Semut-semut Cinta

Semut-semut Cinta
Chapter 1


__ADS_3

Pagi hari di sebuah gedung perkantoran berlantai 12, Jakarta Selatan, terlihat hiruk pikuk karyawan-karyawati kantor tengah sibuk absen sidik jari. Mereka tampak berjalan buru-buru menghampiri sebuah mesin yang menempel di dinding samping meja resepsionis dan segera menempelkan Ibu jari pada mesin absen.


Seorang pria berkepala plontos, berumur 50 tahun dengan pakaian jas mentereng tengah duduk di kursi tamu PT. Karya Budiman Jaya Mandiri ( PT. KBJM), bergerak di bidang usaha properti, perhotelan dan perkebunan.


Pria berkepala plontos bernama Bambang adalah seorang pengusaha di bidang jasa pemborong pembangunan serta pemilik dari CV. Karya Jaya Sentosa Mandiri ( CV. KJSM).


Dia tampak gelisah beberapa berjalan mondar-mandir kemudian duduk kembali ke tempat duduk, sambil melihat ke arah pelataran lobi kantor. Tampaknya Bambang sedang menunggu seseorang yang belum datang.


Beberapa waktu kemudian wajah Bambang tampak semringah ketika melihat seorang pria seumur dengan dirinya sedang berjalan tertatih menuju pintu masuk utama gedung. Pria tersebut bernama Budiman, seorang konglomerat serta pemilik dari berbagai bidang usaha.


Budiman berjalan masuk dengan pelan dan tertatih, kaki kanan Budiman terpaksa memakai kaki palsu. Empat tahun silam Budiman mengalami kecelakaan lalu lintas saat mengemudikan kendaraan bersama dengan keluarganya menuju ke Resort miliknya.


Budiman bersama dengan istri dan tiga anak, mengalami kecelakaan tunggal saat melintas di jalan berbukit di daerah perbukitan kabupaten Bogor. Budiman dan anak pertamanya selamat, sedangkan istri, anak kedua dan anak ketiga meninggal dunia saat di bawa ke rumah sakit.


Kaki kanan Budiman remuk dan mesti di amputasi dari lutut sampai ke bawah, sedangkan anak pertamanya bernama Fahar hanya luka ringan dan memberikan sebuah trauma berat bagi Fahar sampai saat ini.


Bambang segera menghampiri Budiman yang sudah melewati pintu utama gedung, wajah Bambang tersenyum menyeringai melihat ke arah Budiman.


“ Selamat pagi Pak Budiman.” sapa Bambang segera menyalami Budiman.


“ Pagi juga Bambang, mari kita bicarakan di ruangan saya.” sahut Budiman sembari berjalan ke sebuah ruangan dengan dua daun pintu terletak di belakang meja resepsionis.


Mereka berdua berjalan bersamaan masuk ke dalam ruangan berukuran besar dengan perabotan serba Luxury.


“ Silakan duduk Bambang.”


“ Terima kasih Pak Budiman.”


Budiman duduk di sofa tunggal, sedangkan Bambang duduk di sofa panjang sebelah kiri Budiman. Beberapa minuman kemasan tersaji di atas meja tamu buat menemani obrolan mereka berdua.


“ Bagaimana dengan hutang Anda ke perusahaan saya.”


“ Saya saat ini belum memiliki uang untuk membayar atau mencicil Pak Budiman, barangkali ada pekerjaan buat saya untuk menutupi hutang-hutang saya.”


Budiman terdiam memandangi wajah Budiman, “ Bagaimana kalau Bambang, saya suruh carikan seorang gadis baik-baik buat jadi mantuku, biar Fahar bisa kembali lagi ke rumah.”.


“ Begini Bambang, saya ada pekerjaan agak nyeleneh sedikit.”


“ Apa itu Pak Budiman, barangkali saya bisa kerjakan.”


“ Em.., Carikan gadis berusia 18 tahun sampai 21 tahun, buat dinikahi.”

__ADS_1


Bambang seketika tersenyum lebar, “ Itu gampang sekali, anak gadisku ada dua, tinggal saya suruh pilih sendiri saja.” kata Bambang di dalam hatinya.


“ Bisa Pak Budiman. Saya punya dua anak gadis, usia 19 tahun dan usia 21 tahun. Pak Budiman boleh memilih salah satu dari mereka.”


“ Ingat Bambang !, Anak Anda mesti masih gadis. Saya tidak mau gadis nakal !”


“ Saya jamin Pak Budiman, boleh di bawa ke dokter untuk di periksa.”


