Single Lady

Single Lady
BAB iv Kepikiran


__ADS_3

Plot Marryana


Pintu terbuka lebar setelah Marryana berhasil membuka kunci pengaman.


Marryana masuk kemudian menutup pintu dengan dorongan kakinya. Tangannya repleks menekan saklar lampu ruangan yang gelap berubah terang.


Ia baru saja tiba di apartemen miliknya setelah Dion mengantar hingga bestment.


Melepas sepatu hiils dan menaruh tasnya di nakas Marryana berjalan ke arah toilet belakang yang melewati ruang tengah dan dapur tanpa sekat.


Ia meraih remote AC kemudian menyalakan ruang pendingin.


Mengambil mandi untuk membersihkan sisa-sisa percintaan tadi dan keringat malam sebentar Marryana keluar hanya menggunakan handuk kimono yang tergantung di hanger kamar mandi kemudian kembali ke arah lemari kulkas mencari sesuatu yang bisa menenangkannya pikirannya yang sejak tadi naik turun tak karuan.


Berjalan menenteng botol milk tea kemudian mendudukan dirinya di atas shopa.


Menghidupkan layar televisi dengan remote control.


Marryana memilih Chanel musik dunia.


Menegak langsung dari bibir botol pikirannya melayang mengingat kembali saat Dion menangkap jari-jari tangannya menggenggam dan menaruh di paha Dion.


Dadanya berdesir halus mengingat bagaimana Dion meremasnya lembut jari-jarinya dalam genggaman seakan mengalirkan rasa.


Terngiang bagaimana Dion mengenalkan dirinya sebagai pacar yang cantik pada Driver online.


Entahlah mengapa hatinya menghangat.


Ia sontak terkejut ketika Dion mengecup sekali dua kali telapak tangan dan menatap dirinya lembut kemudian menaruhnya di atas dada.


Menggenggam dalam diam.


Dion memejamkan matanya mengukir senyum sesaat bersandar.


Matanya terbuka sebelah saat itu dirinya tengah melihat apa yang sedang Dion dilakukan.


Sungguh Marryana sudah menariknya kuat tapi Dion tak membiarkan tangannya lepas bahkan terus menaruh didadanya.


Dion memejamkan matanya kemudian membukanya satu mengintip dirinya.


Ia membuang muka menghindari tatapan bak biusan yang menusuk menimbulkan efek berhenti bernafas.


Lewat tangannya Marryana merasakan bagaimana detakan Dion berbeda dari degupan normal.


Seakan sedang menunjukan rasa yang tak biasa.


Bila harus jujur detak yang dia alirkan sama persis dengan apa yang dirasakan Marryana saat ini.


Ia menetralkan gemuruh didadanya seperti sekarang ini yang tak kunjung normal.


Mengatur nafas senormal mungkin seperti yang biasa Ia intruksikan kepada pasien saat datang berkunjung.


Menarik nafas sedalam Ia bisa kali ini iya meraup sebanyak mungkin tanpa takut Dion akan memeregoki kegugupannya.


Sungguh Marryana dilanda kebingungan Ia lupa tentang teorinya sendiri bagaimana kecakapan saat Ia menggiring pasien dalam kondisi gundah.


Plot Dion


"Jalan Pak!" Dion mengintruksikan setelah mengantar Marryana ke apartemen.


Marryana kena kau! Aku akan mengejarmu sayang!


Sepanjang perjalanan ke hotel Dion terus mengulum senyum.


Hatinya luar biasa senang


Ini baru permulaan! Yess!


Dia memikirkan Marryana yang acuh tapi hangat.


Sosok itulah yang membuatnya merasa tertantang untuk terus mengejar perempuan dewasa!


Dion yakin aksinya tadi sedikit lebih maju.

__ADS_1


Marryana akan bisa dia taklukan tak perduli kalau gadisnya memiliki pacar virtual bahkan sudah dipacari selama dua tahun.


Yang nyata selalu didepan!


Dion terkekeh sendiri.


Ia yakin dan percaya diri Marryana lambat laun akan menerima dirinya dan menjauh dari pacarnya yang hidup dalam bayangan.


Marryana menggeliat dari tidurnya.


Tersadar semalam Ia tertidur tidak dikamarnya.


Bahkan layar musik pun masih menyala.


