Sebuah Kisah Dan Rasa

Sebuah Kisah Dan Rasa
Bab 1 Pertemuan


__ADS_3

Matahari mulai menunjukkan sinarnya, meski sedikit malu-malu namun tak membuat semangat seorang gadis cantik menjadi pudar. Dengan semangat 45 ia mulai bersiap-siap untuk bekerja senyumannya pun terus mengembang menghiasi wajahnya yang semakin cantik dan manis.


Rima Aurora Rahardja, usia nya baru 20 tahun dan masih berkuliah jurusan ekonomi semester 4 di salah satu universitas yang sangat terkenal di kota nya saat ini, dan dengan kemampuannya yang terkenal pandai sejak SMA kini ia mampu mendapatkan beasiswa penuh di kampus, dengan begitu ia bisa sedikit mengurangi beban bagi orang tua nya yang juga harus membiayai kedua adik nya yang lain.


"Buk, Rima berangkat kerja dulu ya mungkin pulang nya agak sorean, soalnya habis kerja langsung ke kampus ada tugas yang mau Rima kerjain.." Rima mencium tangan Ibu nya


"Ya Nak, hati-hati." jawab Ibu sambil mengelus pucuk kepala anaknya dengan lembut. Rima hanya mengangguk dan tersenyum


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumussalam.."


Ibu Maryam, wanita paruh baya berusia 48 tahun yang paling Rima sayangi di dunia ini. kini ia terlihat rapuh dan semakin kurus akibat penyakit yang semakin menggerogoti tubuhnya yang mungil. Meski begitu, ia tak pernah mengeluh dan selalu berusaha tegar menahan rasa sakit yang terladang tiba-tiba saja datang, semua itu ia lakuakan hanya karena tak ingin membuat keluarga ny menjadi khawatir.


"Kakaaaaaak...." Mendengan ada panggilan dari arah belakang nya, Rima segera menoleh dan tersenyum melihat siapa yang memanggilnya. Rima menghampiri gadis kecil yang berdiri di samping Ibu nya yang masih berdiri di depan pintu, sambil berjongkok untuk mensejajarkan tubuh mereka, Rima mencium kedua pipi gadis kecil yang terus tersenyum di hadapannya. Rima yang mengerti dengan senyuman itupun ikut tersenyum lalu menggendongnya.


"Wah, Rina tambah berat ya!" ledek Rima menjunjukkan wajah nya yang keberatan..


"Nggak kok, kan Rina masih kurus." jawabnya cengengesan menanggapi ledekan Kakalnya. mendengar jawaban sang adik Rima juga Ibu hanya tersenyum, dengan gemas mencubit pipinya yang semakin gembul saja.


"Tumben jam segini udah bangun! ada apa?" Rina hanya menggelengkan kepalanya.


"Hmm, benarkah!" selidik Rima menatap adik nya yang masih ia gendong. sedang yang di tatap hanya mengangguk meyakinkan dengan wajah yang menggemaskan.


"Hahaha,, baiklah-baiklah Kakak percaya. kalo gitu Kakak boleh berangkat sekarang?"


"hm." Rima segera menurunkan adiknya dari gendongan dan segera berqngkat karena haripun semakin siang.


"Dah Kakak.." Rina melambaikan tangan mungilnya, Rimapun membalas lambaian tangannya setelah menghidupkan motor metik miliknya dan segera melajukan kendaraan nya dengan kecepatan stabil.


Setelah 30 menit di perjalan, akhirnya Rima sampai di tempat ia bekerja, dengan cepat ia turun dan masuk ke ruang ganti khusus perempuan untuk berganti pakaian kerjanya kebetulan di ruangan itupun hanya tinggal ia sendirian karena semua rekannya pun sudah lebih dulu datang.


"Huh, hqmpir aja." lirih Rima sambil menatap jam tangan murah nya yang selalu ia pakai ke manapun. Iapun segera bergabung dengan teman-teman nya yqng lqin setelah mengambil alat-alat pembersih.

__ADS_1


"Hobby banget sih telat!" ledek wanita di samping Rima. mendengar ledekan dari temannya Rima hanya tersenyum semanis mungkin dan itu cukup berhasil membuat wanita itu muak dengan tingkahnya.


Wanita itu adalah Maya, selain tempat kerja iapun teman satu kampus Rima, mereka sudah berteman sejak SMP. Maya tipe orang yang main ceplas ceplos saja jika ia suka atau tak suka pada seseorang, karena itu mereka sering bertengkar walau hanya adu mulut saja dan tentu saja Maya akan kalah jika harus berhadapan dengan Rima, lebih tepatnya sih mengalah karena jika di teruskan pasti akan semakin panjang dan tak berujung.


Namun meskipun begitu, bagi Rima Maya adalah sahabat yang paling pengertian dan selalu memahami dengan segala keadaan Rima. Terladang ada kalanya ia bisa memberikan kata motivasi bagi Rima jika sedang merasa sedih. Pokoknya mah bagi Rima Maya is the best lah nggak ada dua nya karena emang cuma ada 1. hehe....


