
Seorang gadis kecil berjongkok, tangan kecilnya sibuk membelai bunga bunga dibawah kakinya
“zeya!, ternyata kau disini abang sangat mencemaskanmu, abang kira kau menghilang” Lelaki yang lebih tua dari gadis itu ter engah engah
“ayo kita cepat Kembali, ayah dan ibu sudah menunggu dimobil” Genggaman tangannya tertarik, gadis itu tak bergerak maju sedikitpun “tidak mau, mereka pasti sedang bertengkar lagi”
Lelaki tadi berjongkok menyamakan tingginya dengan gadis itu “tidak, sekarang mereka sudah baikan, ayo kita Kembali ayah khawatir” Gadis itu tidak berekspresi apapun ia hanya menurut
Mereka berdua memasuki mobil di kursi belakang, suara ribut di kursi depan pun terdengar “abang bohong” Lelaki itu membawa zeya kedalam dekapannya dan memasangkan headphone miliknya “maaf,sekarang zeya tidur saja ya”
Zeya menutup matanya, sebelum terlelap ia merasakan mesin mobil menyala dan mobil mulai berjalan.
“zeya tidur arka?” tanya pria paruh baya di kursi depan
“iya yah, zeya ketiduran”
“lucu sekali kau bertanya seolah kau sayang dengan dengan anak perempuanmu itu” seorang Wanita paruh baya tersenyum remeh
Pria itu menatap Wanita tadi jengah “riana berhentilah memulai pertengkaran”
Riana menatap pria itu tidak percaya “ aku yang memulai pertengkaran?, itu kau devon, kau yang membuat alasan kenapa kita selalu bertengkar”
Devon mengusap wajahnya gusar “ ya oke aku yang salah jadi berhentilah, kita selalu bertengkar didepan anak anak, tidakkah kau merasa malu?”
Riana membuang muka “bagamana bisa kau lebih memilih ****** itu daripada aku” gumannya
Devon mendengarnya tapi ia hanya diam mengabaikan
Riana menggeram kesal lalu melepas seatbeltnya “hentikan mobilnya aku ingin turun”
“kau gila riana! Ini jalan tol, jangan meminta hal hal aneh, duduk diam saja dan turunlah saat kita sudah sampai” devon menekan tombol untuk mengunci semua pintu untuk berjaga jaga
“ya aku memang sudah gila!” pekik riana, tangannya menggapai tombol yang ditekan oleh devon, ia membuka pintu di sebelahnya dan bersiap melompat turun
“riana kau gila! Jangan melompat itu bahaya” devon mengurangi kecepatan mobilnya namun dia tidak tau dari belakng ada sebuah truk yang sedang melaju kencang
suara klakson truk terdengar nyaringdan panjang, truk itu berusaha menghindari mobil devon namun tak bisa menghindari sepenuhnya, truk itu menabrak pintu mobil yang terbuka itu dan membuat mobil devon berputar lalu
menabrak pembatas jalan, truk itu juga menabrak pembatas jalan sebelahnya
Devon membuka matanya susah, kepalanya terbentur sehingga berdarah, ia menoleh kesamping riana tidak ada dan pintu mobil itu pun sudah tidak ada ditempatnya
Ia melepas seatbelt nya lalu menengok kebelakang, Arka pingsan dan kepalanya berdarah, didekapan arka ada zeya yang juga pingsan, punggungnya berdarah banyak sekali
Devon dengan cepat keluar dari mobilnya lalu membuka pintu belakang, ia menyingkirkan headphone yang sudah terbelah dua diantara anaknya lalu menggendong kedua anaknya keluar dari mobil karena ia sudah mencium aroma bensin bocor dari mobilnya, ia membawa kedua anaknya menjauh dari mobil merebahkan anaknya lalu ia merobek tangan bajunya, diikatnya kepala arka yang masih berdarah juga memasukkan kain kedalam luka terbuka di punggung zeya, syukurlah kepala zeya tidak terluka mungkin karena arka melindunginya
Orang orang bedatangan diantaranya membantu supir truk dan beberapa orang menggerumbungi sesuatu, devon segera berlari kearah orang orang itu dan benar saja yang digerumbungi orang orang itu adalah riana yang darahnya sudah banyak sekali ditengah jalan
Devon membawa riana kedalam dekapannya, air matanya jatuh, mulutnya menggumankan kata
bangun berkali kali
Dari kejauhan terdengar suara ambulan datang, Mata zeya
perlahan terbuka, kepalanya pusing, ia mendengar banyak sekali keributan, matanya membulat dan pupilnya mengecil melihat pemandangan di depannya, ayahnya menangis mendekap ibunya yang tidak berdaya dengan darah dimana mana
Tubuh zeya bergetar lalu sebuah tangan membawa zeya masuk kedalam pelukan seseoran, arka memeluk zeya erat tidak membiarkan adiknya melihat pemandangan itu
Isakan menyakitkan terdengar dari zeya, arka lebih mengeratkan pelukannya dan air matanya meluncur begitu saja.
