Singgah Sejenak

Singgah Sejenak
Aku Setelah Kamu Pergi


__ADS_3

Kini aku tidak tahu menahu statusku ini apa. Punya tunangan atau tidak, atau bahkan aku mempertanyakan apakah aku dan Dimas masih berpacaran atau tidak?


Sudahlah, aku harus bisa untuk melupakannya. Aku harus bangkit. Aku tidak boleh lama-lama merenung. Aku harus kembali meraih kebahagiaanku. Bahkan aku harus mengembalikan senyumku yang kini hilang.


Sudah 2 bulan ia pergi. Aku keluar rumah untuk mencari pekerjaan dan menyimpan lamaran kerja, karena aku tidak bisa terus-menerus diam didalam rumah.


"Apa gunanya ijazah ku kalau tidak digunakan" ucapku dalam hati.


Hari ini hari senin, aku dapat panggilan dari sebuah perusahaan besar dikotaku. Pukul 07.30 aku sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju kantor. Untung saja hari ini tidak ada kemacetan dijalan.


Setelah tiba dikantor, aku tidak sengaja menabrak seorang lekaki yang sedang membawa banyak berkas.


"Ma..maaf aku tak sengaja, aku terlalu terburu-buru sampai tidak melihatmu ada didepanku" ucapku sambil membantu merapikan berkas yang berhamburan dilantai.


"Iya tidak apa-apa, aku juga salah karena tidak melihat ke depan. Kamu sedang cari siapa?".


"Mm... aku sedang cari yang punya perusahaan ini, aku dipanggil untuk melakukan interview hari ini" jawabku sambil terbata-bata.


"Akan ku antar" ucapnya sambil memegang tanganku.


Dan akhirnya aku tiba diruangan pemilik perusahaan ini, dan ternyata...


"Kamu?? Yang punya perusahaan ini?".


"Iya aku yang punya, namaku Awan" ucapnya sambil menjulurkan tangan kanannya.


"Mm... aku Misel" ucapku sambil meraih tangan Awan.


"Hari ini kamu interview ya".


"I... iya pak" jawabku dengan gugup.


"Santai aja kali, rilex aja, jangan gugup seperti itu, aku nggak akan gigit kamu kok" ucapnya sambil tertawa.


Sekitar 45 menit aku didalam ruang Awan, lelaki yang tak sengaja ku tabrak ternyata pemilik perusahaan ini.


"Nanti aku akan aku beri info melalui email mu ya" ucapnya sambil menjulurkan tangannya padaku.


"Terimakasih karena sudah datang tepat waktu" katanya.


"Terimakasih kembali pak".


"Saya permisi, selamat siang"


"Siang" ucapnya sambil memberikan senyumnya padaku.


Aku pun segera kembali kerumah. Siang ini matahari sangat terik, membuatku ingin meminum yang segar-segar.


Pukul 12.10 aku sudah sampai rumah. Aku segera mengganti pakaian dan makan siang bersama mamahku.

__ADS_1


"Gimana interviewnya tadi Sel?" tanya mamah sambil menuangkan sayur soap kedalam mangkuk.


"Alhamdulilah lancar, tadi aku nggak sengaja nabrak laki-laki, ternyata dia yang punya perusahaan itu, untungnya dia baik hati" ucapku sambil menyantap makan siangku.


"Alhamdulilah, lain kali hati-hati kalau jalan ya".


Selesai makan siang, aku segera mengambil wudhu untuk sholat dzuhur, setelah sholat aku beristirahat dikamar.


Pukul 16.20 aku baru bangun. Aku bergegas mandi dan sholat ashar. Setelah sholat aku bermain handphone dan mendapat notif dari email. Aku bahagia, aku diterima di perusahaan dimana tadi pagi aku menjalani interview.


"Mah... aku diterima di perusahaan" ucapku sambil berteriak pada mamah.


"Alhamdulilah" ucap mamah sambil memelukku.


"Semoga kamu selalu bahagia setiap hari ya" kata mamah sambil mencium keningku.


"Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa mengembalikan senyumku, bahkan aku bisa tertawa bahagia hari ini"


Aku sudah bisa bekerja 2 hari lagi. Jadi besok masih bisa ada dirumah.


Kadang aku masih teringat-ingat dengan sosok Dimas. Dimana ia sekarang? Mengapa sampai kini tidak ada kabar? Mengapa ia tak kunjung datang?. Aku masih bisa menangis, air mataku masih terjatuh. Tapi aku mohon, hatiku jangan pernah patah lagi setelah hal ini terjadi.