Haripun semakin siang, Rima dan yang lainnya bergegas berganti pakaian karena sudah waktu nya pergantian sif.


"May, mau bareng?" tanya Rima pada Maya yang masih sibuk dengan make up nya..


"Nggak deh Rim, aku mau di jemput sama kevin." jawabnya sambil senyum-senyum


"Oh, ya udah aku duluan kalo gitu." Rima segera keluar dari ruang ganti dan menuju ke parkiran.


Karena terlalu terburu-buru tanpa sengaja Rima menabrak seseorang hingga mereka terjatuh, sialnya Rima jatuh tepat berada di atas orang yang ia tabrak..


Bruukkk!


"Awww..." pekik Rima memegang jidatnya yang terasa sedikit nyeri akibat berbenturan dengan jidat orang yang ia tindih.


"Ah, ma..maaf-maaf Tuan saya nggak sengaja." Rima segera berdiri begitun orang yang ia tabrak.


"Ya Tuhan..." lirih Rima merasa malu sendiri


"sekali lagi saya minta maaf Tuan, saya benar-benar nggak sengaja tadi." dengan sopan Rima meminta maaf sambil sedikit membungkukkan badannya untuk menunjukkan ketulusannya.


"hm," hanya itu yang keluar dari mulut orang yang berdiri di hadapan nya. Rima memberanikan diri mengangkat kepalanya dan tanpa sengaja mata merekapun saling bertemu untuk sesaat, dengan cepat Rima mengalihkan pandangannya agar tak semakin gugup.


hening, tak ada percakapan lagi di antara mereka berdua setelah kejadian tatap-tatapan tadi, merela sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


"Rima.." teriak seseorang dari arah belakang Rima membuyarkan lamunan di anatara Rima dan juga Pria di hadapannya. mereka berduapun menoleh ke arah sumber suara.


"Aku nebeng kamu deh, soalnya Kevin gak jadi jemput ada urusan mendadak katanya. Bolehkan?" ucap Maya yang sudah berada di samping Rima sqmbil memegang pundak Rimauntuk memberi isyarat pada nya.

__ADS_1


"ah, ok." jawab Rima setelah mengerti maksud dqri sahabatnya itu. Rima kembali menatap pria di hadapan nya.


"Sekali lagi saya minta maaf Tuan, kalo begitu saya permisi." Rima segera menarik tangan Maya yang masih terpaku menatap ketampanan pria yang berdiri di hadapan mereka.


Pria itupun menatap kepergian Rima dan Maya hingga tak terlihat lagi, sampai tepukan seseorang di pundak nya menyadarkan lamunan panjangnya.


"Lo kenapa?" Pria itupun hanya menoleh kearah orang yang memanggilnya kemudian menggeleng dan berlalu meninggalkannya.


"Thank's udah nolongin aku tadi."


"No problem." mereka berdua saling melempar senyum dan segera naik ke atas motor.


"Oh ya, bukan nya tadi kamu bilang mau d jemput Kevin ya?" tanya Rima penasaran sambil melajukan motor matik nya sedikit lambat.


"Aku yang bilang ke Kevin buat gak usah jemput."


jawab Maya sedikit berteriak karena terlalu berisik.


"Loh kenapa?"


"Iya karena kamu lah Rima sayang, aku kasihan aja lihat kamu yang kayak mati kutu di hadapan cowok ganteng itu, jadi nya deh aku sms Kevin buat gak usah jemput karena mau barengan kamu." Rima kembali tersenyum mendengar jawaban sahabatnya itu, memang benar selama ini ia tak pernah sedekat itu dengan seorang pria apalagi seganteng itu, giman gk mati kutu coba.


"Hehe,, iya sih bener juga." merekapun tertawa.


"Tapi makasih loh, kalo gak ada kamu tadi mungkin aja nih aku masih berdiri kayak patung di depan tuh cowok." Rima menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya secara kasar merasa lega.


"Santai, selama ada aku kamu aman. hehee.. Tapi tuh cowok tado ganteng juga ya, Kevin mah kalah nggak ada apa-apanya dia." jawab Maya kembali membayangkan wajah tampan pria tadi.


"Oh gitu, ya udah nanti aku kasih tahu Kevin deh." ledek Rima.


"Jangan dong, walaupun Kevin kalah ganteng tapi di mata aku Kevin cowok paling perfek lah." Rima hanya tersenyum mendengar jawaban Maya yang bucin abis.


Bab 1 nya sampe sini dulu deh, mudah-mudah suka....

__ADS_1


jangan lupa like dan komen teman² seperjuangan...


maaf kalo banyak kata² nya yang kurang baik, karena author juga masih baru dan ini pun karya pertama jadi masih banyak kekurangan.


__ADS_2