She`s Fat But Dominant

She`s Fat But Dominant
chapter 2 : semuanya rindu


__ADS_3

dering ponsel mengganggu nyenyaknya tidur gadis gembul nan suram, zeya berdecak sebal mimpi indahnya terputus seketika, dengan terpaksa ia mengambil ponselnya yang terus menerus berdering lalu menyapu ikon hijau di ponsel itu "halo" serunya malas dan matanya enggan terbuka


"zeya ke markas sekarang!" zeya menatap malas ponselnya, dari suaranya saja ia sudah tau siapa yang sedang menelponnya "gak, males" apa apaan dia ini menelpon tengah malam


orang di seberang sana tersentak "zeya gue mohon bantuin gue, tugas tugas lo susah banget gila, kenapa sih lo harus keluar? kami satu divisi informasi gabisa kalo tanpa lo zeya, gue mohon balik ke Black Ear "


zeya mendelik mendengar rengekan dari lelaki di seberang yang jelas lebih tua darinya, zeya menghela nafas Lelah “ramon lo dapat nomor gue darimana?”


“ya kan sekarang gue ketua divisi informasi, nyari nomor lo itu mudah bagi gue mah” sombong pria Bernama ramon di seberang


“nah tuh lo bisa tanpa gue, dah ya baik baik jadi ketua divisi” zeya menaikan kecerahan layer handphone nya supaya lebih mudah mencari tombol mematikan telepon


“zeya jangan tutup telponnya! ya nyari nomor lo emang mudah tapi enggak dengan nyari informasi musuh, mana gak boleh sampai ketahuan lagi, susah woy!”


Zeya sungguh jengaah dengan teriakan dan rengekan ramon ditelepon "gimana kabar pimpinan?" ia mengalihkan pembicaraan


rengekan pria itu terhenti "pimpinan baik, beliau kengen lo, lo kenapa gak pernah nelpon pimpinan padahal udah dikasih nomornya"


"kok lo tau gue belum pernah nelpon?"

__ADS_1


"pimpinan selalu nanyain sama kami soalnya, ini gue dapat nomor lo pun karena pimpinan yang nyuruh nyari, lo setelah bilang mau keluar dari  Black Ear  malah ngilang, gak pernah berkunjung ataupun ngasih kabar"


"sorry, gue lagi mau sendiri, bilang ke pimpinan kalo gue udah siap gua akan nelpon dan sesekali ke markas tapi bukan berarti gue akan kembali jadi ketua divisi informasi di Black Ear"


Ramon pasrah saat mendengar tegas bahwa zeya tidak mau Kembali jadi ketua divisi "iya tapi lo kan tau pimpinan udah anggap lo sebagai anak sendiri, beliau udah seperti kehilangan anak beneran tau, gak ada salahnya lo telpon


sekedar bilang kalo lo gak apa apa"


zeya termenung sebentar, menurutnya ada benarnya juga apa yang dikatakan pria didepannya ini “hm, besok pagi mungkin gue telpon, ini masih tengah malam lo ganggu banget” dengan cepat ia mematikan teleponn begitu saja tidak memperdulikan teriakan ramon di sana


zeya Kembali menarik selimutnya dan tidur hingga matahari terbit. Saat ini ia sedang sarapan sambil memandangin handphonnya dengan pandangan kosong, walaupun begitu pikirannya kini sedang berkelumut mencari kata yang pas untuk menelpon pimpinannya


orang awam suara itu terdengar dingin dan menakutkan tapi zeya sudah terbiasa


“selamat pagi pimpinan, ini zeya maaf mengganggu pagi-pagi” terdengar suara gedubrak kencang dari seberang sana membuat zeya heran “pimpinan anda baik baik saja?”


“zeya! Halo zeya?”


“iya pimpinan ini saya”

__ADS_1


Orang diseberang sana membuang nafas lega “zeya baik? Bagaimana kuliahmu? Apa apartement yang kau tempati nyaman? Zeya sudah makan, kau makan dengan teratur kan? Tidak lupa makan sayur kan? Apa kau-“


Zeya segera memotong sebelum itu akan bertambah Panjang “ pimpinan, saya baik baik saja, terima kasih atas apartement dan motor yang anda berikan kepada saya, saaya juga makan lebih banyak jadi andaa tidak perlu khawatir, maaf karena selama ini saya menghilang tidak memberi kabar”


Keduanya terdiam beberapa detik lalu suarah tawa kecil terdengar dari seberang “baguslah kalau zeya baik baik saja, tapi setidaknya zeya berkunjunglah sesekali kerumah, istriku naira sangat merindukanmu, aku juga”


“hm, zeya akan berkunjung saat sudah siap, sampaikan maaf zeya pada tante karena harus menunggu lagi”


“baiklah, aku akan tutup teleponnya, jaga Kesehatan ya zeya”


Sambungan telepon terputus, zeya memasukan Kembali handphonenya kedalam saku lalu menaruh piring kotornya ke wastafel dan keluar dari apartement nya, ia menuju basement untuk mengambil motornya dan melaju tanpa tau kemana tujuannya, zeya hanya inginn menenangkan pikirannya sejenak menikmati angin lalu berhenti di sebuah event terbuka yang cukup ramai


Ia membeli segelas kopi lalu duduk di bangku sambil memperhatikan seorang pria yang dikenalnya, pria itu Nampak kesusahan habis tertipu anak-anak hingga menjerumuskannya kedalam antrian hiburan rumah hantu


Ujung bibir zeya tertarik melihat pria itu gugup dan ketakutan saat giliranya mulai sampai, ia pun mendekat kesana dan berdiri di antrian terhalang satu orang dari pria itu, satu peratu orang memasuki rumah hantu dan langsung disambut suara nyaring yang menyeramkan, beberapa orang ada yang berlari dan ada yang memeluk pasangannya, sedangkan pria itu membeku, ia menutup wajahnya sendiri dengan telapak tangan dan tubuhnya bergetar


Zeya menghela nafas “dia benar-benar ketakutan” gumannya lalu menghampiri pria itu dan membawanya kedalam pelukan


Pria itu masih tak mau membuka matanya, ia meremas erat kemeja bagian belakang zeya, isakan demi isakan terdengar dan hidungnya sudah memerah, zeya sungguh gemas melihatnya “nao” panggilnya lembut

__ADS_1


Nao langsung saja membuka mata “z zeya” tangisnya pecah


__ADS_2