Single Lady

Single Lady
BAB iii Hati Yang Deg-Degan


__ADS_3

"Maaf" Dion bangun dan berucap


Tetapi sesungguhnya apa yang terucap meninggalkan pertanyaan yang dalam.


Kain segitiga yang berbahan lembut mengusik penasaran.


Bukan gundah tapi cukup membuat Dion gelisah.


Dion sempat meremas kain satin segitiga berenda berwarna cream.


Dia yakin itu milik gadis didepannya.


Kain segitiga yang mampu mendebarkan jantungnya.


Masih terasa lembutnya kain satin berenda bahkan Dion masih bisa mencium baunya. Luar biasa menyegarkan kelaki-lakianya.


Sekuat ini Dion menekan rasa gelisahnya didepan gadis pujaan.


Dia berusaha normal dan baik-baik saja.


Dion tidak ingin hubungan pertemanan yang baru seumur jagung menjadi jauh .


Dion akan sanggup belaku cuek dan tak perduli demi memuluskan rencananya.


"Ayo pergi!" Ajak Dion mengurai senyum


Dia tidak ingin kejadian tadi membuat jarak dengan Marryana


"Malam ini aku harus pulang ke Jakarta" Tatapnya teduh seperti tidak terjadi apa pun.


Marryana menatap Dion sekilas kemudian memasukan milik pribadinya kedalam tas kerja dengan cepat


Dion tersenyum sangat sangat tipis bahkan hampir tak kentara saat Marryana memasukan underwear-nya.


Marryana masih belum mau bersuara.


Jauh didalam hatinya Ia sangat malu dan gugup.


Ia meruntuki dirinya yang bodoh dan ceroboh.


Ia hampir kehilangan mukanya.


Jujur Ia tak sanggup untuk menatap bahkan bila harus bersisian dengan Dion.


"Ayo! Keburu malam Marry!"


"Aku sudah sangat lapar" Ajak Dion kembali membuat kode untuk segera meninggalkan kantor.


Sesungguhnya Dia pun sama risihnya dengan Marryana tapi Dia laki-laki dewasa yang tidak harus bersikap julid.


Setelah hal mendebarkan untuk Dion dan memalukan untuk Marryana akhirnya Marryana melangkahkan kakinya keluar mengukuti Dion.


Marryana masihk enggan bicara. Ia seperti kehilangan kata-katanya


Dion tidak ambil pusing baginya malam ini ingin sekali menghabiskan malam panjang dengan sang pujaan.


"Marry! Aku ingin makan yang hangat-hangat atau yang berkuah!" tengoknya ke arah Marryana yang sedang mengunci pintu kantor dari luar.


"Tapi sungguh aku tak tau dimana!"


"Tempat yang santai dan cukup enak buat ngobrol. Kali ini aku yang teraktir okay!" Dion masih berusaha mencairkan suasana yang membeku sejak tadi.


Terlihat Marryana mengangguk pelan. Ia mengambil nafas pelan sedang berusaha menetralkan susana dingin tak bersahabat akibat kejadian didalam tadi.


"Apa kamu lelah Dion?" Marryana bertanya entah apa maksudnya Dion masih belum mengerti


"Tidak! Tapi aku sangat lapar" Dion mengusap perutnya menunjukan Dia sangat tertarik dengan makanan saat ini


"Hummm.. Masalahnya kita akan berjalan sepanjang trotoar" Marryana menjeda ucapannya menatap sebentar Dion yang sedang berjalan beriringan


Dion menatap "Bukan masalah"


Dia meyakinkan Marryana bahwa semuanya baik-baik saja


"Baiklah!" Marryana mengangguk


Sepanjang mereka berjalan bersisian mengisi dengan obrolan ringan bahkan tidak ada lagi kecanggungan.


Sesekali mereka terkekeh.


Mereka berjalan cukup jauh. Tetapi Dion mengingat semuanya dengan baik jalan yang mereka lewati bersama akan meninggalkan kenangan untuknya.


Marryana berbelok ke arah kerumunan


"Dion sini!" Tapi Dion tak mendengar


Marryana menarik lengannya "Dion! Kamu mau kemana..."


Dion baru menyadari kalau seseorang sedang menarik lengannya. Ia menoleh


Dengan expresi lucu nampak kebingungan "Yah!"


"Sini ngantre!" Marryana menarik lebih kedalam


"Disini?" Dion bertanya dengan gestur tubuhnya mengantri dibelakang Marryana


"Iya Dion ihh! Berisik tau!" Marryana mendelik


Dion yang mendapat pelototan gadis pujaan malah tersenyum lebar memperhatikan giginya yang rapih.


