
Hari-hari sejak kepergian Dion telah berlalu, hanya tinggal lembaran foto dengan sedikit kenangan di dalamnya. Entah bagaimana Naya menghabiskan waktunya sendiri, semuanya terasa begitu berbeda baginya.
Sore itu, Naya membaringkan tubuhnya dengan santai di atas sofa besar yang terpajang di sudut ruang tamunya. Memandang langit senja yang memancar indah di luar jendela. Tak lupa, secangkir kopi yang sesekali membasahi lorong tenggorokan, hingga sepotong roti dengan selai manis yang menempel manja di tengahnya. Ia memahami kata demi kata yang tersusun di dalam novel yang sedang ia baca. Ya, setelah kepergian Dion, mungkin hanya ada serpihan Novel yang mampu menjadi teman dalam sepinya. Selain itu, manusia-manusia yang Naya temui baginya hanyalah angin yang berlalu lalang.
Naya terhenti sejenak, matanya melirik seisi ruangan yang luas dan megah itu. Dilihatnya, Pak Dany dan Bu Fira yang tengah tegak mematung di dekat tangga, mata mereka saling menatap tajam satu sama lain, obrolan mereka pun nampaknya begitu serius. Naya mengalihkan pandangannya dengan cuek, segera ia meneguk beberapa tetes kopi yang masih tersisa di dalam cangkirnya.
"STOPPP! kalau mau berantem, nggak usah depan aku. Tunggu sebentar, aku akan masuk kamar." Naya merampas handphone yang terletak di sebelahnya, ia beranjak menuju kamar dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih terdiam.
"Nay! Kita bahas hal-hal yang ingin kamu bahas kemarin. Ayo, sekarang." Pak Dany mencoba untuk menghentikan langkah Inayah yang telah sampai di pertengahan tangga.
"Nggak ada yang perlu dibahas lagi, pa! Semuanya udah selesai, cerita kita udah nggak sama sekarang, hidup kita sudah berbeda, nggak perlu ada hubungan lagi satu sama lain." Pungkas Inayah sembari terus melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
"Nggak akan pernah ada solusi jika kamu terus menghindar Naya! bagaimana kamu akan menemukan bahagia dalam keluarga kita, jika kamu saja tidak ingin membantu untuk merangkainya." Celoteh Bu Fira yang akhirnya membuat langkah Inayah seketika terhenti.
"Dasar playing victim! Terus saja cari pembenaran seakan-akan aku yang salah. Orang tua adalah guru pertama untuk anak-anaknya, bahkan seharusnya kalian yang membekali kami dari hal-hal apa yang kalian tau. Jangankan untuk mengajari, hanya untuk mengenalkan apa itu Agama, siapa penganutnya, siapa tuhannya, apa yang harus dipelajari, tidak pernah kalian mengajarkan itu semua kan? Perbedaan Agama dalam hidup kalian, bukan berarti menghilangkan kewajiban kalian sebagai orang tua!" Inayah memundurkan langkahnya satu persatu, ia mendekati kedua orang tuanya dengan tatapan yang tak biasa.
"Atheis! Ya, aku gadis atheis kan? Gadis yang menjadi bahan bulyan orang-orang hanya karena perkara aku tidak memiliki sebuah agama. Asal kalian tahu, masa sekolah saya adalah masa yang penuh dengan hinaan, saya disingkirkan, dikucilkan, saat saya tidak tau harus menyembah dengan siapa, saya benar-benar tidak memiliki teman siapa pun. Mereka bilang, Agama itu pondasi, ia akan kokoh jika kita memilikinya. Begitu pun sebaliknya, ia akan hancur jika tidak membangun pondasi tersebut, dan mereka tidak ingin terkena kehancuran itu hanya karena dekat dengan saya." Lanjutnya lagi dengan panjang lebar.
"Itu hanya karena mereka tidak tau arti menghargai, tidak ada jiwa toleransi dalam diri mereka. Semuanya berhak memilih, tidak harus sama dengan pendapat mereka, bukan?" Lagi dan lagi bu Fira mencari pembelaan bahwa memang tidak ada yang salah dalam perkara ini.
