
Aku Misel, umurku 20 tahun. Aku punya seorang pacar, Dimas namanya. Kita berpacaran sejak kelas 3 SMA. Kita 1 sekolah waktu itu. PDKT hampir 2 tahun, membuahkan hubungan yang awet sampai sekarang.
Aku kuliah di salah satu Universitas di kotaku, jurusan pajak, mahasiswi semester 6. Sedangkan Dimas kuliah di luar kota, jurusan kimia. Kita LDR karena Dimas mendapatkan Beasiswa disana. Sebagai pacar, tentu aku haru memberikan suport untuk Dimas. Aku rela dia kuliah diluar kota, dan aku juga percaya kalau Dimas bisa jaga hatinya untukku.
misel aku pergi ya
kamu baik-baik disini, jaga hati dan juga perasaan.
nurut selalu sama mamah dan papah.
aku akan pulang setiap liburan semester.
aku sayang kamu, cuma kamu.
i love you
Begitulah isi surat yang Dimas beri untukku sebelum dia pergi. Menurutku, dia seorang laki-laki yang baik. Dia lembut, dan dia juga lumayan tampan. Bahkan teman-teman selalu bilang kalau wajah kita berdua mirip. Orang bilang kalau wajahnya mirip berarti jodoh. Aku percaya itu, tapi aku lebih percaya jika Dimas benar jodohku dan suatu saat dia pergi, pasti akan kembali lagi.
Aku dan Dimas kenal pada waktu SMA dulu. Kami berdua beda jurusan. Kami selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Dimana kala itu aku masih belum ada rasa apalagi jatuh cinta pada Dimas. Aku masih ingat, sebelum kami berdua resmi berpacaran dimas pernah bertanya.
"apa hatimu terlalu beku sampai susah mencairkan cinta untukku?" katanya.
Dimas ini orangnya terlalu puitis, dia juga sering melontarkan gombalan-gombalannya padaku. Sampai pada akhirnya aku mulai jatuh cinta pada Dimas. Tutur katanya yang lembut, sikapnya yang manis dan perhatiannya yang lebih membuatku percaya bahwa ia akan selalu meyanyangiku sampai kapanpun.
Sebelum kami resmi berpacaran, aku selalu bertanya pada Dimas,
__ADS_1
"apa jadinya kalau kita berpacaran lalu putus? apakah masih bisa bersama? atau bahkan tidak bisa?".
Dan Dimas selalu menjawab,
"kita akan selalu bersama dan nggak akan pernah pisah".
Hingga pada akhirnya, aku memutuskan untuk berpacaran dengan Dimas.
Tanggal 28 Juli, aku dan Dimas resmi berpacaran. Dimas sudah menyiapkan surat yang harus ditanda tangani oleh aku dan Dimas,
Begitulah isi suratnya. Memang betul selama kita berpacaran Dimas selalu menjagaku. Ia selalu menyayangiku, ia perhatian, dan ia menjaga rasa percayaku padanya. Kita selalu pergi berdua bahkan liburan bersama keluarga aku dan Dimas jika Dimas pulang. Orang tua kami sudah saling mengenal dan dekat sejak kami masih PDKT waktu itu.
Aku menjalani aktivitasku seperti biasa dan Dimas juga melakukan aktivitasnya seperti hari-hari biasa. Namun, semenjak Dimas diluar kota, aku merasa sepi. Biasanya aku dan Dimas berangkat dan pulang sekolah bersama menaikki sepeda motor milik Dimas. Kami juga sering bermain di bawah rintik hujan. Iya, itu waktu Dimas masih tinggal disini. Kini, aku berangkat dan pulang kuliah sendiri, dan bermain dibawah rintik hujanpun seorang diri.
Sungguh, hati ini sesak di landa rindu membara. Aku tidak bisa menyesali pertemuan, aku tidak bisa menarik ulang waktu, aku tidak bisa membawa ia pulang bersamaku lagi.
Memang tidak ada yang berubah dari Dimas meskipun kita LDR. Dimas masih sama seperti Dimas yang aku kenal. Hanya saja kami mulai sibuk dengan urusan kami masing-masing yang membuat kami sedikit susah untuk berkomunikasi,
"Aku on, kamu off. Kamu on, aku off"
Seperti itulah kami berdua semenjak jauh.
Aku kadang menangis, aku berpikir keras, aku bahkan bertanya-tanya. Mengapa ini semua terjadi?. Padahal hanya jarak, dan kita masih bersama.
