
Malam berlalu, matahari menyongsong pagi, cahaya mentari memancar indah menyinari seisi bumi, angin sejuk pun menyapa sesekali. Para pelayat yang semalam pulang kembali datang, tak lain hanya ingin ikut mengantarkan Dion ke rumah abadinya. Semalaman penuh Inayah tidur dalam dekap kakaknya, memegang erat jemari Dion dengan utuh. Meski tubuhnya begitu berantakan, rambut ikalnya yang cantik sudah seperti benang kusut, bajunya terlihat lusuh dengan percikan darah yang terus menempel, bahkan sejak saat kejadian itu, tak ada sebutir nasi pun yang berhasil masuk ke dalam perut Inayah. Beberapa kali orang tuanya menawari, namun terus saja ia menolaknya.
"Nay, tangisan kamu nggak akan ngebuat kakakmu hidup lagi! Keterpurukan kamu sekarang, nggak akan ngerubah apa-apa. Ayo makan! Nggak mungkin kamu bisa ikut ke pemakaman dengan kondisi lemah seperti ini." Papa Naya akhirnya turun tangan. Meski terlihat cuek dan tak pengertian, di sisi lain ia pun tak bisa jika terus melihat kondisi putrinya seperti itu. Ia menyodorkan sepiring nasi serta lauk pauk dengan topingnya. Mencoba membujuk anak gadisnya agar ia mau makan meski sedikit.
"Iya, tangisan aku emang gak akan ngebuat kakak hidup lagi. Tapi minimal kemarahanku sekarang bisa ngebuat kalian sadar jika semua ini adalah ulah dari kalian. Andai nggak pernah ada keributan di rumah ini, semuanya gak akan terjadi, pah!" Inayah memberontak, ia menatap tajam wajah papanya. Sudah tidak bisa ditahan, sepertinya ia benar-benar mengamuk kali ini.
"Gak usah nyalahin siapa-siapa! Ga ada yang salah, dan ga ada yang benar. Semuanya real kesalahan Dion sendiri, ga ada yang nyuruh dia untuk bunuh diri kan? Ga ada satu orang pun yang maksa dia untuk mengakhiri hidupnya seperti ini," sahut bu Fira merasa ikut tersinggung dengan ucapan Inayah.
"Semua drama dalam hidup kita, kalian yang mulai! Saat awal dimana kalian memutuskan untuk menikah beda keyakinan, tanpa sadar saat itu juga kalian perlahan memupuk benih-benih luka yang kalian ciptakan sendiri." Pelan-pelan Inayah mulai menjelaskan segala hal yang menjadi unek-uneknya selama ini.
"Sekarang kalian lihat ... Semuanya hancur kan? Setiap saat kalian bertengkar hanya karena perbedaan agama, saat siapa yang akan mengalah untuk hadir di acara agama-agama kalian. Mama yang setiap minggu selalu ngajak beribadah ke gereja, Papa yang selalu ingin berangkat kajian di hari-hari liburnya. Nggak ada yang mengalah satu sama lain, semuanya keras dengan pendapat sendiri. Dan apa kalian tau? Di balik semua hal yang kalian lakukan, terdapat hati seorang anak yang begitu terluka. Kami terlahir hanya sebagai seorang anak atheis yang tak memiliki bekal apa-apa dalam hidupnya. Kalian nggak akan ngerti!!!" Pungkasnya lagi dengan penuh amarah.
Ya, tepat 27 tahun silam, saat dimana pak Dany dan bu Fira mengikat janji suci mereka dalam sebuah keyakinan yang berbeda, dengan segala restu keluarga yang mereka terobos, hingga adanya aturan tuhan yang mereka langgar. Pernikahan tersebut abadi hingga sekarang, namun siapa sangka jika isinya hanyalah percekcokan semata. Dengan segala perdebatan yang terus terjadi, sampai-sampai kewajiban mereka sebagai orang tua tak pernah dipenuhi. Telah sampai pada usia Inayah yang ke 20 tahun, tak pernah sedikit pun ia mendapatkan ajaran apapun tentang agama yang mama papanya anut. Juga sama dengan Dion, umurnya yang telah masuk 27 tahun tak pernah ia mengenal adanya agama hingga sampai raganya yang tak bernyawa. Pedih bukan? Hidup dalam kemewahan namun terkurung dalam penderitaan.
