Semut-semut Cinta

Semut-semut Cinta
Chapter 4


__ADS_3

Anggraeni mengguyur tubuhnya dengan air dingin dari sebuah ember di atas lantai, mendengarkan suara kucuran air dari kran yang di biarkan terbuka untuk menenangkan pikiran dia yang sedang kalut.


“ Bismillah, aku ikhlas menjalaninya, asal Papa bisa bertobat dan kembali ke jalan Allah.” kata Anggraeni di dalam hatinya sambil menggosok sekujur tubuhnya dengan sabun cair. Dengan lembut jemari Anggraeni menyusuri lekuk-lekuk tubuhnya yang terbalut oleh kulit putih nan halus.


“ Jodoh dan maut sudah di takdirkan, manusia hanya menjalankan perintahnya.” kata Anggraeni menguatkan batinnya untuk menjalan semua risiko bila jumpa dengan Budiman.


Anggraeni telah melepaskan semua beban pikiran dari permasalahan perjodohan, dia telah memutuskan untuk menerima takdir apabila Budiman memilih dirinya dan mengharuskan dirinya menikah dengannya. Demi rasa sayang dan baktinya kepada orang tua, dia rela menjadi alat pelunasan hutang kepada Budiman.


Anggraeni telah siap menerimanya, akan tetapi tidak buat Bambang yang terlihat gelisah setelah menelepon Anggraeni. Dia duduk termenung di atas kursi yang menghadap langsung ke jendela kamar. Sebuah meja kerja di hadapannya menjadi tumpuan kedua siku tangannya sambil menggenggam erat ponsel.


Bambang tertegun sambil mengentak-entakkan dagunya ke ujung ponsel. Tatapan mata dia kosong menjurus lurus ke jendela kamarnya, melihat rumput liar yang telah tumbuh subur menutupi setengah kaca jendela kamar.


“ Plak !” Bambang tiba-tiba menampar wajah dia sendiri sambil bergumam sendirian


“ Aku terlalu banyak bicara.”


“ Ada apa dengan diriku ini ?.


“ Kenapa Aku hanya bisa membuat masalah bagi Anggraeni ?”


“ Aku tidak pantas di sebut Orang tua.”


“ Orang tua macam apa aku ini, hanya bisa membuat masalah demi masalah untuk Anggraeni.”


Bambang menyesali perbuatan dia selama ini, rasa penyesalan yang selalu datang belakangan dan hanya bisa duduk tertegun untuk meratapi semua masalah yang telah terjadi, tanpa bisa mengubah keadaan kembali seperti awal.


Bambang yang duduk menghadap ke jendela tanpa menyadari kalau Anita sudah sedari tadi berdiri di belakangnya, mendengarkan percakapan dirinya dengan Anggraeni, terlihat wajah Anita sedang tersenyum sinis memandangi punggung Bambang yang sedang duduk termenung.


“ Tidak akan kubiarkan Anggraeni lepas dari perjodohan ini. Fahar mesti menjadi milikku.” kata Anita di dalam hatinya.


“ Ehem..” Anita berdeham menyadarkan lamunan Bambang.


Bambang langsung membalikkan tubuhnya ke belakang dan melihat Anita sedang jalan menghampiri dirinya.


“ Mandi dulu Mas, biar pikiranmu lebih tenang.”


“ Iya..”


Bambang kemudian meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian dia berjalan ke kamar mandi yang berada di pojok ruang kamarnya.


Sepasang mata Anita menatap ke ponsel milik Bambang yang tergelak di atas meja kerja, lalu memperhatikan langkah kaki Bambang menuju pintu kamar mandi dan beberapa saat kemudian Bambang telah menutup pintu kamar mandi.


Anita berjalan buru-buru menghampiri meja dan langsung mengambil ponsel milik Bambang, sembari menekan beberapa angka pada layar ponsel. Anita langsung tersenyum sambil memandangi layar ponsel yang menyala.


“ Aku mesti mencari nomor ponsel Pak Budiman. Aku harus cepat-cepat mempengaruhi pikiran beliau agar mau memilih Anggraeni.” kata Anita di dalam hatinya sambil menyapu layar ponsel dengan jemarinya.

__ADS_1


“ Ini dia, nomor kontak Pak Budiman.” gumam Anita dan segera menyalin kontak Pak Budiman ke dalam memori ponselnya.


“ Beres !” seru Anita sambil meletakkan ponsel milik Bambang kembali pada tempat awalnya.


“ Aku harus keluar dari rumah dulu. Bilang saja mau beli bakso di depan rumah.” ujar Anita dengan suara lirih sembari mencibirkan bibirnya. Kemudian dia berjalan ke pintu kamar mandi.


“ Mas..!” teriak Anita di depan pintu kamar mandi.


“ Iya !” sahut Bambang dari dalam kamar mandi.


“ Aku mau beli bakso di depan rumah !” seru Anita dengan nada suara tinggi.


“ Iya !” sahut Bambang.


