Sebening Mutiara

Sebening Mutiara
Kau Sukses Alfa


__ADS_3

Tak berselang lama, sebuah mobil hitam berhenti di depan Mutya. Ia pun menurunkan kaca mobilnya dan ternyata orang tersebut adalah Lion. Lion kaget dengan keberadaan Mutya yang masih berdiri sambil berlinang air mata, di tempat dimana Ia menurunkannya tadi. Lion turun dari mobil untuk bertanya kepada Mutya, mengapa Ia menangis dan belum juga pulang ke rumah.


Sadar akan kehadiran seseorang didepannya, Mutya mendongakkan kepalanya dan didapatinya orang tersebut adalah Lion, Ia pun langsung berhambur di pelukan Lion.


Saat-saat seperti ini Ia membutuhkan seseorang untuk merangkulnya dan memberinya kehangatan.


Rupanya Lion mengerti dengan kondisi Mutya, akhirnya Ia urungkan niatnya untuk bertanya, lalu membalas pelukan Mutya erat sambil menepuk-nepuk bahunya untuk memberi Mutya kekuatan. Kini Mutya semakin terisak di pelukan Lion dan makin mengeratkan pelukannya.


Setelah merasa tenang, Mutya melepaskan pelukannya dari tubuh Lion dan berusaha meminta maaf karena sudah lancang memeluk Lion tanpa izin. Ia merasa Lion adalah sosok malaikat bagi dirinya karena selalu muncul tepat waktu, dimana saat-saat Mutya membutuhkan ketenangan. Dan hal tersebut benar terjadi.


" Maafin Gue ya, Kak. Udah lancang meluk Ka Lion."


" Udah, udah. Nggak usah minta maaf, yang penting Lo udah tenang sekarang. Nggak boleh nangis lagi. Nggak baik lho nangis di depan cowok lain, ntar malah jatuh cinta lagi."


" Biarin ah, emang nggak boleh ya kak?"


" Siapa bilang nggak boleh? Cewek secantik Lo masa disia-siain."


" Ihhhh, Ka Lion ma. Btw, kok kak Lion bisa ada di sini sih?"


" Oh, itu kakak ngelupain sesuatu di kampus makanya kakak balik lagi."


" Gitu ya?"


" Kakak anterin Lo pulang ya?"


Lion mengantar Mutya pulang. Dalam perjalanan Ia ingin menanyakan perihal Mutya menangis tadi, namun orang yang akan diajaknya bicara rupanya sudah tertidur pulas. Lion pun menyandarkan kepala Mutya di bahu kiri sambil memeluknya, dan tangan kanannya memegang stir mobil.


Setibanya di halaman rumah Mutya, tanpa membangunkan Mutya, Lion menggendong Mutya memasuki rumah dan ternyata Ibunya Mutya lah yang membukakan pintu.


" Eh, eh. Tya?"


" Dimana kamar Mutya,Bu?"


" Mari ikut Ibu, Nak."


Bu Ira, Ibundanya Mutya pun berjalan mendahului Lion untuk menunjukkan kamar Mutya. Setelah membaringkan Mutya, Ibunda Mutya mengajak Lion kembali ke kamar tamu untuk berbincang sambil menikmati teh hangat.

__ADS_1


" Saya Lion, Bu. Seniornya Mutya di kampus."


" Makasih ya, Nak. Udah capek-capek anterin Mutya kesini, sampe ketiduran segala."


" Sama-sama, Bu. Kalo gitu Lion permisi pulang ya, Bu?"


" Sekali lagi trimakasih ya, Nak Lion. Hati-hati di jalan dan salam sama Ayah Ibu kamu ya."


Kata Ibunda Mutya menghantar kepergian Lion di depan pintu.


Lain hal dengan Alfa, kini Ia tengah menghancurkan barang-barang yang ada di kamarnya. Memikirkan kejadian tadi sore memang membuatnya hilang kendali, beruntung Lion sudah keburu pergi jadi tidak ada perkelahian antara keduanya. Kini Ia tidak sedang memikirkan Mutya, karena baginya Mutya tidak begitu penting sekarang, selama munculnya malaikat dadakan bagi Mutya.


Alfa kini mempertanyakan mengala Lion bisa dekat dengan Mutya? Apakah Ia tahu bahwa Alfa dan Mutya tengah menjalin sebuah hubungan khusus. Mulai sekarang, Ia harus waspada dengan sikap licik yang dibuat Lion.


Akhirnya keributan kecil tersebut terdengar sampai ke telinga Nadya, kakaknya Alfa. Nadya pun mendekati kamar Alfa, tanpa mengetuk pintu Nadya memasuki kamar Alfa hingga membuatnya terkejut melihat kamar adiknya seperti kapal pecah dan Alfa sedang memecahkan vas bunga. Nadya refleks memeluk Alfa dari belakang yang membuatnya terkejut dan hampir saja Alfa menyiku sang kakaknya jika tidak segera mengeluarkan suara.


