She`s Fat But Dominant

She`s Fat But Dominant
Chapter 5: cinta pertama


__ADS_3

Suara klakson motor terdengar nyaring dari  luar pagar sehingga satpam bergegas membuka pagar yang besar lagi berat itu, dan sang pemilik motor langsung menyelonong masuk begitu saja setelah merasa pintu pagar sudah cukup muat untuk motor besarnya, dari kejuhan ia melihat motor lain dari arah berlawanan “cewek? siapa itu?”


Ia langsung mengerem motornya mendadak setelah melihat sekilas wajah pengendara motor manita yang melesat melewatinya “Z- Zeya?”


Lelaki itu mengusap wajahnya pelan lalu menggeleng “gak gak mungkin Thaka, akhir-akhir ini gue selalu liat Zeya di semua cewe tapi yang ini gak mungkin dia, mana mungkin cewek gendut begitu adalah zeya” dia tertawa geli sebentar lalu Kembali melajukan motornya menuju garasi


Beberapa maid menyapanya saat memasuki rumah dan sang ibu juga menyambutnya “kenapa kau pulang telat sekali? Kau sudah makan malam?”


Thaka mengusap tekuknya sendiri “maaf mom, Thaka keasikan nongkrong bareng teman kampus, tapi aku udah makan malam kok, Dewa mana mom?”


“nah itu anak juga belum pulang, kamu cariin gih atau ditelpon dulu” Thaka mengeluarkan ponselnya dari kantong Bersiap untuk menelpon Dewa adiknya, namun belum sempat menekan tombol menelpon sang adik sudah memasuki rumah dengan lesu


“aku pulang” ucapnya tak bersemangat lalu langsung pergi kekamarnya melewati Naira dan Thaka begitu saja


Thaka dan Naira saling berpandangan lalu mengehela nafas, Dewa pasti bertengkar lagi dengan pacarnya, energinya pasti terkuras meladeni Wanita itu tapi entah kenapa Dewa tetap saja mempertahankan hubungan mereka, sungguh keras kepala


“oh ya Thaka tadi Zeya datang kerumah dan ikut makan malam Bersama kami, dia baru saja pulang tadi, apa kau berpapasan dengannya?”


Thaka mematung “hah! Beneran mom Zeya tadi datang kerumah?”


Naira mengangguk


“tunggu, dia baru saja pulang?”


Naira mengangguk lagi


“itu artinya cewek gendut tadi benar-benar Zeya!”


Naira menjitak kepala anaknya keras “apa maksudmu Zeya gendut? Bukannya lebih bagus badannya lebih berisi, itu artinya ia makan dengan baik”


Thaka cengcengesan sambil meringis memegang kepalanya yang sakit lalu ia bergegas keluar rumah, mungkin zeya masih belum jauh dan ia bisa menyusulnya, ia benar-benar merindukan teman masa kecil sekaligus cinta pertamanya itu


ia berlari dengan langkah yang besar dan cepat sampai keluar pagar besar rumahnya namun nihil, zeya sudah jauh dan tak bisa ia kejar, Thaka menyenderkan tubuhnya di dinding pagar, nafasnya ter engah-engah “aku sungguh merindukanmu Zeya” lirihnya

__ADS_1


Ia memukul salah satu pilar dengan kuat “seandainya aku pulang lebih awal, mungkin aku bisa makan malam bersamanya” sesalnya


__________________


Nao membawa laptopnya ke ruangan tempat biasanya ia dan keluarga berkumpul untuk menontonTV Bersama lalu duduk lesehan diatas karpet berbulu lembut berwarna pink yang kontras dengan kulit putihnya, ia sudah terbiasa memakai pakaian minim saat berada dirumah karena menurutnya itu lebih nyaman jadilah saat ini ia hanya memakai kaos crop longgar berwarna putih dan celana bahan putih setengah paha. Nao mengambil bantal sofa lalu di peluknya, tangan nya asik mengerayangi laptop didepannya


fokusnya pada laptop buyar saat orang tuanya datang dengan pakaian yang sudah rapi “mama sama papa mau kemana?”


Keduanya  duduk diatas sofa lalu sang papa mengusap pucuk kepala anaknya dengan lembut “Nao sedang apa?”


“ini lagi baca kontrak kuliah supaya nanti nao tau mau ambil mata kuliah apa aja, trus juga karna esok udah mulai kuliah banyak form yang harus diisi”


Keduanya mengangguk mengerti “mama sama papa ada kerjaan yang harus di handle di singapura, mungkin bakal memakan waktu satu minggu, Nao gak papa kan ditinggal sendirian? ada Dean dan banyak pelayan lain”


Nao cemberut “seminggu lama banget, nanti kalo malam ujan petir Nao peluk siapa?” inilah yang sejak semalam orang tuanya khawatirkan, Nao itu sangat takut dengan hujan petir dan biasanya ia akan pergi tidur di kamar orang tuanya untuk meminta pelukan


Dhirga dan Ayaka saling memandang, salah satu diantra mereka harus ada yang tinggal, tapi jika salah satu dari mereka tidak pergi juga akan sulit disana nantinya


Dhirga mengehela nafas “kalau begitu papa saja yang pergi sendiri, mama tinggal di rum-“


“benarkah  tidak apa apa Bersama teman-teman saja?”


