
Sesuai dengan keinginannya, sore ini sepulang sekolah Ara langsung menuju reesort ditemani oleh Netta.
"Ara janji ya jangan nakal, jangan ganggu papa!" Mereka turun dari mobil dengan saling bergandengan tangan, bukan tanpa alasan Netta berkata seperti itu, karena yang sudah-sudah putrinya pasti akan berulah dengan terus menempel pada Willy, padahal Willy sedang sibuk-sibuknya.
"Ya bunda, Ara janji ga akan nakal"
"Good"
Seperti biasa, begitu sampai ibu dan anak itu mendapatkan sambutan dari para pekerja direesort tersebut. Bagaimana tidak, selama ini mereka berpikir Netta adalah istri dari pemilik reesort tempat mereka bekerja, karena Willy kerap kali memperkenalkan Ara sebagai purtinya.
Reesort ini selalu ramai setiap harinya, namun hari ini terlihat berbeda. Hari ini terlihat lebih ramai dari biasanya, seperti sedang ada acara reuni akbar banyak orang-orang hampir seusia dengannya sedang berkumpul. Netta menatap kerumunan orang-orang yang kini sedang berkumpul tak jauh dari tempatnya berdiri, dan entah kenapa tiba-tiba saja hatinya berdesir merasakan sesuatu. Perasaan aneh apa ini? Sudah lama ia tidak merasakannya, perasaan aneh yang hanya kerap kali datang saat dirinya sedang berada didekat seseorang yang begitu ia cintai.
Seseorang yang ia cintai dalam diam, seseorang yang begitu Netta kagumi sejak pertemuan pertama mereka. Hingga sampai detik ini perasaan itu masih tetap sama, tak pernah berkurang sedikitpun.
"Bunda" Sentuhan lembut sang putri ditangannya membuyarkan lamunan Netta "Kenapa bunda dari tadi lihat kesana? Apa diantara orang-orang itu ada yang bunda kenal?"
Tersadar Netta pun mengalihkan pandangannya pada sang putri yang kini tengah menatap lekat wajahnya "Ah maaf sayang, tidak ada siapapun disana bunda juga tidak kenal dengan orang-orang itu!"
"Bunda, Ara bolehkan ke tempat papa? Ara mau keliling reesort ditemani papa!" Ara menatap sang bunda dengan penuh harap, tangannya menarik-narik ujung baju yang dikenakan Netta.
"Sebentar sayang, bunda hubungi papa dulu. Ara kan sudah janji ga akan ganggu papa!" Netta tidak ingin mengganggu Willy yang sedang melakukan meeting penting bersama kliennya, karena jika menyangkut keinginan Ara sepenting apa pun urusannya Willy akan rela menundanya dan Netta tidak ingin hal itu sampai terjadi lagi.
Netta pun menghubungi no Willy, dan untung saja meeting sudah selesai beberapa saat yang lalu hingga ia bisa membawa sang putri kesana "Ayo, papa sudah selesai meetingnya!"
__ADS_1
"Horeee....!" Ara bersorak ria, kaki kecilnya melangkah begitu ceria.
Sementara itu masih ditempat yang sama, Daniel terlihat begitu gelisah sejak tadi jantungnya berdebar dan detakannya terasa dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Niel, are you oke?" Adrian menelisik raut wajah sababatnya yang terlihat seperti sedang tidak baik-baik saja.
"Aku?" Daniel menujuk wajahnya sendiri, entah kenapa rasanya pikirannya terasa mendadak blank.
"Ya kamu, tidak mungkin kan Niel yang ku maksud kudanil, lagipula disini mana ada kudanil" Jawab Adrian dengan terkekeh, namun Daniel sama sekali tak menaggapi candaan sahabatnya, ekspresi wajahnya masih terlihat datar dan gelisah.
"Niel?" Adrian menggoyangkan tangannya tepat diwajah Daniel, takut sekali ia jika sahabatnya kesurupan makhluk halus penghuni reesort ini.
"Aiisss, diamlah!" Daniel mengkis tangan Adrian yang kini tengah bergoyang-goyang dengan manja didepan wajahnya.
"Sialan kau!" Daniel berdiri dari tempatnya, entahlah ia mau kemana tapi nalurinya seolah menyuruh untuk menggerakan tubuhnya kesuatu tempat.
