
"Sofia sarapan dulu" ujar Vivi, ibu sambung Sofia.
Sofia mengabaikan Vivi dan melanjutkan langkah nya, sejak saat ayahnya menikah lagi, Sofia tidak pernah bersikap manja pada ayah nya, bahkan ia membenci Vivi sebagai ibu tiri nya.
Sebelum ibu kandung Sofia meninggal, Vivi sudah berhubungan dengan ayah nya hingga memiliki seorang anak laki-laki, usia nya pun tak jauh dari Sofia, ayah Sofia bernama Kristian Carell, dan ibu nya bernama Angelina.
Saat Anggelina meninggal usia Sofia masih menginjak sembilan tahun, ia menganggap jika Vivi lah pembunuh ibu nya, padahal saat itu Anggelina lah yang mau mendorong Vivi dari atas gedung, karena ia ingin Vivi pergi dari kehidupan suami nya.
Vivi sempat menyetujui permintaan Angelina, namun saat mereka mau turun dari atas gedung itu, tiba tiba Anggelina mau mendorong Vivi lagi kemudian Anggelina pun terjatuh karena Vivi langsung menghindarinya.
Sofia melihat berita jika Vivi lah yang mendorong ibu nya dari atas gedung tinggi hingga meninggal dunia, entah darimana paparazi itu datang dan membuat berita bohong.
Vivi sempat di penjara karena mendapat tuduhan sebagai tersangka, namun pak Kristian langsung membela dan mengeluarkannya dari tahanan kemudian menikahi Vivi.
Melihat ayah nya membawa wanita yang ia benci, Sofia langsung murka dan membanting semua barang yang ada di sekitarnya, mulai saat itu Sofia selalu bersikap dingin dan pendiam, ia pun tidak pernah berbicara sedikit pun dengan Vivi hingga sekarang.
"Sudah kita lanjutkan saja sarapannya, Sofia mungkin sudah janji sarapan di luar dengan teman-temannya" ujar pak Kristian sambil menyentuh pundak istri nya.
"Mau sampai kapan Sofia seperti ini, apakah dia masih belum bisa menerima aku" ucap Vivi dengan wajah yang sedih.
"Nanti juga dia akan mengerti" timpal pak Kristian.
Mereka pun melanjutkan sarapannya, tak lama kemudian Bryan Carell keluar dari kamar nya dan ikut sarapan bersama dengan kedua orang tua nya.
"Sofia kemana?" tanya Bryan pada ayah nya.
"Dia sudah pergi keluar, mungkin ada janji dengan teman teman nya" jelas Pak Kristian.
"Ayah seharusnya jangan membebaskan dia, Sofia sudah dewasa takutnya dia bermain yang di luar batas" ujar Bryan mengingatkan ayah nya agar tidak membiarkan Sofia keluar bebas.
"Bryan, Sofia lebih tua dari kamu jadi kamu harus memanggilnya kakak mengerti" ucap Vivi.
Bryan hanya memalingkan wajah nya kemudian meraih roti yang ada di hadapannya.
__ADS_1
suasana di ruangan itu menjadi sunyi tak ada satupun yang bersuara.
Saat kecil Bryan dan Sofia memang tidak dekat, Sofia selalu menjauhi nya, hingga saat Sofia sekolah ke luar negri Bryan tidak pernah bisa melihat Sofia lagi.
hingga saat Sofia lulus dan pulang ke indonesia ia terpana oleh kecantikan Sofia yang sudah menjadi wanita dewasa.
Bryan pun memiliki niat untuk mendapatkan hati Sofia, namun hingga saat ini ia masih belum berhasil karena Sofia masih selalu menghindari nya.
Saat pak Kristian selesai sarapan, ponsel nya berdering ia pun langsung menerima nya karena panggilan telfon itu dari sekertaris di perusahaannya.
"Halo, ada apa pagi-pagi sekali sudah menelfon" ujar pak Kristian yang merasa heran mengapa sekertaris nya bisa menelfon di hari minggu.
"Presdir maaf mengganggu hari weekend anda, saya hanya ingin memberitahu masalah serius, tadi klien yang sudah menandatangani kontrak tiba tiba membatalkan kontrak nya, dan dia bersedia untuk membayar denda" jelas sekertaris.
