
" Gue Lion, President di kampus Mandira. Tadi Gue ngeliat Lo nangis-ngangis di depan pacar Lo, tapi bukannya dibujuk malah ninggalin Lo."
" Gue Mutya, Kak." Jawab Mutya sesegukan
" Udah berhenti nangisnya. Nggak baik lho cewek nangis di depan Cowok yang baru Ia kenal, ntar jatuh cinta lagi."
Lion mengajak Mutya duduk di sebuah bangku panjang di dekat mereka. Mutya menghapus air mata dan merasakan kehangatan yang disalurkan Lion pada dirinya. Ketika hatinya sedang tercabik-cabik, Muncul sosok Lion yang menghangatkan jiwanya. Kini Ia mengagumi Lion yang rendah hati menolong seorang gadis yang menangis-nangis tanpa memikirkan jabatannya sebagai seorang president di kampus ini.
Kini Ia mengenal Lion yang sering dikagumi juga oleh teman-temannya. Selain berpostur tubuh ideal, Lion juga memiliki hati baik dan suka menolong. Sikapnya ini mungkin tidak terlepas dari dididikan orang tunya.
" Lo cewek yang lagi viral sebagai pacarnya Alfa itu kan?"
" Darimana Kak Lion tahu?"
" Ya, Gue hafal muka Lo. Foto Lo berdua sama Alfa bukan hanya di papan informasi tapi viral juga di media sosial. Tapi Lo tenang aja, ntar gue akan cari tahu siapa orang yang udah berani memviralkan foto itu."
Mutya kembali terpaku mendengar perkataan tulus Lion dan mulai mengagumi dirinya. Sosok seperti inilah yang selama ini Mutya cari untuk melindungi dirinya juga memberinya kehangatan batin.
Saat ini Mutya begitu nyaman berada di pelukan Lion, dan semua masalah yang ada di pikirannya lenyap seketika. Kehadiran Lion saat ini memberinya semangat baru untuk kembali bangkit dari keterpurukannya.
Lalu bagaimana dengan Alfa? Ah, dia hanya akan mempermainkan perasaannya saja. Yang terpenting sekarang, Lion adalah sosok malaikat baru bagi seorang Mutya Alkani.
" Udah tenang pikiran Lo?" Tanya Lion sambil melepaskan pelukannya.
Tidak, Mutya tidak ingin melepaskan pelukan Lion. Ia masih membutuhkan kehangatan dari diri cowok tersebut. Namun apalah daya mereka baru saja saling mengenal beberapa menit yang lalu.
" Ka Lion nggak takut sama pacar kakak sampai meluk Tya segala?"
" Ahahahhah, pacar aja Kaka nggak punya."
Sosok dihadapannya ini mungkin seorang yang ceria. Sekarang Mutya tidak lagi memikirkan diri Alfa yang membuatnya sakit hati, ataupun perlakuan Intan di toilet tadi.
Keduanya pun bersenda gurau seakan-akan mereka adalah Sahabat lama yang terpisah dan kembali bertemu untuk membuat hal-hal kekonyolan.
Tanpa Mutya sadari, Lion terus menatapnya tanpa henti, mungkin sedang mengaguminya ataukah merasa kasihan pada diri Mutya.
" Cantik." Gumam Lion yang sempat didengar oleh Mutya.
__ADS_1
" Hah, apa Kak Lion bilang?"
" Eh, nggak papa kok. Lanjutin aja ketawanya." Jawab Lion dengan nada candaan.
" Oia Kak. Gue ke kelas dulu ya, soalnya lagi ada kelas ntar." Kata Mutya mengakhiri perbincangan mereka.
" Oooo gitu? Nggak boleh nangis lagi." Jawab Lion. " Ntar pulang Gue antarin, oke?"
Mutya dengan wajah merah merona meninggalkan Lion sendirian. Kini Ia nyaman kah? Tapi mengapa Alfa kembali muncul di pikirannya dan tidak bisa melupakan dirinya meskipun sudah membuatnya terluka? Memang berpacaran dengan seorang Alfa adalah sebuah kesalahan, namun apa salahnya bila Ia sebagai seorang wanita merasa sakit hati?
******
" Mutyaaa."
Mutya membalikkan badannya untuk melihat orang yang sedang memanggil namanya, dan didapatinya Lion yang berlari ke arahnya.
" Ka Lion."
" Kaka anterin Lo balik ya !"
" Ehh, nggak usah, Kak. Gue ada jemputan kok." Jawab Mutya berusaha menolak.
Akhirnya dengan pasrah Mutya mengikuti kemauan Lion untuk mengantarnya pulang, dan untuk kedua kali Lion menebar kebaikannya di hadapan Mutya.
Entah apa yang terjadi pada Mutya sehingga tak bisa menolak ajakan Lion. Berbeda dengan Alfa yang sudah sering kali menawarkan untuk mengantarkanya pulang, Mutya selalu saja menolak, tapi itu dulu sebelum menjadi pacarnya Alfa.
