
(POV: Nayra)
"Apa ini? Aku terbangun lagi? Ah sial padahal tidur ku tadi sudah lelap." Decik ku yang kesal karena aku terbangun lagi dari tidurku.
"Halo, Zayna."
Tunggu, suara itu? Aku seperti pernah mendengarnya. Eh tapi tunggu, Zayna?.
Aku kebingungan apa yang terjadi kepadaku (lagi) sekarang. Apa kejadian malam itu terulang lagi padaku? Mungkinkah?
Selang beberapa menit, aku tidak mendengar ada yang memanggilku lagi dengan sebutan itu. Akupun berpiki itu hanyalah ilusi ku saja, karena aku sangat merindukannya?
Tapi..
"Hei Zayna, aku memanggilmu."
Lagi.
Hah apa itu, suara apa yang ku dengar lagu itu. Hanya suara dan tidak ada sosok pun.
Baiklah sekarang aku berpikir itu hantu dan aku mulai ketakutannya.
Aku mencoba untuk tidur lagi karena jika aku melakukannya, dengan itu setidaknya aku bisa tenang kan.
"Jangan menyangkal Zayna. Ayo kesini. Apakah kamu benar-benar ingin tidur? Aku akan memberitahumu. Jika kamu tidur, bertemu dengan ku lagi memiliki sangat kecil kemungkinan."
Baiklah, Aku kalah. Hal ini terjadi lagi.
Aku mencoba melawan diriku, dan meyakinkan bahwa tidak apa-apa untuk melihatnya. Ayolah, sekali lagi atau tidak akan pernah lagi. Kataku kepada diriku sendiri.
Dan akhirnya aku melihatnya, melihat sosok itu. Ternyata benar adanya, sangat mirip yah. Aku seperti bertemu Ibuku langsung. Sungguh jika bisa memeluknya, aku sangat ingin.
Tunggu, bukannya tadi Ia memanggil ku dengan sebutan "Zayna" dan kata nenek hanya Ibu yang selalu memanggil ku dengan sebutan itu.
Apa benar sosok itu..
__ADS_1
"Halo Nayra, sudah lama kita tidak bertemu. terakhir kali waktu itu kam-"
"TUNGGU."
"Aku ingin bertanya padamu."
"Maaf karena menyelamu, tapi aku sangat ingin menanyakan hal ini."
Dengan tersenyum, wanita itu berkata.
"Bertanyalah sayang."
Aduh perkataannya langsung masuk kehatiku, dalam nya.
"Baik, singkat saja. Kenapa kamu memanggil ku dengan panggilan Zayna?"
"Lebih tepatnya, sebenarnya kamu siapa?"
Tanya Nayra dengan sangat penasaran dan sangat menantikan jawaban wanita itu.
Jawabnya lagi-lagi dengan tersenyum.
...****************...
Sepertinya benar, Itu Dia.
"Hah.."
Aku masih mencerna kata-kata nya. Benar-benar masih loh ini.
Masa sih? Pikir ku.
Kok bisa? Pikir ku lagi.
Bagaimana caranya? Lagi dan lagi aku hanya bertanya-tanya di dalam pikiran ku sendiri.
__ADS_1
Lalu wanita itu berkata lagi padaku,
"Zayna, namaku Amara."
Oh ternyata benar-tidaknya Dia.
Bagaimana ini, aku tidak bisa mengendalikan diriku. Aku merasa air mataku sebentar lagi akan keluar, perasaan seperti apa ini.
Aku sangat bahagia, aku melihat nya. Aku berbicara bersamanya. Dia berada dihadapan ku.
Apakah kamu percaya itu? Ibuku, dihadapan ku. Aku melihatnya.
Pecah sudah. Tempatku untuk melihat sudah meneteskan air, sudah tidak bisa menahan ini semua. Demi apapun aku sangat bahagia, Aku merindukan nya. Sangat.
Aku menangis begitu deras di hadapannya. Sangat deras sampai aku sangat lemas. Dia hanya menatap ku, dengan sabar menunggu aku reda. Lalu Ia mengajak ku berbicara lagi.
"Rindu ya sayangku? Maaf ya Ibu lama. Ibu juga sebenarnya sudah rindu sekali sama Zayna. Ingin sekali juga memeluk Zayna sekarang. Ibu tahu, Zayna mau di peluk ya nak? Lain kali ya. Sabar dulu. Untuk kali ini tidak bisa dulu anakku. Tahan dulu ya nak, sedikit lagi."
Ah benar-benar, Aku pikir aku sudah akan berhenti menangis. Sekarang tangisan ku lebih deras dari sebelumnya. Bagaimana tidak? Aku? yang tidak pernah? merasakan kasih sayang ibu? pas lahir? terus tiba-tiba ibu ku datang? dan memperlakukan ku dengan kasih sayang? Orang hebat mana yang tidak sedih dan bahagia ketika mengalami ini. Hal ini reaksi alami kan ya.
Aku pun dengan pelan-pelan menjawab ibuku. Dengan hidung yang tersumbat, aku tetap bisa berbicara meski sedikit kesulitan.
"Mengapa? Kenapa?"
"Kenapa tidak sekarang ibu?"
"Kau tahu sendiri aku merindukanmu.."
"Tolong peluk aku.."
Kataku sambil memukul-mukul dadaku. Perih rasanya, rasanya ingin selalu menangis. Aku bahagia sekali, dan sedih juga. Hanya air mata yang bisa ku andalkan sekarang. Sembari memohon pelukan dari ibu ku.
Entah mengapa sepertinya hati ibu ku terdorong dan tersentuh melihat ku. Karena sepertinya Ia benar-benar akan memelukku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Ia benar-benar memelukku. Yang ku tahu sekarang, ada ibuku di hadapan ku. Dan aku mengharapkan pelukannya.
Dan benar adanya, Ia memelukku begitu erat. Sangat erat, seperti ini adalah pertemuan terakhir kita.
__ADS_1
Kami menangis, menangis bersama. Kami benaran saling merindukan ternyata. Aku kira hanya aku yang merindukanmu ibu. Ternyata Ia pun begitu merindukan ku.