
Pagi telah menampakkan sinarnya, segala aktifitas sudah berlalu lalang di dalam rumah itu, mulai dari ART hingga security yang menjaga pos depan. Balutan dress moka dengan perpaduan sepatu hitam telah menghias cantik pada tubuh Inayah, rambut ikal panjang yang menguntai halus di kepala indahnya. Inayah diam melamun di depan cermin yang terletak di dekat meja riasnya, memandangi bayangan tubuhnya yang memantul di dalam cermin itu.
"Aku bahkan tidak tau harus pergi kemana, alamat tujuan pun aku tidak punya. Entah bagaimana hidupku ke depannya nanti, hidup sendiri di dunia luar tanpa orang-orang yang aku kenal. Apakah yakin aku akan mendapatkan rumahku dan membangun pondasi di bawahnya? Apa mungkin impianku untuk menyatukan papa mama kembali bisa terwujud setelah kepergian yang aku putuskan ini?" Segala macam pertanyaan bergelut dalam ruang kepala Inayah, segala kegelisahan dan sedikit rasa takut bercampur aduk dalam benaknya.
"Aku bisa! Pasti bisa." Inayah mulai menenteng koper jumbo yang terisi penuh barang-barangnya, semangat jiwanya perlahan tumbuh dalam hidupnya.
Inayah berjalan menuruni anak tangga satu persatu, dengan jaket biru yang ia sandarkan di bahu kanannya. Inayah memandangi keseluruhan isi rumah itu, dari mulai atas hingga ke lantai bawah, rumah di mana banyak pelajaran dan kenangan pahit yang ia temui.
"Berharap aku tidak menemukan lagi rumah sepertimu. Megah nan anggung, luas, cantik dan indah, namun tidak pernah ada percikan cinta di dalamnya. Aku tidak berjanji untuk bisa kembali di sini, tapi aku akan selalu mengingat apapun tentangmu." Inayah tersenyum lebar, ia kembali melanjutkan langkah kakinya yang sebentar lagi tiba di ambang pintu.
"Harus banget pergi ya Nay? Sebulat itu keputusan kamu hingga tidak bisa dirubah lagi. Apa tidak ada waktu untuk kamu bisa memikirkan semuanya kembali?" Tiba-tiba suara sahutan menyapa dari arah belakang. Inayah membalikkan pandangannya, dilihatnya Bu Fira yang telah berdiri di sisi kanan tangga, ia menatapnya dengan mata yang berbinar-binar, seperti timbul sedikit rasa penyesalan dalam diri bu Fira.
Inayah menurunkan kopernya dengan perlahan, ia mendekati bu Fira dan menggenggam jemarinya dengan lembut.
"Seperti yang mama bilang kemarin, hak beragama itu adalah pilihan kan, dan semua orang berhak atas pilihannya sendiri. Menjadi gadis atheis bukan pilihan Naya ma, dan sekarang akan ku tentukan sendiri pilihanku. Kepergianku bukan untuk meninggalkan kalian, tapi Naya ingin merasakan dicintai dan mencintai pilihan yang Naya buat, Naya ingin memperdalam apapun yang menjadi pilihan Naya kelak." Entah angin ketenangan itu berhembus dari mana, ucapan Inayah begitu penuh dengan kelembutan, seperti Ikhlas telah menyapa, permasalahan mereka selama ini bagai hilang begitu saja.
__ADS_1
"Pergilah, jika memang itu pilihan kamu. Bertahanlah jika kamu menemukan bahagia di sana, juga pulanglah jika kamu menahan rindu untuk kami. Sekarang, kamu papa lepaskan, layaknya merpati yang terbang jauh. Carilah dahan yang kokoh untuk kau singgahi, terbanglah yang tinggi, carilah keindahan-keindahan yang dapat kau jadikan sumber kebahagian." Ucap Pak Dany yang seketika membelah obrolan istri dan putrinya.
