
Netta yang terlalu lelah setelah menangis pun akhirnya tertidur, entah berapa lama ia tertidur karena saat terbangun hari sudah mulai beranjak sore.
"Jam berapa sekarang?" Dengan kesadarannya yang belum terkumpul sempurna Netta meraba temapt tidur untuk mencari ponselnya, setelah mendapatkan apa yang dia cari Netta langsung menyalakan benda tersebut.
"Hufftt, sudah setengah tiga" Itu artinya setengah jam lagi bagian sip nya dan dia harus segera berangkat. Semalas apapun Netta saat ini, dia tetap berangkat karena ia benar-benar membutuhkan pekerjaan ini untuk menyambung hidupnya.
Hidup seorang diri tidaklah mudah untuknya, disaat orang lain istirahat setelah rutinitas belajar mereka dikampus diasaat itu pula Netta harus kerja paruh waktu untuk membiayai hidupnya sendiri. Sebenarnya Netta bukan terlahir dari keluarga tidak berada, bisa dikatakan keluraganya berada dikalangan menengah. Ditempat kelahirannya, sang ayah cukup dikenal dilingkungan masyarakat.
Awalnya kehidupannya sangatlah bahagia memiliki ibu dan ayah yang begitu menyayanginya, kehidupan Netta kecil terlihat begitu sempurna. Namun kehidupannya berubah setelah ibunya tiada dan ayahnya menikah lagi dengan teman baik ibunya sendiri, atas hasutan dari ibu tirinya perlahan sikap ayahnya berubah, kasih sayangnya seolah hilang berganti kebencian bahkan yang lebih menyesakan saat ayahnya lebih menyayangi anak tirinya dari pada dirinya.
Tak jarang yang Netta dapatkan selama dirumah itu hanya sikap dingin ayahnya bahkan cacian dan makian sering sang ayah lontarkan padanya, hingga saat lulus SMP Netta memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya dikota dengan tinggal bersama paman dan bibinya, dari paman dan bibinya Netta mendapat kasih sayang layaknya dari orang tua kandung, mereka begitu menyanginya. Namun naas satu tahun lalu keduanya meninggal karena sebuah kecelakaan hingga saat ini Netta benar-benar sendiri, namun meski begitu Netta tetap melanjutkan hidupnya tanpa mau lagi kembali kerumah ayahnya.
Waktu menunujkan pukul tiga lebih lima belas menit, itu artinya Netta terlambat tiba ditempat kerja. Dengan nafas yang terengah engah Netta masuk ke caffe tempatnya bekerja dengan sedikit berlari.
"Nett, kamu dicariin sama pak Budi" Ucap sisil salah satu gadis yang menjadi teman baiknya selama Netta bekerja dicaffe ini.
"Pak Budi?" Netta mengerutkan dahinya, ada apa pria botak itu memanggilnya?
"Iya, udah sana keruangannya! Jangan sampai dia ngamuk lagi kaya kemarin" Ini sudah menjadi kebiasaan Netta, datang terlambat dan mendapat amukan dari pak Budi manager dicaffe tempatnya bekerja.
"Ya udah, kalau gitu aku keruangannya dulu" Dengan perasaan was-was Netta berjalan menuju ruangan manager, saat sudah sampai didepan pintu Netta menghela nafas dalam-dalam sebelum masuk kedalam sana.
__ADS_1
Setelah dirasa sudah cukup dan siap menerima segala kemarahan managernya Netta pun masuk dengan mengetuk pintu terlebih dahulu "Maaf, bapak mencari saya?" Seketika nyalinya menciut begitu melihat pria botak yang kini sedang sedang memberinya tatapan tajam.
"Duduk!" Titahnya dengan nada ketus, namun Netta tetap bergeming ditempatnya hingga membuat pria botak itu terlihat kesal "Netta, kamu dengar saya?"
"Eh, iya pak saya dengar" Tak ingin bos nya semakin kesal Netta pun langsung menjatuhkan tubuhnya pada kursi yang ada dihadapannya, belum sempat hilang ketakutannya Netta kembali dilanda ketakutan saat pria botak itu mengulurkan sebuah amplop putih ke hadapannya.
