Sebuah Kisah Dan Rasa

Sebuah Kisah Dan Rasa
BAB 4 Kenyataan yang Pahit


__ADS_3

("Aku berharap kamu akan selalu tersenyum seperti itu Res) " batin Alex dan berlalu pergi.


Dua hari setelahnya, Resa mulai merasa pusing dan mual hingga ia memutuskan untuk tidak berangkat ke sekolah.


"Res, bangun udah siang kamu nggak sekolah ap? " panggil Rima sambil mengetuk pintu kamar Resa


"Hmm, aku nggak sekolah kak hari ini, lagi gak enak badan." jawab Resa masih terbaring di tempat tidur tanpa berniat membukakan pintu kakaknya.


"Kakak masuk ya! " tanya Rima


"Hmm.." jawab Resa. Rima segera masuk dan memeriksa keadaan adiknya


"Kamu sakit dek? "


"Hem, mual pusing juga Kak."jawab Resa masih terpejam.


" Ya udah, coba sini biar Kakak kerokin mungkin kamu masuk angin." ucap Rima sambil memegang kening Resa yang tidak panas. Resa hanya mengangguk kemudian duduk untuk melepaskan bajunya hingga hanya meninggalkan pakaian dalam saja.


"Nggak panas kok dek badan kamu, Mudah-mudahan nanti kalo udah di kerokin bisa baikan ya." Rima mengambil uang receh yang ada dalam tasnya lalu membaluri tubuh Resa dengan handbody yang ada di meja rias, dengan gesit Rima mengeroki bagian belakang Resa hingga memerah sedangkan Resa terlihat begitu menikmati sampai tertidur. Setelah selesai, Rima segera keluar untuk sarapan karena harus berangkat bekerja.


"Loh kak, Resa mana?" tanya Ayah saat melihat Rima hanya sendirian


"Di kamar Yah, katanya gak enak badan tapi tadi udah Rima kerokin kok." jawab Rima kemudian duduk di sebelah Ibu dan Rina si bungsu.


"oh, ya sudah."


Merekapun makan bersama tanpa kehadiran Resa.


Haripun semakin siang, namun Resa masih setia dengan tidurnya yang semakin pulas, hingga sesuatu seperti akan keluar dari perutnya. Ia pun segera bangun dan berlari ke kamar mandi mengeluarkan segala macam yang ada dalam perutnya hingga habis. Setelah merasa selesai ia keluar untuk kembali ke kasur, namun baru beberapa langkah rasa mual kembali datang dan ia pun muntah untuk ke dua kalinya. Kejadian itu terus berulang hingga beberapa kali, membuat Resa merasa lemas.


"ya Allah, aku kenapa sih perasaan tadi pagi udah di kerokin Kak Rima tapi kok masih mual aja." Resa berusaha berjalan menuju kasurnya kemudian duduk bersandar.


"Bau apa lagi nih, jadi tambah mual." batin Resa segera keluar mencari bau yang membuat jualnya semakin jadi.


"Ibu, masak apa sih kok bau nya gak enak banget, Resa sampe muntah tadi loh.?" rengeknya sambil menutup hidung


"Eh, kamu muntah Nak? padahalkan ini makanan kesukaan kamu." jawab Ibu mematikan kompor kemudian berbalik menatap putrinya yang terlihat sangat pucat.


"Ya Allah, Res pucat banget mukamu Nak?" ucap Ibu sambil mendekati anaknya dengan khawatir.

__ADS_1


"iya Bu, Resa gak enak badan tadi aja habis muntah berapa kali terus di tambah lagi sama bau masakan Ibu jadi tambah mual."


"tapi kan itu makanan kesukaan kamu Nak, Ibu sengaja masakin karena kata Rima kamu lagi gak enak badan!" jawab Ibu agak bingung dengan sikap anaknya


"Resa juga gak tahu Bu, tapi sekarang Resa bener-bener mual banget." ucap Resa memegang perutnya yang kembali bergemuruh ingin keluar.


Ia pun segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya, hanya tinggal air saja karena memang Resa belum makan apapun sejak pagi belum lagi sebelumnya ia sudah lebih dulu muntah saat di kamarnya.


