
nao membuang nafas entah sudah yang keberapa kalinya hinggah membuat sang mama jengah melihatnya "nao daripada bosan dirumah lebih baik kamu jalan jalan sana"
"mau kemana ma? nao gak ada tujuan, nao mau cepat cepat besok aja supaya bisa ke kampus ketemu sama zeya, nao kangen sama zeya huwaa" rengeknya sambil menendang udara yang tak bersalah
"ditaman kota ada event loh, kenapa gak kesana aja" nao berhenti, menurutnya itu ide yang lumayan bagus, ia mengangguk lucu pada mamanya "dean!" panggilan itu tak keras sama sekali tapi orang yang berada di taman belakang rumahnya itu mendengarnya dan langsung bergegas menuju arah suara
"iya nyonya?"
"dean tolong antarkan nao ke event yang ada di taman kota ya!"
"baik nyonya, mari tuan muda"
"ah nao ganti baju sebentar" nao masuk kedalam kamarnya lalu menuju walk and closet mengganti baju rumahannya dengan sweater putih dan celana jeans selutut
"ayo bang dean" dean membukakan pintu mobil untuk nao lalu menutupnya kembali, ia berjalan memutar duduk di kursi kemudi dan mobil mulai melaju menuju taman kota
dean adalah bodyguard yang dipercaya oleh papanya untuk menjaga rumah dan keluarganya saat ia pergi, dan umurnya 5 tahun lebih tua dari nao, karena itu nao memanggilnya bang, karena nao seorang anak tunggal jadi ia menganggap dean sebagai abangnya karena selama ini ia selalu berada diantara keluarga mereka, dean juga sudah pernah menolak tapi nao tetap kekeh untuk memanggilnya bang.
setelah sampai dean kembali membukakan pintu untuk tuan mudanya itu "terimakasih bang dean, nao kedalam dulu, bang dean juga boleh lihat lihat kedalam, nanti kalo nao udah selesai trus abang gak ada di mobil nao tinggal telpon abang" dean mengangguk patuh
nao memasuki event dengan senang, ia membeli banyak makanan manis dan duduk di sebuah bangku untuk menikmati makanannya, ditengah menikmati makanan keduaa bocah datang menghampirinya
"kakak cewe ya?" tanya keduanya, nao menatap kedua bocah itu tidak percaya, apa apaan lelaki segagah dia dikira cewe "mana mungkin, gagah begini dibilang cewe, kakak ini cowok tulen" nao mengangkat dagunya sombong
"masa sih, kalo memang cowo bawa kami masuk kesana dong" mereka berdua menunjuk kearah rumah hantu dengan antrian yang cukup panjang
nao sebenarnya paling takut hal seperti itu tapi kalau ia menolak jatuh harga diri dia dihadapan anak anak "okeh, ayo kita masuk kesana"
dua bocah itu bersorak senang, mereka bertiga memasuki antrian dan di cek oleh penjaga, nao masuk dengan lancar tetapi kedua anak itu malah tidak diperbolehkan masuk antrian oleh penjaga karena tanpa pengawasan orang tuanya "yah berarti kakak masuk sendirian dong, dadah kakak" mereka berdua melambaikan tangan pada nao yang sudah terjebak kedalam antrian
nao seketika melongo "mereka menjebakku?!" nao benar benar bingung sekarang ia terjebak dalam antrian dan tak bisa kembali, ia berpikir bagaimana mungkin memasuki rumah hantu ini sendirian, ia terus berpikir dan ketakutan hingga tanpa sadar gilirannya masuk pun tiba
__ADS_1
dengan terpaksa ia memasuki ruangan dan baru saja selangkah memasuki ruangan itu ia sudah disambut dengan suara nyaring yang sangat menyeramkan, nao sungguh ketakutan sekarang rasanya ia ingin menangis, ia menutup wajahnya sendiri dengan telapak tangan dan tak mau bergerak
tubuhnya masih bergetar sampai ia merasakan ada tubuh empuk dan lembut memeluknya, nao mengeratkan pelukan itu karena ketakutan, bahkan ia tak tau dan tidak peduli siapa yang ia peluk sampai orang itu memanggil namanya dengan lembut
"z zeya" tangisnya pecah seketika dalam pelukan zeya, entah kenapa ia merasa lega saat melihat zeya disini
zeya menyapu air mata nao menggunakan jari-jarinya dengan lembut "takut?"
