
Sebut saja Marryana perempuan dewasa yang berkarir sebagai konsultan.
Orang-orang menggunakan jasanya untuk terapis masalah seputar kehidupan pribadi sosial bahkan cinta dan jodoh.
Pasien yang datang dari kalangan muda dewasa dan sudah berumah tangga.
Dari cara marryana menghadapi pasien cukup mendengarkan keluhan dan curhatan, bahkan banyak pasien yang menangis kala menceritakan problemnya.
Satu pasien bisa menghabiskan waktunya 1-2 jam hingga emosinya reda.
Mengobrol dengan berbagai karakter menjadi hiburan tersendiri.
Marryana tidak merasa takut menghadapi orang dengan segala masalahnya. Ia cukup tau bagaimana menghadapinya.
Siang menunjukan pukul 12 lebih. Marryana mengakhiri sesion konsultasi dengan pasien.
Ia mendorong kursinya dengan memundurkan, merasa cukup lelah dan lapar setelah berjam-jam mengobrol.
Marryana butuh secangkir kopi dan makanan untuk mengembalikan energinya.
Sambungan telepon pada sekretaris didepan tersambung.
Tuut! Tuut! Tuut!
"Desy apakah masih ada pasien di depan?''
"Tidak ada bu!''
"Baiklah saya akan keluar untuk makan siang. Tolong tunda kunjungan pasien berikutnya di jam 3 sore!"
"Baik bu!" Jawab Desy
Klik!
Panggilan pun berakhir.
Marryana merapikan penampilanya dengan menyisir rambut yang berwarna coklat dengan jarinya.
Tangannya meraih tas kerja dompet dan hand phone androidnya kemudian memakai kaca mata sebagai pelindung.
Berjalan melewati lorong tunggu pasien yang mengunjunginya Marryana keluar gedung kantornya.
Ia mendapati tukang parkir yang mangkal sepanjang ruko mengangukan kepala sopan.
"Siang bu.. "
"Siang juga pak! Pak Dirman saya pergi dulu cari makan!" Jelas Marryana
"Silahkan bu! Saya minum kopi saja di warung!" Sautnya mempersilahkan
Senyum tipis Marryana terbit dan pergi melenggang menyebarang jalan.
Kaki jenjangnya menapaki jalanan Aspal yang panas.
Ia melewati mobil yang merayap sepanjang jalan.
Tiba disebrang jalan Marryana melenggang menyusuri pinggiran mall dan masuk melewati pintu kaca.
Suara hiils pantofel bertabrakan dengan lantai granit mall menimbulkan suara.
Tak! Tak! Tak!
Kakinya masuk melewati pintu kaca lain didalam mall. Suasana mall cukup ramai siang ini. Terlihat dari banyaknya pengunjung yang lalu lalang disekitar mall lantai satu dan dua juga diarea resto hanya sekedar bersantai dan makan siang. Marryana memilih meja bundar yang masih kosong untuk bersantai menikmati istirahat siangnya.
Seorang waiters muda menghampiri tempat duduknya dengan membungkuk sambil menyerahkan menu resto.
Ia menunggu Marryana melakukan pesanan.
"Saya minta Americano satu, lagsana dan kentang goreng!" Marryana menyebut pesanan dan menyerahkan daftar menu.
Waiters mengulang kembali pesanan yang diminta.
"Ada yang lain nona?" Imbuhnya
"Air mineral dingin satu!" Tambah Marryana
"Baik kak! Silahkan ditunggu!" Waiters itu membungkuk dan berlalu membuat pesanan.
Marryana meraih benda pipih kesayangannya kemudian membuka aplikasi chat hijau.
Ia mendapati beberapa pesan masuk dan belum sempat dibaca.
Asik membalas pesanan di android miliknya tak terasa menu makan siang pun datang.
Marryana mengakhiri aktivitas chatnya dan focus pada hidangan didepan.
Aktivitasnya terhenti karena seseorang sedang permisi padanya.
"Boleh saya satu gabung disini nona?" mohonnya
Marryana menelisik pria didepannya. Pria jangkung yang sedang bicara padanya.
"Boleh nona?" Ulangnya
Seper sekian detik Marryana baru paham kalau sekitaran resto sedang banyak pengunjung, sehingga hampir semua meja dipenuhi pengunjung.
Marryana mempersilahkan pria didepanya untuk bergabung dalam satu meja.
"Terimakasih"
"Maaf ya! Nona jadi terganggu" Susul pria itu sungkan
Marryana menggelengkan kepala tanda tidak keberatan.
