Setelah Satu Malam

Setelah Satu Malam
PART 5


__ADS_3

"Tuan, diluar ada seorang pria yang ingin bertemu dengan anda. Katanya dia teman semasa kuliah anda" Ucap seorang wanita yang berprofesi sebagai seorang sekertaris.


"Hm, suruh dia masuk!" Sahut Daniel tanpa mengalihkan aktifitas tangannya dari sebuah laptop.


"Baik tuan"


Sekertaris itu keluar, tak berselang lama seorang pria seusia dengannya muncul dari balik pintu "Hay, semakin sibuk aja sekarang"


Daniel memghentikan aktifitasnya pada laptop begitu mendengar suara yang sangat familiar baginya "Ada angin apa yang membawamu kemari?"


Pria itu duduk disebuah kursi yang berhadapan dengan Daniel "Tidak ada, aku hanya sedang merindukanmu saja. Sudah lama kita tidak bertemu, kalau tidak salah sudah hampir tujuh tahun"


"Itu karena kau tidak pernah pulang, aku kira kau sudah melupakan tanah kelahiranmu sendiri"


"Bagaimana mungkin, tentu saja aku tidak akan pernah melupakannya. Kau juga tau alasannya kenapa aku memilih tinggal disana?" Ya sedikit banyaknya Daniel memang tau tentang kehidupan sahabatnya yang bernama Adrian, kehidupannya memang sedikit rumit karena keinginannya yang bertentangan dengan sang ayah, ayahnya yang seorang pengusaha menentang cita-citanya yang ingin menjadi sorang aktor dan model papan atas. Tak ingin dikekang, akhirnya Adrian memilih merintis karirnya dari Nol dinegeri orang dan terbukti selama hampir tujuh tahun merintis karir disana kini dirinya menjadi aktor dan model yang cukup terkenal bukan hanya dinegara ditempatnya berpijak tapi dihampir beberapa negara.


"Ya aku tau, dan sekarang cita-citamu sudah terlaksana. Menjadi aktor dan model yang begitu digilai oleh para wanita, bukankah kau paling suka dikerumuni wanita-wanita sexy" Daniel terkekeh, tapi tidak dengan Adrian. Pria itu terlihat kesal.


"Sialan, tidak seperti itu juga!" Adrian melempar bolpoint yang ada dihadapannya kearah Daniel, namun tak tepat sasaran "Oh ya, aku hampir lupa. Kedatanganku kesini untuk memberi tau mu, weekend nanti kita satu angkatan dulu mau mengadakan party diBali dan aku harap kau ikut, dijamin acaranya seru"


Daniel mencoba berpikir tak langsung mengiyakan ajakan sahabatnya, yang mana membuat Adrian jengah karena seprti biasa sangat sulit mengajak sahabatnya ini "Ayolah, jangan kelamaan mikir! Keburu tua nanti"


"Berapa lama kita nanti disana?" Jawab Daniel pada akhirnya.


"Tidak lama, mungkin sekitar satu minggu"

__ADS_1


"Baiklah, akan aku usahakan tapi aku tidak janji!"


.


.


.


Tak terasa hari yang direncanakan pun tiba, disebuah bandara nasional Adrian tengah mundar-mandir tak jelas layaknya sebuah setrikaan sambil menghubungi seseorang "Ayo dong angkat!" Sudah hampir lima belas kali dirinya menghubungi Daniel namun tidak juga diangkat, sementara sebentar lagi pesawat akan lepas landas.


Hingga yang kesekian kalinya akhirnya diangkat juga "Hey, dimana kau? Kenapa dari tadi susah sekali dihubungi?" Adrian sedikit berteriak, yang mana membuat orang-orang disekitarnya menatap kearahnya.


"Dibelakangmu!" Adrian menoleh kebelakang, dan benar saja Daniel ada disana.


"Aiisss, aku kira kau tidak akan ikut" Merekapun langsung menuju pesawat karena sebentar lagi pesawat akan take off.


"Yakin ini tempatnya?" Daniel menatap bangunan mewah yang terletak dibibir pantai, tempatnya terlihat begitu nyaman dengan suguhan pemandangan pantai Bali yang begitu memanjakan mata.