Papa Inayah langsung mendekap hangat tubuh putrinya, dalam sekejap ia meneteskan air mata yang mungkin tidak pernah ia lakukan di sepanjang hidupnya. "Naya sayang ... Apapun yang terjadi ke depannya nanti, sebanyak apapun perbedaan di antara kita, kita nggak akan terpecah belah, nggak ada yang bisa misahin hubungan di antara kita kecuali kematian. Papa mama nggak akan pernah ninggalin kamu!" Ucapnya dengan semakin erat memeluk raga Naya.
"Aku yang akan ninggalin kalian. Aku udah mutusin semuanya sejak saat kepergian kak Dion, untuk segera meninggalkan jejak dari rumah ini. Aku tidak pernah tau bagaimana aku harus hidup tanpanya, memulainya sendirian, tanpa hal-hal kecil yang mampu menumbuhkan kembali semangatku untuk bangkit. Aku pergi hanya untuk mencari rumah, rumah di mana selayaknya aku bisa tumbuh dan berteduh, di mana aku bisa mendapatkan belaian kasih sayang darinya. Dan rumah itu tidak hanya tentang pulang, namun bagaimana hati bisa merasakannya, b eeagaimana lelah itu bisa hilang dalam pelukan, bagaimana caranya kegelisahan itu musnah hanya karena adanya sebuah sandaran untuk menangis. Aku butuh semua itu pa, ma. Agama itu adalah tiang kehidupan, dan aku ingin mencintai dan dicintai oleh agamaku layak orang-orang. Aku akan mencarinya, mungkin besok aku akan pergi," pungkasnya lagi dengan tangisan histeris.
__ADS_1
Segala unek-unek yang terpendam dalam diri Inayah telah habis tuntas hari ini, puluhan kata telah terucap, setumpuk kemarahan telah tertuangkan sekarang. Tidak ada yang bisa membantah lagi semua keluhan Inayah, memang benar itu yang ia rasakan selama ini, dan tidak ada seorang pun yang bisa mengerti selain Dion yang sekarang telah pergi.
"T-tapi nggak harus dengan pergi kan Nay? Masih ada cara lain yang bisa kita cari. Agama itu luas tersebar di mana-mana, nggak perlu terlalu jauh untuk mencarinya. Papa bisa cariin pilihan Agama untuk kamu, apapun bisa papa lakukan untuk Naya."
"Btw terimakasih untuk tawarannya, pah. Tapi aku masih memiliki tubuh yang sempurna untuk mencarinya sendiri, hatiku masih begitu normal untuk bisa memilih mana yang pantas dan terbaik untukku. Tenanglah, aku akan baik-baik saja, di mana pun dan seberapa lamanya letak terpisahnya kita. Sekarang Naya tinggal ke kamar ya, pa, ma. Mau beres-beres, ada banyak hal yang ingin Naya siapin." Inayah mulai melontarkan senyum manisnya, ia merasa bahwa ketenangan dirinya sudah mulai membaik, semangat hidupnya mulai membara, mungkinkah segala beban dalam dirinya telah terluapkan?
Inayah kembali melangkahkan kakinya menuju ke lantai dua, dengan senyum sumringah yang masih terbesit pada bibir tipisnya. Pak Dany dan Bu Fira memandangi langkah putrinya yang menapaki satu persatu anak tangga, hingga sampai bayangannya sudah tak terlihat lagi mereka tetap berdiri tegak di lantai bawah.
Pak Dany dan Bu Fira terdiam kaku di bawah puluhan anak tangga. Entah cara apa yang bisa mereka lakukan agar Inayah tetap bersamanya. Jika hal ini benar-benar terjadi, mungkin dari situlah awal kehancuran keluarga mereka. Akankah keutuhan itu bisa mereka renggut kembali? Entahlah, dan biarkan waktu yang menjawabnya secara perlahan.
__ADS_1