Selembar Niqab Untuk Inayah

Selembar Niqab Untuk Inayah
Angin Malam di dalam Bus


__ADS_3

Inayah menerimanya dengan senyuman, ia beranjak dari duduknya dan segera memenuhi petunjuk yang baru saja diarahkan oleh karyawan terminal. Inayah berjalan menuju ke arah bus, dan meletakkan barangnya ke dalam bagasi yang dibantu oleh karyawan lainnya. Setelah itu, tanpa berpikir panjang Inayah langsung masuk ke dalam bus dan menduduki nomor kursinya. Dari pada terlewat jam keberangkatan, ia memilih untuk menunggu di dalam bus saja.


Jam telah menunjukkan pukul 02.00 siang, kursi-kursi dalam bus sudah mulai terisi penuh, sopir pun telah memanaskan mesin sejak tadi. Waktu keberangkatan telah tiba, bus besar berwarna putih mulai melajukan tubuhnya ke tengah jalan. Inayah diam tak berkutip, memandangi indahnya perjalanan dari balik tirai yang terhalang kaca di tengahnya. Sesekali Inayah memainkan ponsel lebarnya dan beberapa kali menjepret pemandangan sekitar. Ponsel adalah alat yang masih sangat langka di tahun itu, hanya orang-orang berkecukupan yang mungkin bisa memilikinya, namun Pak Dany dan Bu Fira termasuk salah satu orang yang mampu memfasilitaskan ponsel untuk putrinya, Inayah.


"Entah kemana mereka akan membawaku pergi, aku bahkan tidak tau jutaan nama-nama daerah yang terletak di belahan bumi ini. Tapi di mana pun aku kelak, di bawah langit mana aku akan hidup, semoga bisa membawaku menggapai hal indah yang selama ini ku impikan." Batin Inayah penuh dengan teka-teki untuk perjalanan hidupnya.


Beberapa hari berlalu namun perjalanan itu tak kunjung sampai, roda bus masih berputar dengan kencangnya, hanya sesekali berhenti untuk istirahat sebentar. Hari semakin gelap, lampu jalan mulai menyala satu persatu, gemerlap bintang-binatang telah memancar indah di atas angkasa.


Angin malam menyerbu begitu kencang, aroma dingin mulai merasuk menggeluti tubuh, Inayah memakai jaket biru tebal di bagian badannya, di lapis lilitan selimut yang memenuhi seluruh tubuhnya. Namun nampaknya hanya layangan angin yang berkeliaran malam itu, bintang yang bersinar tadi seketika menghilang, suasana berubah mendung, hujan dan petir mengguyur hebat di atas dedaunan.


Inayah menutup telinganya dengan kain, segelintir rasa takut dan kegelisahan timbul dalam dirinya.


"Bagaimana jika aku mati di sini? Bahkan saat aku belum dapat menemukan siapa tuhanku. Di saat orang-orang merasa takut melihat dahsyatnya cuaca buruk ini, mereka berdo'a meminta pertolongan dari tuhannya. Lalu apa kabar denganku? Aku harus menyembah siapa saat ketakutan melandaku seperti ini." Inayah menangis dalam diam, pikiran buruk kembali menjadi pertanyaan dalam benaknya.


***

__ADS_1


Dalam tangis Inayah yang masih berlanjut, tiba-tiba saja perempuan di sebelah bangku Inayah mendekap tubuhnya dengan hangat. Sontak Inayah terkejut, ia menegakkan kepalanya dengan tangisan yang masih menempel penuh di wajahnya. Inayah menatap perempuan itu dengan raut bingung, ditatapnya berkali-kali namun wajah itu masih terasa asing baginya. Di sebelahnya, perempuan cantik yang memakai jilbab panjang menutupi kepalanya, ia tersenyum manis di hadapan Inayah, ekspresiny seperti sedikit memberi semangat untuk perempuan yang tengah menangis di dekatnya, tak lain adalah Inayah.


"Kamu siapa? Kenapa tiba-tiba merangkulku? Apa kita pernah saling kenal sebelumnya?" Inayah melontarkan sedikit pertanyaan untuk memenuhi sedikit rasa penasarannya.


