
Alfa membuka pintu mobil lalu mempersilahkan Mutya masuk, namun Mutya masuk duduk di belakang Alfa dan itu membuat Alfa merasa sebagai seorang sopir.
" Gue bukan sopir Lo jadi cepat pindah."
" Emang Lo sopir gue." Jawab Mutya seenaknya.
Merasa omongannya tak diindahkan Mutya, Alfa membuka pintu mobil dan menggendong paksa Mutya lalu mendudukkannya di depan tepat di sampingnya.
" issssss, lepasin gue, Alfa. Lo apa-apaan sih? sinting kali." Mutya berusaha memberontak agar terlepas dari gendongan Alfa, namun usahanya sia-sia.
" Turunin gue Alfa."
Cuppp, cupp cuppp
Alfa mengecup bibir Mutya berkali-kali hingga membuatNya tak lagi bergerak dan menjadi bungkam.
Alfa lalu duduk di samping Mutya dan menyalakan mobilnya berjalan menuju kampus. Selama dalam perjalanan, Alfa berusaha mencairkan suasana karena Mutya terus mendiaminya, namun Mutya tak pernah merepon apa pun, rupanya Ia sedang memarahi Alfa. Mutya malah sibuk menikmati roti cokelat yang sempat dibawanya dari rumah, karena gara-gara Alfa Ia tidak sempat sarapan pagi.
Setibanya di kampus, Mutya ingin segera turun dari mobil tapi tangannya sudah ditarik oleh Alfa.
Cuppp
Refleks Alfa mendaratkan sebuah ciuman di bibir mungil Mutya. Situasi seperti ini membuat Mutya sempat terkejut dan merasa sangat tidak nyaman meskipun ini adalah ketiga kali Alfa menciumnya, apalagi saat ini mereka berada di area parkiran kampus. Jika sampai dilihat oleh anak-anak kampus, maka dirinyalah yang kena imbasnya.
" Huhh, sumpah gue nggak bisa nafas Alfa."
Mutya menghembuskan napasnya kasar dan secepat mungkin Ia turun dari mobil Alfa untuk lolos dari adegan tak terduga ini. Perkiraannya betul, ketika berhasil turun dari mobil, begitu pasang mata yang menatapnya tajam. Terdengar bisikan dan cemooh dari mulut cewek-cewek yang berada sekitar parkiran dan taman kampus.
" Siapa sih cewek miskin itu?"
" Idih, centil banget tu cewek aneh."
" Makan malam baru buat si Alfa."
" Emang ya, murahan nggak kemana."
__ADS_1
Ini adalah bisikan dan komentar dari cewek-cewek tersebut, dan masih banyak lagi komentar negatif dari warga kampus karena sudah berani mendekati idola mereka.
Mutya hanya menundukkan kepalanya sambil berjalan melewati mereka yang tengah membicarakan dirinya. Ketika sampai di papan pengumuman, banyak orang yang sedang mengerumuni papan informasi tersebut. Terlihat banyak sekali foto Mutya dan Alfa yang tengah berpelukan di sudut toilet kampus. Di benaknya, siapakah yang secara diam-diam memfoto dan rela menyebarkan foto mereka.
Ia tersadar bahwa waktu kejadian tersebut ada banyak orang yang berlalu lalang di toilet wanita. Mungkinkah salah satu dari mereka yang melakukannya.kini apa yang ditakutinya nampak terjadi, padahal baru sehari Ia menjadi pacar Alfa.
Begitu melihat sosok yang ada di foto tersebut, ada tatapan tak suka dari cewek-cewek di sekitar Mutya, dan ingin membulinya. Mutya pun berlari menuju toilet untuk menenangkan diri.
Mutya memang seorang yang akan mudah menangis jika hal-hal sensitif menimpa dirinya, apalagi menyangkut harga dirinya.
" Cikhh, berani ya lo meluk-meluk pacar Gue."
Mutya berbalik menatap orang yang sedang berbicara di belakangnya, ternyata dia adalah Intan and the gank. Intan adalah cewek terpopuler di kampus Mandira. Jika sudah nekat menginginkan sesuatu, maka apa yang diinginkannya akan mudah tercapai dengan cara apapun. Intan yang sering dijuluki sebagai ratu kampus ini adalah mantan pacar Alfa. Berita yang Mutya dengar bahwa keduanya sudah lama putus, tapi sampai sekarang Intan masih saja mendekati Alfa.
Intan menarik rambut Mutya sangat keras hingga membuat Mutya merintih kesakitan, lalu melayangkan tamparan di kedua belah pipi Mutya. Air mata Mutya lolos terjatuh membasahi pipinya yang sudah kemerahan.
" Ini belum seberapa dengan apa yang udah Lo lakuin. Jika masih berani ngedekatin pacar Gue, Lo akan mendapt lebih dari ini."
Intan and the gank tersenyum licik dan meninggalkan Mutya menangis kesakitan di toilet.
