Setelah Satu Malam

Setelah Satu Malam
PART 3


__ADS_3

Satu bulan setelah kejadian satu malam yang menipa Netta dan Daniel.....


"Hoekkk... Hoekkk" Terhitung sudah tiga kali sejak terbangun dipagi hari Netta mual dan muntah-muntah, bahkan kini wajahnya sudah mulai terlihat pucat.


"Ada apa dengan diriku, kenapa mual sekali? Apa mungkin aku masuk angin gara-gara semalam kehujanan?" Netta terus bergumam pada dirinya sendiri, hingga kemudian rasa mual itu muncul kembali dan dirinya kembali muntah.


Karena merasa tak sanggup untuk melakukan aktifitas apapun, Netta akhirnya memilih untuk tidak masuk kuliah hari ini karena jika dipaksakan pun Netta tidak yakin jika dirinya akan konsentarasi dalam pelajarannya.


Hampir seharian penuh Netta berdiam diri ditempat tidurnya, hingga tepat pukul setengah tiga sore dirinya baru beranjak dari atas tempat tidur. Untung saja rasa mual itu hilang hingga ia bisa berangkat bekerja, jika tidak mungkin seharian ini waktunya hanya ia habiskan diatas tempat tidur.


"Nett, wajah kamu kenapa pucat begitu? Kamu baik-baik saja kan? Kalau sakit sebaiknya istirahat saja dirumah, biar nanti aku izin sama pak Budi" Baru saja Netta sampai dicaffe, Sesil sudah mencercanya dengan beberapa pertanyaan.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja" Jawabnya dengan seulas senyum.


"Kamu yakin?"


"Iya, kamu tenang saja gak usah khawatir!"


Dan syukurlah selama berada ditempat kerjanya Netta tidak merasakan mual seperti pagi tadi sehingga ia bisa melakukan pekerjaannya dengan baik, walau sedikit lemas dan pusing namun Netta masih bisa menahnnya.


Pagi harinya....

__ADS_1


Seperti kemarin Netta kembali merasakan perutnya yang bergejolak, terhitung sudah beberapa kali dirinya bolak-balik kamar mandi hanya untuk memuntahkan isi dalam perutnya.


"Sebenarnya kenapa dengan diriku, kenapa terus mual saat dipagi hari?" Netta merasa aneh dengan dirinya sendiri, dirinya terus menerka-nerka hingga kemudian tubuhnya perlahan merosot saat mengingat sesuatu.


"Ini tidak mungkin, aku hanya melakukannya sekali" Netta teringat jika bulan ini dirinya sudah telat datang bulan, dan itu artinya "Tidak...ini tidak mungkin" Netta menggeleng lamah, demi apapun ia tidak mau jika hal itu sampai tarjadi.


Tak ingin terlalu lama larut dalam dugannya, Netta akhirnya memutuskan mengeceknya menggunakan alat tes kehamilan dan ternyata sudah tiga kali dirinya mencoba hasilnya tetap sama yaitu dua garis merah yang menandakan jika dirinya kini positif hamil, namun Netta masih berharap hasilnya salah hingga ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit.


Sesampainya disana Netta harus kembali menelan kekecewaan kala seorang dokter Obygn menyatakan jika kini dirinya tengah mengandung, Netta menatap lekat layar monitor yang menapilkan calon anaknya kelak. Entah harus apa dia sekarang, jujur saja dia tidak siap dengan keadaan ini. Andai Daniel tau, apa mungkin dirrinya akan bertanggung jawab atau justru malah akan menyuruhnya untuk menggugurkan janin yang kini ada dalam perutnya.


Setelah selesai dengan pemeriksaannya Netta keluar dari ruangan dokter Obygn dengan sebuah kertas putih dalam genggamannya, Netta berjalan menyusuri lorong dengan menundukan wajah untuk menybunyikan air matanya yang sejak tadi menetes tampa permisi, walau sudah ia tahan tapi tetap saja air mata itu tetap jatuh.


"Netta?" Hingga perlahan Netta mengangkat pandangannya begitu seseorang menyapanya dari arah yang berlawanan, Netta tersentak tak menyangka jika dirinya akan bertemu sahabatnya disini.


