
Pada sore hari, pukul 17.00 Wib di Kabupaten Bandung. Anggraeni sedang bergandengan tangan dengan Fahar, berjalan menyeberangi jalan raya menuju sebuah gedung berlantai tiga yang di jadikan hunian kos buat karyawan pabrik.
Mereka berdua adalah pasangan yang sangat serasi. Berangkat kerja bersama-sama dan pulang kerja bersama-sama juga. Anggraeni terlihat semringah berjalan di samping Fahar, sembari tersenyum. Mereka berbarengan melangkahkan kaki menaiki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dua sambil menghitungi jumlah anak tangga.
Kamar kos mereka berdua bersebelahan, terletak di lantai dua gedung.
Ada seorang gadis cantik berjalan sendirian di belakang mereka berdua, dia hanya menjadi penonton setia dari kemesraan dua sahabatnya.
Gadis tersebut bernama Luna, dia adalah teman satu kamar dengan Anggraeni. Mereka berdua baru dua bulan menjadi teman sekamar, sebelumnya Luna dan Anggraeni tidak saling kenal, karena rasa kasihan, Anggraeni memberikan sedikit ruang buat Luna, kebetulan kamar kos dalam gedung sudah terisi penuh.
Kamar-kamar di dalam gedung kos paling di minati oleh karyawan-karyawati pabrik karena letak gedung hanya terpisah oleh jalan raya. Mereka cukup menyeberangi jalan raya menuju pabrik.
“ Aku masuk dulu ya.” kata Luna melewati Anggraeni yang masih berdiri di depan pintu kamar Fahar.
“ Iya Luna, duluan saja.” sahut Anggraeni sambil menggeser posisi berdiri merapat ke tubuh Fahar.
“ Besok hari jadi kita yang pertama, ingin makan di mana ?” tanya Fahar kepada Anggraeni.
“ Em..,” tiba-tiba ponsel Anggraeni berdering, “ Papa telepon, aku angkat dulu ya.” kata Anggraeni berjalan menghindari Fahar sembari menempelkan ponsel di samping telinganya.
Fahar hanya bisa melihat dari tempat dia berdiri, tidak bisa mendengar percakapan Anggraeni dengan orang tuanya.
“ Halo Pa.” sapa Anggraeni.
“ Halo juga Anggraeni, bagaimana kabarmu ?” tanya Bambang kepada anak gadisnya.
“ Baik Pa, bagaimana kabar keluarga di sana, sehat semua ?” tanya Anggraeni dengan nada suara pelan.
“ Beginilah.., Tidak ada yang berubah Anggraeni.” jawab Bambang sembari menghela nafasnya.
“ Sabar saja Pa, yang terpenting Papa bisa bertobat, jangan mengulangi kesalahan dulu lagi.”
“ Iya Anggraeni, Papa selalu mendengar nasihat mu, ada hal penting yang ingin Papa sampaikan ke kamu.”
“ Apa itu Pa ?, Kalau masalah uang, aku belum gajian Pa.”
“ Bukan itu, Papa minta kamu pulang ke Jakarta besok sore.”
“ Ada masalah apa Pa ?”
“ Jadi begini.., Dua tahun yang lalu Papa punya hutang dengan Pak Budiman, sebesar 200 juta.”
“ Masyaallah Pa, banyak sekali, Anggraeni tidak punya uang sebanyak itu.”
__ADS_1
“ Bukan itu.., Pak Budiman mau menikahi salah satu anak Papa, kamu dan Lucy, untuk melunasi hutang Papa.”
Anggraeni langsung terdiam, kedua matanya berkaca-kaca sambil melirik ke Fahar.
“ Kamu jangan bersedih dulu Anggraeni, Papa ingin Lucy yang menikah dengan beliau. Kamu tolak saja kalau dia memilih kamu.”
“ Tapi Pa.., Kalau Pak Budiman kekeh maunya sama Anggraeni bagaimana ?”
“ Papa akan tetap menolaknya, kamu cukup temani saja.”
“ Iya sudah, Anggraeni percaya sama Papa, Anggraeni tidak mau berpisah dengan Fahar.”
“ Papa tahu, memang kesalahan Papa, terlalu banyak bicara di depan Pak Budiman, seharusnya cukup bilang satu anak saja, maafkan Papa Anggraeni.”
“ Iya sudah Pa, Fahar sedang tunggu Anggraeni, nanti dia malah curiga.”
“ Ok.., Salam buat Fahar ya.”
“ Iya Pa.”
Anggraeni segera mengakhiri panggilan telepon dengan Bambang dan kembali berjalan menghampiri Fahar, tapi kali ini wajah semringah Anggraeni sudah sirna, saat ini wajah dia terlihat murung dan memaksakan untuk tersenyum sewajarnya.
“ Maaf,,, Lama ya ?” tanya Anggraeni sambil memegang tangan Fahar.
“ Tidak masalah, Papa kamu yang telepon, bukan cowok lain.” jawab Fahar sambil memegangi kedua tangan Anggraeni.
“ Aku temani kamu pulang ya.”
“ Jangan sayang.”