Anita tersenyum sambil berlari kecil layaknya seperti penari balet menuju ke pintu kamar tidur, berlenggang sambil bersiul-siul kegirangan.


Tidak lama kemudian Anita telah berada di warung bakso depan rumahnya persis, sebuah warung kecil dalam kompleks perumahan yang tampak lengang dari pelanggan.


Anita segera memesan semangkuk bakso kemudian pandangan matanya mencari tempat duduk, “ Duduk di situ saja.” gumamnya, berjalan ke arah pojok ruangan bersebelahan dengan kulkas Showcase minuman botol kemasan, sambil berjalan sebelah tangannya menekan layar ponsel untuk menghubungi seseorang.


“ Assalamualaikum..,” sapa seorang pria berumur dengan nada suara berat.


“ Wa’alaikumussalam, Pak Budiman ?”


“ Betul, dengan siapa saya berbicara ?”


“ Oh.., Bu Bambang, ada apa ya ?”


“ Mengenai kedua anak gadis saya, katanya Pak Budiman mau memilih salah satu dari mereka berdua, apakah benar Pak ?”


“ Betul sekali Bu, tapi baru sebatas rencana saja, belum tentu saya akan cocok dengan anak Ibu.”


“ Oh begitu..,”


“ Iya Bu.”


“ Saya hanya ingin memberikan saran, apabila Bapak mau memilih jangan pernah mau memilih anak saya yang bernama Lucy.”


“ Loh kenapa Bu, ada masalah apa ?”


“ Lucy anaknya malas, sombong dan angkuh. Saya takut bisa mencoreng nama baik Pak Budiman.”


“ Waduh, parah sekali sifatnya.”


“ Betul Pak, berbeda dengan kakaknya, namanya Anggraeni.”

__ADS_1


“ Anggraeni.., Em.., Apa kelebihan dari Anggraeni ?”


“ Anaknya ulet, rajin shalat, pekerja keras, pakaiannya sangat sopan sekali, cara bicaranya sangat halus dan lembut, sangat cocok menjadi pendamping hidup Bapak.”


“ Bapak !?”


Tut.., Tut.., Tut.., suara sambungan telepon tiba-tiba terputus begitu saja.


“ Aduh.., kok mati sih ?”


Anita kemudian membaca pesan teks dari operator, “ Aduh..!, Pulsanya habis lagi !, Anjing..!, Sial banget aku !” umpat Anita sembari menggeletakkan ponselnya ke atas meja dengan wajah kesal.


Dengan wajah kusut Anita tetap melanjutkan menyantap semangkuk bakso, sambil melihat ke layar ponselnya berharap Budiman menelepon kembali.


Apa yang diharapkan oleh Anita tidak terjadi, wajahnya tampak kusut dengan sorot mata penuh amarah. Kedua bibirnya bergerak mengunyah satu persatu pentol bakso sambil merencanakan sesuatu di dalam pikirannya.


“ Semoga saja Pak Budiman mau menerima rekomendasi dariku dan Anggraeni mesti tersingkir dari Fahar. Aku lebih pantas bersama dengan Fahar.”


“ Setelah Pak Budiman memilih Anggraeni, saat itu juga aku langsung ceraikan si anjing keparat itu, biar dia hidup nelangsa dengan Lucy.”


Anita langsung tersenyum sendiri, merasa puas dengan rencana yang telah di pikirkan dengan matang-matang dan berasa sangat yakin bisa mendapatkan Fahar.


“ Aku mau melihat Lucy melacurkan dirinya dan Bambang akan merasakan sakit yang luar biasa melihat masa depan kedua anak gadisnya hancur berantakan.”


“ Hehe..” Anita terkekeh.


Tidak berselang waktu lama, Anita telah selesai melahap habis semangkuk bakso, “ Aku mesti isi pulsa dulu.” gumam Anita sambil meneguk air putih kemasan botol.


“ Besok Anggraeni pulang ke sini. Setelah Anggraeni sampai di rumah, aku harus segera memberitahukan perjodohan dirinya kepada Fahar.” kata Anita di dalam hatinya sambil beranjak berdiri dari tempat duduknya.


Anita berjalan menghampiri pedagang bakso, sambil bergumam, “ Mesti ditambah sedikit bumbu merica biar ceritanya hangat dan Fahar percaya, kira-kira apa ya ?”.


“ Berapa Mas ?” tanya Anita kepada pedagang bakso.


“ Tiga puluh lima ribu.” jawab si pedagang bakso.


Anita segera memberikan sejumlah uang kertas kepada pedagang bakso, “ Ini Mas uangnya.”


“ Pas Bu !, Terima kasih”


“ Sama-sama Mas.”


Anita berjalan keluar dari warung bakso sambil melihat kanan-kiri jalan, mencari sebuah konter penjual pulsa, “ Nah itu konternya.” gumam Anita lalu berjalan ke sebelah kanan jalan menuju sebuah konter pulsa terletak di pinggir jalan kompleks.


Bersambung…

__ADS_1


******


__ADS_2