"Kenapa bisa mendadak sekali, apakah kamu sudah menyelidiki apa penyebab nya?"
"Saya sudah menyelidiki nya dan ternyata klien lebih tertarik dengan produk dari perusahaan Surya Grup, dan besok mereka akan menandatangani kontak kerja sama, sepertinya ada orang yang sengaja ingin menyaingi perusahaan kita"
"Sudahlah biar kan saja, besok kita baru bahas masalah ini lagi" pak Kristian pun memutuskan panggilannya dan wajahnya langsung berubah menjadi lebih cemas, bagaimana tidak cemas, kerja sama yang akan ia terima sangat lah menguntungkan bagi perusahaan, dan untuk saat ini perusahaan nya sangat membutuhkan dana yang banyak untuk menstabilkan keuangan di perusahannya yang sempat merosot karena ulah Sofia yang selalu menggunakan uang perusahaan untuk ber foya-foya.
Pak Kristian hanya menggelengkan kepala nya, ia tak ingin membuat anak dan istrinya ikut cemas soal masalah di kantor nya, pak Kristian belum bisa membawa Bryan ke perusahaanya karena usia Bryan masih belum cukup umur untuk ikut bergabung ke perusahaan.
"Bryan kamu segera telfon kakak mu dan suruh dia segera pulang ke rumah, ada hal penting yang akan ayah bicarakan dengan nya". titah pak Kristian sambil memijat pelipis nya.
Bryan pun segera menuruti perintah dari ayah nya, ia pun kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya dan menelfon Sofia.
Beberapa saat kemudian Bryan mendengus kesal karena Sofia selalu menolak panggilan dari Bryan.
Sofia sengaja menolaknya karena ia sedang berkumpul dengan teman-teman nya, terlebih lagi ia tidak suka jika orang rumah menelfon nya di saat dirinya sedang bersama dengan teman-temannya.
"Siapa sih yang nelfon, di terima aja dulu siapa tau penting" ujar Safira yang merasa risih dengan suara dering di ponsel Sofia.
"Iya Sofia terima aja, siapa tau ada hal yang penting" sahut beberapa temannya yang lain.
__ADS_1
Karena ia juga merasa risih, dengan terpaksa Sofia menerima panggilan dari Bryan.
"Ada apa" ketus Sofia saat sudah menerima panggilannya.
"Ayah nyuruh kamu pulang sekarang, ada hal penting katanya" Ujar Bryan.
"Setengah jam lagi saya pulang" Sofia pun langsung memutuskan panggilannya.
Melihat raut wajah Sofia yang sedang kesal teman temannya pun penasaran dengan apa yang di katakan oleh orang yang menelfon Sofia tadi.
"Kenapa ko kesel banget keliatannya" tanya Safira penasaran.
"Biasa bokap nyuruh pulang, ada hal penting katanya" sahut Sofia.
"Oh kalau gitu mending cepet balik deh, Sofia kalau soal orang tua lebih baik jangan di tunda tunda, nanti nyesel kayak aku" tutur Selin.
Sofia pun dengan terpaksa pulang dengan raut wajah yang tak senang, saat mau keluar dari cafe tersebut, ia pun bertabrakan dengan seseorang hingga terjatuh ke lantai.
"Kalo jalan pake mata dong!" pekik Sofia sambil mencoba untuk berdiri kembali.
"Maaf nona, tuan kami tidak sengaja" ucap seorang pria yang berjalan menghampiri Sofia.
Sofia pun menoleh ke arah orang yang bertabrakan dengannya tadi kemudian menoleh ke arah pria yang sedang berbicara dengan nya.
"Oh jadi tuan kalian buta ya, pantas saja" cibir Sofia dengan suara yang jutek.
Sofia pun kembali melihat ke arah pria yang sudah bertabrakan dengan nya kemudian menatap dengan serius.
"Ganteng sih tapi sayang buta" batin Sofia.
Saat Sofia masih memperhatikan nya, pria itu pun membuka kacamata nya dan menaikkan sebelah alis nya, ia pun langsung menangkap lengan Sofia dan mendorongnya ke arah pengawal yang berada di belakang pria tersebut.
"Kalian bawa dia ke mobil" titah pria itu dengan tegas.
__ADS_1
"Baik tuan"