"Ya sudah kamu istirahat aja, biar Ibu ambilin obat buat kamu di kamar sebentar." ucap Ibu membantu Resa kembali ke kamarnya. Resa hanya mengangguk.


"Res nih minum obat dulu Nak." perintah Ibu setelah kembali mengambil obat.


Resa segera duduk dengan di bantu Ibu dan meminum obat yang di berikan padanya.


"ada-ada aja, udah kayak orang yang lagi ngisi kamu itu Nak." ucap Ibu meninggalkan Resa sendirian di kamarnya untuk istirahat. Akan tetapi bukannya istirahat, Resa justru terus memikirkan ucapan Ibunya.


"Apa mungkin!" batin Resa terus memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi, karena ia tahu apa yang sudah terjadi pada dirinya sendiri.


"Ya Allah, apa aku hamil ya!"


"enggak-enggak,, nggak mungkin aku nggak mungkin hamil.."


"aku nggak mau hamil..." tangis Resa pun pecah, air mata terus mengalir di pipi mulusnya meskipun sudah ia hapus berulang kali, namun ia tak mampu menghentikan tangisnya walau tak ada suara yang keluar dari bibir.


"Kayaknya aku harus matiin sendiri."


"iya, aku harus pastikan sendiri." Resa bangkit dari tidurnya, dan menuju kamar mandi untuk membasuh wajah agar terlihat lebih segar. Setelah selesai ia segera bersiap-siap.


"Bu, Resa keluar sebentar ya!"


"Mau kemana Nak? kan kamu lagi gak enak badan." tanya Ibu khawatir


"mau ke depan aja bu, mau beli obat pusing soalnya yang Ibu kasih gak mempan." jawab Resa


"ya udah sini biar Ibu aja yang beliin ya, kamu istirahat aja sana."


"eh, gak usah Bu biar Resa aja deket juga kok."


"kamu yakin Nak bisa?" Resa hanya mengangguk

__ADS_1


"ya sudah."


"Assalamu'alaikum Bu."


"Wa'alaikumussalam, Hati-hati Nak." Resa kembali mengangguk.


Resa berjalan sedikit sempoyongan, meski begitu ia terus berjalan menuju apotik dan membeli alat untuk mengecek kebenaran akan kehamilannya.


"eh, dek Resa mau beli obat buat Ibu ya?" tanya penjaga apotik yang memang sudah sangat mengenal keluarga Resa.


"eng... enggak mbak, anu itu saya mau beli itu..." tunjuk Resa ke arah belakang penjaga apotik.


"yang mana dek? ini!" tanya penjaga apotik bingung


"bukan mbak, tapi yang itu sebelahnya." jawab Resa malu sekaligus ragu-ragu.


"loh, yang ini dek? tanyanya lagi memastikan permintaan Resa, karena setahunyapun Resa masih anak sekolah. Raut wajah penjaga apotik terlihat mengintimidasi


" i.. iya mbak itu." jawab Resa mengambil barang dari tangan penjaga apotik yang terus mentap seolah ingin meminta penjelasan.


"itu buat siapa dek?" akhirnya pertanyaan itupun keluar dari mulutnya.


"Titipan mbak, temen aku nitip mintak di belikan tapi kata nya dia malu jadi dia mintak tolong deh sama aku." jawab Resa


"oohhh,, mbak kira buat kamu dek. Ya Allah, kan setahu mbak kamu masih sekolah dan mbak juga kenal betul sama keluarga kalian." ucapnya merasa lega sendiri sambil tersenyum.


"bukan kok mbak." ucap Resa ikut tersenyum


"jadi berapa mbak?"


"15 rb aja dek." Resa segera membayar dan bergegas kembali ke rumah, karena tak mau berlama-lama takut nanti semakin di tanya-tanya.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam, ada obatnya Nak?" tanya Ibu yang memang sengaja menunggu Resa d ruang tamu.


"nggak ada Bu, habis." jawab Resa. Sebelumnya ia sudah menyimpan tes kehamilan di dalam saku bajunya.


"Resa masuk kamar ya Bu, kepala Resa agak pusing." pamit Resa

__ADS_1


"iya sudah istirahat, nanti biar Ibu titipin sama Ayah atau Kakakmu saja ya Nak." jawab Ibu. Resa hanya mengangguk kemudian masuk ke dalam kamarnya.


__ADS_2