun Ia tidak begitu mencintai Alfa, dan air matanya nyaris terjatuh. Tidak, Ia tidak boleh menangis dihadapan teman-temannya hanya karena seorang pria. Meskipun sikapnya lemah lembut, tapi Ia adalah cewek yang kuat.


Tapi, apa salahnya jika menangis untuk melupakan rasa sakitnya. Karena, ketika bibir tak mampu mengucapkannya, air mata adalah obyek penyelamat untuk meluapkan semua rasa sakit hatiNya. Ah, kali ini Mutya tidak bisa menahan air matanya untuk segera menangis. Ia bukan wanita yang kuat lagi sekarang. Mutya pun segera berlari ke toilet agar kedua sahabatnya tak curiga.


" Gue ke toilet bentar ya."


Rupanya Alfa menyadari kepergian Mutya.Ia pun berlari menyusul Mutya untuk memberikan penjelasan, bahwa yang dilihatnya tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiran Mutya.


Di Toilet, Mutya mencurahkan seluruh isi hatinya lewat tangisan di depan kaca, tak peduli pada orang yang melihatnya. Akhirnya Ia menyadari bahwa tangisnya sia-sia karena Alfa bukan miliknya, karena hubungan mereka hanya keterpaksaan dari sebuah pihak.


Kini Mutya berharap agar diriNya kuat jika melihat hal seperti yang dilakukan Alfa tadi terjadi lagi. Mutya sadar bahwa ini belum seberapa dengan kejadian yang akan menimpaNya nanti, jika seisi kampus tahu bahwa Ia tengah menjalani hubungan khusus bersama Idola mereka, dan itu akan terjadi pembulian besar-besaran juga sindiran dari para vens Alfa.


" Ah, cengeng Lo, Tya."


Segera Mutya menghapus air mata dan membasuh wajahnya agar kedua sahabatnya tidak boleh tahu kalau Ia habis menangis.


Ketika keluar dari toilet, Mutya dihadang dan tangannya ditarik paksa oleh Alfa menuju ke sudut toilet. Dalam hati Ia bertanya mungkinkah Alfa sempat melihatNya tadi hingga Ia rela menunggu di depan pintu toilet wanita? Jika Alfa tahu bahwa Mutya akan sakit hati, mengapa Alfa melakukan hal itu di depan Mutya.


" Tya, yang Lo lihat tadi nggak kayak dipikiran Lo. Gue Nggak ada hubungan apa-apa sama cewek tadi."


Alfa berusaha menjelaskan, namun Mutya terlihat cuek dan masa bodoh seakan-akan tidak mengerti apa yang Alfa maksud.


" Gue nggak ngerti maksud Lo, Al." Jawab Mutya berbohong.


Alfa menatap dalam-dalam mata Mutya untuk mencari kebenaran. Ia tahu Mutya habis menangis, terbukti dari matanya yang sembab dan kemerahan. Kini pacarNya tengah berbohong.


" Gue nggak ada hubungan apa-apa sama Ayu. Dia aja yang kegenitan ngedeketin Gue."


Lantas Alfa pun memeluk Mutya dengan sangat erat dan menenggelamkan kepala Mutya di dadaNya tanpa mempedulikan orang yang berlalu lalang di sekitarnya.


Mutya menangisi dirinya sendiri, mengapa Ia harus menerima cinta Alfa jika ujung-ujungnya membuatnya sakit hati.


Tersadar bajunya basah oleh air mata Mutya, Alfa mengangkat wajah mungil Mutya lalu menatapnya sambil menanyakan perihal mengapa Ia menangis.


" Lo kenapa nangis, Tya? maafin Gue ya. Gue janji nggak akan pernah buat Lo sakit hati."


Alfa lalu mengecup kening Mutya dengan sangat dalam untuk meyakinkanNya bahwa Ia benar mencintainya. Tanpa mereka sadari, seseorang sedang mengambil foto gerak-gerik mereka.

__ADS_1


" Yuk, kembali ke kantin." Ajak Alfa sambil menggandeng tangan Mutya berlalu meninggalkan tempat tersebut.


Setibanya di kantin, seribu pasang mata menatap mereka, terlebih kaum hawa yang penuh kebencian menatap Mutya tanpa henti.


Mutya melepaskan tangannya dari Alfa lalu berjakan menuju ke meja yang ditempati Kedua sahabatnya.


" Sorry, gue lama." Kata Mutya sambil duduk berhadapan dengab Alexa.


" Yuk, lanjutin makannya."


" Tya, gue nggak salah lihat apa? Ini benar mata gue yang bermasalah atau emang nyata sih?" Tanya Angelin. Namun pertanyaannya hanya dibalas dengan senyuman oleh Mutya.


" Tya, jawab dong pertanyaan kita." Kali ini Alexa juga ingin mencari tahu.


" Lo jadian sama si Alfa oon itu?" Alexa bertanya lagi, berharap pertanyaannya secepat mungkin dijawab Mutya.


