
Nao menyelonong masuk begitu saja kedalam sebuah restoran mewah sedangkan zeya terdiam didepan pintu, ia tidak membawa uang sebanyak itu untuk makan disini.
bukannya dia tidak pernah makan di restoran mahal, ia bahkan bisa dikatakan sering dulu tapi selalu bukan ia yang membayar karena sebagai anggota mafia black ear mereka selalu ditraktir sang pimpinan makan di restoran mewah untuk merayakan kemenangan, dan saat ini situasinya berbeda
Nao berbalik saat merasa tidak ada yang mengikutinya dan melihat zeya yang masih ada diluar lalu menghampirinya “kenapa tidak masuk?”
“kita makan terpisah saja, ditempat berbeda” Zeya mengatakan itu dengan wajah datarnya membuat Nao menunduk mendengarnya
“zeya tidak suka makan dengan Nao ya?” ia salah faham
Zeya mengusak rambutnya lalu menghela nafas “bukan begitu, tapi aku sedang tidak membawa banyak uang”
Nao mendongak “tidak apa apa, kita disini makan gratis” ujarnya sumringah
Zeya menatap Nao bingung, Nao tersenyum saja lalu menarik Zeya masuk, mereka memasuki ruangan VVIP lalu duduk di kursi dengan meja bundar ditengahnya, salah satu pelayan mendatangi dan memberikan buku menu, namun buku itu belum lagi tersentuh sang pelayan malah tergesa-gesa keluar saat nao memperlihatkan sesuatu dari ponselnya kepada pelayan itu
Tak lama beberapa pelayan memasuki ruangan dengan masing-masing membawa troli berisi banyak menu makanan membuat zeya bingung sekaligus tercengang.
semua pelayan keluar dari ruangan setelah menata makanan penuh satu meja dan Nao mulai makan dengan lahap.
sedangkan Zeya bersandar pada bangku dan mendongakkan kepalanya, entah kenapa ia merasa pusing mencerna situasinya, melihat itu Nao malah terkekeh “restoran ini sebenarnya milik papa Nao, jadi tadi Nao tunjukan foto keluarga kami dan mereka langsung mengerti” ia tersenyum lebar lalu kembali makan
Zeya menegakkan badannya ‘ah benar, terakhir kali aku mengantarnya pulang rumahnya sangat mewah, nao berasal dari keluarga kaya, jika ingin memilikinya aku harus setara, mungkin aku akan memikirkan lagi penawaran pimpinan waktu itu’ ia membatin sembari melihat nao yang sedang makan dengan lahap, sungguh menggemaskan
...____________...
“aah Nao kenyang sekali, kalo kekenyangan Nao jadi ngantuk” nao sedang di bopong oleh zeya keluar dari restoran, ia sulit berjalan karena kekenyangan
“pulang? Aku antar”
Nao menggeleng “bang Dean!” panggilnya tiba-tiba walau tidak terlalu nyaring membuat zeya bertanya-tanya Nao memanggil siapa padahal tidak ada orang disekitar
tapi telinga tajamnya mendengar sesuatu mendekat, dengan sigap ia membawa Nao ke belakangnya seolah melindungi saat ia mendengar suara langkah kaki yang cepat kearah mereka
Seperti singa yang keluar dari Semak-semak seorang pemuda datang kehadapan mereka lalu membungkuk “saya disini tuan muda”
“ bang Dean!”
“Dean?”
Keduanya berseru dengan nada berbeda,
__ADS_1
Dean mendongak “Zeya?” ia terkejut sekaligus senang, saking senangnya ia mengambil ancang-ancang ingin memeluk Zeya dan Nao langsung menghalanginya dengan merentangkan tangan diantara keduanya
“bang Dean mau ngapain?” wajahnya terlihat sekali kesal, namun sangat imut bagi zeya
“ah maaf tuan muda, saya hanya senang karena bertemu teman lama” Dean menggaruk tekuknya yang tak gatal
“teman lama? Bang Dean dulu temenan sama Zeya? Gimana caranya kan abang 5tahun lebih tua”
Dean bingung sekarang bagaimana menjelaskannya, ia dan zeya sama-sama berasal dari kelompok mafia black ear dan ia lah yang menjabat sebagai wakil divisi informasi saat Zeya masih menjabat sebagai ketuanya, ia berhenti dari black ear beberapa bulan setelah Zeya berhenti dan bekerja sebagai bodyguard kepada keluarga arlard
"ah anu kami pernah jadi rekan kerja di cafe yang sama"
Nao menatap kebelakang pada Zeya meminta kebenaran "iya, aku kasir, dia pelayan"
Nao mengangguk-angguk lalu beranjak dari tengah ke samping Zeya "kalian ingin bicara berdua?, Nao akan ke mobil duluan" ia menunduk sambil memainkan jarinya entah kenapa ia merasa tidak rela
Zeya mengusap pucuk kepala Nao lembut "tidak, aku bisa bicara dengan Dean lain waktu, kalian pulanglah, kau kekenyangan perutmu pasti sakit"
Zeya mengikuti mereka ke parkiran dan membukakan pintu untuk Nao dan ia masuk perlahan
Dean menghampiri Zeya lalu menyodorkan ponsel miliknya "berikan nomormu supaya bisa kuhubungi nanti"
Zeya mengambilnya dan mulai mengetik "nah"
...___________...
motor Zeya bertengger diluar pagar tinggi menjulang yang menutupi sebuah mansion besan nan mewah.
