
Satu minggu setelah kelulusan Resa, Rima dan keluarganya pindah ke ke luar kota tepatnya di kota Bandung.
Sepanjang perjalanan Resa hanya diam saja, entah apa yang di fikirkan gadis itu namun yang pasti tak ada raut kebahagiaan darinya.
Rima yang selalu memperhatikan adiknya merasa sedih melihat Resa yang lebih sering murung sejak kehamilannya.
"Dek.." panggil Rima menepuk pundak Resa yang, masih melamun di dalam mobil menuju rumah baru mereka.
" ya Kak." jawab Resa menoleh ke arah Kakaknya dan tersenyum yang agaknya di paksakan
"Kenapa?" tanya Amel
"Gak papa Kak." Resa terus berusaha mempertahankan senyumannya agar sangat Kakak percaya akan ucapannya, namun Rima yang sudah, mengenal adiknya itu tak akan mudah di bohongi hanya dengan senyuman itu. Dima tersenyum lembut ia mengusap pipi adiknya dengan pelan dan penuh kasih sayang, berharap jika adiknya merasa nyaman dan lebih tenang dengan perhatiannya.
"Ya sudah, kalo kamu capek tidur aja dek, di sini.." ujar Rima sambil menepuk bahunya beberapa kali memberikan pertanda jika ia siap menjadi tempat tidur adiknya. Resa hanya mengangguk dan semakin melebarkan aenyumannya dan kali ini senyuman tulus dari nya atas sikap sangat Kakak yang begitu perduli dan menyayanginya.
Perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan bagi mereka sekeluarga.
Ayah mengajak istri dan anak anaknya masuk ke rumah barumereka, cukup besar dari rumah mereka sebelumnya karena sekarang Ayah naik jabatan menjadi seorang Manger di perusahaan yang cukup besar.
"Alhamdulillah, rumahnya besar juga ya!" ujar Ayah memperhatikan Rumah baru mereka setelah masuk ke dalam.
Rima dan yang lain juga berfikir hal yang sama, bahkan Risa terlihat sangat antusias berlari ke sana ke mari dengan bahagia.
Rima, Resa dan Risa sudah masuk ke kamar masing masing setelah mereka memilih kamar sendiri, begitupun dengan Ayah dan Ibu. sangat kebetulan di rumah itu memiliki empat kamar.
"Anak anak, makan malam dulu.." panggil Ibu mengetuk satu persatu kamar anak anak nya yang berdekatan.
"Ya Bu.." jawab ketiganya bersamaan dan keluar bersamaan pula. Sejenak mereka saling pandang dan tersenyum.
Keluarga Rima sedang makan malam bersama dengan menu seadanya karena Ibu belum sempat berbelanja.
Selesai makan malam kelima orang beda usia itu duduk bersama di ruang tamu untuk membicarakan tentang masa depan ketiga anak gadis yang ada di, rumah ini.
__ADS_1
"Jadi Rima sudah memutuskan akan pindah kuliah di mana Nak? " tanya Ayah.
"Sudah Yah, in syaa Allah besok Rima mau ke sana." jawab Rima tersenyum.
"Kalo gitu kenapa gak sekalian aja sama Resa Nak, jadi kalian bisa sama sama!" ujar Ayah memberi usulan pada kedua anak gadisnya. Resa nampak ragu dengan ucapan sang Ayah namun beda dengan Rima yang tersenyum dan langsung setuju dengan perkataan Ayahnya.
"Iya ya, kok Rima gak kepikiran.." ucap Rima menepuk jidatnya.
"Besok kita pergi bareng aja dek!" ajak Rima menatap adiknya yang masih terlihat ragu.
"Tapi Resa..." Resa menggantung kata kata nya, ia bingung juga malu untuk. mengatakan hal itu.
"Nak, apapun itu pendidikanmu tetap harus berjalan. In syaa Allah Ayah dan Ibu juga Kak Rima akan selalu bantu kamu." ucap Ibu mendekati anaknya dan membelai kasih punggung sang anak.
Resa menunduk, sungguh ia sangat bersyukur memiliki keluarga seperti keluarganya saat ini
"Makasih Bu.." jawab Resa menangis dalam pelukan sang Ibu.
"Ya, besok Ayah antar Risa buat sekolah ya Nak.." jawab Ayah mengangkat anak bungsunya ke dalam Pangkuannya. Risa tersenyum cerah dan mencium pipi Ayahnya.