nao mengangguk lucu sambil terisak, air matanya sudah berhenti tapi ia masih terisak, zeya memberi kopinya kepada nao berharap ia lebih baikan setelah meminum sesuatu tapi faktanya nao malah menyemburkan air yang sudah memasuki mulutnya itu "pahit" ia menjulurkan lidahnya karena terasa pahit
zeya sungguh merasa kalau kopi itu manis tapi kenapa nao merasa pahit? mungkin karena selera lidah mereka yang berbeda, karena merasa bersalah zeya memasukan sebuah permen kedalam mulut nao, membuat lidahnya melupakan rasa pahit kopi yang tadi ia seruput
ekspresi nao seketika berubah senang saat merasakan manis didalam mulutnya, zeya terkekeh kecil lalu menggenggam tangan nao dan membawanya mendekat "sudah tidak pahit, ayo keluar dari sini"
mereka berdua memasuki ruangan demi ruangan untun mencari jalan keluar dan sesekali nao berteriak dan masuk kedalam pelukan zeya, entah kenapa zeya cukup senang dengan reaksi dan ekspresi nao namun ia tidak bisa membiarkan nao berlama-lama dalam situasi seperti ini, jadi demi mempercepat waktu zeya menggendong tubuh nao seperti koala sehingga nao bisa menyembunyikan wajahnya di pundak zeya, zeya pun mempercepat langkahnya tanpa memperdulikan staff-staff yang mencoba menakutinya
dengan cepat ia keluar dari ruangan setelah melihat pintu keluar di depan mata, terlihat banyak sekali orang-orang yang duduk kelelahan ataupun masih ketakutan di luar sana
nao perlahan melepas pelukannya lalu memandangi waja zeya yang ada didepannya "terima kasih zeya" nao mencoba untuk turun dari pangkuan zeya namun ditahan oleh zeya
"begini saja, hanya tesisa satu bangku"
wajah nao kini memerah karena tangan zeya yang melilit dipinggangnya "t t tapi banyak orang"
zeya semakin mengeratkan sampai tubuh mereka bersentuhan "jangan pedulikan orang lain!"
tidak bisa, wajah nao sudah semerah tomat saat ini dan zeya suka melihat wajah nao yang seperti itu, nao memutar otaknya mencari cara agar ia bisa turun dari pangkuan zeya "z zeya nao ingin bermain yang lain"
zeya tersenyum miring lalu melepaskan dekapannya pada nao "ingin main yang mana?"
merasa ada kesempatan nao segera turun dari pangkuan zeya lalu menunjuk kearah roller koaster "itu terlihat menyenangkan"
__ADS_1
zeya menaikan sebelah alisnya, nao yang takut hantu ternyata tidak takut dengan hal yang ekstrem "ayo"
nao menarik tangan zeya menuju antrian roller koaster dan tidak menunggu lama akhirnya giliran mereka, nao memilih kursi yang paling depan dan lagi lagi membuat zeya terpukau karena keberaniannya walaupun tidak ber-ekspresi jadi nao tak menyadari itu
pengaman mulai dipasangkan oleh beberapa staff dan arahan-arahan disampaikan. roller koaster mulai bergerak menanjak dan orang-orang dibelakang mulai exsited, kami terdiam beberapa detik di puncak lalu para penumpang berteriak nyaring saat kami jatuh begitu cepat
zeya memang agak terkejut merasakan jatuh namun ia tidak terbiasa berteriak, dan nao disampingnya tak bersuara apapun juga tak bereaksi apa-apa, sungguh berani pikir zeya
namun opini zeya seketika jatuh saat melihat mata nao yang tertutup dan tak sadarkan diri, dengan sedikit panik zeya menepuk bahu nao supaya ia bangun, nao membuka matanya terkejut dan tiba-tiba berteriak kencang "AAAAA! MAMAAAA!" lalu kembali pingsan
zeya speccless, ia memutuskan untuk membangunkan nao saat roller coaster berhenti saja daripada telinganya harus sakit lagi karena mendengarkan teriakan nao yang menggelegar.
tak lama roller coaster berhenti dan semua penumpang turun, nao masih pingsan jadi zeya menggendongnya saja tanpa membangunkannya.
diperjalanan menuju restroom orang orang memperhatikan mereka, bagaimana tidak? seorang wanita menggendong pria yang lebih tinggi darinya, terlihat sekali kakinya panjang menjulang
Zeya membaringkan Nao diatas pahanya sebagai bantalan, mata indahnya terbuka perlahan lalu menatap zeya berkaca-kaca.
oh astaga Zeya gemas sekali rasanya ingin menikahi Nao sekarang juga
"siapa suruh memaksakan diri hem?"
Nao menggeleng kuat "orang orang yang naik itu selalu berteriak, Nao kira itu seru"
Zeya mengulum bibirnya sendiri, menahan agar tawanya tak keluar lalu berdehem "pusing?"
Nao menggeleng lagi "lapar" lirihnya, sungguh zeya mati-matian menahan agar ia tidak menerkam manusia menggemaskan dihadapannya ini.
Nao beranjak dari paha Zeya lalu berdiri didepannya, ia menunduk lalu mengecup keningnya, Zeya agak terkejut tapi setelahnya ia menutup mata, menikmati sentuhan bibir lembut Nao di keningnya
"makasih Zeya udah nolongin Nao tiga kali, sekarang ayo kita cari makan!" serunya lalu berjalan keluar dari restroom sambil menari-nari
__ADS_1
senyuman Zeya mengembang lalu menyentuh keningnya "tiga? ah iya yah" ia terkekeh pelan lalu bergegas menyusul Nao.