Kedua mata Fahar seketika membesar mendengar penolakan Anggraeni, “ Kenapa menolak, ada rahasia apa sehingga aku tidak di perbolehkan ikut kamu ?” tanya Fahar.
Anggraeni terdiam hanya bisa menatap mata Fahar tanpa bisa menjawabnya, dia menghela nafas panjang sambil menundukkan kepalanya, terlalu berat buat Anggraeni untuk menjawab pertanyaan kekasihnya.
“ Jawab pertanyaanku Anggraeni ?” desak Fahar sambil menggoyangkan kedua tangan Anggraeni.
“ Ini masalah keluargaku, maafkan aku.” jawab Anggraeni sembari terisak tangis, tidak kuasa menahan rasa sakit harus berpisah dengan Fahar.
“ Baiklah, aku percaya denganmu, besok aku antar kamu sampai di stasiun kereta api.” sahut Fahar dengan berat hati melepaskan kekasihnya pulang sendirian ke Jakarta.
“ Aku mau masuk ke dalam kamar dulu, ingin menenangkan diriku.” kata Anggraeni, tanpa berani mendongakkan wajahnya.
“ Iya sudah, kamu istirahat dulu.” jawab Fahar sambil mengelus rambut Anggraeni.
__ADS_1
Anggraeni hanya anggukkan kepalanya dan segera berjalan masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Fahar masih berdiri memperhatikan dirinya telah menutup pintu kamar.
Anggraeni segera menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur sambil membenamkan wajahnya ke dalam bantal, badannya bergetar beriringan dengan suara tangisan yang mulai pecah di dalam bantal.
Luna yang sedang bermain ponsel, spontan langsung menolehkan wajahnya ke arah Anggraeni, “ Kamu kenapa Anggraeni ?” tanya Luna segera beranjak dari tempat tidur menghampiri Anggraeni.
Anggraeni hanya diam dan terus menangis, “ Apakah mereka baru bertengkar ?, Syukurlah.., Akhirnya mereka bisa bertengkar juga, kesempatan aku untuk masuk memecah belah.” kata Luna di dalam hatinya.
Luna membelai rambut Anggraeni, sambil berkata dengan suara pelan, “ Ada apa Anggraeni, apakah Fahar kasar ke kamu, biar saja labrak dia sekarang.”
Anggraeni hanya menggelengkan kepalanya, “ Bukan masalah dengan Fahar.” jawab Anggraeni dengan suara parau.
“ Aku mesti korek masalah dia dengan Fahar.” kata Luna di dalam hatinya.
“ Kamu ceritakan dong sayang.” ucap Luna dengan suara lembut tapi Anggraeni tetap diam tidak mau menceritakannya.
“ Biar hatimu lega, jangan khawatir, aku bisa jaga rahasia kamu.” kata Luna mencoba meyakinkan pikiran Anggraeni untuk bercerita kepada dirinya.
“ Besok siang aku harus kembali ke Jakarta.” ucap Anggraeni perlahan membalikkan tubuhnya.
“ Loh kok pulang, ada apa sih sayang ?, Aku jadi ikut cemas tahu.”
“ Papa aku punya hutang sebesar 200 juta pada seseorang dan orang tersebut ingin aku atau adikku menikah dengannya, baru bisa melunasi hutang Papa ku.”
Akhirnya Anggraeni termakan bujuk rayu Luna, “ Aku takut kalau orang tersebut memilih diriku untuk dijadikan istrinya.” sambung Anggraeni sambil mengusap air matanya.
“ Gak apa-apa Anggraeni, pahala besar untukmu bisa berbalas budi kepada Papa mu. Andai aku jadi kamu, aku pasti mau menjalani pernikahan tersebut, kapan lagi kita bisa berbakti kepada orang tua kita, benar gak ?”
“ Betul juga kata Luna, aku mesti ikhlas jalaninya.” kata Anggraeni di dalam hatinya.
“ Berita bagus untuk aku goreng, akhirnya aku dapat jalan mulus untuk merebut Fahar dari mu.” kata Luna sembari mengulum senyuman.
“Sekarang kamu mandi dulu dan ikhlaskan semuanya, bakti anak kepada orang tua, luar biasa pahalanya.” kata Luna sembari membangunkan tubuh Anggraeni dari tempat tidurnya.
“ Makasih Luna. Perasaanku lebih lega.” ucap Anggraeni sembari duduk menatap wajah Luna.
Luna membalas dengan senyuman semringah, “ Mampus saja kamu. Aku sudah banyak berkorban demi Fahar, meninggalkan keluarga hanya demi cintaku kepada Fahar.” kata Luna di dalam hatinya dengan wajah semringah.
“ Aku mandi dulu.” kata Anggraeni sambil beranjak berdiri dari tempat tidurnya.
“ Ok.., Biar pikiranmu kembali segar.” sahut Luna masih tetap duduk memperhatikan Anggraeni yang sedang mengambil handuk yang tergantung di dinding.
Luna begitu bahagia mendengar cerita perjodohan Anggraeni dengan pria lain.
__ADS_1
Bersambung……
******