
“ Tok.., Tok…, “
Fahar mengetuk pintu kamar Anggraeni, “ Enii..!” panggil Fahar sambil mengetuk pintu kamar.(red : Eni, nama panggilan Anggraeni)
“ Krek..!” suara pintu di buka dari dalam.
“ Eh.., Fahar.” sapa Luna menyembulkan kepalanya saja dari balik daun pintu kamar.
“ Eni.., Mana ?” tanya Fahar kepada Luna.
“ Sstt.., Dia sedang Video Call sama tunangannya di dalam kamar mandi, Besok dia mau pulang ke Jakarta buat persiapan pernikahan mereka.” kata Luna dengan suara setengah berbisik.
Mata Fahar seketika membesar mendengar perkataan Luna, “ Jangan bilang aku yang cerita, awas!, kalau kamu bilang dariku.” ancam Luna dengan mata mendelik ke Fahar.
“ Ok.., Aku tidak akan bilang.” jawab Fahar sambil anggukkan kepalanya.
“ Kita ngobrol di Cafe samping kos, nanti aku ceritakan semuanya.” kata Luna sesekali melirik ke pintu kamar mandi.
“ Kapan ?” tanya Fahar tampak kebingungan.
“ Sekaranglah, Kamu pergi dulu sana !, aku pakai baju dulu.” ujar Luna sembari mendorong tubuh Fahar menjauh dari daun pintu.
Fahar segera meninggalkan kamar Anggraeni, “ Masak sih, Eni berbuat begitu di belakangku.” kata Fahar di dalam hatinya sambil menuruni anak tangga menuju ke lantai dasar.
“ Fahar !” panggil seorang pemuda berwajah Indonesia Timur, bernama Martin.
Fahar menghentikan langkah kakinya sambil menoleh ke belakang, “ Martin.., Ahmad” sahut Fahar sambil berdiri di atas anak tangga menunggu kedua temannya sedang menghampiri dirinya.
“ Mau ke mana Bro, masak kita berdua main di tinggal saja.” ujar Martin sembari merangkul bahu Fahar.
“ Mau nongkrong di tempat biasa.” jawab Fahar kembali melanjutkan langkah kakinya menuruni anak tangga bersama dengan Ahmad dan Martin.
“ Kita lagi bokek, tapi tetap kami temani kok.” ucap Ahmad yang berjalan di belakang mereka berdua.
“ Jangan khawatir Ahmad, tinggal makan dan minum, masalah bayaran, aku yang tanggung.” jawab Fahar sambil berjalan keluar dari pintu utama gedung.
“ Mantap kalau begitu, kita gasak sekarang.” jawab Ahmad berjalan di samping Fahar.
Mereka bertiga berjalan berjejer melewati pintu samping pagar yang menembus langsung ke halaman Cafe yang bersebelah dengan gedung kos mereka. Pemilik Cafe masih satu orang dengan pemilik gedung kos.
“ Kita duduk di tempat biasa saja, biar aku bisa merokok.” kata Martin
__ADS_1
“ Memangnya kamu saja yang merokok, aku juga mau merokok.” sahut Ahmad sambil berjalan lebih dulu menuju ke gazebo di pojok pekarangan Cafe di samping sebuah kolam air pancuran,
“ Kalian berdua kalau sudah bersatu, pasti mesti ribut.” ucap Fahar sembari tersenyum melihat tingkah kedua temannya.
“ Beginilah kami Fahar, walaupun ribut tapi kami selalu kompak, sampai ****** saja bisa tukar pakai, Haha..” seloroh Martin sambil duduk di lantai gazebo.
“ Rencana kami mau tukaran pacar juga Fahar.” kata Ahmad menimpali perkataan Martin.
“ Ayo.., Pacarku gelap kita tukar dengan pacarmu, biar anakku bisa jadi terang, Haha..” canda Martin membuat Fahar ikut tertawa bersama.
Martin dan Ahmad paling setia mengikuti Fahar ke mana saja, sebenarnya mereka berdua adalah pengawal pribadi Fahar yang di utus secara diam-diam oleh Budiman untuk menjaga dirinya selama berada di Bandung.
Fahar sudah bersahabat selama tiga tahun dengan mereka berdua akan tetapi belum tahu kalau kedua sahabatnya adalah orang suruhan dari Budiman untuk menjadi pengawal pribadinya.
Mereka bertiga mulai memesan makan dan minum kepada seorang pelayan wanita dan tidak berselang waktu lama, Luna telah datang menyusul Fahar, dia segera masuk ke dalam gazebo dan duduk bersebelahan dengan Fahar.
“ Sekalian pesan Luna.” kata Fahar sembari menyodorkan menu makanan kepada Luna.
“ Eni mana ?, kenapa tidak ikut ?” tanya Ahmad sambil melihat ke sekitar halaman Cafe mencari sosok Anggraeni.
“ Dia sedang sibuk Video Call sama tunangannya di dalam kamar mandi, setiap kali Anggraeni mandi pasti tunangannya minta Video Call.” kata Luna memanasi hati dan pikiran Fahar yang langsung terdiam mendengar penjelasan Luna.
