Semut-semut Cinta

Semut-semut Cinta
Chapter 6


__ADS_3

Fahar duduk termenung, wajahnya menjadi kosong setelah menerima panggilan telepon dari Anita, Martin dan Ahmad melihat wajah Fahar yang tampak tidak bergairah hanya bisa saling melempar pandangan.


“ Bro.., Kamu kenapa ?” tanya Martin mengajak Fahar berbicara.


“ Eni benar-benar mau menikah, dia lebih memilih uang dari pada diriku.” jawab Martin dengan suara pelan tanpa ada semangat untuk bercerita.


“ Em.., Begitu ya, menurut kami berdua, Eni tidak mungkin melakukan hal itu, saran dari kami jangan langsung percaya dulu, alangkah baiknya kamu selidiki sendiri kebenarannya.” ujar Martin memberikan masukkan buat Fahar.


“ Betul Fahar, lebih baik kamu selidiki dulu, bila kamu sendiri melihat dan mendengar langsung, kami kembalikan keputusan di dirimu. Lanjut atau putus.” kata Ahmad menimpali perkataan Martin.


“ Kalian berdua bicara apa ?, Sudah sangat jelas ibunya sendiri sudah telepon Fahar.” ujar Luna seperti tidak suka dengan saran dari kedua sahabat Fahar.


Wajah Martin dan Ahmad tampak kurang suka mendengar protes Luna, mereka hanya melempar senyuman tipis, “ Kamu suka dengan Fahar bukan ?” tanya Martin menembak Luna dengan pertanyaan menohok.


Luna terdiam sejenak sambil melirik Fahar, “ Tidak ada hubungannya dengan diriku.” jawab Luna.


Fahar sedari tadi diam mulai menghela nafasnya, “ Ucapan kalian berdua betul juga, aku mesti menyelidiki sendiri, apakah benar perkataan Luna dan ibunya.” ucap Fahar menengahi perdebatan antara Martin dengan Luna.


“ Betul sekali Fahar, Ibu kandung Eni berada di Bandung, dia sudah bercerai lama dengan Papanya Eni dan sudah memiliki suami baru.” ujar Ahmad sambil memegang pundak Fahar.


Martin mendekatkan bibirnya di samping telinga Fahar, sambil membisikan nasihat kepada Fahar, “ Yang barusan telepon kamu adalah Ibu tirinya, namanya Anita, masih berusia 25 tahun, tolong hati-hati menerima dirinya untuk tinggal bersamamu, kami berdua punya firasat kalau kamu dan Eni sedang di adu dombakan.”


“ Kamu sudah paham maksudku ?” tanya Martin kepada Fahar.


Fahar manggut-manggut setelah mendengar bisikan Martin, “ Ok.., Aku sudah paham sekarang. Tolong kamu baca chat dariku.” kata Fahar sambil menunjuk ke ponsel Martin.


Fahar langsung mengetik pesan buat Martin, ‘Kalian berdua tinggal di kamarku dan kamar kalian buat Anita, kita mainkan kembali permainan mereka’


Ting.., suara notifikasi pesan masuk, Martin segera membaca pesan dari Fahar dan mengacungkan Ibu jari, sedangkan Luna sedari tadi memperhatikan Martin dengan kedua sahabatnya.


“ Sepertinya dua kunyuk ini sedang cari muka dengan Fahar, aku mesti waspadai mereka berdua, bila perlu aku suruh Manajer pabrik untuk memecat dua kunyuk ini.” kata Luna di dalam hatinya sambil memperhatikan Martin dan Fahar, melakukan percakapan melalui pesan singkat.


“ Kalian lanjutkan saja, aku mau kembali ke kamar.” kata Luna merasa tersinggung melihat sikap Fahar dengan kedua sahabatnya.


“ Ok Luna, hati-hati ada tembok.” sahut Ahmad mewakilkan Fahar yang tengah sibuk mengirimkan pesan kepada seseorang.


Luna beranjak dari tempat kumpul dan berjalan kembali ke dalam gedung kos, sedangkan Fahar melirik Luna yang telah menghilang di balik tembok pemisah Cafe dengan gedung kos.


Fahar mengernyitkan dahinya, sambil bertanya kepada kedua sahabatnya, “ Kalian berdua kok bisa tahu Ibu kandung Eni di Bandung ?”.


“ Dari suami kedua.” jawab Martin sambil melahap kentang goreng. Akan tetapi wajah Fahar masih terlihat bingung dengan jawaban singkat Martin.


