
Bimantara Anugerah tidak menyangka wanita yang ia nikahi adalah wanita yang telah ia merusak masa depannya. dia sangat cantik, bidadari yang tersembunyi dibalik niqab.
Kedua pengantin baru itu turun untuk makan bersama Abi dan Umma, sesampai d meja makan suda ada dua orang tua yang baru saja duduk menunggu anak dan menantunya untuk makan malam, nada mengambil makan untuk sang suami, begitu juga dengan Umma mengambil untuk Abi mereka maka dalam diam hanya denting sendok makan yang sesekali berbunyi.
Selesai makan nada membantu membawakan piring kotor ke wastafel untuk di cuci oleh si bibi.
" udah Ning biar bibi yang beresin" kata perempuan uang umurnya suda empat puluh tahun itu."
" makasih ya bik, bik kalau nada ikut sama suami bibi tolong jagain Abi dan Umma ya," kata nada.
" iya ning insya Allah, bibik akan jaga amanah dari Ning, saya suda anggap mereka sebagai keluarga sendiri Abi dan Umma Ning juga" kata bibi sambil tersenyum ke nada. nada pun pamit ke ruang tamu, di sana sudah ada Abi, Umma dan juga suaminya, mereka sedang berbicara sesekali tertawa, nada bergabung dengan mereka
" Abi, Umma, maaf bole saya bicara serius" tanya bima sambil melihat wajah sang Kiai, sedangkan nada jangan bilang jantungnya seakan maraton di dalam sana dia takut bima akan mengakui kesalahannya di masa lalu, reflek dia memegang tangan sang suami dengan sangat kuat.
__ADS_1
" iya silakan nak Bima" kata Kiai
Bima membiarkan tangannya yang seakan di remas oleh sang istri,
" Begini Abi saya meminta izin untuk membawa nada bersama saya, dua hari lagi, karena izin kerja saya cuman dua Minggu dan tiga hari ke depan saya dan nada harus berangkat ke Jakarta dulu bertemu keluarga di sana." nada pun perlahan melepas cengkraman tangannya,dia merutuki kebodohannya, malu jangan di tanya.
" iya nak silakan bawa istri kamu, Abi cuman titip anak perempuan Abi jaga dia perlakuan dia laknya istri, kalu satu saat suda tak ada lagi rasa sayang kamu, tolong bawa balik nada ke tangan Abi," sang Kiai berbicara dengan suara lembut, nada dan Umma nya tak bisa menahan laju air mata mereka, nada bersimpuh di pangkuan sang Umma.
"saya minta maaf,saya kira tadi mau menceritakan hal lain ke mereka," nada berbicara sambil menunduk,bima maju di depan istrinya lalu satu jari tangannya mengangkat dagu sang istri melihat mata nada yang begitu cantik seketika Bima mencium pucuk kepala nada yang tertutup hijab. jangan ditanya bagai mana wajah nada di balik niqab nya. bima pun segera berbalik dan masuk ke kamar mandi, lima belas menit bima keluar dan nada pun masuk untuk mengantikan bajunya untuk tidur, selang beberapa menit nada keluar dengan daster motif bunga panjang seperti gamis,dengan jilbab sedang tanpa niqab, sedangkan Bima serius menukar kabar dengan rekan-rekannya, tetapi mendengar pintu kamar mandi terbuka seketika arah tatapnya langsung ke sang istri yang terlihat sangat cantik tanpa menggunakan niqab, maira berjalan menuju ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya, ada rasa canggung untuk berbagi ranjang tapi apa daya orang itu adalah suaminya sendiri...
nada pun menarik selimut tebal dan membelakangi sang suami, tiba-tiba terdengar suara bariton di dekat telinganya nada, " apakah kamu tidak tau membelakangi suami itu termasuk dosa?
Seketika nada berbalik sambil tersenyum " hubby , tahukah hubby istri sopan itu, membelakangi suami karena takut dosa" nada menjawab sambil memegang wajah tegak sang suami,
__ADS_1
"tidak masalah istri tidur membelakangi suami asal jangan ada niat dalam hati untuk bersikap kurang ajar terhadap suami." tutur nada kepada sang suami.
" oke, kalu suamimu menginginkan dirimu saat ini,apa kamu akan menolaknya?" seketika nada melepaskan tangan dari wajah sang suami dengan wajah tegang nada menatap bima,
" kepada tidak menjawab? , apakah kau tau menolak suami itu sebuah dosa? gio mengeluarkan jurus jahilnya untuk menggoda sang istri.
Nada sudah tak bisa menjawab apa-apa lagi, dia hanya diam menunggu apa yang akan suaminya lakukan nada pasrah,
Bima mengangkat dagu dana dan menatap matanya,
" saya tak menyangka sekarang saya telah memperistrikan kamu, terima kasih juga karena suda menerima saya lebih pentingnya lagi anak saya. tapi satu hal lagi saya akan menunggu cerita kamu enam tahun yang lalu sejak kejadian itu, seketika nada menunduk tiba-tiba rasa sedih itu muncul kembali, seketika Bima memegang kedua pipi nada,
" maafkan saya... maafkan saya, andai aku tau sebelumnya kamu tidak akan perna sakit atau rapuh, tidurlah malam ini saya hanya ingin memeluk istriku. mereka pun tenggelam dalam mimpi masing-masing.
__ADS_1