
"Sayang, jangan lari-lari nanti jatuh!" Seorang wanita cantik dengan penampilan anggunnya tengah berusaha mengejar putri kecilnya yang sejak tadi terus berlarian kesana kemari, dan benar saja baru saja diperingati gadis kecil berusia hampir enam tahun itu tersandung batu kecil hingga dirinya jatuh tersungkur mencium tanah.
"Hiks... Bunda" Tangis gadis kecil itu pecah karena kini lututnya terluka.
Dengan gemas wanita cantik itu menggendong sang putri dan membawanya masuk kedalam rumah "Kan jatuh! Sudah bunda bilangin jangan lari-larian"
"Sorry bunda"
"Bunda maafin tapi berhenti nangis!" Dan saat itu juga tangisnya terhenti, Netta yang gemas menghujani wajah putrinya dengan ciuman bertubi-tubi di wajah sang putri.
Ya wanita cantik itu adalah Netta, dan putri kecilnya yang bernama Queenara Danetta yang kini sudah menginjak usia enam tahun. Netta bersyukur putrinya tumbuh menjadi gadis kecil yang aktip dan ceria, serta tidak kekurangan apapun baik itu dari segi kasih sayang maupun materi.
"Duduk dulu, bunda mau ambil obat" Netta mendudukan tubuh sang putri disofa yang ada diruang tengah dan gadis kecil itu hanya mengangguk, setelah beberapa saat Netta kembali dengan membawa kotak obat ditangannya lalu kemudian mulai mengobati luka dilutut sang putri.
"Perih bunda" Gadis kecil itu merengek manja, benar-beanr terlihat menggemaskan.
"Perihkan! Makanya jangan nakal, bunda bilangin gak mau denger jadinya sakit kan?"
"Ara kan sudah minta maaf bunda" Gadis kecil itu menundukan kepala dan sudah mulai terisak, terbiasa dimanja membuatnya tidak tahan hanya dengan sedikit omelan saja.
__ADS_1
Netta menghela nafas panjang, selalu saja seperti ini "It's oke, lain kali hati-hati ya! Bunda bukannya marahin kamu, bunda begini karena bunda sayang sama Ara, bunda gak mau Ara terluka. Sudah jangan sedih lagi!"
Gadis kecil itu menghambur kedalam pelukan sang bunda, disaat ibu dan anak itu tengah berpelukan seseorang datang dengan membawa sebuah paperbag besar ditangannya.
"Kalian tidak menajakku?" Ucap orang tersebut, yang tak lain adalah seorang pria tampan yang terlihat gagah dan berwibawa dengan stelan pormalnya.
Netta dan sang putri menoleh kearah sumber suara "Papa..." Ara melepas pelukan dan langsung berlari kearah pria yang ia sebut dengan papa, sedangakan Netta hanya diam sambil mengulas senyum.
Heepp, hanya dengan satu gerakan pria itu membawa tubuh mungil Ara dalam gendongannya "Queennya papa, lihat papa bawa sesuatu untukmu!" Pria itu memperlihatkan paper bag berukuran besar yang kini ada ditangannya.
"Wuaaahhh, besar sekali. Isinya apa pa?" Gadis kecil itu terlihat antusias menatap bapar bag tersebut.
"Wuaaahhh..." Seketika matanya berbinar saat melihat sebuah boneka beruang berwarna pink dengan ukuran cukup besar, ini bukan boneka pertamanya hampir setiap pulang kerja pria itu membawa sesuatu untuknya, namun tetap saja ekspresinya selalu sama dan hal itulah yang selalu membuat pria itu bahagia "Lucu sekali, Ara suka. Terima kasih pa, Ara sayang papa" Aahh rasanya hatinya mau meleleh, hal yang paling ia sukai adalah saat Ara mengatakan sayang padanya apalagi dengan ekspresi wajah imutnya benar-benar sangat menggemaskan.
"Sama-sama apapun untuk Queen"
"Ara pa, bukan Queen!" Protes gadis kecil tersebut dengan bibir mengerucut, entah kenapa selalu menolak jika dipanggil seperti itu, padahal jelas-jelas itu adalah namanya namun ia lebih suka dipanggil Ara.