Dalam antrean panjang Dion yang berada di belakang Marryana memperhatikan gadisnya dalam siluet malam.


Lampu penerangan seadanya membuat Dia beruntung setinggi-tinggi nya.

__ADS_1


Dion bahkan rela mengantri karena ternyata dia bisa berdesakan dengan Marryana tanpa kesengajaan, mencium aroma rambutnya mengenal bau parfumnya bahkan tanpa sepengetahuan Marryana jarinya yang nakal bisa bermain-main dengan rambut yang meriap tertiup angin.


Antrean meringsek kedepan meloloskan setiap pengunjung untuk mendapatkan makanan persamaan.


"Dion kamu jadi pesen lauk berkuah?" Marryana menunjuk sayur bening dengan sebuah centong.


"Jadi donk!"


"Yang panas-panas cocok buat yang lagi dingin" kekehnya abrsurd


Marryana menanggapi acuh.


"Teh mau soup kaki-nya satu" Pinta Marryana ke pelayan


"Boleh kak" Pelayan mengambilkan satu mangkok kemudian diisi dengan soup kaki bening yang panas


"Ini kak ambil di kasir ya!"


Pelayan membawa soup pesanan ke depan kasir menaruhnya dalam nampan kosong.


"Okay!" Marryana membuat kode dengan jarinya membentuk bulatan.


Ia mengambil beberapa lauk basah dan kering kedalam piring juga dua variant sambal berbeda kemudian membawanya ke arah kasir untuk di bayar.


Dion yang mengekor dibelakangnya mengikuti kemana Marryana berjalan.


Didepan kasir Dion mengambil alih nampan dan membayar semua pesanan setelah menyebut dua minuman panas dan tambahan nasi putih.


Marryana membawa Dion ke meja paling depan dengan pemandangan jalan aspal yang ramai dengan pejalan kaki.


Disini juga bisa menikmati musik jalanan yang sengaja mangkal dengan pemandangan bangunan tua dari arah sebrang.


Dion yang takjub dengan hiruk pikuk kota malam yang berbeda dengan Jakarta.


Lagu-lagu yang dibawakan pengamen jalanan cukup menghibur pengunjung yang sedang mengisi perut atau yang sekedar nongkrong.


Asap putih dari pengguna rokok dan vood menjadi pemandangan biasa setelah makan


Dia sangat menikmati berada disini bisa menghabiskan malam bersama.


"Selamat makan marry!" Dion memasukan suapan pertamanya


"Selamat makan Dion!" Marryana memulai ritual makan malam.


Disebrang duduk Dion sesekali melihat bagaiman Marryana makan yang menurutnya cukup unik. Gadis ini makan tidak menggunakan sendok makan tetapi menggunakan jari-jari tangan untuk memasukan suapan demi suapan.


Tak ada kesan jijik ketika bumbu mengotori jari-jarinya.


Tak ada ja'im-jaim Marryana melahap makanan cukup banyak dengan cowelan lalapan dan sambal.


Tangan yang lainya kadang sibuk mengenyahkan rambutnya yang ditiup angin nakal.


Ingin sekali Dion melap belepotan yang Marryana ciptakan, sisa-sisa bumbu yang menempel di sudut dan sekitar bibirnya menjadikan fantasi liarnya bergejolak


Marryana menoleh menghentikan sejenak kunyahannya


Tangan Dion terulur menyeka sudut bibir yang penuh bumbu


"Maaf!" Ucapanya. Dion menyerahkan tysu bekas bumbu


Marryana mendengus


"Jangan marah ya! Please!"


"Ihhh Dion ! jangan ganggu kalau aku lagi makan dan bekerja..." Lirihnya ditengah kunyahan


"Iya maaf akan aku ingat"


Dalam hening sejenak mereka menghabiskan makan malamnya


"Bentaran ya aku kebelakang dulu. cuci tangan" Marryana menunjukan jari-jari yang kotor


Pergi meninggalkan Dion sendiri yang sedang membersihkan mulutnya dengan tysu.


Suara panggilan dari dalam tas kerja terdengar berkali-kali


Yang punya tas entah kemana belum kembali bahkan pelayan yang bertugas membersihkan wadah dan meja kotor sudah pergi berlalu.


