
Waktu semakin berlalu, namun Inayah tak kunjung menemukan jalan keluar untuk kemana ia harus pergi, para penumpang satu persatu sudah mulai pergi meninggalkan terminal, hanya tersisa inayah dan beberapa karyawan setempat yang tengah bekerja menjalankan tugasnya masing-masing.
Lama berpikir, akhirnya Inayah memutuskan untuk jalan kaki saja. Diam termangu tidak akan membuahkan hasil apapun. Baginya, tidak ada pertolongan bagi orang yang tidak ingin bergerak.
Inayah mulai menenteng kembali barang-barangnya keluar dari terminal, melangkah pelan menuju arah mencari jalan. Hari semakin siang, terik matahari seperti memancar di atas ubun-ubun, panas sekali! Sesekali Inayah merengek kepanasan, ia menudungkan selembar jaket agar panas matahari tak terlalu merasuk dalam kepalanya.
Di bawah cahaya matahari yang begitu menyengat, Inayah tertatih-tahih meniti sepanjang lorong yang hampir semua sisi penuh dengan kubangan, jalan yang rusak harus membuat Inayah terjinjit-jinjit untuk menapakinya, koper serta baju yang dikenakan Inayah pun sudah terlihat lusuh akibat terkena percikan. Merasa kelelahan, Inayah memutuskan untuk berhenti sejenak, meletakkan koper lalu menyandarkan tubuhnya pada tembok tinggi di tepi lorong. Inayah memejamkan matanya sesekali, mencoba menghirup udara segar di bawah langit yang panas.
"Di mana aku harus pergi, bahkan aku tidak mengenal siapa-siapa di sini. Apa keputusan yang aku buat salah? Atau ini adalah akhir dari perjalanan hidupku yang sebenarnya? Tolong!!! Siapapun itu bantu aku, aku tidak kuat harus memulainya sendiri." Batin Inayah dengan teka-teki yang terus bergejolak di pikirannya.
Dalam lamunan yang terus berlayar, tiba-tiba tas kecil Inayah dirampas oleh pria gagah dengan kostum hitam serta topeng yang menutupi wajahnya, setelah mendapatkan barang yang diinginkannya, preman itu berlari sangat kencang hingga keluar dari arah lorong. Inayah yang tersadar juga tidak bisa berbuat apa-apa, mengejar copet pun tak akan mampu ia lakukan, ia hanya mampu berteriak minta pertolongan untuk bisa mendapatkan kembali tasnya. Namun apalah daya, siapa yang akan ada di sekitaran lorong sempit seperti itu? Hanya ada dia serta angin yang terus berlalu lalang.
Inayah kembali terdiam, meratapi suatu kejadian yang terus saja terjadi dalam hidupnya. Belum mampu ia mengkoyak kesedihannya setelah kepergian Dion, jerat jerat derita bahkan perlahan mulai menghampirinya satu persatu. Semua harapannya seperti mati hari itu juga, angannya seolah melayang membersamai copet tadi. Entahlah, hidup Inayah seperti sudah tidak memiliki jalan lagi untuk menempuh kebahagiaan yang ia cari.
"Mbak?! Gapapa?" Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Inayah, seorang wanita paruh baya yang tengah menenteng bermacam-macam sayuran dalam keranjangnya, nampaknya ia baru saja pulang dari pusat perbelanjaan.
Inayah menatap perempuan itu dengan mata yang berbinar-binar, tak mampu berucap, Inayah duduk termangu sembari terus memandangnya.
__ADS_1
"Saya pun tidak tau buk, hal apa yang terus terjadi dalam hidup saya. Sepertinya semesta memang tak berpihak di hidupku.
"Hidup tidak hanya tentang mereka, ada banyak orang baik yang akan kamu temui di luar sana. Jangan jadikan mereka patokan untuk kebahagiaan kamu, karena selamanya kamu nggak akan bahagia. Berjalan dan berproseslah sendiri, Allah akan membersamaimu, selalu!"
Seperti paham dengan keadaan yang dirasakan Inayah, kata-kata nasihat yang terus terucap dari dua belah bibir wanita paruh baya itu.