"I-ini apa pak?" Tanya Netta dengan perasaan was-was.
"Itu untukmu, setelah itu kau bisa keluar dari sini!"
Tidak, apa mungkin ini pesangon? Apa mungkin dirinya dipecat karena sering terlambat masuk kerja?. Begitulah yang saat ini ada dalam pikiran Netta, sekian banyaknya kemungkinan hanya kemungkinan itu yang lebih mondominasi pikirannya.
"Netta, kamu tidak dengar apa yang saya katakan? Sekarang kamu bisa keluar dari ruangan saya!" Ucapnya dengan sedikit penekanan karena Netta belum juga beranjak dari tempat duduknya.
Kemudian terdengar helaan naffas dari pak Budi "Netta, itu gajih kamu bulan ini. Kamu tidak ingat ini tanggal berapa?"
"Eh, ga-gajih saya. Jadi maksudnya saya tidak dipecat?"
"Kamu memang sering terlambat tapi terlepas dari semua itu saya puas dengan kinerja kamu, kecuali kalau kamu tidak segera keluar dari ruangan saya, saya akan pecat kamu sekarang juga!"
Saat itu juga Netta langsung menyambar amplop putih yang tergeketak diatas meja, kemudian berlari kecil menuju pintu.
__ADS_1
"Terima kasih pak, saya janji tidak akan terlambat lagi" Ucapnya dengan senyum mengembang, kemudian berlalu dari ruangan manager.
"Ayyss anak itu" Pak budi hanya geleng-geleng kepala namun detik berikutnya dia tersenyum, dia memang galak namun dibalik itu dia mempunyai sifat yang sangat baik dan tidak pernah menganggap rendah para karyawannya.
Setelah dari ruangan pak Budi, Netta lanjut bekerja seperti biasanya sebagai seorang waiter. Pembawaannya yang ceria memberi kesan tersendiri untuknya, tak ayal banyak pengunjung yang terpesona padanya.
Diluar sana seorang pria dengan langkah tegapnya berjalan menuju caffe diikuti orang kepercayaannnya, begitu sampai pria itu memilih meja paling ujung untuknya dan rekan kerjanya. Setelah mendapat bantuan dari Gino melalui sahabatnya Abbas, perlahan kondisi peruashaannya telah pulih. Banyak peruasahaan yang menawarkan kerja sama dengan perusahaannya, namun Daniel harus teliti agar apa yang menimpa pada mendiang ayahnya dulu tak terulang kembali.
Setelah menunggu hampir lima belas menit, akhirnya orang yang ditunggu pun datang juga. Mereka pun berjabat tangan sebagai salam pertemuan mereka.
"Maaf membuat anda lama menunggu" Ucap pria itu, merasa tak enak karena dirinya datang terlambat.
"Tidak apa-apa, silahkan duduk!" Pria itu pun duduk, kemudian memanggil pelayan untuk memesan makanan.
Saat itu juga sorang gadis muncul membawa buku menu ditangannya, awalnya biasa saja namun semakin dekat Netta dibuat tercengang begitu melihat siapa yang kini duduk dimeja tersebut.
"Da-Daniel?" Seketika langkahnya terhenti, demi apa pun saat ini Netta tidak siap jika harus bertemu dengan pria itu. Jangankan bertemu dengannya mengingat namanya Netta jadi malu sendiri, alhasil Netta hanya berdiri ditempat tanpa melanjutkan lagi langkahnya, hingga satu tepukan dibahu menyadarkan lamunannya.
"Nett, kenapa diam saja, ada apa?" Dari belakangnya Sesil tengah berdiri dengan wajah bingung.
"Kau mengagetkan saja, aku kira tadi pak Budi" Netta mengelus dada, untunglah yang kini berdiri dibelakangnya bukan pak Budi, karena jika iya bisa benar-benar dipecat dirinya. Lalu detik berikutnya Netta tersadar dan segera menarik Sesil ke sampingnya dan memberikan buku menu ditangannya pada gadis itu.
__ADS_1
"Sil, tolong ke meja yang paling ujung! Aku tak tahan sudah kebelet nih" Belum sempat Sesil menjawab, Netta sudah berlalau pergi.