
Nao menaruh laptop miliknya dan laptop untuk dipakai oleh Zeya diatas meja ruang tamu dan mereka berdua duduk bersampingan "ini Zeya, laptopnya udah ke akses wifi rumah tinggal Zeya pakai"
"terimakasih Nao" jari-jari lentik zeya mulai mengerayangi laptop ditemani nao yang duduk manis disebelahnya, mereka membuka link form yang sama dan mengisinya sambil berbincang bicang kecil.
“halo mah?” lelaki tampan berambut gondong yang diikatnya menjadi satu itu mengangkat teleponnya yang sejak tadi berdering lalu berjalan keluar ruang keluarga rumah Nao supaya tidak terganggu dengan keributan didalam
“iya mah, Mada pulang mah” ia mengangguk-angguk sambil berkata iya kepada orang diseberang sana
“woy Mada! Jangan nelpon disana ntar lo ganggu dua sejoli yang lagi mesra tuu” lelaki berambut ikal berujar nyaring sampai yang disinggung pun mendengarnya
Wajah Nao memerah seketika lalu memberikan pelototan kepada temannya yang sedang terbahak
“Sen kayaknya kita harus pulang deh sekarang, mamah bilang bokap lo kerumah”
Seno langsung berdiri mendengar penuturan Mada “si botak tua itu ngapain sih datang kerumah segala, dahlah yok kita balik cepet, gue takut bajingan itu ngapa-ngapain mamah”
Nao dan Dewa menghampiri mereka berdua “gue ikut deh, takutnya bokap Seno bawa orang” usul Dewa
“gue juga ikut” Nao ikut cemas dan mengajukan diri untuk ikut juga namun yang lain menolak
“gak, lo gak boleh Nao, kami bertiga cukup kok” ujar Mada
“tapi 4 orang lebih bagus” kekeh Nao tapi dibalas gelengan dari mereka
“sorry ya kami gak bisa nginep jadinya, lo jangan ikut jangan nyusul juga, Zeya gue minta tolong jagain ni anak satu ya” Dewa menitipkan Nao kepada Zeya lalu mereka beranjak pergi
__ADS_1
Nao menatap pintu dengan cemas setelah teman-temannya pergi darisana
“Nao” panggil Zeya
Nao menoleh, matanya berkaca-kaca melihat Zeya disampingnya membuatnya ingin menangis, dan dengan kepekaan Zeya yang sangat tinggi ia memeluk Nao membiarkannya menangis didalam sana
Zeya membawa diri mereka duduk di sofa supaya Nao tidak penat jika terus-menerus berdiri, dia diam sambil mendengarkan isakan-isakan kecil Nao sampai ia berhenti
Nao mendongak dan Zeya mulai menyapu air mata yang membasahi seluruh wajah cantik milik Nao “Zeya maaf, Zeya pasti bingung, akan Nao jelaskan” ucapnya masih sedikit tersendat
“tidak perlu jika itu sulit”
Nao menggeleng lalu menegakkan badannya “Nao kenal dengan Dewa sudah sejak kecil sedangkan dengan Mada dan Seno sejak SMP, mereka berdua adalah teman sejak kecil juga. Seno itu piatu sejak kecil jadi ia sangat dekat dengan mamahnya Mada yang juga menganggapnya sebagai anak sendiri, awalnya keadaan baik baik saja sampai akhirnya ayah Mada meninggal dunia karena kecelakaan, dan mereka baru tahu ternyata ayah Seno yang seorang duda sudah sejak lama menyukai mamah Mada dan ia mengajak Mamah Mada untuk menikah….”
Nao menatap Zeya dengan pandangan yang sulit diartikan lalu kembali menunduk
Zeya mengusap pucuk kepala Nao lembut “pasti baik-baik saja” kata-kata menenangkan itu tiba-tiba keluar dari mulutnya, kalimat yang seumur hidup tidak pernah dipakainya akhirnya muncul untuk lelaki didepannya ini
Ponsel Nao berdering dan dengan cepat langsung di angkatnya “halo Dewa? Gimana, mamah baik-baik aja kan?” wajah cemasnya berubah menjadi lega setelah mendengar penuturan Dewa di seberang sana
“iyaa Dewa, makasih udah kasih tau gue kabar baiknya” Nao tersenyum kepada Zeya seolah menyampaikan bahwa disana benar-benar baik-baik saja
Karena merasa lega Nao menguap, rasa kantuk yang tertahan akhirnya terlepas, matanya sayu dan Zeya yang menyadari itu langsung menggendong Nao, Nao pasrah saja, ia benar-benar mengantuk
Zeya membaringkan tubuh Nao lalu menyelimutinya. Nao sudah terlelap meninggalkan Zeya yang saat ini menatap lekat wajahnya, Zeya mengusap pipi itu lembut lalu turun menyentuh bibir pinknya yang indah “kau akan jadi milikku Nao, ku pastikan itu” ia mengecup bibir itu singkat lalu pegi keluar kamar menuju balkon lantai dua dan duduk sebentar memandangi hujan yang kini turun dan mulai deras
__ADS_1
“apakah akan badai?” Ia mencari kotak rokok yang biasanya ada dikantongnya namun sekarang tak ada, entah sejak kapan ia berhenti merokok sampai ia lupa bahwa ia sudah tidak pernah membelinya lagi
Zeya terkekeh pelan “kau sungguh merubahku, kurasa tak mungkin jika itu melepaskanmu”
Ia Kembali dan menutup rapat pintu balkon yang bebahan kaca itu lalu berjalan menyusuri rumah besar milik Nao yang sepreti tidak berpenghuni karena memang jika malam hari semua pelayan sudah pulang ke rumah
masing-masing hanya tersisa 2 satpam di depan rumah yang bergantian berjagaSemakin ia berjalan semakin ia menyadari jika pemilik rumah ini bukanlah orang biasa, orang awam mungkin bisa dibohongi tapi Zeya adalah
mantan mata-mata, dia bisa dengan mudah menyadari banyaknya cctv tersembunyi disini, matanya menangkap beberapa senjata yang tertempel dan bersembunyi mengikuti dirinya seolah jika ia melakukan kesalahan sedikit saja mungkin ia akan mati disini
Ia berjalan dengan tenang seolah tidak tahu apa apa, sebagai mata-mata ia telah dilatih berpura-pura dan Sudah ahli tentang hal itu.
Ia Kembali berjalan keatas menaiki tangga, terdengar samar-samar dari kejauhan suara sesorang menangis, semakin naik suara itu semakin terdengar jelas arahnya yaitu kamar milik Nao
Zeya menjadi khawatir lalu mempercepat langkahnya, membuka pintu dengan kencang
“nao?!”
Suara petir menyambar keras membuat keduanya terperanjat, Nao berlari kearaah Zeya dan meringkuk dalam pelukannya
“kau takut petir?” Zeya mengusap airmata dipipi cubby Nao
Nao tak menjawab, ia hanyya terisak dan semakin mengeratkan pelukan mereka
Zeya berjalan masuk lalu menutup pintu masih dengan Nao memeluknya mereka berjalan menuju ranjang, membaringkan tubuh Nao dan ikut berbaring disampingnya
__ADS_1
Nao Kembali masuk kedalam pelukan zeya dan Kembali terlelap karena merasa nyaman “Zeya maaf Nao tidak seperti laki-laki lainnya” igaunya sebelum masuk kedalam mimpi “aku tetap akan mencintaimu entah kau yang sekarang atau yang dahulu” Zeya mengecup kening Nao sebelum ikut masuk ke dunia mimpi.