Ia tidak menjawab karena sedang mengunyah.
"Tidak apa! Santai saja!" Susul Marryana setelah mendorong makanannya dengan air mineral.
"Saya Dion!" Pria itu mengenalkan diri
__ADS_1
"Marryana!" Sambut Marryana
"Panggil Marry saja!"
"Baiklah Marry!" Dion menyambut senang
Pesanan Dion pun datang dan keduanya terlibat obrolan ringan.
Dion menilai Marryana perempuan yang humble dan menyenangkan.
Dering telepon berbunyi panggilan masuk di Android Marryana.
"Maaf aku angkat dulu" Marryana permisi ditengah obrolannya dengan Dion.
Dion mengangguk sebagai balasan dia tidak keberatan
"Hii honey..."
"Hai sayang.."
"Hoo Iam fine thanks! How about you!
"Ohh aku baik terimakasih! Kamu apa kabar!'
"I take lunch! No I take lunch with a friend!"
"Aku sedang makan siang! Tidak! Aku makan siang dengan seorang teman!"
"Ok! I call you when I'am alone!"
"Ok! Aku akan telefon kamu saat aku sendiri!"
"Ok baby! Take care!"
"Ok sayang! Hati-hati!"
" I love you badly"
"Aku mencintaimu sangat!"
Panggilan berakhir.
Marryana meletakan Android-nya diatas meja.
"Maaf!" Ia mengurai senyuman
"He's my boyfriend! Lagi-lagi Marryana mengurai senyum.
Dion pun tersenyum. Hatinya mencelos kecewa saat mendengar pengakuan Marryana mempunyai pacar.
Dion sungguh tertarik pada pandangan pertama. Dibalik senyum Dion merencanakan sesuatu.
Dia tidak ingin melepas kesannya pada Marryana.
Aku menyukaimu Marryana.
"Hai Boleh aku mengunjungimu?" Dion tersenyum meminta izin menatap wanita didepannya
"Ayolah Marry.. " Dion melancarkan aksinya melihat Marryana nampak berfikir keras
"Hai!" Tegur Dion lagi. Dia mengurai senyum paling manis untuk seorang Marryana. Hatinya keukeuh tidak menyerah
"Baiklah Dion! Aku permisi aku harus kembali ke kantor!" Ujar Marryana. Ia tampak membereskan dompet dan Android-nya kedalam tas kerja
Yess! Girangnya hati Dion saat mendapatkan lampu hijau.
"Tunggu! Tunggu! Marry berikan hp mu aku belum memberikan nomber kontak!" Dion meminta benda pipih yang belum lama Marryana masukan kedalam Tas.
Marryana tergugu masih nampak berfikir.
"Hai!" Dion melambaikan tangan didepan wajah Marryana yang masih berfikir
"Bagaimana aku menemukanmu jika nomber kontak saja aku belum tau" lagi-lagi Dion tersenyum manis
Marryana mengulas senyum dan mengeluarkan hp-nya
"Jangan menghubungiku saat aku kerja!" Pintanya
Tangan Dion terulur mengambil hp kemudian menyimpan nomber kontak.
Demikian Dion menyimpan nomber Marryana dikontaknya.
"Terimakasih cantik" Matanya membuat kedipan nakal
Marryana melototkan matanya tanda tak suka "Hush!"
Dion tersenyum lebar merasa menang telah mengantongi nomber si cantik.
Marryana pun berlalu pergi meninggalkan Dion sendiri.
Dari balik kaca Dion menilik kemana arah Marryana pergi.
Dalam hatinya dia sangat senang tidak sabar menunggu malam tiba untuk membuat panggilan.
Tangannya memutar-mutar benda pipih sambil terus berfikir bagaimana melancarkan aksinya nanti.
Di kamar hotel Dion merebahkan badannya tak sabar menunggu jam berputar. Dia mengingat semua obrolan bersama Marryana. Mengingat bagaimana Ia terkekeh sekaligus tersenyum ketika menanggapi banyolan Dion.
Ahhh Dion tak sabar menunggu. Dia memulai panggilan.
Tuut! Tuut! Tuut!
Panggilan ketiga belum juga direspon
Dion is calling!
Ponselnya bergetar dinakas.
Marryana yang mendengar handphonenya bergetar bergegas menggeser tombol hijau.
__ADS_1
"Hai! Maaf tadi masih mandi"
Seketika pikiran Dion melayang membayangkan wanita didepannya sedang memakai handuk saja!
"Ahh sweet" Dion spontan berucap
"What!" Diluar dugaan Marryana merespon tak senang
"What sweet Dion!"
