
Di tahun 2001
"Wiuuu .... Wiuuuu .... " Sirine ambulan telah menyala, pintunya pun sudah terbuka lebar, siap membaringkan sosok mayat yang sudah dinyatakan meninggal beberapa jam yang lalu. Isak tangis pecah saat mengiringi jenazah yang hendak dimasukkan ke dalamnya. Tatapan kosong tercipta di dalam mata indah Inayah, air mata pun terus mengalir deras di dua belah pipinya, bibir pucat yang seperti sudah tak mampu mengeluarkan apa-apa lagi. Hanya pikiran yang terus bergelut bagaimana ia harus menghadapi hidup ke depannya, sendiri, tanpa seorang kakak lagi. Di sisi lain, orang tua Inayah hanya mampu meratapi kesedihan atas kepergian putra mereka, meski tak menyangka, namun ini benar-benar terjadi.
Semua sudah siap! Beberapa orang telah ikut masuk ke dalam ambulan, supirnya pun dalam hitungan detik akan segera melajukan mobil ke rumah duka. Inayah hanya diam sembari memeluk erat raga kakaknya yang sudah tak berdaya, ia tak berkutip apa-apa, hanya dapat mengusap air matanya sesekali. Bahkan saat dirinya dirangkul sang mama pun ia langsung dengan cepat melepaskan. Inayah tidak ingin emosinya membeludak sekarang, masih ada beberapa saat lagi, minimal saat setelah mereka sampai rumah. Mungkin?
Beberapa menit telah hilang di perjalanan, kini mobil jenazah yang mereka tumpangi telah sampai, tepat di depan rumah mewah dengan segala aksesoris yang menghiasi sekelilingnya. Terlihat, sepanjang gerbang hingga ke ambang pintu sudah dipenuhi oleh para pelayat, mulai dari kerabat, tetangga, hingga mungkin sahabat-sahabat almarhum. Bahkan, puluhan karangan bunga pun sudah berjejer rapi di sepanjang jalan yang mereka lewati tadi. Maklum, orang ternama. Pak Dany, papa Inayah, orang sukses yang memiliki ratusan usaha dengan cabang dimana-mana, ada begitu banyak bisnis yang ia kembangkan, hingga akhirnya ia dapat memiliki berbagai macam teman dari segala penjuru dunia.
Hujan seketika mengguyur bumi malam itu, angin kencang melambai-lambai di pepohonan, sejuk sekali. Raga Inayah rasa tak sanggup untuk turun, dirinya seperti membeku tiba-tiba, dilihat dari cuaca yang memang begitu dingin saat itu. Bu Fira, mama Inayah, dengan pelan menggandeng tangan putrinya untuk membantunya turun dari mobil. Lagi, kejadian sama terulang, Inayah kembali menghempaskan tangan mamanya.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri! Tak perlu bantuan siapapun, termasuk kamu." Akhirnya Inayah buka suara, melontarkan beberapa kalimat pedas di depan mamanya. Entah sudah seberapa benci dia dengan Bu Fira, hingga untuk menatapnya saja Inayah sudah begitu muak.
Pintu ambulan sudah terbuka, beberapa tim medis pun mulai menurunkan keranda jenazah hingga masuk ke dalam rumah. Suasana begitu mencekam, bulu kuduk seketika merinding, saat mayat mulai dibaringkan di atas kasur yang telah disiapkan di ruang tamu, ditambah darah kental masih berserakan di sudut rumah itu. Membuat Inayah harus teringat kembali pada kejadian yang betul-betul ia saksikan siang tadi.
~Flashback, Siang itu.
Pergulatan antara 2 manusia kembali terjadi. Puluhan barang di rumah itu habis berserakan ulah tangan bu Fira. Dirinya mengamuk dahsyat, emosinya membeludak saat itu, sangat mengerikan, sudah seperti harimau yang begitu kelaparan. Tak ingin kalah, pak Dany juga memaki istrinya habis-habisan, amarahnya begitu memuncak, matanya melotot besar seperti hendak keluar. Beberapa kali pak Dany menghempaskan tubuh istrinya ke dinding, bu Fira merengek kesakitan. Ahhh ... Intinya betul-betul dahsyat pertengkaran siang itu, para ART pun tak berani keluar untuk menghelainya.