"Hai, saya Nabila. Saya tidak pernah bertemu atau bahkan mengenalmu. Namun saya yakin kamu sedang tidak baik-baik saja, saya tau kamu sedang menahan tangis dalam selimut yang kamu pakai. Tetapi saya tidak tau apa yang terjadi dalam hidupmu, saya tidak bisa menebak hal apa yang bisa membuatmu menangis hebat seperti ini. Tapi percayalah, semuanya tidak akan bertahan lama, sebentar lagi kamu akan menemukan bahagia dalam hidupmu. Tersenyumlah, hidup indah bila kita pandai menysukurinya."


Inayah diam ternganga mendengar satu persatu ucapan yang keluar dari mulut perempuan di hadapannya. Sedikit rasa kagum seketika muncul. Jelas saja, perempuan yang bersamanya sekarang begitu cantik, tutur katanya begitu indah di dengar, cara dia menghargai orang lain pun sangat amat baik.


"Hallo, cantik. Kok melamun? Tidak perlu banyak memikirkan, beritahu aku apa yang menjadi kesusahanmu sekarang, sebisanya aku akan membantumu." Nabila membuyarkan lamunan Inayah, ia menepuk pundaknya dengan senyuman.


"Terimakasih telah memberikan energi positif kepada saya. Tidak perlu khawatir, saya baik-baik saja, saya bisa menghadapi semuanya dengan baik, semoga." Inayah mencoba meyakinkan Nabila bahwa ia baik-baik saja, tak ingin orang lain tau tentang keadaannya sekarang. Menurutnya, biarkan diri sendiri betul-betul paham dengan hal-hal yang terjadi dalam hidupnya.


Nabila tersenyum lebar, ia mengangguk-aguk menandakan bahwa ia paham dengan kalimat yang dilontarkan Inayah.


"Baik. Semangat, ya. Semoga kelak kita bisa bertemu lagi dalam keadaan kamu telah menemukan titik bahagia dalam hidupmu. Saya duluan ya?" Ucap Nabila beranjak meninggalkan Inayah sendirian.

__ADS_1


"Kamu begitu sempurna, betapa beruntungnya orang-orang yang berada di sekelilingmu. Aku harap suatu saat aku bisa sama sepertimu," gumam Inayah dalam hati.


Tak lama kemudian, Inayah menyusul turun dari bus dengan membawa barang-barang bawaannya. Dengan tertatih-tatih ia menuju ke ruang tunggu, meminum sebotol air mineral yang habis terterguk dalam sesaat.


"Capeknya, tubuhku seperti remuk diinjek T-rex." Seharian full di perjalanan membuat Inayah begitu kelelahan, tulang-tulangnya seperti patah mematah akibat terlalu lama duduk di kursi bus.


Setelah beberapa menit beristirahat, tubuh Inayah mulai membaik. Inayah memandangi sekitar, banyak manusia berlalu lalang di sekitaran terminal, namun tidak ada satu orang pun yang ia kenal. Bahkan Inayah tidak tau nama daerah yang sedang ia tempati sekarang, di dalam lembar tiket juga tidak tertulis nama daerah tujuan, entah lupa atau memang sengaja tidak mencantumkan.


"Bu, ini daerah mana? Saya tidak tau." Inayah memberanikan diri untuk bertanya pada seorang ibu-ibu yang juga tengah menunggu di ruang tunggu.


"Ini di bagian pelosok kota Bima, neng. Nusa Tenggara Barat, tapi ini masih desa, daerahnya masih kecil belum seluas kota." Jawab ibu-ibu itu menanggapi pertanyaan Inayah. Inayah mengangguk dan sekali mengucapkan terimakasih.


"Bima? Ternyata sudah sejauh ini perjalananku. Lalu kemana aku harus pergi dan menumpang singgah sebentar, hotel dan apartemen pun mungkin belum terbangun di desa ini." Inayah terdiam dan memikirkan tempat di mana ia harus tinggal.


"Apapun yang terjadi, keputusan yang saya buat akan tetap sama, tidak ada yang mampu merubahnya," pungkasnya lagi.

__ADS_1



__ADS_2