" Udah lanjutin makannya, ntar Lo berdua juga bakal tahu kok." Jawab Mutya dengan santai tanpa harus menjawab pertanyaan dari kedua sahabatNya.


" Oke, Lo ngutang penjelasan sama kita berdua." Jawab Angelin dengan wajah kesal.


Seisi kantin mulai heboh dengan kedatangan sosok Alfa sambil menggandeng tangan Mutya, cewek yang tidak begitu cantik. Yang mereka tahu, Alfa hanya akan mendekati wanita-wanita cantik di Kampus Mandira, seperti Ayu dan Intan, sang ratu kampus.


Mutya tahu bahwa hal seperti ini bakal terjadi jika berpacaran dengan Alfa. Namun, ini bukan kemauannya untuk menjadi kekasih Alfa, Melainkan Alfa sendirilah yang terus memaksaNya untuk menjadi pacarnya. Mulai sekarang, Ia akan waspada karena akan terjadi pembulian besar-besaran apalagi kabar ini sampai di telinga Intan, Si ratu kampus yang selama ini mengeja-ngejar Alfa untuk menjadi kekasihnya. Dan sudah dipastikan, Seorang Intan tidak akan terima hal ini.


Setelah proses perkuliahan berakhir, ketiganya berencana untuk pulang bersama namun Dav, pacar Angelin juga salah satu sahabat Alfa, menghampiri mereka lalu mengajak Angelin untuk pulang bersama.


" Ang, pulang bareng Yuk"


" Emang kakak udah kelar kuliahnya?"


" Udah kok."


" kalo gitu Gue duluan ya Tya, Xa." pamit Angelin sambil melambaikan tangannya.


Setelah Dav dan Angelin menghilang dari pandangan mereka, Alexa tak enak hati meninggalkan Mutya sendirian sambil menunggu jemputan. Karena sore ini Alexa akan mempersiapkan diri untuk mengikuti sebuah perlombaan balap malam.


" Tya, gimana ni. Ntar malam Gue ada lomba ni , Gue duluan ya.Nggak papa kan?"


" Iya, Xa. Nggak papa Kok, lagian ntar juga Pak Amin datang."


Alexa menstar motornya meninggalkan hamalam kampus dan tersisa Mutya menunggu jemputan. Tak berselang lama yang ditunggu pun datang, lalu Mutya menaiki mobil dan meninggalkan kampus.


"Sungguh, hari yang melelahkan." Batin Mutya sambil tertidur.

__ADS_1


******


Kringgggg, kringgggg....


" Siapa sih yang nfon pagi-pagi kek gini. Ganggu orang tidur aja."


Mutya mengambil Handphone yang tersimpan di meja lalu menerima panggilan telepon tersebut.


" Halo, dengan siapa ini?"


" Cepat keluar, Gue udah di depan rumah Lo nih. Gue tunggu lima menit lagi."


Degg.


Sepertinya Mutya mengenal suara itu. Mutya lalu mematikan telponnya lalu berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai bersiap-siap, Ia berlari turun menuju meja makan untuk mengambil dua helai roti cokelat sebagai pengganti sarapan paginya. Segera Ia berlari keluar dan nyaris menabrak Ayahnya dari arah pintu depan.


" Eh, ngapain buru-buru, Nak? Emang ke kampus sepagi ini?" Tanya Pak Irwan, Ayah Mutya.


" Mau nyesaiin tugas yang belum kelar, Pa. Ntar tepat jam 07.00 udah harus dikumpul." Jawab Mutya terburu-buru.


"Tya berangkat dulu ya, Pa. Salam sama Bunda." Mutya mencium tangan Pak Irwan dan berlari menuju gerbang.


" Nggak diantar ni?"


" Nggak usah, udah dijemput sama Angelin."


Ayahnya bingung mellihat kelakuan putrinya pagi ini. Tidak biasanya putrinya itu mengabaikan tugas kampus bahkan dalam keadaan sakit pun, Ia akan rela begadang demi menyelesaikan tugas yang sudah diberikan dosen. Karena Ia tahu, bahwa putrinya termasuk anak yang jenius.


" Lho, Pak. Kok bengong?" Ibu Ira membuyarkan lamuan suaminya.


" si Tya, Bun. Lagi buru-buru ke kampus katanya mau nyelesaiin tugas kampus.Nggak sempat makan lho."


" Tya nggak sarapan pagi, Pak? aduh gimana kalo mag nya kambuh, Pak?" Jawab IbuNya Mutya dengan wajah gelisah.


Disisi lain, Alfa nampak tersenyum menyambut kedatangan Mutya. Sambil memegang dua helai roti cokelat dan menjinjing tas warna merah maron, Mutya berdiri di hadapan Alfa.


" Ngapain Lo datang ke rumah Gue?"


" Jemput pacarlah." Jawab Alfa santai dan sukses membuat wajah Mutya kesal dan malu.


Hy, semuanya. Makasih udah mampir di NovelKu. Mohon krisannya.🙏


btw, jangan lupa tinggalin jejak ya.😊

__ADS_1


__ADS_2