Dimas selalu antar aku kemana-mana. Ia tidak mengizinkanku untuk pergi membawa sepeda motor seorang diri. Ia tidak pernah merasa direpotkan olehku. Ia sabar, menghadapiku jika moodku sedang tidak bagus. Aku selalu berangan, jika suatu saat bisa bersama dan satu rumah dengannya untuk selamanya.
"Semua rintik hujan yang sedang membasahiku, itu adalah bukti bahwa aku sedang merindu."
Itu adalah kata-kata yang selalu aku ucap dalam hati ketika bermain hujan. Aku kadang takut, aku kadang tidak percaya. Tapi aku berusaha untuk membuang semua pikiran jahatku tentang Dimas.
__ADS_1
Kini aku dan Dimas sudah 3 tahun menjalani LDR. Rasanya memang tidaklah enak. Kami jadi sering bertengkar, kami jadi berbeda pendapat. Entah mungkin karena jarangnya komunikasi atau memang hubungan ini memang sudah waktunya untuk kandas.
Tapi aku berusaha untuk mempertahankan. Dimas juga selalu meyakinkanku,
"kita boleh ko selalu bertengkar, bahkan bertengkar sehebat-hebatnya. tapi tolong jangan pernah berniat untuk pisah. kamu pasti tau betul merangkai hidup dengan seseorang yang sangat dicintai itu tidaklah mudah. Apalagi kita jauh, aku jadi susah untuk memantau aktivitasmu, apalagi memantau siapa yang sekarang berada dihatimu. tugasku kini hanyalah bertahan dan percaya padamu."
Hingga kini aku harus membuat diriku sendiri bahagia dengan caraku sendiri dan dengan cara apapun. Tidak ada lagi yang menjailiku, tidak ada lagi yang menyembunyikan makeupku, tidak ada lagi yang menjemput dan mengantarkanku kemana-mana, tidak ada lagi yang memberikan kejutan dimalam hari ulang tahunku. Sudahlah, enak tidak enak jalani saja. Ini sudah takdir dari tuhan untukku.
"aku terus menunggu dengan kondisi hati yang merindu"
Iya, aku harus tetap menunggu. Menunggu sinyal Dimas bagus, menunggu Dimas mengabariku, menunggu Dimas membalas chatku, menunggu Dimas mengangkat telfonku. Bahkan mungkin saja, kini aku yang menunggu Dimas membalas cintaku.
Dimas sempat hilang beberapa hari, bahkan beberapa minggu. Lalu memberi kabar bahwa dirinya sedang sibuk, sibuk menyelesaikan laporan untuk semester akhir. Aku memahaminya, karena akupun sedang menyelesaikan laporanku. Karena itu syarat untuk wisuda, aku sebagai pacar hanya bisa mengerti dan memberi suport. Tapi apakah benar-benar sesibuk itu? Sampai tidak bisa membalas chatku satupun? Tidak bisa mengangkat telfonku sebentar saja?. Aku terus menunggu, aku terus mengerti,aku terus merindu, aku terus bertahan.
Sampai pada akhirnya Dimas pulang karena ayahnya sakit dan dirawat di sebuah rumah sakit. Dimas datang kerumahku, dan mengajakku kerumah sakit untuk menjenguk ayahnya. Kami bergegas menuju rumah sakit. Ayah Dimas terkena penyakit gagal ginjal dan harus menjalankan operasi.
Dimas mengajakku ke kantin rumah sakit untuk membeli makan dan minum. Selama disana kami berdua ngobrol.
"aku minta maaf misel, aku sering menghilang tanpa kabar. aku tau kamu terus menunggu balasan chatku. aku minta maaf" ucap Dimas.
"nggak apa-apa, aku ngerti ko dim" jawabku.
Setelah itu Dimas mengantarku pulang kerumah,
"maaf kalau aku telah membuatmu menunggu misel, aku benar-benar tidak tau bagaimana caranya mengatur waktu untukmu" ujar Dimas.
"aku sudah bilang, gapapa. aku tau cara bagaimana membuat diriku bahagia ketika kamu nggak ada" jawabku sambil berjalan masuk kerumah.
Ke esokkan harinya Dimas datang kerumah ku pagi hari, ia pamit untuk kembali keluar kota,
"aku pamit untuk kembali, kamu jangan khawatir, hati aku cuma untuk kamu" ujar Dimas sambil memegang tanganku.
__ADS_1