“ Pak Dodo kepala gudang adalah Bapak tiri Eni dan beliau yang memasukkan Eni kerja di pabrik itu.” jelas Martin dan Fahar langsung angguk-anggukkan kepalanya menandakan dirinya sudah paham.

__ADS_1


“ Pantas saja Eni bisa tiba-tiba kerja di Bandung, rupanya Ibu kandungnya berada di Bandung juga, sekarang aku mulai nyambung.” ucap Fahar sembari tersenyum sendiri.


“ Plak..!” Ahmad tiba-tiba menepuk lengan Fahar, sontak Fahar melompat kecil ke atas dan menatap wajah Ahmad, “ Ada satu hal penting !” seru Ahmad, “ Luna adalah anak dari Direktur Utama perusahaan, justru kamu mesti waspada dengan dirinya. Kita mesti cari tahu maksud dan tujuan Luna mau apa ?” sambungnya.


“ Betul Fahar, kami melihat Luna tiga tahun yang lalu pernah berjalan bersama dengan Pak Riyanto, dia adalah Direktur Utama perusahaan.” sahut Martin, memajukan duduknya mendekat ke Fahar dan Ahmad.


Fahar mengerutkan keningnya seraya menatap wajah Martin, “ Kalau cuman sebatas jalan bareng belum tentu anaknya.” kata Fahar.


“ Kata Pak Mamat, Luna anak Pak Riyanto, anak semata wayang dan pastinya Luna punya maksud dan tujuan menyamar menjadi seorang karyawan pabrik.” balas Martin, pupil matanya membesarkan dengan nada suara sedikit meninggi.


Alis Fahar sontak bertautan sambil memutar kedua bibirnya beberapa saat, kemudian dia bertanya kepada Martin, “ Pak Mamat Satpam ?”, Fahar memastikan orang yang di sebut oleh Martin.


“ Betul Satpam, dia sudah kerja 20 tahun dengan Pak Riyanto, empat tahun sebelumnya dia menjadi sopir pribadi makanya dia kenal betul dengan keluarga Pak Riyanto.” jelas Martin dengan detail dan mendapatkan acungan jempol dari Fahar.


“ Andai saja Bos Fahar tahu, sebenarnya pemilik aset dan saham pabrik adalah Pak Budiman, Pak Riyanto hanya seorang Direktur Utama saja.” kata Martin di dalam hatinya, sambil melanjutkan mengunyah kentang goreng.


“ Karena faktor usia saja, ia di suruh oleh Pak Riyanto mengawasi pabrik.” di sambung oleh Ahmad yang ikut membenarkan penjelasan Martin.


Fahar melirik ke langit, bibirnya berkedut-kedut dengan kulit kening mengerut, tampak kalau Fahar sedang berpikir keras, “ Aku mesti cari tahu niat Luna dan Anita dan caranya mesti ribut dengan Eni, agar kedua orang tersebut percaya kalau aku sudah termakan omongan mereka.” kata Fahar di dalam hatinya.


Suasana menjadi hening, Fahar sedang larut dalam pikirannya sendiri, sedangkan kedua sahabatnya sedang sibuk menyantap camilan di atas meja, tiba-tiba ponsel Martin berbunyi, membuyarkan lamunan Fahar.


“ Maaf.., Papaku telepon.” kata Martin bergegas beranjak dari tempat duduk dan buru-buru berjalan menghindari Fahar dan Ahmad.


“ Jangan terlalu di pikirkan Mas Bro, pelan-pelan akan terbuka sendiri kebohongan Luna dan Anita.” ujar Ahmad sambil menepuk-nepuk lengan Fahar.


“ Iya sih, cuman ada rasa penasaran saja.” jawab Fahar sambil mengaduk minumannya.


Sementara Martin menoleh ke belakang sejenak memastikan kalau Fahar tidak curiga dengan dirinya, setelah melihat Fahar sedang berbicara dengan Ahmad, dia segera mengangkat panggilan telepon dari Pak Budiman.


“ Halo selamat malam Pak Budiman.” sapa Martin dengan suara pelan.


“ Selamat malam juga Martin, sedang bersama dengan Fahar ?” tanya Pak Budiman.


“ Betul Pak, tapi sekarang sudah aman, Ahmad yang hendel Pak Fahar.” ujar Martin sambil melirik ke arah Fahar dan Ahmad.


“ Apakah Fahar aman-aman saja di sana ?” tanya Pak Budiman sambil duduk di atas kursi goyang.