Pak Dany berlari mendekati putrinya, ia memeluk tubuh mungil anak gadisnya dengan sangat erat. Inayah menangis hebat dalam dekapan papanya, air mata terus mengucur deras tanpa henti, dada yang semakin sesak menahan banyaknya tangisan. Momen indah pertama kali yang ia rasakan seumur hidup, merasakan hangatnya dipeluk seorang ayah sama seperti orang-orang di luar sana.
"Berjanjilah pada kami bahwa kamu akan baik-baik saja di sana. Jika memang tidak akan pernah ada sedikit rindu untuk kami, setidaknya kamu tidak melupakan adanya mama papa di sini. Kabari papa jika uangmu habis, selalu libatkan papa di dalam kesusahan kamu, ya. Tidak perlu terlalu memikirkan apa yang akan terjadi dengan mama papa ke depannya, kita berdiri pada sebuah jalan yang telah ditetapkan, ikuti saja alur cerita kehidupan." Pak Dany pun tak kuasa menahan tangisnya, ia terus menangis sembari terus mengelus-elus kepala Inayah.
Inayah dan Pak Dany mulai melepaskan pelukannya satu sama lain, mengusap linangan air mata yang memancar pada wajah mereka.
"Naya pamit ya, pa ma, melupakan semua apa yang telah terjadi mungkin sedikit membuat hidup kita lebih tenang, sekarang kita lupakan sama-sama ya? Semua hal-hal menyakitkan yang pernah kita temui." Senyum manis mulai terpancar dari dua belah bibir Inayah.
Tidak lama menunggu, akhirnya sebuah mobil taksi berwarna biru datang dan berhenti tepat di depan keberadaan Inayah yang sedang berdiri bersama mama papanya. Setelah semua barang berhasil dimasukkan ke dalam bagasi, Inayah segera masuk ke dalam mobil yang hanya terisi satu orang saja, yaitu sopir taksi itu sendiri.
Lambaian tangan mulai menyapa dari arah luar kaca mobil, tatapan kosong terpancar dari wajah Pak Dany dan Bu Fira, semua penyesalan mereka sepertinya sudah tidak berguna lagi hari itu. Mobil mulai melaju, lambaian tangan dan serpihan senyum mulai menghilang dari pandangan Inayah. Kini hanya ada dia dan pak sopir di dalam taksi itu.
"Ini tujuannya mau kemana mba?" Supir taksi itu mulai menyapa dengan pertanyaannya.
__ADS_1
Inayah terdiam, jawaban apa yang akan ia lontarkan, ia sendiri pun tidak tau. Sebentar, otaknya kini mulai berpikir, mencari-cari tempat yang mendukung untuk ia mendapatkan rumah di dalamnya. Namun, pikirannya tak kunjung menemukan jawaban, kebingungan masih saja melanda batinnya.
"E-eee, ke terminal bus aja pak." Hanya beberapa kalimat ini yang mampu ia utarakan, mungkin nanti ia akan berpikir kembali kemana ia harus pergi.
***
Setelah lama di perjalanan, taksi biru yang Inayah tumpangi tadi telah parkir di depan terminal bus yang terletak di bagian kota besar Jakarta. Inayah turun, lalu mulai menenteng barang-barangnya menuju ke arah pembelian tiket.
"Tiket bus tujuan ke mana mbak?" Sapa salah satu karyawan yang bekerja di terminal itu.
"Kemana saja mas. Saya seorang perantau yang ingin memulai hidup di luar kota, jadi ke kota mana saja bisa, mas." Inayah melontarkan jawabannya terhadap karyawan tadi.
"Baik! Ini tiketnya dengan nomor kursi 09, silahkan antar barang-barangnya ke dalam bus yang terletak di bagian ujung sebelah toilet umum, keberangkatan sekitar jam 2 siang, 1 jam sebelum keberangkatan semua harus sudah berada di dalam bus." Jelas karyawan bus memberi arahan sembari menyodorkan selembar tiket yang sudah Inayah bayar sekitar lima menit yang lalu.
__ADS_1