"Tidak! Tidak! Itu bukan untuk mu!" Elaknya. Dion buru-buru merubah imagenya. Dia tidak ingin Marryana salah paham.
"Marry boleh kita jalan sekedar ngopi? Aku masih akan tinggal hingga minggu malam"
"Atau nonton. Aku masih ingin di Bandung!"
"Aku tidak janji ya! Kalau tidak pacarku membuat panggilan aku biasa keluar makan dipinggiran kota!"
"Tidak masalah Marry! Terimakasih sudah meluangkan waktu! Btw dimanakah itu?"
"Banyak warung pinggir jalan yang buka di trotoar jalan. Kamu harus melihat keramaian kota saat malam hari Dion!"
Di kamar hotel Dion tersenyum lebar membayangkan berduaan menghabiskan malam bersama Marryana.
"Dion maaf! Aku harus mengakhiri panggilan. My boyfriend calling me! byee!" Marryana mengskhiri panggilannya dan otomatis menyambung dengan panggilan berikutnya
"Baby how are you!"
"Sayang apa kabar!"
"Iam good Baby! How are you!"
"Aku baik sayang! Apa kabar!"
"I miss You Baby! Open camera please!"
"Aku merindukamu sayang! Buka kamera!"
Marryana mengubah panggulan menjadi vedio call. Camera pun terbuka.
"Woww! Baby look nice!"
"Woww! Sayang terlihat menyenangkan!"
Pria bule itu berseru riang demi melihat wajah Marryana didepanya.
Marryana tersenyum manis membuat ciuman diatas kamera.
"I missYou too Baby!"
"Aku merindukamu juga sayang!"
"Hohoho You wearing towel only?"
"Oh oh oh kamu sedang menggunakan handuk saja?" Pria bule itu melihat gambaran di ponselnya
"Can I taouch You Baby! Ohh Iam coming!"
"Sayang bisa aku menyentuhmu! Ahhh aku datang!" Pria bule itu mencium diatas kamera
Marryana dengan suka rela melakukan phone s*X dengan kekasihnya. Dia wanita dewasa yang membutuhkan sentuhan kekasinya. Pria bule itu adalah pacar virtualnya selama dua tahun terakhir.
Keduanya terengah diatas ranjang masing-masing. Kamera masih terhubung memperhatikan satu sama lain bagaimana pasangan kekasih ini sama-sama bersimbah peluh setelah berbagi kenikmatan tanpa saling menyentuh.
Bagi Marryana ini adalah hiburan sekaligus pelepas rindu dengan kekasih jauhnya.
Pria bule itu mencium beberapa kali didepan kamera menunjukan cinta dan kepuasan.
"Baby I love so much! Thanks we have some fun tonight! Are you happy Baby!"
"Sayang aku sangat mencintaimu! Terima kasih kita melakukan beberapa kesenangan malam ini! Apakah kamu senang sayang!"
"Yess! I'am so happy baby! You always me me happy even we meet!"
" Ya! Sayang aku sangat bahagia! Sayang kamu selalu membuatku bahagia!" Jawab Marryana tulus.
Mereka masih bersitatap berbagi senyum dan kecupan.
Getar-getar cinta bergelenyar seperti setrum. Marryana menggigit bibir bawahnya. Ia tersenyum sesekali terkekeh kecil menanggapi kekonyolan kekasih virtualnya di camera.
"Don't naughty baby! look snake getting on!"
"Jangan nakal sayang! lihat ular hidup lagi!" Pria bule itu tergelak seraya menunjukan adik kembarnya didepan camera.
Sontak Marryana pun tergelak!
"Ohh Baby I wan You again. Please touch me!"
"Ahh sayang aku ingin menyentuhmu lagi!" Pria itu menampakan perut atasnya.
Marryana mendekatkan kamera melakukan sentuhan sekaligus kecupan.
Terdengar suara ero**X bersamaan dengan kembarannya yang menegang.
"Baby ahh!"
"Sayang ahh!"
"Baby I'am toucing urs uughh!"
"Sayang aku menyentuhmu uughh!"
" Ahh Baby touch her.. I's so crazy inside!"
"Ahh sayang sentuh dia.. dia sungguh gila didalam!"
"You are so h*t Baby! Ah! ah!"
"kamu sangat panas sayang! Ah! Ah!"
__ADS_1
Adegan virtual s*X rounde two berlangsung hingga keduanya melakukan pelepasan.
Mereka tertawa lepas bahagia menghabiskan dating online.