KRINKKK!!
__ADS_1
Bunyi alarm yang nyaring membangunkan zeya dari tidurnya dan mimpinya terputus begitu saja, ia mematikan alarm itu lalu berjalan menuju kamar mandi
Ia melihat dirinya sendiri dicermin, kelopak matanya hitam seperti tidak tidur selama berhari hari, rambut hitam bergaya hime nya terlihat berantakan
ia menghapus air mata di ekor matanya "mimpi apa itu? terasa sangat nyata dan menyakitkan"
Ia melihat jam di ponselnya dan menyadari dia sudah terlambat untuk hari terakhir ospek, Ia bergegas mandi dan Bersiap, mengeluarkan motor ninja kuningnya lalu mengebut menuju kampus.
Setelah memarkirkan motornya zeya berjalan dengan tenang menuju barisan dengan lambang jurusan yang sama dengannya
Ia berdiri dibelakang seorang laki laki yang lebih tinggi darinya, lelaki yang menyadari ada seseorang yang lebih pendek di belakangnnya berbalik untuk memintanya maju kedepan
“eh kamu kedep-“ ia tertegun Dipandangannya saat ini adalah seorang gadis berambut hitam Panjang dengan wajah datar namun matanya tajam dan indah, tubuh gadis itu bisa dikatakan gemuk namun jari jarinya lentik, Jujur saja dia tidaklah cantik tapi juga tidak jelek dipandang tapi matanya lah yang mempu mengalihkan semua kekurangannya
Lelaki itu Kembali tersadar saat melihat wajah datar gadis itu, ia membaca nametag zeya “zeya kamu maju kedepan, aku lebih tinggi jadi dibelakang” zeya tak merespon dan hanya maju ke depan lelaki itu, sekilas ia melihat nametag laki laki itu disana tertulis nama naoki, jepang? Pikirnya.
Zeya focus mendengarkan apa yang dikatakan panitia dan ketua bem sedangkan nao malah focus dengan gadis didepanya.