Tapi sepertinya Ia merasa tak tenang karena berjalan dengan pria lain selain Alfa. Kini hatinya kembali bimbang seolah Ia sudah mengkhianati Alfa yang sudah menjadi pacarnya tempo lalu.
Meskipun Alfa membuatnya terluka, bukan berarti Ia lebih leluasa dekat dengan pria lain. Kini Ia takut apabila Alfa sampai melihatnya bersama Lion sudah pasti pria yang bersamanya akan babak belur, dan Mutya tidak mau sampai hal itu terjadi. Akhirnya, Ia pun menyuruh Lion menghentikan mobilnya.
" Ka Lion, turunin gue di sini aja ya. Gue lupa, gue harus ke suatu tempat dulu."
" Emang nggak papa ni?"
" Nggak papa kok, Kak. Btw, makasih ya kak, udah capek-capek anterin."
Lion tersenyum lalu meninggalkan Mutya sendirian. Ia melirik kaca spion dan menampakkan wajah Mutya yang perlahan menghilang.
__ADS_1
" Gue tahu Lo takut sama si Alfa, dan Gue akan berusaha ngedekatin Lo terus sampai Gue hancurin hidup Alfa." Batin Lion.
Di sisi lain, Alfa bersama kedua sahabatnya begitu menikmati perjalanan mereka. Mendengar ocehan receh dari Dav dan Ryan, Alfa malah mendengar music yang mungkin sangat menyentuh hatinya. Meskipun sifat kedua sahabatnya yang terkadang konyol, namun mereka adalah penghibur bagi Alfa, selain kakakNya Nadya. Dengan begitu membuat mereka terlihat seperti saudara. Saking cerianya mereka, Ryan melihat Mutya yang baru saja turun dari sebuah mobil hitam dan ternyata mobil tersebut adalah milik Lion, musuh berat Alfa.
" Eh, eh liat tuh. Bukannya itu Mutya, pacar baru Lo kan, Al ?"
Alfa tak menghiraukan perkataan Ryan, karena Ia tahu betul sifat sahabatnya itu yang candaannya terkadang berlebihan.
" Ah, bercanda Lo." Dav menjawab perkataan Ryan.
" Al, Alfa. Tuh, si Mutya sama Lion, musuh bebuyutan Lo itu. "
Mendengar nama Lion, secara tiba-tiba Alfa menghentikan mobilnya dan melihat ke arah yang ditunjuk Ryan. Dan benar, pacarnya sedang bermesraan dengan seorang pria yang ternyata musuh besarnya di kampus. Ia lekas turun dari mobil, dengan wajah penuh amarah pun berjalan menuju ke arah Mutya yang sendirian sambil tersenyum-senyum karena mobil tersebut sudah keburu pergi.
" Dibayar berapa Lo sama dia? "
Alfa mengagetkan Mutya yang sedang berdiri sendirian di pinggir jalan, sambil menanyakan hal yang tidak masuk akal dan tidak dimengerti oleh Mutya. Mutya pun kaget akan kedatangan Alfa secara tiba-tiba, dan yang ada di pikiran Mutya saat ini pasti Alfa sudah berpikir aneh-aneh mengenai dirinya, terbukti dari pertanyaan yang baru saja Alfa lontarkan.
" Alfa, kenapa Lo bisa ada di sini? " Tanya Mutya kaget dan takut.
" Kenapa? Takut Gue gangguin Lo sama cowok tadi?"
" Al, tadi itu- "
" Ternyata Lo p*l*c*r juga ya. Gue kira Lo cewek baik-baik. Tapi tenang aja, Gue nggak bakal mutusin Lo, kok. "
Belum sempat menjelaskan apapun, Alfa sudah terlebih dahulu memotong pembicaraannya, sambil menuduhnya sebagai seorang *******.
Setelah sukses mengatakan kalimat yang membuat Mutya sakit hati, Alfa meninggalkan Mutya. Air mata Mutya pun tanpa perrmisi langsung menerobos jatuh membasahi pipinya. Hatinya sudah benar-benar hancur saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Alfa yang menuduhNya sebagai seorang *******.
Bagaimana bisa Ia melakukan hal sekeji itu, sedangkan kata itu saja sangat asing di telinganya. Andaikan Ia tidak turun dari mobil Lion dan mengantarnya sampai halaman rumahnya, pasti kejadianNya tak seperti sekarang ini. Sungguh, hari ini nasib buruk bertubi-tubi menimpanya. Ah, kini Mutya sudah kembali memikirkan wajah dan pelukan Lion.
Halo semuanya😊
Trimakasih sudah mampir ke novelku.
jangan lupa tinggalkan jejak ya😉
__ADS_1
Yuk, lanjut baca bab berikut😁