
Maaf raider! Aku ganti nama tokoh laki-laki farouk menjadi Altar!
Marryana mengakhiri sesi percintaannya dikamar mandi.
Kamera live masih juga menyala.
Ia membersihkan diri dibawah air shower. Sisa-sisa sabun jatuh terbawa air tipis-tipis. Sesekali mengumbar senyum sensual saat menggosok bagian tubuhnya.
Namun dibalik kamera Altar membalas senyum sang kasih. Sekarang Dia dalam mode off setelah tadi beberapa rounde melakukam percintaan. Altar menunggu sampai Marryana selesai mandi.
Bedanya Altar berbaring di atas tempat tidur.
Dibalik layar Marryana benar-benar menyelesaikan ritual mandinya. Melilit tubuh ramping dengan selembar handuk juga menggulung rambutnya yang basah.
Kamera bergerak menampakan bagian atas. Artinya Marryana menuju kamar.
" Baby... someday I will visit you and your Indonesia"
"Sayang... suatu hari aku akan mengunjungi mu dan Indonesia! "
"That suprise baby!"
"Itu kejutan sayang!" Marryana menghentikan sejenak aktifitasnya
"Do you want meet me?!"
"Apa kamu ingin bertemu aku?!"
"My pleasure! That mean I will hug You! Kiss you and atc in real!"
"Kesenanganku! Itu artinya aku akan memeluk mu! Mencium mu dan yang lain dalam nyata!" Marryana menjawab riang mendengar Farouk akan mengunjunginya.
"BTW! When you will come?"
"Ngomong-ngomong kapan kamu akan datang?"
__ADS_1
"When you want!"
"Kapan kamu ingin!" Altar balik bertanya menatap kamera didepan yang menampakan Marryana sedang berpikir dengan mengetuk-ngetukan jarinya.
"Where ever you have time than visit me baby! Im so happy!"
"Kapanpun kamu punya waktu kemudian kunjungi aku sayang! Aku sangat bahagia!
Jawaban Marryana membuat senyum Alatar mengembang. Dia suka Marryana yang tak pernah menuntut.
"Pray for me love! God will bring us together as soon as possible"
"Doakan untuk ku cinta! Tuhan akan membawa kita bertemu secepatnya!"
"I will baby!"
"Aku lakukan sayang!" Marryana membuat code
"Promise!" Secara bersamaan keduanya membuat code v dengan dua jari
"Ok sayang! Sekarang aku pergi tidur! Terimakasih untuk waktu bercinta!"
"Ok honey! Well come! Sweet dreams!"
"Ok sayang! Mimpi indah!"
Muach! Muach! Muach!
Kedua layar handphone dipenuhi banyak kecupan basah
Layar kamera berhenti mengakhiri sambungan.
Altar meletakan handphone di nakas.
Dia membayangkan bisa bertemu kekasih yang selama ini mengisi hari-harinya.
__ADS_1
Entah bagaimana nantinya tetapi mencipta saja sudah membuat hatinya senang.
Waktu cukup larut dinegaranya Turki hampir jam empat pagi. Dia harus segera pergi tidur atau dia akan terbangun dan terlambat bekerja.
Sebagai therapist dan konsultan yang bekerja mandiri Ia tak memiliki keterikatan waktu. Tetapi Marryana bukan sosok yang tidak disiplin. Ia memiliki tanggung jawab yang tinggi pada profesinya.
Kehidupan yang terbilang sukses tidak membuat kesederhanaan mengikis.
Ia sukses karena memiliki kakak dan orang tua asuh yang mendidik Marryana juga adik-adik.
Gambaran kehidupan yayasan yang jauh dari kemewahan membuat Ia tetap menjadi sosok yang sederhana.
Materi yang Ia punya pun sekarang bukan untuk dinikmati sendiri tetapi ada adik-adik di dalam yayasan yang membutuhkan.
Marryana bahkan tak memiliki barang mewah seperti mobil atau gemar mengkolesi tas sepatu atau perhiasan.
Barang berharganya hanya tabungan dan hunian apartemen. Saat itu Ia memutuskan membeli apartemen dengan mencicilnya.
Marryana bukan tak mampu membeli dengan cara cash tetapi Ia tidak ingin serakah sehingga pasokan ke yayasan menjadi berkurang atau lambat. Bahkan Marryana tidak memiliki sebuah kendaraan khusus dan kemanapun Ia tak segan untuk pergi dengan mobil angkutan atau bis kota.
Bahkan berjalan jauh pun dibawah terik matahari Ia masih sanggup.
Di kantor.
Marryana merenggangkan tangannya membuat gerakan ke kiri ke kanan.
Sejak pagi kata-kata itu masih terngiang bagaimana Altar mengatakan akan mengunjunginya. Rasanya ingin percaya tapi tidak mungkin!
Marryana tak bisa membohonginya hatinya yang membucah bahagia seakan Altar akan datang dalam waktu cepat!
Garis senyum membingkai wajahnya menambah aura jatuh cinta.
Ya Ia seperti gadis belia yang sedang jatuh cinta!
Karena selama ini tak ada laki-laki yang dekat dalam kehidupan Marryana.
__ADS_1