
Waktu bergulir mengiringi perjalanan manusia dengan segala aktifitas dan rutinitas.
Dion duduk sendiri menunggu pasien terakhir keluar privat room. Ponsel adalah pelarian terakhir menunggu giliran bertemu sang pujaan.
Siapa lagi kalau bukan Marryana wanita yang sudah mencuri harinya sejak pertemuan pertama.
Pintu ruangan terbuka disusul seseorang keluar pria tua dari balik pintu.
"Mari mbak" Pria tua itu sedikit mengangukan kepalanya. Sekali lagi meanganguk ke arah Dion kemudian pergi meninggalkan ruang tunggu.
"Silakan Pak Agung! "
Tuuut! Tuuut!
Klik!
"Ya bu!" Dewi menyahut panggilan Marryana
"Apa masih ada pasien?"
"Pak Agung yang terakhir bu!"
"Ok baiklah! Kamu boleh ambil berkasnya sekarang!" Terdengar Marryana menginterupsi
"Baik bu!" Dewi sekretaris mengakhir panggilan dengan menekan tombol off.
Dion berdiri ke arah Dewi. Dewi yang faham akan gestur Dion dan belum sempat bicara dengan atasannya memberikan isyarat agar Dion kembali. ke posisi semula.
Dion yang mendapat isyarat pun akhirnya kembali duduk.
Duduk tegak menunggu panggilan.
Tak lama pintu ruangan terbuka Marryana lebih dulu keluar dan disusul Dewi.
Marryana menghampiri Dion yang sudah berdiri dengan senyum yang mengembang. Saling menyalami tangan bersambut dan menggenggam. Dion tak serta merta me lepaskan genggaman nampak kerinduan di matanya yang berbinar dan senyum yang tak pernah pudar
"Marryana apa kabar? " Dion menelisik wajah Marryana dibawah lampu ruang.
"Baik! Kamu apa kabar Dion! " Marryana memberi isyarat mengajak Dion untuk masuk
"Ah syukurlah! Aku fine! " Dion merentang akan tangannya dan berputar kemudian diiringi kekehan
Berdua masuk kedalam ruangan. Marryana mempersilhkan Dion untuk duduk di shopa seperti waktu itu.
"Kapan datang Yon!" Marryana bertanya sambil merapikan meja kantor
__ADS_1
"Belum lama. Aku kangen kamu Mer!"
Marryana menghentikan kegiatan sejenak kemudian menoleh menampilkan wajah mengejek!
"Hey aku serius!" Dion membuat syimbol dua jari✌
"Ok Yon! " Marryana menanggapi dengan senyuman
"Marryana kamu gak rindu aku hmmm..."
Tiba-tiba saja Dion beribisik sontak membuat Marryana kaget. Ia tidak mengetahui kalau Dion sudah berada di dekatnya bahkan sangat dekat
"Hih kebiasaan!" Marryana mengelus dada
Dion yang mendapatkan protesan hanya nyengir saja.
Tiba-tiba saja Dion mengurung Marryana dengan kedua tangan bertumpu pada meja dan sandaran kursi.
"Kamu belum jawab pertanyaan ku manis"
Marryana yang mendapat serangan mendadak menjadi gugup. Ia mematung menatap Dion yang mendongkak ke arah bawah. Masalahnya hembusan nafas Dion menerpa telinga juga pipinya.
"Yon lepaskan jangan begini! " Marryana berusaha menyingkirkan tangan Dion yang bertumpu di meja.
"Aku merindukanmu Marryana... " lirih lembut dan halus
Marryana sempat merinding Ia memalingkan mukanya ke arah samping. Marryana tidak ingin memperlihatkan rasa gugupnya.
Sejenak terdiam Dion bahkan Marryana sedang menetralisir debaran yang tercipta karena ulah Dion.
Susah payah Marryana menelan liurnya yang terasa nyeri.
Ia sadar tak pernah sedekat ini dengan seorang pria.
Dia dekat dengan pasien karena profesional kerja tak pernah menambatkan hati untuk seseorang.
Tetapi mendapat serangan dari pria dewasa seperti ini meruntuhkan sikap yang selama ini Ia bangun.
"Yon lepasin!" Marryana memberanikan diri menatap manik Dion.
Dadanya bergemuruh hebat Ia menyadari kegugupan sendiri.
Dion menatap Marryana dibawahnya tersenyum mengusap pipi merona lady dengan jarinya.
"Ok manis!" Dion melepaskan diri. Bergerak mundur dan menjauh ke arah shopa.
__ADS_1
Marryana akhirnya bisa bernafas lega. Dengan cepat Ia memasukan barang pribadinya kedalam tas. Membawa ke arah shofa dimana Dion duduk disana.
"Kamu sudah makan Mer?"
"Belum. Tapi aku belum lapar" Marryana menggeleng pelan
"Umm baiklah bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat" Dion memberikan idenya
"Kemana? "
"Ke mall!"
"Aku gak ada keperluan ke mall!"
"Ayolah! setelah ngemol kita makan!" Dion merengek seperti anak kecil. Marryana meletakan bantal diatas muka kemudian tergelak bersama
Menelusuri mall di malam minggu banyak pengunjung dari pasangan muda mudi remaja dan yang sudah berkeluarga memenuhi berbagai area.
Pusat belanja lengkap seperti ini menjadi ajang hiburan di kota-kota besar.
Hanya sekedar hang-out makan-makan selfie dan belanja.
Gemerlap kamu menambah ramainya hiruk pikuk mall yang tutup hingga malam
Dion menarik jemari Marryana ke eskalator yang berada di tengah. Mereka seperti pasangan kekasih yang sedang kencan. Mengobrol ringan sepanjang koridor sesekali diiringi kekehan khas ala Dion dan Marryana.
Tiba di lantai tiga ruang paling sudut Dion menghentikan langkahnya. Berdiri di pintu kaca besar yang terbuka dan tertutup sendiri karena sensor Dion menarik jemari Marryana untuk masuk menapaki karpet tebal yang empuk.
Aroma khas panggangan bakery dan kopi menyeruak penciuman.
Marryana mengedarkan pandangannya kemudian berdiri menghadap Dion
Dengan gesturnya seakan bertanya kita akan menonton?
Dion mengangguk mengiyakan
Marryana membulatkan matanya seakan tak percaya.
"Aku belum pernah masuk studio Yon! " Marryana setengah berbisik
Dion menatap sekilas dengan cengiran sambil menepuk-nepuk dadanya "Jangan takut ada Dion manis"
Dion setengah berbisik menjawab pertanyaan Marryana
Hih! Marryana menatap sebal yang hanya ditanggapi dengan cengiran
__ADS_1