"No, papa lebih suka memanggilmu Queen. Lihat! Kau bahkan lebih cantik dari ratu"
__ADS_1
"Terserah, ayo Bear kita bermain dikamar saja. Jangan dekat papa, dia sangat menyebalkan!" Seru Ara dengan tatapan sinisnya, namun sialnya terlihat menggemaskan "Papa, aku dan Bear mau ke kamar dulu" Ara pun berlalu menuju kamarnya membawa boneka beruang barunya.
"Aiiiisss anak itu, kenapa bisa semenggemaskan itu?" Pria itu terkekeh lucu dengan tingakah Ara, meski sedang kesal padanya tetap saja berpamitan.
"Kau terlalu memanjakannya" Netta berjalan mengahpiri pria tersebut, seperti biasa ia melepaskan jas yang menempel pada tubuh pria itu.
"Kenapa tidak, selagi aku mampu apapun akan aku lakukan untuknya" Ucap pria itu dengan tegas "Tolong jangan melarangku untuk membahagiakannya, aku sangat menyanyanginya, walaupun dia bukan putri kandungku" Kini suara itu terdengar begitu lirih, sungguh bukan seperti itu maksud Netta, ia hanya tidak ingin putrinya tumbuh menjadi gadis manja yang semua keinginnya harus terpenuhi.
"Bukan itu maksudku, a-aku...." Netta tak mampu lagi melanjutkan ucapannya, suaranya seakan tercekat ditenggorokan, apalagi saat netranya menatap sosok pria dihadapannya yang begitu baik terhadapnya "Maaf" Akhirnya hanya kata itulah yang keluar dari bibirnya.
"Hm, aku mau membersihkan diri. Tolong siapkan semua keperluanku!" Pria itu berjalan menaiki tangga menuju kamar yang ada dilantai atas, disusul oleh Netta dibelakangnya.
Sesuai permintaan Netta menyiapkan semua keperluan pria tersebut, mulai dari air hangat dan pakaian yang akan pria itu kenakan seusai membersihkan tubuhnya.
Didalam sana pria itu sedang membersihkan diri, dia adalah pria bernama Willy Andreas. Pria yang beberapa tahun silam tanpa sengaja menabrak Netta, saat itu dirinya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja setelah istri tercintanya meninggal pasca melahirkan dan yang lebih menyakitkan putrinya juga tidak dapat diselamatkan. Dalam satu hari dia kehilangan istri yang begitu ia cintai dan buah hati yang sudah sekian tahun mereka nanti kehadirannya, saat itu Willy begitu frustasi dengan hidupnya bahkan rasanya ia ingin mati saja menyusul istri dan putrinya.
Pada awalnya Willy begitu terkejut saat dokter memberi tau jika gadis yang ia tabrak dalam keadaan hamil, karena merasa kasihan Willy membawa Netta kerumahnya saat tau gadis itu baru datang ke kota ini dan belum punya tempat tinggal. Dan pada akhirnya pertemuan tidak sengajanya dengan Netta membawa perubahan begitu besar untuknya, jiwanya yang dulu terasa mati perlahan hidup kembali, Netta seolah menempati ruang kosong dalam hidupnya.
Hingga akhirnya hidupnya tak sesunyi dan sesepi dulu, apalagi setelah Netta melahirkan. Kehadiran sosok bayi perempuan mungil telah mampu mengobati kerinduannya pada buah hati tercinta bersama sang istri, sejak saat itu Willy memposisikan dirinya sebagai ayah dari putri Netta. Awalnya Netta menolak karena bagaimanapun dia bukan siapa-siapa disini, dia sadar dia hanya orang asing yang dipekerjakan Willy dirumahnya sebagai orang yang mengurus segala keperluan dan kebutuhannya tapi meski begitu Willy memperlakukannya dengan sangat baik. Bahkan mungkin bagi orang yang tidak mengetahuinya akan menganggap mereka sebagai pasangan keluarga bahagia.
__ADS_1