" Dek, ini kakak. Lo tenang ya?"


Nadya tahu betul sikap Alfa, lalu berusaha membujuk adiknya agar tenang dan menenangkan dirinya sambil menuntunnya duduk di tempat tidur yang sudah berantakan.


Nadya adalah Kakak, Ibu sekaligus Ayah buat Alfa. Ayahnya sibuk mengurus bisnisnya hingga melupakan keluarganya, sedangkan Ibunya sudah lama bercerai dan meninggalkan mereka empat tahun lalu, dan kini sudah memiliki sebuah keluarga baru.


" Yuk, turun makan. Bibi udah masak makanan kesukaan kamu."


******


Mutya tengah menyelesaikan sarapan pagi bersama kedua orang tuanya. Ketika Ia bangun subuh tadi, Ia sempat bingung dengan keberadaannya yang sudah berada di tempat tidur, padahal kemarin Ia masih menangis-nangis di pinggir jalan akibat ulah Alfa.


Sontak Ia pun teringat Lion yang kemarin mengantarnya ke rumah, mungkin Ia tertidur di dalam mobil Lion. Kemarin Ia benar-benar lelah hingga Ia sampai ketiduran di mobil Lion. Tapi apa salahnya bila tidur di mobil orang yang sudah menolongnya.


" Tya, semalam kamu menggigau, lho. Sampai nangis-nangis segala."


" Hah? Yang benar, Bun?"


" Benar sayang. Emangnya kamu ada masalah apa sih sampai kebawa mimpi kek gitu?"


" Ceritain sama Bunda sama Papa ya." Kata Ayahnya Mutya.

__ADS_1


" Tya nggak papa kok Bun, Pa." Lagian itu cuma bunga tidur doang kok."


" Ya, udah. Kamu habisin makanan kamu, ntar Papa yang anterin ke kampus aja."


Selama dalam perjalanannya menuju ke kampus, Mutya tak banyak bicara seperti sebelumnya. Memang Ia akan cerewet bila saat bersama kedua orang tuanya, lain hal ketika Ia bersama Kedua sahabatnya Ia akan menjadi sosok pendiam. Namun sekarang ini, diajak bicara oleh Ayah dan Ibunya Ia hanya menjawab sekilas kadang juga tak nyambung, dan semua itu membuat Ayah dan Ibunya heran.


" Tya, mikirin apa sihh?" Tanya Ibunya.


" Eh, nggak mikirin apa-apa, Bun."


" Trus dari tadi diajak ngomong malah nggak nyambung."


Ah, Mutya hampir ketahuan kalau Ia sedang berada dalam masalah dan untuk kedua kalinya Ia rela membohongi kedua orang tuanya. Kini, Ia ingin menangis di pelukan dan mencurahkan isi hati terhadap Ibunya, kalau hati putry tercintanya sedang diporak-porandakan oleh Alfa, pacarnya.


Namun apalah daya, Ia tidak punya sisi keberanian dan tidak ingin membuat kedua orang tuanya ikut khawatir, karena akan menjadi penghambat bagi pekerjaan mereka.


Sekilas, Mutya teringat akan kalimat Alfa kemarin yang mengatakan bahwa, meskipun Ia seorang ******* tapi tidak akan memutuskannya. Apa maksud dari kalimat tersebut? Apakah Alfa merencanakan sesuatu? Ataukah Alfa akan menyiksa dirinya nanti seperti yang terjadi di film-film percintaan? Akh, Alfa kali ini kau sukses membuat hati seorang Mutya menjadi tak karuan dan benar-benar tersiksa.


Turun dari mobil Ayahnya, seperti biasa Mutya berjalan menuju bangku panjang di taman dekat parkiran kampus. Ia akan menghabiskan waktu kosongnya dengan membaca buku sambil mendengarkan musik. Kini suasana hatinya perlahan tenang diiringi alunan musik sambil membaca buku. Tiba-tiba, seseorang menarik headchet dari telinga sebelah kiri Mutya, dan turut mendengarkan musik bersama. Ketika dilihatnya ternyata yang baru saja duduk ialah Lion.


Tanpa mereka sadari, Seorang sudah amat geram melihat gerak-gerik mereka, dan orang tersebut adalah Alfa. Alfa pun mendekati mendekati mereka dan berusaha untuk memukul Lion, namun tangannya sudah terlebih dahulu ditahan oleh Dav dan Ryan.


" Rupanya Lo makin berani ya?"


Mutya terkejut akan kehadiran Alfa.


" Alfa?"


Alfa menarik tangan Mutya untuk membawanya pergi, namun sudah cepat dicekal oleh Lion.


" Lepasin tangan Mutya."


" Lo siapanya Mutya?"


Halo,haloo😄


Aku kembali ni bawa cerita menarik, yakin sudah baca sampai habis?😊

__ADS_1


kalau iya, jangan lupa tinggalinn jejak ya kak😍diLike, Comen dan vote😘💚


'


__ADS_2