"Hei mau kemana?" Adrian berteriak namun tak Daniel hiraukan sedikitpun, dia memilih terus melangakahkan kakinya beranjak dari sana. Daniel tidak terlalu menyukai keramaian, sejak kandasnya hubungannya dengan sang kekasih sejak saat itulah kehidupannya berubah berbanding terbalik dengan kehidupannya yang dulu.
Daniel terus mengayunkan langkahnya menyusuri bibir pantai yang terlihat sejuk dan damai, langit sudah mulai berubah warna melukiskan pesona maha karya tuhan yang tidak ternilai keindahannya, Daniel menikmati setiap sentuhan angin laut yang menerpa kulit wajahnya.
Sejenak pandangan matanya teralihkan dari indahnya panorama alam pada sepasang ayah dan anak yang tengah berlarian diatas hampran pasir putih, awalnya terlihat biasa saja tidak ada yang aneh dengan ayah dan anak tersebut namun semakin lama memperhatikan mereka Daniel mulai menyadari sesuatu.
Gadis kecil itu? Tidak salah lagi, itu gadis kecil yang kerap kali hadir dalam mimpinya. Rambut panjangnya, senyum manisnya, lesung pipinya, dan suaranya benar-benar sama persis. Dan ini, kenapa Daniel merasa hatinya berdesir menatap gadis kecil itu, perasaan ini? Kenapa Daniel merasakan perasaan yang aneh, kenapa matanya seolah enggan lepas dari gadis kecil tersebut.
__ADS_1
Tanpa sadar, kakinya melangkah memdekat kearah gadis kecil itu yang masih berlarian kesana kemari. Semakin dekat langkah kakinya semakin cepat pula detak jatunganya, bersamaan dengan itu gadis kecil itu berlari kearahnya menghindari kejaran sang papa.
Namun karena tidak hati-hati, gadis kecil itu tanpa sengaja menginjak pecahan cangkang kerang yang lumayan tajam hingga menggores telapak kakinya.
"Hiks... Papa" Ara menangis memegangi telapak kakinya yang berdarah.
Seolah ada magnet yang menariknya, Daniel semakin mempercepat langahnya saat melihat gadis kecil itu terluka. Entah kenapa dia merasa begitu khawatir dan takut secara bersamaan, bahkan Daniel sendiri merasa bingung, untuk alasan apa sampai dia bisa sekhawatir ini pada seseorang yang baru pertama kali ia temui.
"Hai nak, are you oke?" Daniel menyentuh kaki mungil milik Ara, terlihat darah segar mengalir dari telapak kakinya.
"Sakit, hiks" Ara semakin terisak, suaranya terdengar lirih.
Saat Daniel akan menggendongnya seseorang datang dengan nafas terengah-engah "Queen" Secara refleks Willy mengakis tangan Daniel yang hendak meraih tubuh Ara yang mana membuat Daniel termundur, Willy belum menyadari saat ini Ara sedang terluka, kekhawatiran masih mendominasi perasaannya.
"Papa..." Ara mendongak, tangisnya pecah begitu melihat sang papa ada dihadapannya.
"Hei, kenapa menangis?" Willy segera meraih tibuh Ara dalam gendongannya mata tajamnya menatap Daniel dengan geram "Apa yang anda lakukan pada putri saya?" Willy berpikir Daniel lah penyebab Ara menangis, dia masih belum menyadari adanya darah dikaki Ara.
"Maaf tuan, saya hanya ingin menolongnya. Tidak ada niat jahat sedikitpun, tadi saya melihat telapak kaki putri anda reluka kenginjak serpihan kerang" Pebawaan Daniel begitu tenang, meski pria dihadapannya berbicara dengan nada tinggi tak serta merta membuat dia ikut tersulut emosi.
"Terluka?" Willy memeriksa telapak kaki Ara, dan benar saja disana terdapat luka. Tanpa mengatakan apapun lagi, dia meninggalkan tempat itu. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah kembali ke reesort secepatnya untuk mengobati luka dikaki Ara.
Daniel menatap gadis kecil tersebut yang semakin menjauh dalam gendongan papanya, tiba-tiba saja dadanya terasa sesak dan sakit. Daniel seperti baru saja melepaskan seseorang yang begitu berharga dalam hidupnya. Lagi, perasaan aneh ini muncul kembali.
__ADS_1