
Keesokkan harinya, Resa sudah bangun sebelum adzan subuh berkumandang, ia segera mengambil alat tes yang di simpan dalam laci lalu berlari ke kamar mandi. Dengan hati yang tak karuan, ia menggunakan alat test kehamilan pada urinnya dan menunggu beberapa saat.
"G.. garis dua! " ucap Resa, seketika iapun langsung ambruk dan menangis tersedu-sedu
"A... aku hamil..." lirihnya kembali menatap alat test kehamilan di tangannya.
Hatinya hancur, sangat hancur. Bagaimana tidak jika ia harus mengalami hal sepahit ini di usianya yang masih sangat muda, belum lagi keluarganya yang kemungkinan harus menanggung malu karenanya.
("Ya Allah") batin Resa
" Res, Resa dah bangun dek? " panggil Rima sambil mengetuk pintu kamar adiknya
"Res, udah adzan nih di tunggu Ayah sama Ibu jamaah." lanjut Rima kembali mengetuk pintu
"I.. iya kak, duluan aja Resa nanti sholatnya sendirian aja di kamar." jawab Resa setelah menenangkan dirinya terlebih dahulu, agar kakaknya tidak khawatir
"Oh, ya udah." jawab Rima berlalu pergi
"Loh, kak Rasanya mana?" tanya Ayah melihat Rima datang sendiri
"Katanya mau sholat sendiri aja di kamar, mungkin masih kurang enak badan kali Yah." Jawab Rima. Ayah hanya mengangguk kemudian mengambil posisi sebagai imam.
"Ya Allah. apa yang harus hamba lakukan dengan anak ini? hamba takut ya Allah. hamba belum siap menjadi ibu. Hamba takut jika nanti Ayah, Ibu dan Kak Rima tahu, mereka pasti akan sangat marah dan kecewa. Apa yang harus hamba lakukan ya Allah. hamba mohon pertolongan dari-Mu." Resa berdoa dengan sangat khusu, air matanyapun kembali menetes.
"Aku gak bisa selalu menyembunyikan anak ini, karena nanti pasti akan ketahuan." lirihnya mengusap perutnya yang masih datar.
"Aku gak mungkin kayak gini terus, apa aku mintak pertanggungjawaban Alex?" ucapnya berfikir
"Enggak, aku gak akan sudi. aku gak mau hidup dengan laki-laki brengsek yang sudah menghancurkan hidup dan masa depanku." jawabnya sendiri sambil menggeleng kan kepalanya.
"Ah iya, Kak Rima.."
"iya, sekarang cuma Kak Rimalah harapan aku." ucapnya tersenyum getir.....
ia pun mengatakan segalanya pada Rima, dan sampailah mereka dimna harus mengatakan segalanya pada kedua orang tua.
__ADS_1
"............ "
Malam hari yang sunyi, di mana keluarga Pak Harto yang tak. lain adalah Ayah dari kedua gadis yang saat ini sama-sama gugupnya duduk tepat di hadapan Ayah mereka.
"Mau bicara apa Nak? sepertinya serius sekali." tanya Ayah lembut memandang wajah Anak-anak nya yang gugup. Sesaat Rima menoleh ke arah Resa yang hanya menundukkan wajahnya.
"Ayah, Ibu, sebelumnya Rima dan Resa mintak maaf karena mungkin apa yang akan kami sampaikan ini bisa menyakiti perasaan kalian." ucap Rima membuka pembicaraan yang hening beberapa saat lalu.
"Sampaikanlah Nak." jawab Ayah mulai resah
Rima menarik nafas panjang kemudian mengeluarkannya secara kasar hingga terdengar oleh orang tuanya.
"huuuuh."
"Yah, Bu, Rima minta maaf karena gak bisa menjaga adik-adik Rima dengan baik terutama Resa."
"Rima udah gagal jadi Kakak buat mereka." ucap Rima tak lagi mampu menatap kedua orang tuanya
"Maksud kamu apa Nak, Ayah gak paham?" tanya Ayah semakin resah sedangkan Ibu mulai merasa khawatir dengan sikap kedua putrinya.
"Re...Resa, Resa hamil Yah." jawab Rima meneteskan air mata yang sejak tadi sudah di tahan sedangkan Resa jangan di tany, ia bahkan sudah sangat sesenggukan akibat menangis sejak tadi.
Seperti yang di rasakan Rima saat mengetahui kehamilan adiknya, Orang tua mereka pun. erasakan hal yang sama, bahkan lebih. Ibu Maryampun hampir kehilangan kesadaran karena terkejut. Tidak seperti keluarga lain yang bahagia jika mendengar kabar kehamilan putri mereka, tapi ini kasusnya berbeda. Resa yang masih anak SMA, meski ia akan lulus beberapa hari lagi, namun tetap saja ia bahkan belum menikah jadi bagaimana abisa hamil. Apa yang akan di kata orang-orang setelah mengetahui kabar ini?.