“ Masak sih ?” tanya Martin sambil melihat ke Fahar.
“ Aku di ancam tidak boleh tinggal sekamar sama dia, kalau sampai mengadu ke kamu, makanya jangan sampai dia tahu kalau aku yang cerita.” ujar Luna sambil memegang bahu Fahar.
“ Apakah betul, besok dia pulang mau persiapan menikah ?” tanya Fahar sambil menurunkan tangan Luna dari atas pundaknya.
“ Eni mau nikah !” pekik Ahmad dengan mata mendelik.
“ Betul.., Barusan Anggraeni cerita ke aku, kalau dia dapat uang mahar satu miliar dari tunangannya.” ujar Luna sambil memperhatikan ponsel Fahar di atas meja berdering.
“ Ibu Anggraeni telepon tuh, tanya saja langsung ke ibunya.” ujar Luna dengan sangat yakin.
Fahar segera mengangkat panggilan telepon dari Anita, “ Halo..” sapa Fahar.
“ Halo Fahar, ibu kasih tahu kamu, tolong jauhi Anggraeni mulai detik ini, Anggraeni sudah mau menikah.” tegur Anita membuat wajah Fahar seketika melongo mendengarnya.
“ Lupakan Anggraeni, calon suaminya seorang konglomerat.” ujar Anita dengan sengaja memanasi Fahar agar marah dan memilih berpisah dengan Anggraeni.
“ Kata Papa Anggraeni, Gaji buruh jangan coba-coba untuk bersaing dengan konglomerat, dia suruh kamu sadar diri !.”
__ADS_1
Fahar langsung terdiam dengan wajah memerah menahan amarah atas penghinaan Bambang yang merendahkan harga dirinya. Martin dan Ahmad saling melempar pandangan mata melihat wajah Fahar yang tampak berubah.
“ Baik Bu, sampaikan kepada Om, detik ini juga saya tidak akan mendekati Anggraeni.” Ujar Fahar dengan suara bergetar menahan amarah.
“ Aku cuman kasih tahu, sekarang aku sudah tidak di rumah. Anggraeni barusan telepon papanya untuk menyuruh mengusir diriku.” tutur Anita menambah kata bohong agar Fahar semakin membenci Anggraeni.
“ Em.., Pantas saja Eni menghindari aku saat terima telepon.” gumam Fahar mencermati ucapan Luna
“ Eni munafik, di depan sok suci, di belakang macam iblis.” kata Fahar di dalam hatinya sambil mengepalkan kedua tangannya.
“ Kalau bisa, tolong carikan pekerjaan buat aku Fahar,” pinta Anita menambah keyakinan Fahar kalau Anita benar-benar dizalimi sama Anggraeni sampai terlantar.
“ Ibu ke Bandung saja, nanti pasti ada pekerjaan buat Ibu.” Jawab Fahar menyanggupi permintaan Anita.
“ Benaran Fahar, tapi nanti Ibu tinggal di mana ?” tanya Anita, bersandiwara dengan sempurna.
“ Untuk sementara waktu Ibu bisa tinggal sekamar denganku, perlahan sambil cari kamar kos.” ujar Fahar, Luna langsung menepuk bahu Fahar sambil medelikkan kedua matanya, tapi Fahar cuek saja, tidak memedulikan protes Luna
“ Makasih banyak Fahar, Ibu berhutang Budi sama kamu.” ucap Anita dengan suara parau.
“ Besok pagi, Ibu langsung ke Bandung Fahar, untuk malam ini terpaksa menumpang tidur di kamar kos teman.” kata Anita sambil terisak tangis.
Fahar menghela nafas, “ Baik Bu, besok aku jemput di stasiun kalau Ibu telah tiba.”, jawab Fahar sambil melihat ke wajah Luna yang tampak kurang suka mendengar percakapan dirinya dengan Anita.
“ Sudah dulu ya Fahar, sampai jumpa besok di Bandung.” ucap Anita mengakhiri panggilan telepon dengan Fahar.
“ Kamu gila ya, masak kamu tinggal sekamar dengan Ibunya !” seru Luna tampak raut wajah Luna tidak suka dengan rencana Fahar.
“ Sementara waktu saja, nanti dia akan pindah kamar.”
Fahar tampak cuek dengan aksi protes Luna dengan santai dia menyeruput kopi panas yang baru tersaji di atas meja.
“ Lalu dia mau kerja di mana ?”
“ Di pabrik masih banyak lowongan.”
Luna langsung terdiam, “ Em.., Jangan bermimpi Ibunya bisa bekerja di dalam pabrik, Fahar belum tahu kalau aku anak dari pemilik perusahaan.” kata Luna di dalam hatinya sambil mengunyah kentang goreng.
Suasana menjadi hening, alunan musik dari penyanyi Cafe mulai mengalun dari teras Cafe, melantunkan lagu terpopuler saat ini.
Bersambung..
__ADS_1
*****