__ADS_1
"Kalian bukan atheis! Kami hanya memberi ruang bebas untuk kalian. Hak dalam beragama adalah hal yang tidak bisa dicampur tangani oleh orang lain, itu hak pribadi. Silahkan kalian ingin mengikuti jejak siapa, tidak ada paksaan sedikit pun. Lagi satu, ambil sisi baiknya, jika saat kami tidak melakukan pernikahan itu, tidak ada hadirnya kalian hingga sekarang," bantah pak Dany menjelaskan.
"Bahkan aku nggak pernah minta untuk dilahirkan, aku nggak pernah butuh manusia-manusia seperti kalian!" Teriak Inayah begitu melengking.
Percekcokan semakin memanas. Semua mata pelayat tertuju pada pertengkaran keluarga itu, ada beberapa tamu yang coba untuk menghelainya. Pak Dany terdiam, betul, tidak baik jika harus meneruskan pertengkaran ini, ada banyak kerabat dan rekan bisnisnya yang turut hadir. Biarkan Inayah meluapkan emosinya sebentar, jika itu akan membuat hati dan pikirannya sedikit lebih tenang.
Pak Dany menghela nafas panjang, raut wajah emosinya perlahan hilang, ia mendekati anak gadisnya dengan emosi yang terlihat masih belum menyurut dari wajah cantiknya. Pak Dany setengah merangkul pundak Inayah, ia menatapnya dengan penuh ketulusan.
Inayah diam mematung, menyaring setiap ucapan yang keluar dari mulut papanya. Ia tertegun sejenak, hingga kemudian segera melepaskan tangan pak Dany yang tengah merangkulnya kala itu.
"Oke, iya, baik, tapi nggak usah sentuh saya," ucapnya ketus. Inayah menghindar dari kerumunan orang-orang yang mencoba untuk menghelainya. Ia beranjak menuju ke kamarnya yang terletak di lantai atas, untuk segera bersiap-siap ikut hadir di pemakaman kakaknya.
***
__ADS_1
Liang lahat telah siap, batu nisan serta perlengkapan lainnya telah tertata rapi di beberapa bagian. Tubuh Dion dengan balutan kain putih segera dimasukkan ke dalam lubang kubur, beberapa orang telah siaga di bawah untuk membantu merapikan letak jenazahnya. Kain panjang mulai dibentangkan, suara adzan telah dikumandangkan merdu di dalamnya. Isak tangis memecah suasana kala itu,
Dalam dekapan orang-orang di sekelilingnya, Inayah menangis histeris. Beberapa kali ia mencoba untuk ikut turun ke dalam kubur, namun lagi lagi genggaman orang-orang lebih kuat dan semakin erat mendekap tubuhnya. Sampai pada akhirnya Inayah terbaring lemah di atas tanah merah yang menggeluti tubuhnya, nampaknya Inayah pingsan, pak Dany dengan sigap menggotongnya ke kursi roda yang sejak tadi memang sudah ia siapkan. Dengan tangan yang dipenuhi butiran-butian tanah yang menempel, Pak Dany mengusap rambut Inayah. Meski dengan wajahnya sangarnya, tetapi bening dalam matanya tidak bisa bohong, seperti tak ingin kehilangan lagi, Pak Dany menangis pilu dalam sandaran gadis kecilnya itu.
Satu persatu prosesi pemakaman telah usai. Pun langkah orang-orang mulai meninggalkan pemakaman. Batu nisan dengan tulisan Dion Putra Albagaskara bin Dany Albagaskara telah terpampang jelas di atas kuburan. Pak Dany sendiri yang meminta agar Dion dimakamkan secara Islam. Meski ia tak menganutnya, biar saja itu jadi urusannya dengan tuhan. Kira-kira seperti itulah yang pernah terbesit di benak pak Dany.
Setelah mengoleskan beberapa kali minyak telon ke bagian leher tubuh Inayah, akhirnya ia sadar. Dilihatnya pemakaman telah selesai, hanya ada batu nisan dengan bunga-bunga yang bertabur indah di atas makam Dion.
Inayah memandang dengan tatapan kosongnya, setangkai mawar merah yang hendak ia letakkan di sisi kanan batu nisan itu. Suasana kembali mengkoyak habis matanya, tangis itu kembali terjadi, hingga serpihan dendam semakin tumbuh dalam benaknya.
"Kak ... Kepergian kakak adalah hal paling menyakitkan yang pernah Naya temui. Entah bagaimana aku akan hidup ke depannya, menghadapi mama papa yang tak pernah ada habisnya. Tanpa kakak ... Dan tanpa siapa-siapa lagi, hanya ada kak Dion dalam hidup Naya. Selamat jalan ya pangeranku, aku akan mencintaimu, selalu." Batin Inayah penuh dengan tangisan.
__ADS_1