Seluruh wejangan dari bem sudah selesai dan seluruh mahasiswa baru diminta membuat kelompok 6 orang sesuai jurusannya masing masing, zeya yang tidak pandai bergaul hanya berdiri di pojokan melihat orang orang yang sibuk mencari kelompoknya
Nao ingin menghampiri zeya untuk membuat kelompok denganya tapi salah satu sahabat nao malah menariknya masuk kekelompoknya
“ikut kelompok gue bro, masih kurang” ia menarik nao ke tempat teman kelompoknya berada
“dewa gak mau gue, gue mau sekelompok sama zeya” nao menahan tarikan dewa
“hah siapa zeya?” nao menunjuk kearah gadis gemuk dengan wajah datar berdiri sendirian
“cewek gendut itu?, yakali seleralu kayak begitu?” dewa menertawakan nao lalu mendapat jitakan keras darinya “diam lo!, pokoknya gue mau sekelompok sama dia”
Dewa meringis sambil mengelus kepalanya sakit “iya iya deh, bawa tu cewe juga kekelompok gue”
“kalo buat sahabat gue ini apasih yang enggak” Nao tersenyum senang lalu menghampiri zeya dan menariknya masuk kekelompok dewa, zeya pun hanya iya iya saja
tapi Zeya bukan orang bodoh, dia tau beberapa orang dalam kelompok itu menatapnya tidak suka, dia tak menghiraukan hal itu lalu melihat kesamping ada nao yang sedang menatapnya sambil tersenyum, imut menurut zeya
Zeya sedikit mendekat pada nao lalu menaruh tangannya dipundak nao, nao pun menekuk lututnya
dan memendekkan dirinya sedikit sehingga zeya menggapai telinganya “makasih, nao” bisiknya lalu Kembali ketempat semula, sedangkan nao membeku
Dewa datang menghampiri nao yang masih membeku ia menangkup badan nao lalu menegakkannya
“aku tau kau merasakan berat di pundakmu tapi aku tidak tau sendimu sudah kaku hingga tak bisa kembali tegak “ dewa menggeleng prihatin
Nao memberikan tatapan tidak suka pada dewa, dia mendengus dan menggeram selayaknya
anjing yang siap menangkap mangsanya, dewa melangkah kebelakang lalu berlari kencang karena dikejar oleh nao
dan berakhir kelompok kami dihukum karena sangat ribut
nao, zeya, dan dewa dihukum memungut daun dan sampah sampah di taman belakang fakultasnya, mereka masing masing mendapat karung dan sarung tangan dan mulai memasangnya
zeya mengapit karung diantara kedua kakinya dan sarung tangan dimulutnya, sedangkan tangannya sedang sibuk menata rambutnya untuk diikat ponytail, setelah selesaiia menarik tangan bajunya keatas dan memasang sarung tangan hitam itu
sungguh nao sejak tadi tidak bisa melepaskan pandangannya dari zeya, dan zeya yang merasa sejak tadi merasa dipandangi pun menoleh
wajah nao memerah, ia langsung berbalik badan untuk menyembunyikannya, dan zeya bukan orang bodoh, dia sadar dengan hal itu, ujung bibirnya seolah tertarik melihat nao yang begitu menggemaskan
sedangkan dewa melongo melihat nao, dia juga mengerti dan tak habis pikir dengan type sahabatnya itu
mereka bertiga memungut sampah sampah dengan keheningan, tidak ada satupun yang berbicara, dewa dan nao sedikit merasa canggung sedangkan zeya sudah biasa dengan keheningan
__ADS_1
“apa kalian sudah selesai?” dua kakak osis laki laki dan perempuan menghampiri kami dan memecah keheningan tadi “karungnya taruh disana aja, setelah itu cepat ke lapangan, orang orang akan berfoto Bersama”
masing masing meletakkan karung ditempatnya lalu menuju wastafel terbuka untuk mencuci tangan dengan bergantian, orang terakhir yang mencuci tangan adalah nao, ia berbalik menuju dewa dan zeya dengan senang karena tanganya sudah bersih sekarang namun bukan nao namanya kalu tidak ceroboh, ia dengan sengaja menginjak genangan air dilantai yang ternyata itu licin
tubuh nao oleng ke belakang seketika, dewa ingin menggapai nao tapi kalah cepat, zeya lebih dulu menahan tubuh nao dan tangannya melindungi kepala nao supaya tidak terbentur wastafel "gak papa?" entah kenapa terbesit rasa khawatir di hati zeya, rasa asing yang sedikit membuatnya tak nyaman
nao tersadar lalu menegakkan tubuhnya tapi kembali jatuh ke dekapan zeya karena lantai yang ia pijaki terasa licin, ia mengalungkan tangannya dileher zeya saat tiba-tiba tubuhnya terasa melayang karena zeya mengangkatnya dengan satu tangannya melilit di pinggang nao lalu meletakan kakinya di tanah berumput "di sini tidak licin"
nao meneguk ludah, ini zeya yang sangat kuat atau nao yang terlalu ringan.
