Singgah Sejenak

Singgah Sejenak
My Wedding


__ADS_3

Hari sudah pagi, menunjukkan pukul 09.00


*TOK TOK TOK...


suara pintu rumahku


"Dimas datang" ucapku dalam hati.


"eh ayo sini masuk" ucap mamahku sambil membukakan pintu.


Keluargaku dan keluarga Dimas duduk di ruang tamu dan membicarakan tentang pernikahan kami.


Dan bertemulah dengan tanggal 17 desember, itu waktu yang singkat. Sekarang saja sudah tanggal 4 desember. Keluargaku dan keluarga Dimaspun sepakat untuk menikahkan aku pada tanggal 17 desember nanti.


"kamu yakin sayang akan secepat ini?" tanyaku padanya.


"bukannya semakin cepat semakin bagus ya? Kamu gamau menikah denganku cepat-cepat?" jawab Dimas yang malah balik bertanya padaku.


"bukan begitu, sekarang saja sudah tanggal 4 dan kita menikah tanggal 17, hanya 13 hari saja kita mempersiapkan semuanya"


"kita jalani semuanya berdua" ucap Dimas dengan begitu santainya.


Karena sudah siang, keluargaku dan keluarga Dimas makan siang bersama. Setelah itu keluarga Dimas pamit untuk pulang.


"jadilah istri yang baik ya nanti, nurut dengan kata-kata Dimas nanti jika sudah menjadi suami istri" ucap mamah padaku.


*aku menganggukkan kepalaku.


Karena hari pernikahan semakin dekat, aku sibuk mempersiapkan semuanya. Memilih baju pengantin, membuat undangan dan menyebarkannya, menentukan makanan apa saja yang nanti ada dipernikahan kami.


Tak terasa h-2 pernikahan sudah semakin dekat. Undangan sudah tersebar luas. Tapi anehnya, Dimas hilang tidak ada kabar, nomornya tidak bisa dihubungi, begitupun dengan keluarganya pun tidak ada yang bisa dihubungi. Aku sudah berusaha mencari Dimas, aku cari kerumah Dimas, tapi ternyata rumahnya kosong.


Aku terus berpikir positif tentang Dimas. Mungkin saja ia sedang ada urusan dengan keluarganya.


Besok adalah hari pernikahan kami. Tetapi Dimas masih saja belum ada kabar, tapi aku tetap mempersiapkan semuanya untuk besok.


Aku menangis sampai tertidur.


Dimana Dimas?


Bagaimana kabar Dimas?


Apa salahku pada Dimas?

__ADS_1


Mengapa ia tiba-tiba menghilang?


Sampai pada akhirnya hari pernikahan ku tiba. Aku terbangun terlalu pagi hari ini, aku mempersiapkan semuanya. Aku berusaha untuk menelfon Dimas. Tapi nomornya tidak bisa dihubungi, begitupun dengan kedua orang tuanya.


Aku bersiap-siap karena akad kami pagi pukul 07.00,


Tetapi sampai pukul 07.30 Dimas dan keluarganya belum tiba dirumahku. Aku terus berpikir positif tentang Dimas.


"Mungkin ia kejebak macet dijalan" ucapku dalam hati.


Sudah pukul 09.00 sudah 2 jam dari waktu yang sesungguhnya, aku menangis karena Dimas dan keluarganya tak kunjung datang. Aku berusaha menghubungi Dimas tapi tetap saja nomornya masih tidak bisa dihubungi.


Kedua orang tuaku marah, bahkan ikut menangis melihatku. Entah apalagi yang aku rasa kini. Sampai sore hari Dimas belum juga tiba.


Aku tidak bisa menyesal, aku tidak bisa mengulur waktu. Laki-laki yang berjanji akan menikahiku tiba-tiba hilang tanpa kabar bahkan tanpa alasan. Apa salahku Dimas? Sudah 4 tahun kita menjalin LDR, tapi disaat hari kebahagiaan datang, kamu malah menghilang.


Aku menangis sejadi-jadinya. Aku benci. Aku merasa tuhan tidak adil. Aku merasakan hidup yang begitu pahit kini. Aku yang sudah berusaha bertahan kini sia-sia. Ia hilang entah kemana.


Apa kamu tak tau rasanya sakit hati ini?


Kamu kenapa tega? Kamu kenapa pergi? Kamu kenapa menghilang? Apa kamu sudah tidak cinta denganku?


Semua pertanyaan itu ingin sekali aku tanyakan pada Dimas jika ia kembali. Janji manisnya kini menjadi pahit, hampa, bahkan membuatku tak bahagia.


"Kamu pergi dihari pernikahan, hilang tanpa kabar, pergi tanpa alasan. Dan hanya meninggalkan luka bukan kebahagiaan"


Aku masih kebingungan, apakah ini mimpi? Apakah ini sebuah tipuan? Tapi nggak semungkin selama ini ia pergi.


Aku malu, orang tuaku malu. Putri satu-satunya gagal menikah dengan laki-laki pilihannya.


Sudah 3 minggu Dimas masih belum ada kabar. Aku tidak ingin keluar rumah. Aku ingin diam dan merenung didalam kamar.


"Laki-laki yang dulu membuatku jatuh hati, kini membuatku patah hati"


Aku merasa bahwa aku seperti orang yang tak pernah bisa untuk bahagia semenjak ia pergi. Aku terus bertanya-tanya, bahkan aku sempat menyalahkan tuhan, aku sempat menganggap bahwa tuhan tidak adil padaku. Ia merangkai takdir yang sama sekali tidak aku inginkan.


Kuatkan hatiku tuhan...


Tegarkan hatiku...


Aku kehilangan kesabaran dihatiku, aku kehilangan senyum pada diriku, aku lupa bahkan tidak tahu bagaimana caranya menyusun kembali hatiku yang sudah dihancurkan olehnya, bagai ditusuk berjuta-juta pisau hati ini.


Mamah dan papah selalu menguatkanku setiap detik berjalan.

__ADS_1


"anak mamah kuat, anak mamah tabah, anak mamah cantik, anak mamah berhak bahagia" ucap mamah yang menguatkanku.


"derasnya air hujan turun beriringan dengan turunya air mataku meratapi kesedihan"


Aku kuat, aku sabar. Ini semua sudah terjadi, aku hanya bisa meratapi dan tak bisa mengulang kembali.


Beberapa hari yang lalu,


aku asik bercanda gurau


mengeluarkan suara tawa dan canda,


kapan dan dimana saja


Tapi,


Kini tampak berbeda


Aku diam tanpa bicara


Tidak ada sepatah kata


Apalagi suara tawa


Mungkin aku mengerti,


Ini adalah takdir yang tuhan beri


Bedanya suasana hati,


Membuat aku merasa sepi


Kini,


Aku sedang berusaha mencari


Mencari senyumku yang hilang semenjak kamu pergi


Mencari kebahagiaanku seorang diri,


Bahkan mencari kamu yang telah lama pergi


Aku harus bahagia. Aku harus tersenyum. Mamah dan papah pasti sedih melihatku terus-terusan merenung seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2