Nao mengangguk kuat “ udah lama Nao gak ngumpul dan main sama teman-teman”


Kedua orang tuannya tersenyum “baiklah kalau begitu kami pergi ya, jaga diri baik-baik, kalau ada apa apa telpon” ujar sang mama lalu mengecup pipi nao sebelah kanan


“papa akan membawa banyak oleh-oleh untuk Nao” Dhirga mengecup pipi sebelah kiri Nao


Nao terkekeh lalu ikut mengantar papa, mamanya menuju mobil, mereka berpelukan sebentar lalu saling melambaikan tangan


Nao Kembali masuk kerumah lalu menyuruh salah satu pelayan untuk menyiapkan minuman dan beberapa cemilah untuk teman-temannya yang akan datang natinya karena ia telah memberitahukan di grup whatsaap mereka untuk datang kerumahnya


Ia Kembali fokus melihat laptopnya tapi ia terngingat sesuatu “BANG DEAN” panggilnya nyaring dan tak menunggu lama manusia satu itu datang “ya tuan muda”

__ADS_1


Nao berdehem kecil lalu memainkan jari-jarinya sendiri dan berujar malu “Nao boleh minta nomor Zeya gak bang?”


Dean mengerjap sebentar lalu Kembali sadar “ah iya tuan muda, saya akan kirimkan”


Handphone nao berbunyi menandakan ada pesan masuk lalu dengan sigap menerimanya “makasih bang Dean” ia sumringah dan langsung menyimpan nomor Zeya


Dean Kembali mengerjakan tugasnya dan Nao mulai menelpon seseorang “halo, ini siapa?” terdengar suara khas Zeya diseberang ditambah dengan suara angin yang deras menerpa, sepertinya Zeya sedang dijalan


“ini Nao, Zeya sedang dijalan mau kemana?


Zeya menepi, senyuman terpatri di wajah datarnya “dari tempat service mau ke warnet, laptopku rusak, banyak form yang harus di isi”


Nao mengangguk-angguk lucu seolah Zeya bisa melihatnya lalu sesuatu terpintas di pikirannya “gak usah ke warnet, Zeya boleh pinjam punya Nao”


“kamu juga perlu make laptopnya kan, aku ke warnet aja gak papa”


“gak papa, Nao punya dua, Zeya bisa pinjam yang satunya”


Zeya menimbang sebentar “oke, aku kerumahmu sekarang, kita ngisi bareng”


Wajah Nao memerah seketika “I I iyah N Nao tunggu dirumah” ia terbata dan langsung menutup teleponnya, entah kenapa ia merasa malu dan menyembunyikan wajah merahnya dengan bantal sofa


Zeya terkekeh pelan lalu melajukan motornya menuju rumah besar Nao, Zeya dengan mudah memasuki pagar rumah Nao dan menaruh motornya di tempat yang sama dengan banyak motor lain disana


Suara bel terdengar, Nao yang sedang asik main game sambil ngemil Bersama teman-temannya termasuk Dewa tiba-tiba dengan cepat berlari untuk membukakan pintu membuat teman-temannya terheran-heran


“Zeya, Sudah datang ayo masuk” ucapnya sambil terengah-engah karena berlari,lalu ia menggandeng tangan Zeya dan berjalan didepan, Zeya mengekorinya


Saat memasuki ruang tamu mereka disambut dengan pemandangan tiga lelaki yang saling memukul menggunakan bantal sofa “woy lo curang ya tadi harusnya gue yang menang” ucap pria berambut keriting sambil memukul lelaki berambut gondrong yang di ikat menjadi satu


“mana ada, lo kalo kalah ya kalah aja, emang gue lebih jago daripada lo” balasnya memprovokasi dan membalas pukulan dengan bantal yang lain


“lo berdua diem! Berisik, gue lagi coba baikan sama cewek gue ini!” ujar Dewa yang sejak tadi focus ke handphone nya terganggu dengan keributan mereka berakhir ikut ribut juga memukul keduanya menggunakan bantal

__ADS_1


Lelaki berambut keriting melempar bantal ditanganya dengan kuat kearah lelaki berambut gondrong namun meleset dan bantal itu malah mengarah menuju Nao, Nao dengan refleks menutup mata bersiap menerima lemparan bantal dari teman laknatnya itu, namun ia merasa bantal itu tak kunjung mengenai wajahnya dari tadi lalu membuka matanya


Nao sedikit kaget melihat bantal itu terdiam di depan wajahnya lalu menoleh kesamping yang mana ada tangan Zeya yang menahannya, Zeya melempar kembali bantal itu dan tepat mengenai wajah tampan lelaki berambut keriting itu hingga mendapatkan gelak tawa dari teman-temannya


__ADS_2