Sungguh, ini adalah pengalaman pertama kalinya Ia mendapat tamparan, dan didapatinya dari Intan sang ratu kampus. Bahkan Kedua orang tuanya tidak pernah memarahinya, apalagi menamparnya seperti yang Intan lakukan tadi.
Padahal apa yang dikatakannya tempo hari bukan untuk ingin menjadi pacar Alfa, melainkan untuk lolos dari cengkeraman dan bututan si Alfa, cowok yang membawa penderitaan bagi Mutya.
Setelah Intan and the gank meninggalkan Mutya, handphone nya berbunyi pertanda sebuah notifikasi masuk lalu diliriknya ternyata sebuah video menjijikkan antara Alfa dan Intan di sebuah club malam. Genap sudah hatiNya hancur.
Mutya berusaha tenang dan melupakan kejadian tadi, ditambah lagi video yang lagi viral di media sosialNya. Mutya lalu membasuh wajahnya agar tidak terlihat menyedihkan di mata anak-anak kampus, dan berlalu meninggalkan toilet.
Disisi lain, Alfa malah bersantai-santai bersama kedua sahabatnya di atap kampus, tempat mereka nongkrong. Ia sama sekali tak menghiraukan foto dan video yang tersebar di media sosial maupun papan informasi kampus. Ia menganggap hal itu tidak begitu penting.
" Al, udah dapat mangsa baru Lo ya?" Tanya Ryan kepada Alfa. " Jan lupa, ntar malam sisain buat gue juga dong."
" Al, benar Lo udah dapetun si Mutya? Sejak kapan?"
Kini giliran Dav yang menginterogasi Alfa. Bukannya menjawab pertanyaan kedua sahabatnya, Alfa malah meninggalkan mereka berdua di atap.
__ADS_1
" Dingin banget sih tu bocah, kaya lemari es tau nggak." Ryan kembali mengomel. " Diajak ngomong malah main pergi aja."
" Kaya nggak tahu Alfa aja. Yuk ikutin dia." Jawab Dav sambil mengajak Ryan menyusul Alfa yang sudah meninggalkan mereka.
Selain memiliki wajah tampan, Dav lah yang paling dewasa dan pengertian diantara mereka bertiga. Ia memiliki sikap dingin bukan berarti Ia harus bersikap labil terhadap segala tindakan dan berlari dari masalah yang telah diperbuat.
Berbeda dengan Ryan, Cowok ceria yang selalu memikirkan makanan dimanapun. Sosok penghibur ini juga memiliki wajah tampan dan imut, membuat kaum hawa juga gemas dan ingin mencubit pipinya. Ketiga pria ini memiliki jiwa ketertarikan tersendiri sehingga membuat wanita-wanita di kampus memperebutkan mereka.
\*\*\*\*\*\*
Alfa berjalan santai menyusuri lorong kampus, terkadang menatap tajam ke orang-orang yang membisikkan dirinya, ada juga cewek yang masih tersenyum nakal ke arahnya.
Dari kejauhan Alfa melihat Mutya berjalan menunduk tanpa mengangkat kepala sambil menyeka air mataya. Rupanya Ia tidak menyadari kehadiran Alfa, dan itu membuat Alfa mengerutkan kening, mungkinkah Mutya habis menangis akibat melihat video yang tersebar di sosial media. Alfa pun menghampiri Mutya.
" Ngapain sih Lo nangis-nangis segala?" Rupanya Alfa membuat Mutya terkejut.
" Eh, Alfa. Gue nggak papa kok, mata Gue kelilipan."
" Lo udah lihat videonya?"
" Video apaan?"
" Bagus deh, Lo nggak perlu lihat." kata Alfa sambil meninggalkan Mutya sendiruan di lorong kampus.
Mutya kembali menangis setelah Alfa pergi. Kali ini Ia berpikir bahwa Alfa hanya mempermaikan perasaannya seperti yang dilakukannya pada cewek-cewek di kampus ini. Mutya duduk di lantai dalam keadaan sangat menyedihkan dengan hati yang sudah kacau dan terluka. Awalnya, Ia berpikir Alfa akan menenangkan dirinya, namun kenyataan berbeda dengan pikirannya.
" Ah, Lo bodoh Tya. Alfa nggak benaran cinta sama Lo."
Ketika sedang menangis, Ia merasakan tangan seseorang memeluk dan membangunkannya. Mutya mendongakkan kepala melihat siapa orang yang berdiri dihadapannya. Ia mengerutkan kening karena tak mengenali orang tersebut, sambil menanyakan identitasnya, namun sudah terlebih dahulu orang tersebut memperkenalkan dirinya.
Hay, hayyy😄
udah selesai baca bab ini? Siapakah Orang yang menolong Mutya saat ini?
Yuk, ikuti terus kisah Mutya dan Alfa😍
__ADS_1
btw, jangan lupa tinggalin jejak ya😊
"