"Sebentar, aku hubungi Rio dulu!" Adrian menghubungi salah satu temannya yang merupakan pengurus dari acara reuni tersebut "Ayo, Rio bilang mereka sudah didalam!" Setelah memastika merekapun masuk ke reesort tersebut.


Benar saja didalam sana sudah banyak teman satu angkatannya yang tengah berkumpul, mereka rela datang jauh-jauh demi bisa kembali bersua, seperti Adrian yang rela datang dari Paris demi bisa menghadiri acara ini.


Sementara Adrian ikut bergabung dengan yang lainnya, Daniel lebih memilih menuju kamarnya untuk beristrahat. Perjalanan Jakarta Bali terasa begitu melelahkan untuknya, sebenarnya Daniel juga enggan untuk ikut acara seperti ini namun dia tidak ingin mengecewakan sahabatnya yang sudah rela datang jauh-jauh hingga akhirnya Daniel memilih ikut meski tidak yakin bisa menikamati atau tidak selama acara berlangsung.


Entah karena lelah atau apa Daniel terlelap dengan mudahnya, padahal selama ini dirinya sangat sulit untuk bisa tertidur bahkan kadang dirinya harus menggunakan pil tidur untuk bisa tertidur.

__ADS_1


"Ayah, aku disini. Ayo cari aku!" Seorang gadis kecil tengah berlari, bersembunyi balik pohon satu ke pohon satu yang lain.


Daniel berlari mengejar gadis kecil tersebut namun langkahnya yang lincah membuatnya kesulitan untuk menggapainya.


"Ayah, aku disini!" Gadis itu tersenyum manis dengan merentangkan kedua tangannya.


Daniel menoleh, matanya menatap lekat wajah yang kini tengah tersenyum manis padanya. Senyum yang terlihat begitu manis dengan lesung pipi yang sama persis seperti yang ia miliki, gadis itu terus merentangkan tangannya sementara Daniel hanya diam membeku ditempatnya. Hingga perlahan gadis kecil itu mendekat dan menghamburkan diri memeluk tubuhnya, semakin lama gadis itu semakin mengeratkan melukannya. Hingga kemudian......


Daniel terbangun dengan nafas terengah-engah. Mimpi ini? Mimpi yang kerap kali datang menganggu tidurnya, hampir setiap malam Daniel memimpikan gadis kecil tersebut.


"Kenapa aku selalu memimpikan hal yang sama setiap malam, dan gadis kecil itu siapa?" Daniel mengusap wajahnya dengan gusar, awalnya Daniel hanya menganggap ini hanya sebagai bunga tidur namun semakin lama mimpi itu semakin terasa aneh. Bagaimana mungkin mimpi yang sama bisa datang secara berulang kali padanya?


Tak ingin larut dengan kegundahan Daniel pun memilih untuk membersihkan tubuhnya, mungkin setelah tubuhnya tersiram sejuknya air, pikirannya pun akan ikut menyejuk.


Sementara itu ditempat yang berbeda. Willy, Netta dan Ara sedang menikmati makan malam mereka. Disini Willy tidak memberikan batasan apapun terhadap Netta, mereka layaknya keluarga bahakn Willy enggan disebut tuan oleh Netta. Bagi Willy, Netta dan Ara sudah melebihi keluarga apalagi pria itu tidak memiliki siapapun disini. Keluarganya tinggal ditanah kelahirannya Australia, disini Willy mengikuti mendiang istrinya yang asli orang pribumi sekaligus meneruskan usaha yang sudah lama ia kelola dengan sang istri.


"Papa, pulang sekolah besok Ara boleh ya main ke reesort?" Tanya si kecil dengan mulut penuh dimulut, pipinya yang kecil kini terlihat mengembung layaknya ikan buntal.


"Telan dulu makanannya sayang!" Jawab Willy dengan sangat lembut.


"Ya Ara, jangan bicara dengan mulut penuh begitu. Nanti tersedak!" Sahut Netta menasehati sang putri.


Ara menelan makanannya, matanya metnatap penuh harap pada pria yang ia sebut sebagai papa "Boleh ya pa, Pleease!"


"Boleh, apa pun untuk Queen"

__ADS_1


"Horree..." Ara bersorak riang "Terima kasih pa, Ara sayang papa"


"Me to Queennya papa"


__ADS_2