
"Akhirnya berbahagialah perut sebentar lagi kamu akan ku isi dengan kelezatan, " pekik Olip.
Kelakuannya yang rendom membuat seisi kelas terkekeh tapi tidak dengan Dimas yang justru membuang muka dan beranjak pergi.
Niken menatap kepergian pacarnya itu dengan raut wajah yang cemas, melihat hal itu Erlangga menghampiri Niken dan menepuk halus pundak sahabatnya itu.
"Kenapa gak samperin, " ucap Erlangga.
"Gak perlu mungkin emang dia pengen sendiri dan gak mah di ganggu ," jawab Niken.
"Ya udah, yok ke warteg Babe. " cetus Erlangga seraya menarik tangan Niken.
"Woy tungguin...! " pekik Olip seraya berlari menyusul Niken dan Erlangga.
Warteg Babe sudah biasa menjadi tempat nongkrong mereka dari awal masuk SMA ,bedanya kali ini mereka nongkrong tanpa Dimas.
Letak warteg Babe bersebrangan dengan sekolahan walaupun sudah tua Babe tetap gaul seperti anak muda jaman sekarang dan setiap obrolan selalu asik.
"Assalamualaikum Be, " seru Niken.
"Wa'alaikumsalam, eh kalian duduk lah, gimana harinya,?" tanya Babe.
"Gila Be, aku hampir sekarat gara-gara guru matematika jadi sekarang aku mau makan bakso jumbo, " tegas Olip.
"Kalau aku bakso biasa aja ya Be, " saru Niken.
"Aku sama kayak Niken aja Be, " ucap Erlangga.
"Iya, iya di tunggu ,"jawab Babe.
__ADS_1
Sembari menyiapkan masakan Babe menyerit menatap ke arah mereka bertiga.
"Loh, den Dimas enggak ikut makan, apa gak sekolah kok gak bareng sama kalian. " ucap Babe.
"Sekolah kok Be, tapi dia gak ikut kita hari ini " jawab Olip.
"Ouh begitu tumben biasanya kalian selalu berempat kayak tuyul lepas kandang " seru Babe.
Niken hanya menanggapi dengan senyum sedangkan Erlangga enggak merespon pembicaraan mereka tentang Dimas.
setelah menunggu akhirnya makanan yang mereka pesan sudah siap sembari mengobrol santai mereka bertiga menikmati santapan.
"Kalian tuh sama kayak Babe waktu sekolah dulu, punya sahabat selalu bareng sampai nikah tapi jaman dulu banyak masalah entah dari mana-mana sehingga persahabatan pun runtuh, " ucap Babe saat memandangi mereka bertiga makan.
"Iya Be, kita juga sering dapet masalah tapi kita berusaha bersama sampai seterusnya sampai nanti Niken sama Dimas nikah xi xi xi " ucap Olip.
Saat itu pandangan mereka beralih ke sekolahan yang mendadak ramai mereka berlarian ke arah kolam sekolah .
"Eh ada apa? " tanya Niken pada salah satu siswa yang baru keluar gerbang.
"Itu Dinda dari kelas sebelah tenggelam pingsan dan hampir sekarat, untung ada Dimas yang bantuin jadi bisa selamat, "
"Sekarang mereka dimana? " tanya Niken.
"Di UKS tuh "
Niken pun bangkit dari tempat duduknya dan beranjak lari ke dalam sekolah di ikuti oleh Olip.
"Babe maaf ya Be ini uangnya bertiga kembaliannya Babe ambil aja kita buru-buru, " ucap Erlangga.
__ADS_1
"Iya den terimakasih. " jawab Babe.
"Sama -sama be. " ucap Erlangga.
Erlangga pun menyusul Niken dan Olip menuju UKS sepanjang kelas mereka membicarakan Dinda dan Dimas bahkan terdengar di telinga Niken kalau Dimas memberi nafas buatan pada Dinda di depan banyak siswa.
Erlangga yang juga mendengar hal itu mengepalkan tangan bersiap menghantam Dimas yang arogan itu.
"Gak usah nambah masalah, " bisik Olip yang menyadari emosi Erlangga.
Wajah Niken hanya datar menanggapi tiap omongan siswa yang terdengar di telinganya .
"Bukanya Dimas pacaran sama Niken kok dia bisa ngasih ciuman ke Dinda sih ihh" cetus siswa yg duduk di depan kelas.
"Bac*t banget sih " cetus Erlangga.
Seketika siswa tadi bungkam suara saat Erlangga membentak mereka dengan nada tinggi bercampur emosi.
Saat tiba di UKS Niken melihat Dimas sedang menggenggam tangan Dinda nampak wajahnya panik saat itu.
"Niken kok kamu ke sini " ucap Dimas.
"Emang aku gak boleh kesini, aku juga khawatir kalau temen kamu kenapa -kenapa. " jawab Niken.
"Aku gak papa kok untung ada Dimas yang nolongin aku jadinya aku baik baik aja hehe," ucap Dinda.
"Iya untung banget, apa lagi dapat nafas buatan dari dia kan, sesuai yang kamu harap kan." ucap Niken.
"Sayang...!!!! " pekik Dimas.
__ADS_1