Malam melelahkan bagi keluarga Rima yang baru saja tiba di kota yang baru, dan di sana pula lah mereka akan memulai kehidupan yang baru bersama sama.
Reza duduk termenung di dekat jendmemikirka masih memikirkan usulan sang Ayah untuk tetap melanjutkan pendidikan, sedang kini ia tengah hamil tanpa adanya seorang suami di sisinya.
"Bagaimana jika nanti orang tahu tentang kehamilan ku yang tak ada suami." lirih Resa, pandangannya sungguh jauh kedepan memperlihatkan jalanan yang agak sepi dan gelap.
"Aku akan membuat keluarga. aku di kota yang baru, padahal mereka sudah berkorban banyak untuk aku." lanjutnya semakin merasa bersalah.
Resa masih termenung, ia memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi kedepannya.
tok tok tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Resa yang panjang dan mungkin tak berujung.
__ADS_1
"Kakak boleh masuk gak?" tanya Rima yang masih berdiri di depan pintu yang tertutup
"Ya Kak, pintunya gak di kunci kok." jawab Resa merubah posisi duduknya di kasur.
Rima segra masuk setelah mendapat izin dari yang punya kamar, ia juga duduk di dekat Resa.
"Masih mikirin pembicaraan kita tadi?" tanya Rima, sontak saja membuat Resa terkejut karena Kakaknya bisa tahu apa yang sedang ia fikirkan saat ini.
"Gak usah di pikirin dek, Kakak akan selalu jaga kamu selama di kampus nanti dan Kakak akan jadi orang pertama yang akan selalu ngelindungin kamu dari mereka yang gak suka sama kita." ujar Rima penuh keyakinan, ia hanya ingin membuat adiknya merasa tenang dan tidak terus terus kepikiran hal hal yang mungkin saja akan membuat ia stres dan berujung pada kandungannya.
"Tapi Resa takut, nanti orang orang tahu kalo Resa hamil tanpa adanya suami dan itu pasti akan berdampak sama keluarga kita dan Kakak juga pasti akan malu sama anak anak kampus nanti.." jawab Resa masih meragukan dirinya.
Rima tersenyum lembut, ia memeluk adiknya sekilas dan mencium kening Resa agak lama.
"Apapun itu, Kakak dan keluarga ini gak akan pernah merasa malu atas kehadiran bayi ini, justru kami sangat menantikan nya." jawab Rima senyumannya tak menghilang dari bibirnya membuat hati Resa merasa tenang dan jauh lebih baik setelah mendengar perkataan sang Kakak yang, begitu menyentuh perasaannya yang saat ini memang sedang rapuh.
"Makasih Kak, maaf karena kedepannya Resa akan mempersulit Kakak juga keluarga ini.." lirih Resa kini ia sudah berhambur ke dalam pelukan sang Kakak yang dengan senang hati menerimanya
"Hmm, Kakak akan senang hati kamu repotkan juga ya tentunya calon keponakan Kakak ini.." jawab Rima mengelus perut adiknya yang masih rata membuat Resa sedikit geli karena sentuhan tangan Kakaknya.
"Makasih Kak, makasih.." ucap Resa semakin mengeratkan pelukannya pada sang Kakaknya yang membalas pelukannya pula.
"Sama sama, jangan pernah menyimpan masalah kamu sendiri ya dek, karena kita keluarga dan keluarga akan selalu ada di saat suka maupun duka." ucap Rima, nadanya terdengar sangat lembut.
"Kita akan lewati semua masalah ini bersama sama." lanjut Rima, ka kembali mengecup pucuk kepala sang Adik yang semakin merasa nyaman dalam pelukan Kakaknya.
"Hmmm..." Resa hanya berdehem, dalam hati ia terus mengucapkan rasa syukur atas nikmat keluarga yang di berikan padanya.
Di luar, Ayah yang tak sengaja lewat kamar anaknya mendengar semua percakapan anatara kedua anak gadisnya dan itu sangat membuat Ayah merasa bangga dan bahagia, meskipun ia sempat kecewa atas apa yang terjadi pada salah satu putrinya, namun Ayah sudah menerima dengan ikhlas karena bagaimanapun anak yang ada dalam rahim putrinya adalah rezeky dari sang Maha Kuasa untuk keluarga mereka.
Ayah segera kembali ke kemarnya untuk melanjutkan istirahatnya setelah tadi ia dari dapur untuk minum. Rima juga sudah kembali ke kamar gak lama dari sang Ayah dan setelah Resa tidur dalam. pelukannya.
Lanjut up Kak... 🙏🙏
__ADS_1