"Ha-hai, maaf terlalu terkejut sampai tidak menjawabnya"


"It's oke tidak masalah, kamu sedang apa disini? Wajahmu pucat, kamu sakit?"


"A-aku..." Netta gelagapan, entah jawaban apa yang harus dia ucapkan saat ini. Tidak mungkin dirinya mengatakan yang sebenarnya apa lagi saat ini Delia tidak sendiri, ada suami dan kedua mertuanya "Aku tadi habis periksa kesehatan, tapi untunglah semuanya baik-baik saja"


Netta yang tadi sempat terkejut, kini kembali dikejutkan begitu menyadari adanya sesosok bayi mungil dalam gendongan ibu mertua sahabatnya "Apa itu bayimu?" Tanyanya dengan begitu antusias.

__ADS_1


"Iya, itu putraku" Delia menjawab dengan penuh rona kebahagiaan, entah sadar atau tidak secara refleks Netta menyentuh perutnya.


"Nett, are you oke?" Delia menatap khawatir sahabatnya yang terlihat sangat berbeda dari bisanya, entah ini hanya persaannya saja atau memang benar jika sahabatnya sedang tidak-baik saja.


Tersadar Nettapun mengulas senyum yang ia paksakan "I'm fine, selamat ya untuk baby boy nya. Aku permisi" Tanpa mendengar jawaban Delia lagi, Netta berlalu melewati sahabatnya hingga meninggalkan sejuta tanya dalam benak Delia, sungguh itu terlihat bukan Netta yang Delia kenal.


Sesampainya dirumah Netta menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur, pandangannya menatap nanar pada langit-langit kamar dengan pikirannya yang kini menerawang entah kemana.


Jika ditanya apa Netta menyesal, jawabannya tentu saja iya. Andai saat itu akal sehatnya mampu melawan hasratnya mungkin hal ini tidak akan terjadi, namun sebesar apa pun penyesalnannya kini tidak akan mampu mengembalikan semuanya. Sekarang yang harus ia lalukan adalah bagaimana caranya ia melewati ini semua.


"Bunda janji akan menjaga kamu dengan sangat baik, bunda akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk kamu. Mari kita mulai semuanya dari awal, hanya ada kita berdua. Maaf bunda tidak bisa memberi tau kehadiranmu pada ayahmu, tapi percayalah semua itu bunda lakukan untukmu, bunda tidak siap jika nanti ayahmu menolak kehadiranmu" Netta mengelus perutnya yang masih datar dan lagi-lagi airmata itu jatuh tanpa diminta, setelah melihat bayi Delia tadi, Netta bertekad akan mbesarkan bayinya sendiri dan Netta berharap keputusannya ini adalah yang terbaik untuknya dan juga masa depan Daniel, Netta tau Daniel sedang berusaha keras membangun kembali perusahaan papanya yang hampir hancur dan Netta tidak ingin kabar kehamilannya mengganggu konsentrasi Daniel dalam usahanya.


Setelah melalui pertimbangan yang matang, akhirnya Netta memutuskan untuk meninggalkan kota ini. Entah kemana tujuannya nanti, namun Netta berharap ditempat barunya nanti ia akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan dengan malaikat kecilnya kelak.


Keesokan harinya, Netta tiba dikota yang sudah lama ia ingin jejaki. Kota dengan destinasi wisata yang banyak diminati oleh kaum dalam negeri maupun luar negeri, ditempat inilah Netta berencana akan kembali menata hidupnya walau hanya dengan uang pas-pasan namun Netta bersyukur sudah tiba ditempat ini dalam keadaan selamat.


Bali, disinilah rencanaya Netta akan menetap dan berjuang tanpa bekal apapun dan tanpa mengenal siapapun. Namun Netta tak patah semangat, dia yakin akan bisa melawati hari-harinya disini dengan mencari pekerjaan terlebih dahulu untuk pertahanannya.


Entah karena melamun atau apa, Netta tak menyadari saat sedang menyebrang jalan ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi hingga akhirnya....


Ciiiiitttttt.....

__ADS_1


Brrrraaaaakkkkk......


__ADS_2