Keheningan pun terjadi, hanya terdengar suara tangis yang sahut menyahut antara Resa dan Ibunya.
"Y..yah!" panggil Rima ragu
"Siapa yang melakukannya?" tanya Ayah yang mulai tenang tanpa melihat ke arah Rima dan Resa
"Teman satu sekolah nya Yah." jawab Rima, karena ia tahu Resa tak mungkin bisa menjawabnya
"Apa dia tahu kamu hamil?" lanjut Ayah
"Res..." Rima menyenggol bahu Resa yang masih menunduk. Resa hanya menggeleng kan kepalanya. Suasanapun kembali hening.
__ADS_1
"Kamu juga menginginkannya?" tanya Ayah, kali ini ia menatap Resa dengan mata yang merah karena menahan tangisnya. Dengan cepat Resa mengangkat kepalanya dan menatap Ayahnya.
"Nggak Yah,, ini bukan keinginan Resa, Resa juga di paksa." jawab Resa menangis menatap Ayahnya. Rima yang selalu setia berada di samping Resa menguatkan adiknya dengan menggenggam erat tangannya. Ayah hanya terdiam seribu bahasa, tak mengerti apa yang sudah terjadi dan mengapa harus terjadi pada keluarganya yang selama ini merasa damai.
"Ayah ingin dengar semuanya!" pinta Ayah tanpa menatap Resa lagi.
Rima menceritakan apa yang ia dengar dari Resa pada Ayah mereka tanpa ada yang ia kurangi atau ia tambahkan. Saat menceritakan tragedi itu, Rima tak pernah melepas genggaman tangannya pada Resa yang semakin menangis hingga sesenggukan. Hingga cerita Rima selesai Ayah mendengarkannya secara seksama dengan mata yang terpejam, sedangkan Ibu Maryam kembali menangis mengetahui nasib buruk anak gadisnya.
"Yah..." Lagi-lagi Rima berusaha memberanikan diri memanggil Ayahnya yang hanya diam setelah mendengar cerita darinya.
Namun, tiba-tiba Resa merasakan genggaman tangan lain di tangannya, bukan satu tapi dua. Resa mengangkat kepalanya dan melihat jika Ayah dan Ibunya sudah berada tepat di hadapannya dan menggenggam erat tangannya.
"A...Ayah, Ibu..." lirih Resa namun masih bisa di dengar oleh orang tua dan juga Rima.
"Seharusnya Ayah yang minta maaf sama kalian, karena mungkin selama ini Ayah belum bisa jadi orang tua yang baik untuk kalian." ucap Ayah menatap kedua putrinya bergantian. Mendengar penuturan sang Ayah, sontak membuat kakak beradik itu menggelengkan kepala mereka bersamaan.
"Enggak, Ayah dan Ibu adalah orang tua terbaik di dunia. Kami bangga jadi anak kalian." jawab Rima tulus. Ayah dan Ibu tersenyum hangat mendengar penuturan anak sulung mereka yang terlihat semakin dewasa dengan pemikirannya yang luas dan bertanggungjawab terhadap adik-adiknya.
Terbukti dengan kejadian ini mereka bisa melihat betapa saling menyayanginya Anak-anak mereka satu sama lain.
"Dengar, anak ini tidak bersalah, karena itu kita yang akan merawatnya bersama-sama." ucap Ayah mengusap kepala Resa. Namun tetap saja air matanya lolos begitu saja membuat Rima dan Resa langsung memeluk Ayah dan Ibu mereka.
Sangat harmoni sekali,, meskipun cobaan melanda besar ataupun kecil, namun keluarga harus tetap bersama dan juga bersatu, maka seberat apapun cobaannya dan masalahnya pasti bisa di lewati.
"Makasih, maaf Resa sudah jadi aib bagi keluarga ini." lirih Resa melepas pelukannya.
"Resa akan tetap jadi kebanggaan Ayah dan Ibu." jawab Ayah dan Ibu serentak, Ayah juga mengusap kepala Resa dengan lembut serta Ibu yang menggenggam erat tangannya dengan penuh kasih membuat Resa merasa nyaman dan bahagia karena telah terlahir di dalam keluarga ini.
("Terima kasih ya Allah") batin Resa kembali memeluk Ayah dan Ibu.
Rima menatap keluarganya, sungguh dalam hatinya ia sangat bahagia memiliki keluarga sebaik dan hangat ini, ia hanya berharap jika kedepannya keluarga mereka akan selalu seperti ini meski masalah yang datang jauh lebih besar.
"Ayah, Rina juga mau di peluk.." rengek si bungsu yang terbangun dari tidurnya. Semua orang yang ada di sanapun jadi tersenyum.
ok, sampe sini dulu ya. Admin minta maaf karena baru up date lagi soalnya baru dapet pencerahan..
__ADS_1
semoga temen semua gak bosen nunggunya dan tetep setia baca karya Dian yang masih amburadul ini...
makasih men temen semua ❤