Dion melirik beberapa kali ke arah tas yang teronggok di atas meja


Marryana datang menepuk pundaknya


"Hey bengong saja! Maaf ya lama" Marryana menunjukan giginya yang rapih


Dion tersenyum "Ponsel kamu bunyi terus tuh"


"Oh ya!" Marryana meraih tas yang berada jauh dari jangkauan.


Karena posisi Marryana berada dibelakang punggung kini dadanya menyentuh bahu kanan Dion


Tubuhnya merespon benda kenyal yang secara gratisan menyentuh pundak kanannya.


Dalam debaran dia tidak merubah gerakan. Benda kenal itu semakin menekan dari arah kanan


Opss!


"Dion please donk tas aku" Marryana masih berusaha meraih tasnya


Dion yang mendapat instruksi mengambilnya dalam duduk


"Makasih" Tanpa bersalah Marryana duduk disamping Dion mencari ponselnya


"He-eh!" Angguk Dion

__ADS_1


Marryana membuat panggilan


Sambungan terhubung


"Hy honey! Sorry I was in toilet"


Ia melirik tas yang diaduk-aduk isinya tadi


Dion menghela nafas saat Ia ingin menulikan pendengarannya matanya melihat kain satin itu separuhnya keluar dari dalam tas.


"... I'am not wearing anything baby" Marryana bicara dengan menutup suaranya agar tidak terdengar keluar.


Pendengaran Dion masih sangat bagus untuk menangkap apa yang gadis itu katakan


I'm in a huryy! Becouse I'm very hungry!"


"I forgot to buy a new one!"


Marryana bicara masih dalam mode berbisik


Seketika dia berfantasi kalau Marryana tanpa underwear


Dion menggigit bibirnya menekan gejolak kelaki-lakianya yang tiba-tiba merasa eroti*


"I just finished dinner.. "


"With a friend..."


"Yes she is!"


"Don't worry! I go home now Baby!


"Okay love you! Muach!" Marryana mengakhiri panggilan


"He he he maaf yaa aku bilang kamu perempuan " Marryana tertawa lebar


"Kenapa?"


"Tidak apa! Aku tidak ingin pacarku khawatir" Marryana membuat alasan


Dion mengangguk-memahami mungkin setiap kekasih akan mengkhawatirkan hal yang sama termasuk dirinya.


Berdua duduk bersisian dalam sebuah mobil online yang dipesan Dion. Mobil merayap membelah jalan yang padat pengguna kendaraan dan pejalan kaki.


Marryana setengah mengantuk bersandar di jok mobil.


"Tidurlah!" Aku akan menculikmu he he he..." Dion mengakhiri dengan kekehan


Seketika Marryana terjaga! Matanya mendelik kesal


"He he he canda atuh" Dion mengerjap matanya


"Gak lucu huh!" Marryana mendengus


"Pacar saya cantik kan Pak..."Dion memperkenalkan Marryana pada sopir.


"Iya Kang! Sangat cantik!" Spontan sopir itu menjawab pertanyaan Dion


"Eh eh! Tidak Pak! Hih kamu ya Dion!"


"Aduuh sakit atuh ayang" Dion meningis mengusap pahanya yang mendapat cubitan panas


"KDRT dia Pak!" Kekeh Dion di susul kekehan sopir didepan


"Masa pacaran mah Kang rasanya asik terus he he he... "


"Apa-apa nikmat dicubit aja nikmat"


Lagi-lagi sopir itu terkekeh


"Asli-nya Pak!"


Marryana menggeplak paha Dion cukup keras tapi kali ini tangannya berhasil ditangkap Dion.


Menangkap dengan tangan satunya agar tetap berada diatas pahanya.


"Jangan galak-galak atau aku cium nih jari!" Dion menatap Marryana yang spontan terdiam


Dion meremas jari-jari yang terasa mungil


"Besok aku pulang..."


"Sebenarnya aku masih sangat betah.."


"Nanti aku kabari kalau akan ke bandung lagi"


"Jaga diri baik-baik"


"Aku pasti akan sering kasih kamu kabar"


Dion menarik genggamannya ke dada atas. Mendekapnya kemudian mengecupnya.


Ia melirik Marryana yang menatap Dion tanpa expresi.


"Jangan kangen y" Dion terkekeh narsis


"Huh!" Marryana mendengus


Supir didepan terkekeh mendengar bagaimana Dion bicara dengan kekasihnya


"Doa-kan Akangnya cepat kembali Teh.."


"Pasti berat lagi sayang-sayangnya ditinggal" Imbuhnya

__ADS_1


Sopir itu terkekeh sambil melirik dari kaca spion depan


__ADS_2