Budiman diam sejenak sembari melihat wajah Bambang dengan seksama sambil mengambil sekaleng minuman bersoda buat Bambang.


“ Baiklah, kapan Anda bisa membawa kedua anak Anda berjumpa dengan saya.”


“ Kapan saja bisa Pak Budiman, tapi hutang saya bisa lunaskan Pak ?”


“ Saya akan anggap lunas jika salah satu dari anak Anda terpilih.”


Bambang manggut-manggut sembari tersenyum melihat ke Budiman, “ Saya akan punya seorang menantu konglomerat, biarlah Budiman sudah tua jadi anak mantu, yang terpenting adalah uang dan semua hutang-hutang saya lunas.” kata Budiman di dalam hatinya.


“ Senin depan, tolong Anda antarkan kedua anak gadismu ke kantorku.”


“ Baik Pak Budiman.”


“ Ok.., Kalau begitu saya akan tunggu Anda Senin depan.”


“ Oh.., Silakan.”


Bambang merasa sangat bahagia mendapatkan solusi untuk melunasi hutang-hutang dia sebesar 200 juta kepada Budiman. Bambang yang doyan main judi, mabuk-mabuk dan main perempuan, membuat dirinya terlilit hutang yang banyak di setiap perusahaan.


Bambang terlalu banyak menghamburkan uang untuk berfoya-foya dan memiliki dua istri. Dari istri pertama, Bambang memiliki dua anak perempuan sedangkan dari istri mudanya tidak memiliki anak.


“ Kalau begitu, saya mau ijin pamit pulang Pak Budiman, biar saya aturkan semuanya dengan lancar.”


“ Oke Bambang, saya tunggu Senin depan, ingat !, jangan sampai Anda gagal !”


“ Iya Pak Budiman, saya jamin tidak akan gagal.”


“ Ok.., Kita buktikan Senin depan.”


“ Siap Pak Budiman.”


Bambang kemudian beranjak berdiri dari tempat duduknya kemudian mereka berdua saling berjabatan tangan,

__ADS_1


“ Mari.”


Budiman mengajak Bambang berjalan bersama-sama sampai ke pintu ruangan, “ Silakan.” ucap Budiman sambil membuka pintu ruangan.


“ Permisi Pak Budiman.”


“ Hati-hati di jalan.”


“ Terima kasih Pak Budiman.”


Bambang kemudian berjalan sendirian ke arah pintu utama gedung, sedangkan Budiman kembali melanjutkan pekerjaannya.


Budiman duduk di kursi besar balik meja kerja yang mewah. Seperangkat komputer di atas meja segera dinyalakan oleh Budiman sembari melirik tumpukan map di atas meja kerjanya.


“ Aku belum mendapat kabar dari Ahmad dan Martin hari ini.” gumam Budiman sembari menekan layar ponsel guna menghubungi sebuah kontak bernama Ahmad.


“ Halo selamat pagi Pak Budiman.” suara Ahmad langsung menyapa Budiman.


“ Bagaimana situasi Fahar ?” tanya Budiman menghidupkan suara speaker luar ponsel lalu meletakkan ponselnya di atas meja.


“ Aman Pak Budiman, sampai saat ini gerak-gerik Pak Fahar selalu kami awasi setiap jam.”


“ Bagus, jangan sampai Fahar tahu kalau kalian menjaga dirinya.”


“ Siap Pak Budiman, sekarang saya, Martin dan Pak Fahar sering jalan bersama-sama, kami sudah menjadi teman baik.”


“ Cerdas sekali, kalau sudah jadi sahabat, Fahar tidak akan curiga kalau kalian adalah pengawal dirinya.”


Budiman langsung tersenyum bahagia, merebahkan punggungnya ke sandaran kursi.


“ Terima kasih Pak Budiman. Kami akan selalu menjaga tubuh Pak Fahar tidak akan sampai lecet sedikit pun.”


“ Mantap, saya suka dengan hasil kerja kalian berdua, titip salam buat Martin dari saya.”


“ Martin ada di samping saya Pak Budiman, dia ikut mendengar juga.”


“ Ok, Saya rasa cukup, terima kasih atas loyalitas kalian kepada Fahar.”


“ Sama-sama Pak Budiman.”


Budiman memutuskan sambungan panggilan telepon kemudian melanjutkan pekerjaan dia yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya. Wajah Budiman tampak semringah mengecek satu persatu laporan dari bawahannya.

__ADS_1


Bersambung….


*****


__ADS_2