"Dubrakkk .... " Langkah Inayah yang setengah berlari tiba-tiba berhenti. Ia tertunduk dan menabrak sesuatu hal aneh di depannya. Tak disangka, ternyata Dion, kakak Inayah. Ya, Dion sudah tergantung lemah, lilitan tali memutar di sekeliling lehernya, darah kental pun bercucuran deras dari dalam perutnya yang masih menancap sepotong pisau. Mata Inayah membulat sempurna, beberapa kedipan sudah tak tercipta di dua kelopak matanya. Ia teriak histeris, raganya melemah, tubuhnya gemetaran hebat, jantung Inayah berdegub kencang tak henti-henti. Inayah menangis sejadi-jadinya, berharap ini hanya mimpi yang tidak pernah ia harapkan. Kejadian itu merupakan trauma paling hebat dalam hidup Inayah. Tak pernah terbayangkan dalam benaknya, jika kakak tersayangnya yang ia miliki harus mengakhiri hidupnya seperti ini. Tidak menutup kemungkinan jika Dion pun memiliki hati yang begitu terluka, sama seperti apa yang dirasakan adik tercintanya, Inayah. Karena tidak ada anak yang mampu bertahan dalam suasana keluarga yang tidak memiliki kasih sayang di antara mereka, tidak ada seorang anak yang merasa baik-baik saja saat melihat orang tuanya saling menebar benci satu sama lain. Dan itulah yang dirasakan dua kakak beradik itu. Dion dan Inayah!
__ADS_1
Salah satu pelayat menepuk pundak Inayah, hingga membuat ia tersadar dari ingatannya tentang kejadian tragis yang ia saksikan siang tadi. Inayah mengusap dadanya perlahan, mencoba menenangkan jiwanya yang terus saja dihantui rasa trauma itu. Kembali ia meratapi wajah kakaknya yang sudah begitu pucat, Inayah mengelus rambut gondrongnya, dengan isak tangis yang terus mendekap hangat bola matanya.
"Pak .. Bu .. turut berduka cita ya. Kalian yang sabar," beberapa ucapan yang terus terucap dari para pelayat yang semakin banyak berdatangan ke rumah itu.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 11.15 malam. Sebagian para pelayat telah pulang, dan sebagian juga masih berbincang-bincang di teras depan. Inayah tertidur lelap di atas jenazah kakaknya, tangannya masih terus mendekap tubuh Dion yang sudah terkujur, dadanya masih menahan isak tangis di dalam tidurnya. Tiba-tiba saja Inayah terbangun, ia menegakkan kepalanya. Dilihatnya, seisi rumah sudah mulai sepi, bahkan hanya ada dia dan jenazah Dion, sisanya semua berada di teras, termasuk orang tuanya, mereka justru sibuk mengobrol dengan rekan-rekan kerjanya.
"Dalam kondisi seperti ini saja, kalian masih sempatnya melontarkan tawa setiap saat. Aku pikir kalian turut merasakan apa yang sekarang aku rasakan, ternyata tidak ya?! Hilangnya kak Dion tidak memberi pengaruh apa-apa, kalian masih sama, EGOIS!!!" Batin Inayah dengan sangat emosi.
__ADS_1
"Ini bukan hanya sekedar tangisan, namun aku menyimpam ribuan dendam untuk kalian. Lihatlah, setelah ini mungkin aku tak akan pernah menoleh kalian lagi. Sebentar, atau bahkan selamanya." Seperti tangis dalam tekad, Inayah benar-benar menanamkan dendam untuk orang tuanya. Hal yang mungkin akan banyak terjadi setelah ini, YAKINLAH.