Beberapa kali menguap masih enggan untuk bangun.


merenggangkan tangan dan kakinya bersamaan mengusir pegal karna salah tidur.


Masih menguap Marryana bangun dari tidurnya berjalan ke kamarnya.


Ingin melanjukan tidurnya yang dirasa kurang.


Ia melupakan sesuatu yaitu tas kerjanya yang teronggok di nakas.


Ia kembali membawa tasnya dan merongoh ponselnya sambil berjalan ke arah kamar.


Memeriksa pesan masuk di icon hijau.


Banyak sekali pesan dan panggilan masuk yang tidak sempat Ia periksa sebelum tidur.


Marryana memeriksa beberapa panggilan penting kemudian mengirim balasan.


Dua pesan yang tak bisa Ia abaikan yaitu dari Farouk dan Ibu sambungnya di yayasan.


Kini ada satu kontak lain yang menyita perhatiannya.


Kontak Dion!


Sekilas bayangan tadi malam terbersit.


Panggilan pertama


"Hallo Ibu... "


"Kabar Marryana baik Ibu... Ibu sendiri? Juga adik-adik...?"


"Syukurlah! Siangan Marry datang Bu..."


"Ibu mau Marry bawakan apa?"


"Okay! Kita ketemu di rumah sana..."


"Bye Ibu!"


Panggilan ke dua


"Hy!! Baby sorry I fell asleep last night!"


"Hy! Sayang maaf aku ketiduran semalam!"


"And that's why I didn't tell you!"


"Dan mengapa aku tidak mengabari mu!"


"Yess! I just wake up!"


"Ya! Aku baru bangun!


"I went to the fondation house to visit my mother!"


"Aku pergi ke yayasan mengunjungi Ibuku!"


"Yeah Baby I will call you again!"

__ADS_1


"Yeah sayang aku akan telepon kamu lagi!"


"Good night Baby and sleep well!"


"Selamat malam sayang dan tidur yang baik!"


"Muach! Muach!"


Marryana mengakhiri panggilannya dengan kecupan selamat malam untuk Farouk.


Perbedaan waktu disana dan disini menjadi malam dan pagi.


Panggilan masuk


Dion memanggil


Marryana menimbang antara mengabaikan dan menarik icon hijau


Panggilan panjang terus berdering


Dion tau kalau Marryana sedang online


"Ya Dion!" Akhirnya Marryana menarik panggilan ke arah hijau


"Marry apa kabar!"


"Baik! terima kasih! Kamu apa kabar!"


"Aku baik Merr! OYa! Aku sudah di Jakarta!"


"Emm Aku kira masih di Bandung"


"Kenapa Merr? Kangen Dion kah?" Terdengar kekehan Dion disana.


Masih saja narsis


"Kangen juga gak papa kali Merr!" Dion cengar-cengir dibalik ponselnya


"Dion juga mau dikangenin Merry!" Dion tergelak disana


"Hih! Kamu ya!" Marry mengulum senyum.


Dia membekap mulutnya sendiri agar tawanya tak didengar Dion.


"Aku harus ke Surabaya jadwal penerbangan jam sepuluh pagi!"


"Bagaimana tidurmu"


"Cukup nyaman" Marryana menyaut


padahal boro-boro nyaman Ia sendiri tertidur di shopa setelah memikirkan malam besama Dion di mobil.


Marryana menggelengkan kepalanya bibirnya melengkung menggambarkan senyuman


"Humm.. Sayangnya aku tidak!" Nada sedih terdengar dibalik ponsel.


"Aku kepikiran kamu he he he!" Secapat itu Dion mengubah suasana hatinya menjadi riang


Marryana merapatkan bibirnya agar tidak bersuara! Padahal jauh didalam hatinya Ia merasakan kembali desiran semalam.


Hatinya menghangat tiba-tiba.


Ia meremas dadanya menetralkan didalam sana.


"Dion... Aku udahan dulu ya! Maaf aku harus ke yayasan bertemu ibu!" Marryana ingin mengakhir panggilanya denga Dion.


"Umm baiklah!"


"Janji cerita apa itu yayasan ok!"


Dion membuat perjanjian untuk mengikat Marryana.


"Baiklah" Marryana menganggukkan kepala setuju. Padahal Dion tidak akan pernah melihatnya.

__ADS_1


"Bye!" Keduanya mengakhiri panggilan


__ADS_2