“ Ada masalah percintaan saja Pak Budiman, anak Pak Riyanto sedang menghasut Pak Fahar agar putus dengan pacarnya.” terang Martin sambil mengadukan kelakuan Luna kepada Pak Budiman.


Pak Budiman langsung mengangkat punggungnya, “ Loh.., Fahar sudah punya pacar ?” tanya dia kepada Martin dengan suara meninggi.


“ Sudah Pak Budiman, baru berpacaran setahun.” jawab Martin yang sebelumnya belum pernah melaporkan hal pribadi Fahar kepada Pak Budiman.

__ADS_1


Pak Budiman langsung berdiri dari kursi santai, lalu berjalan tertatih menuju taman samping kamarnya,“ Aduh.., Kenapa tidak bilang ke saya sebelumnya, siapa nama gadis idaman Fahar bila perlu kamu cek keluarga gadis itu, biar saya langsung jumpa dengan keluarganya.” ujar Pak Budiman yang sangat semangat mendengarnya.


“ Nama gadis itu Anggraeni, Pak Budiman.” Jawab Martin.


“ Anggraeni….,” Pak Budiman memegang keningnya sambil memejamkan kedua matanya, berjalan mondar-mandir dengan tertatih-tatih di teras kamarnya, “ Sebentar Martin, aku pernah mendengar nama tersebut.” Pak Budiman seketika menepuk keningnya sembari berseru, “ Oh..!, Aku sudah ingat sekarang !”.


Martin tersenyum sendiri mendengar suara Pak Budiman begitu riang, “ Pak Bos, begitu peduli dengan Pak Fahar, Aku mesti bisa menenangkan ketegangan antara Pak Fahar dengan Pak Budiman, biar mereka bisa kembali akur kembali.” kata Martin di dalam hatinya sambil mendengarkan suara Pak Budiman sedang berbicara dengannya.


“ Ok.., Aku sudah tahu Martin, sekarang kamu jelaskan masalah anak Pak Riyanto !” seru Pak Budiman.


“ Nama anaknya Luna, dua bulan yang lalu tiba-tiba masuk kerja di pabrik dan tinggal sekamar dengan Anggraeni. Sepertinya dia suka dengan Pak Fahar dan menciptakan perkataan fitnah tentang Anggraeni agar Pak Fahar putus hubungan dengannya.”


“ Oh.., Satu hal lagi Pak Budiman, Ibu tiri Anggraeni ikut memojokkan Anggraeni dengan fitnah, intinya ingin Pak Fahar putus dengan Anggraeni.”


“ Em.., Begitu ya, siapa nama Ibu tirinya ?” tanya Pak Budiman dengan raut wajah menegang.


“ Anita, aku dengar sih cewek gak benar, dia ikut menghasut Fahar agar memutuskan hubungan dengan Anggraeni dengan segala kejelekan Anggraeni.”


“ Istri muda Bambang, apakah yang tadi sore telepon aku ?” ujar Pak Budiman di dalam hatinya sembari memegang kusen pintu.


“ Baik Martin, besok pagi akan saya bereskan si Luna, kamu tolong nasihati Fahar agar tidak termakan omongan orang, yakinkan diri Fahar agar tetap mempertahankan hubungannya dengan Anggraeni.”


“ Sudah Pak Budiman, Alhamdullilah.., Pak Fahar mau mendengarkan nasihat dari kami.”


“ Alhamdulillah, terima kasih Martin, Fahar harapan hidupku, aku titipkan kepada kalian, semoga hubunganku dengan Fahar bisa kembali akur.”


“ Pasti Pak Budiman, kami berdua sedang mengupayakan agar Pak Fahar mau kembali ke rumah dan berkumpul bersama dengan Pak Budiman.”


“ Terima kasih Martin.” Kelopak mata Pak Budiman terkulai, merasa terharu atas kesetiaan dan kejujuran kedua anak buahnya.


“ Ok Pak Budiman, aku mesti kembali ke Pak Fahar, takut dia curiga.” kata Martin sambil memperhatikan Fahar masih berbincang-bincang dengan Ahmad.


“ Ok.., Sekali lagi aku ucapkan terima kasih, titip salam buat Ahmad.”


“ Sama-sama Pak Budiman, selamat malam.”


“ Malam.”


Martin mengakhiri panggilan telepon dengan Pak Budiman, kemudian berjalan kembali ke tempat mereka berkumpul dengan wajah semringah.


Bersambung……


...****************...

__ADS_1


__ADS_2