"Ceritakan apa yang menjadi kesusahanmu saat ini, sedikit banyaknya ibu akan membantu sebisa mungkin," pungkasnya lagi.
"Saya tidak tahu harus kemana buk, aku terlalu jauh menempuh perjalanan dari Jakarta sampai di sini. Uang dan segala aset berhargaku telah dirampas beberapa menit lalu, untuk kembali pulang pun aku sudah tidak punya apa-apa. Untuk sekedar menghubungi keluarga saja aku nggak bisa." Dengan pelan Inayah menjelaskan segala hal yang terjadi hari itu, perempuan paruh baya itu terus menyimak dengan pandangan yang terus menatap gadis malang di sampingnya, Inayah.
"Paling saja ibuk Rema. Sekarang kamu ikut saya, ayokkk?" Bu Rema dengan sigap membantu Inayah untuk bangkit dari duduknya, ia menggandeng tangan mungil Inayah untuk memulai perjalanan bersama yang hendak ia tunjukkan.
Bu Rema hanya melontarkan serpihan senyum pada gadis cantik itu, sembari terus melanjutkan langkah perjalanan mereka.
***
"Tidak terlalu besar, namun mungkin cukup untuk kamu tinggal di sini. Rumah-rumah di sini memang disiapkan untuk orang-orang yang membutuhkan di kampung ini." Jelas Bu Rema saat setelah mereka sampai di depan gubuk yang sudah terlihat lusuh dan kotor.
__ADS_1
Inayah memandang sekeliling, dilihatnya begitu berantakan penuh dengan barang-barang yang berserakan. Sangat amat jauh dibandingkan rumahnya yang terletak di Jakarta, dari segi ukuran hingga penampilan berbeda sekali. Jelas saja, gubuk itu pun bisa dibilang hanya selebar kamar mandi yang terletak di dalam rumah mewahnya di Jakarta. Rumah itu hanya terisi benda-benda sampah yang berkeliaran, daun-daun kering pun memenuhi seluruh sisi halaman depan.
Inayah tersenyum tipis, menatap kembali wanita paruh baya yang berada di dekatnya.
"Nggak apa-apa buk, ini saja sudah cukup. Sekali lagi terimakasih ya buk, nanti saya akan coba bersihkan sendiri."
Sedikit berbohong. Hati kecil Inayah sepertinya tidak berbicara seperti itu, ia hanyalah ulasan mulut yang berlalu begitu saja. Bahkan sebenarnya Inayah sudah merasa jijik saat awal melihat tampilan rumah di depannya itu. Bukan merendahkan, namun sangat sulit baginya untuk mulai beradaptasi dengan lingkungan baru yang sangat jauh berbeda. Dari tampilan luarnya saja sudah begitu, bagaimana saat nanti ia harus masuk dan tinggal selamanya di dalam rumah itu?
"Ini kunci rumahnya. Ibu hanya bisa mengantarmu sampai depan saja, jika perlu bantuan jangan segan untuk meminta tolong, rumah ibu tidak jauh dari sini."
Bu Rema menyodorkan sepotong kunci kepada Inayah. Sebaliknya, Inayah pun menerimanya dengan senang dan mengambilnya secara pelan. Senyum manis terus terpancar pada bibir Inayah, hingga sampai bayangan Bu Rema telah hilang dari pandangannya, senyum itu masih tercipta dengan indah.
"Jalan satu-satunya yang aku punya, sekarang. Sebisa mungkin aku harus bisa bertahan di sini, pun secepatnya aku harus segera mencari penghasilan untuk menyambung hidup," batin Inayah dalam hati.
"Aku ingat .... Saat hendak pergi kemarin papa menyelipkan setumpuk uang di saku jaketku. Mungkin cukup untuk menampung kebutuhanku sementara waktu," gumamnya lagi.
Inayah merogoh benda pada jaketnya. Benar, setumpuk uang yang masih tersusun rapi di dalam amplop coklat dengan garis warna-warni di tepinya. Tanpa berpikir panjang, Inayah segera meletakkannya ke dalam tas dan bergegas masuk ke dalam rumah itu.
__ADS_1