setelahnya Mereka bertiga pergi ke lapangan dan ikut berbaris untuk befoto, banyak yang ingin berada di tengah sehingga zeya mengalah dan berdiri di ujung karena dia tak suka berdesakkan tapi sebuah tangan menariknya ke tengah, itu adalah nao, Dia membawa zeya kesampingnya di barisan tengah, zeya sebenarnya agak risih karena terlalu mencolok tapi yasudahlah ini hanya sebentar
Acara foto foto selesai dengan cepat dan seluruh mahasiswa dipersilahkan pulang, Zeya sudah
membereskan barangnya dan bersiap untuk pulang tapi nao didepannya ini malah sibuk menelpon sambil menggigit jari jarinya
Zeyamenghampiri nao lalu mengambil tangan nao dari mulutnya “kenapa?”
Nao menatap zeya dengan mata berkaca kaca “zeya telponnya gak diangkat, ini udah yang kesekian kalinya nao telpon ulang tetap gak diangkat, dewa udah pulang duluan, nao pulangnya gimana?” air matanya jatuh satu langsung diusap oleh zeya
Zeya terkekeh, bagaimana bisa laki laki yang tubuhnya lebih besar darinya ini seperti anak kecil, ia memasangkan helm nya di kepala nao “cengeng, ayo aku antar pulang” zeya membawa nao ke parkiran “naiklah” tanpa basabasi nao duduk dibelakang
“zeya gak pake helm?”
“helmnya Cuma 1, kepalaku lebih keras dari helm itu jadi aku tidak perlu, pegangan”
Nao memeluk perut gemuk zeya lalu bersender padanya, rasanya empuk sangat nyaman nao jadi mengantuk.
Tak lama diperjalanan dengan nao sebagai intruksi jalannya akhirnya mereka sampai disebuah rumah besar lagi mewah, nao turun dan memberikan helmnya tadi kepada zeya
“makasih ya zeya sudah mengantar sampai rumah”
“hm, masuklah” nao pun memasuki rumahnya sambil melambaikan tangan pada zeya.
“MAMA,PAPA!” teriak nao saat didalam rumah, kedua orang tuanya yang sedang bermesraan mendengar itu langsung bergegas turun
“nao kenapa teriak teriak nak” tanya ibunya, nao langsung saja melompat memeluk orang
tuanya
“makasih ma,pa karena gak angkat telpon nao” nao kegirangan, keduanya pun menepuk dahi menyadari apa yang mereka lakukan tapi entah kenapa anak semata wayangnya ini malah kegirangan
Nao melepas pelukannya “kalau begitu aku pergi mandi dulu ya ma,pa” ia berjalan menuju kamarnya sambil menari nari
Kedua orang tua Nao saling memandang heran namun tetap berakhir ketidakfahaman
******
Nao berlari dengan pakaian berantakan menuju meja makan dimana orang tuanya berada
“kok Nao gak dibangunin sih, ini sudah siang Nao pasti udah terlambat ke kampus”
“hah? Bukannya kamu libur seminggu, Kemarin ospek terakhir kamu kan? Berarti seminggu lagi baru kamu mulai kuliah”
Nao mengerjap bingung “iya ya!” lalu teringat “berarti seminggu lagi baru bisa ketemu Zeya, iih gak mau Nao udah kangen sekarang” rengeknya
“zeya?” tanya mamanya menatap sang papa “teman barunya mungkin” jawab papa seadanya “kalo kangen telpon aja, suruh ketemuan di café”
Nao mendongak merasa itu ide bagus tapi Kembali runtuh “ Nao lupa minta nomornya
huwaaaa”
__ADS_1