"Kamu yang hilang tanpa kabar, membuat hatiku hambar bahkan membuat hubungan kita sampai bubar"


Aku terus mengunci hati ini. Aku berharap supaya aku tidak dendam padanya. Dimas bagaikan seseorang yang telah mencuri, membunuh, bahkan sampai membuat nyawa dihatiku hilang tak kembali.


Hari ini hari kamis, waktunya aku untuk berangkat kerja. Ini hari pertamaku masuk kerja. Dengan penuh semangat aku bergegas menuju kantor pukul 07.30 menaikki grab yang sudah aku pesan.


"Selamat pagi Misel" sapaan pagi yang pak Awan beri untukku.


"Selamat pagi juga pak".


"Selamat bekerja hari ini" ucapnya dengan senyuman sambil berjalan meninggalkanku.


Alhamdulilah, aku sangat bersyukur. Kini aku sudah bekerja. Jadi aku bisa mengisi hariku dengan pekerjaanku, bukan lagi dengan kesedihan. Tapi aku masih selalu ingat dengan Dimas. Jujur, aku masih ada perasaan dengannya. Meskipun ia telah meninggalkanku secara tiba-tiba, perasaan itu masih ada, bahkan tetap utuh untuknya. Tapi aku tidak mengharapkan ia kembali.


Sudah jam 12.00 waktunya makan siang.


"Misel makan siang yu dikantin" ucap Rafa teman kantorku.


"boleh, yu".


Aku pergi ke kantin bersama Rafa untuk makan siang, setelah itu aku mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat dzuhur berjamaah. Perusahaanku ini memang sangat besar, di dalamnya terdapat banyak fasilitas, bahkan ada sebuah mushola yang besar dan semua pekerja disini bisa sholat berjamaah pada waktunya.


Selesai sholat aku dan Rafa kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan. Jam bekerja disini 8 jam sehari, kantorpun tidak memperbolehkan para pekerja dikantor lebih dari jam 16.00.


Dengan semangat aku menyelesaikan pekerjaanku. Tak terasa sudah jam 15.00, waktunya untuk aku pulang kerumah dan beristirahat.


"Misel kamu pulang naik apa?" ujar pak Awan yang tiba-tiba menghampiriku.

__ADS_1


"mm... naik grab car pak".


"pulang bareng saya aja yu, lagi pula rumah kita kan searah".


"memangnya tidak merepotkan bapak?".


"saya yang menawari, jelas saja saya tidak merasa di repotkan, saya malah senang di repotkan olehmu" ucapnya sambil membukakan pintu mobil.


Aku pun menerima tawaran pak Awan, aku segera masuk ke dalam mobil. Di sepanjang jalan pak Awan banyak bertanya padaku, tentang pribadiku.


"Misel kamu punya pacar?" tanya pak Awan dengan suara lantangnya.


"saya nggak punya pacar pak".


"yakin wanita secantik kamu belum punya pacar?.


"saya emang nggak punya pacar pak".


"bagus deh kalau begitu kan nggak ada yang marah kalau saya terus-terusan antar kamu pulang" ucap pak Awan sambil tersenyum manis padaku.


"oh iya, kalau lagi diluar kantor, kamu panggil Awan saja, nggak perlu pakai sebutan bapak".


"mmm... iya pak, eh iya Awan" ucapku dengan gugup.


Tak terasa aku sudah sampai di depan pintu pagar rumah, tapi setelah aku turun dari mobil,


"apa aku boleh minta nomor mu?" tanya Awan sambil


memberikan handphonenya.


"mm... boleh" kataku sambil mengambil handphone miliknya.


"ini, terimakasih karena sudah antar aku pulang, kamu hati-hati".


"kamu juga hati-hati, jangan sampai nabrak pagar ya karena terus-terussan tersenyum padaku" ucap Awan dengan tertawa sambil menutup kaca mobilnya.


"siapa dia? tiba-tiba datang padahal aku tak mengundang"


Aku bergegas masuk ke dalam rumah,


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsallam, anak mamah pulang sama siapa".


"diantar pak Awan mah" ucapku sambil tersenyum.


"yasudah sekarang mandi, makan lalu istirahat".


Aku sudah bisa tersenyum karena kehadiran Awan, padahal ia hanya atasan ku saja.

__ADS_1


__ADS_2