satpam yang melihat Zeya saat melepas helm nya langsung membukakan pagar samping yang muat motor, tanpa memasang helm nya lagi Zeya langsung masuk kedalam dan tak lupa berterima kasih pada satpam, ia memarkirkan motornya di garasi motor lalu berjalan menuju pintu besar bergaya Eropa dan memencet bel disamping pintu.
seorang maid membukakan pintu dengan wajah terkejut, sontak ia langsung berlari kedalam
seorang wanita paruh baya datang dengan tergesa bahkan ia masih memakai apron strawberry miliknya dan langsung memeluk Zeya begitu saja
Zeya membalas pelukan sang wanita "Tante Naira, Zeya datang berkunjung sekaligus ingin bicara sesuatu dengan pimpinan" Tante Naira adalah istri dari pimpinan atau pemilik dari kelompok mafia black ear
Naira melepas pelukannya "Zeya kenapa pergi tiba-tiba? selama satu tahun Tante terus menerus khawatir Zeya pergi begitu saja dari rumah setelah berhenti bekerja, bahkan tidak ada kabar apapun, Tante kangen tau gak" cebiknya merajuk
"maafkan Zeya Tante, Zeya hanya ingin menenangkan diri sendirian sebentar" ia menggaruk tengkuknya, ia merasa bersalah
"sebentar apanya? kau menghilang selama setahun tahu!" rengeknya
__ADS_1
Zeya tersenyum canggung lalu mencium tangan Naira, "Zeya sudah pulang, Tante tak perlu khawatir lagi, Zeya tak akan menghilang lagi"
"janji?" Tante Naira adalah tak pernah berubah sifatnya masih seperti anak kecil sejak dulu sangat menggemaskan, karena itu pimpinan sangat menyayangi Tante Naira
Zeya mengangguk
"kalau begitu Zeya kembali tinggal dengan Tante disini?" matanya berbinar, berharap Zeya mengiyakan, karena memang dahulu Zeya tinggal di rumah ini bersama keluarga pimpinan dan sudah dianggap sebagai anak oleh mereka
"maaf Tante Zeya tidak bisa, tapi Zeya tidak jauh, Zeya tinggal di apartemen yang diberikan oleh pimpinan"
Naira murung beberapa saat lalu kembali bersemangat mengajak Zeya masuk dan duduk di ruang tamu, Naira memerintahkan maid untuk menyiapkan minuman dan kue yang baru saja ia buat tadi.
"Zeya tunggu disini sebentar, Tante akan penggilkan Athar" Naira beranjak menaiki tangga dengan senang lalu tak lama turun lagi membawa seorang pria paruh baya yang masih belum sadar sepenuhnya, sepertinya ia baru bangun padahal hari sudah mau sore.
namun matanya membola saat melihat siapa yang duduk di ruang tamu menunggunya, dan dengan sedikit tergesa datang kearah Zeya
Zeya berdiri dari duduknya lalu membungkuk hormat "selamat sore pimpinan, maaf telah mengganggu tidur anda"
"Zeya kau pulang?" serunya senang
Naira menepuk pundak Athar lembut lalu menggeleng, Zeya tersenyum canggung "saya hanya berkunjung sebentar, saya ingin membicarakan sesuatu pada pimpinan"
Athar mempersilahkan Zeya kembali duduk "Zeya ingin membicarakan apa?" tanya nya lembut
Zeya menimbang sebentar, memikirkan bagaimana ia harus memulai "pimpinan apakah penawaran anda yang waktu itu masih berlaku?"
"penawaran? ah yang itu? tentu saja" ia meminta salah satu pelayan mengambil berkas di ruang kerjanya
mata Naira berbinar senang "akhirnya Zeya mau menerimanya, apa yang membuat Zeya berubah pikiran sampai akhirnya mau menerima pemberian kita?"
Zeya tersenyum simpul "ada seseorang yang harus aku jaga"
Athar dan Naira saling memandang lalu mereka tersenyum bahagia. seorang pelayan datang membawa map berkas dan pulpen lalu Athar mengambilnya dan menyerahkan nya kepada Zeya
"ini adalah perusahaan properti yang tidak sempat aku kembangkan, penanam saham disana lumayan banyak tapi karena perusahaan ini jarang aku perhatikan mungkin beberapa diantara mereka akan memutusnya jadi kau harus secepatnya mengambil alih perusahaan itu" ia menyerahkan sebuah pulpen kepada Zeya
"tanda tangan disini dan perusahaan ini 100% akan menjadi milikmu, tapi mungkin perusahaan ku Arin's company akan menanam saham padamu karena aku tahu perusahaan yang kau kembangkan mungkin akan jadi lebih besar dari milikku" Athar tertawa dengan suara beratnya
Zeya mengambil pulpennya dan mulai mendatangi berkas pengalihan pemilik perusahaan "saya berjanji akan membesarkan perusahaan ini dengan baik, terima kasih pimpinan karena memberikan saya kesempatan yang sangat besar ini"
Naira beralih duduk disamping Zeya "kami yang seharusnya berterimakasih karena Zeya ingin merawatnya, jika tidak mungkin kami akan mengalami kerugian besar karena tidak sempat mengurusnya"
__ADS_1
"jadi kira-kira perusahaan ini akan kau ganti namanya menjadi apa?" Athar menyerahkan berkas yang sudah ditandatangani kepada pelayan yang sama untuk disimpan
"mungkin.... zen's company"